Cinta Untuk Kanaya

Cinta Untuk Kanaya
BAB 73. PADAHAL ENAK LOH


__ADS_3

Sesuai permintaan Kanaya yang ingin hidup mandiri bersama suami dan Putri kecilnya, kini telah dua bulan sudah mereka bertiga tinggal dirumah peninggalan ayah dan ibunya Kanaya. Dua orang yang telah membesarkannya selama ini.


Meski tinggal dirumah yang sederhana, namun keluarga kecilnya selalu dilimpahkan kehangatan.


Kebersamaan keluarga menjadi sempurna, manakala senyuman tiap orang di dalamnya penuh dengan keikhlasan dan saling menyayangi.


Bukan kemewahan, memiliki keluarga yang utuh jauh lebih membahagiakan karena kehangatan dalam keluarga tidak diukur dari ukuran luas rumahnya, tapi luasnya kebahagiaan yang menempati.


.


.


.


Minggu pagi yang cerah. Sesuai janji Keenan hari ini ia akan membawa istri dan putri kecilnya untuk jalan-jalan.


"Anak papa cantik banget deh, bikin gemes." Tak hentinya Keenan terus menciumi pipi bayinya yang semakin terlihat gembul diusianya yang sudah memasuki dua bulan.


"Bang ken, jadi pergi gak sih?" Kanaya yang sudah siap sejak beberapa belas menit lalu, duduk di tepi tempat tidur nampak cemberut memperhatikan suaminya yang sibuk sendiri dengan putrinya.


"Jadi dong," jawab Keenan lalu mendekati istrinya.


Keenan menatap Istri dan putrinya kecilnya bergantian dengan bibir yang terlihat sedikit manyun kemudian ia mendudukkan tubuhnya di samping Kanaya.

__ADS_1


"Kita gak usah pergi aja deh," ujarnya.


"Loh, kenapa?" Kanaya tampak tak terima jika mereka tidak jadi pergi jalan-jalan, karena Keenan sendiri sudah merencanakan sejak beberapa hari yang lalu dan hari ini ia sudah dengan susah payah berdandan agar tidak terlihat memalukan bila pergi jalan bersama seorang Keenan Erlangga yang terkenal tampan dan mapan.


"Kalian berdua cantik banget, aku gak mau ya nanti ada yang lirik-lirik kalian berdua apalagi sampai naksir terutama Istriku yang cantik ini." Ujar Keenan sambil mengulurkan sebelah tangannya mengusap pipi mulus istrinya.


"Berlebihan kamu, Bang. Ya kalau aku keluar pasti ada yang lihatin lah kan aku manusia bukan hantu yang gak nampak." Kanaya memanyunkan bibirnya, sia-sia ia berdandan kalau tidak jadi pergi juga.


"Gak usah cemberut gitu, kita tetap jadi pergi kok. Tapi pergi ke rumah Papa aja, gimana?"


"Papa Vino apa Rizal?" Tanya Tania.


"Ya terserah kamu aja."


"Ok kita ke rumah Papa Rizal, tapi kalau seandainya kita disuruh menginap kamu tolak aja ya." Keenan mengedipkan sebelah matanya.


"Kenapa emangnya?" Tanya Kanaya dengan Keenan tertaut. "Gak apa-apa kan sesekali kita nginap." Lanjutnya.


"Yah sayang kamu kan udah janji kalau malam ini kita akan... Ekhem, itu..." Aduh, Keenan nampak malu mengatakannya.


"Itu apa?"


"Yah Sayang, kok kamu lupa sih? Itu loh Kamu udah janji kalau malam ini kita akan..."

__ADS_1


"Akan apa?"


"Sayang, kamu ini beneran lupa apa cuma pura-pura lupa sih?" Keenan nampak frustasi.


Kanaya pun terkekeh, "Iya aku ingat, tapi gak janji ya. Seandainya nanti kalau aku teriak lagi Bang Keenan harus berhenti ya." Ujar Kanaya sambil menahan senyum melihat wajahnya suaminya di tekuk.


"Iya deh, padahal enak loh Sayang. Sekali aja kamu coba pasti nanti ketagihan." Keenan terlihat pasrah, ia juga tidak bisa terlalu memaksakan istrinya. Ia tahu Kanaya masih memiliki trauma karena dirinya.


"Emangnya udah pernah coba Abang bilang enak?" Kanaya menatap suaminya penuh selidik.


Merasa dicurigai, Keenan sedikit tersenyum. "Ya kan pernah sama kamu waktu itu, walaupun hanya sekali dan terkesan pemerkosaan tapi tokcer juga langsung jadi." Keenan terkekeh sambil mencium kening putri kecilnya.


"Abang..." Kanaya tampak kesal, ia masih merasa risih jika teringat kejadian malam itu.


"Iya maaf, becanda. Ayo kita berangkat."


.


.


.


__ADS_1


__ADS_2