
Darah Vino rasanya sudah mendidih melihat siapa istri pak Rizal.
'Brengsek, rupanya dia ingin menjatuhkan keluargaku dengan cara menjijikkan. Sama seperti yang dulu dia lakukan. Dasar wanita murahan!
Jika tak mengingat berada didalam situasi apa sekarang, Vino pasti telah memberi pelajaran pada istri pak Rizal itu.
'Zara,' Vino tersenyum menyeringai.
"Ayo, silahkan dinikmati hidangannya."
Suara pak Rizal mengalihkan perhatian Vino, dalam hati ia merutuki kebodohan pak Rizal yang sudah tertipu habis-habisan dengan tampang istrinya itu. Vino menggeleng pelan, entah bagaimana reaksi pak Rizal jika tahu siapa istrinya itu sebenarnya.
"Maaf Pak Rizal, sedari tadi saya tidak melihat siapapun selain Pak Rizal dan Istri. Kemana anak-anak Pak Rizal?"
Pertanyaan Vino membuat Pak Rizal tersedak makanan, gegas Zara memberikan minum pada suaminya, ia melempar tatapan tajam pada Vino.
Setelah minum, pak Rizal sekilas melirik Vania. "Anak saya hilang sejak masih bayi, saya sudah berusaha mencari dengan segala cara namun tak membuahkan hasil apapun. Hingga sekarang saya tidak tahu dimana keberadaannya."
Vania langsung mengalihkan tatapannya kearah lain, sakit sekali rasanya tidak diakui oleh papanya sendiri. Rasanya ia sudah ingin menangis.
"Maaf Pak Rizal, saya tidak bermaksud membuka luka lama." Vino memasang wajah sedihnya seolah perihatin.
"Tidak apa-apa, Pak Vino."
"Pak Rizal dan Istri pasti sangat merasa kehilangan." Kembali Vino bersimpati.
Pak Rizal tersenyum dengan menatap istrinya sebentar, kemudian beralih menatap Vino.
"Zara ini sebenarnya Istri kedua saya, Istri pertama saya meninggal beberapa bulan sejak bayi kami hilang. Dia sakit-sakitan karena terus memikirkan bayinya."
Vino jadi semakin bersemangat untuk terus mengorek penuturan pak Rizal.
"Oh saya kira bayi Pak Rizal yang hilang itu adalah bayi Bapak bersama Istri sekarang. Jadi di pernikahan kedua Pak Rizal ini tidak mempunyai Anak?"
Pak Rizal mengangguk, "Tapi itu tidak memupus rasa cinta saya pada Zara. Bagi saya Zara adalah yang terbaik."
__ADS_1
Vino benar-benar merasa muak mendengar ucapan Pak Rizal yang terlalu membanggakan istrinya. Iapun menyudahi pertanyaannya, kemudian melirik kearah Keenan sebagai isyarat untuk melakukan langkah selanjutnya.
Keenan pun memberi kode pada Vania, saat di perjalanan tadi ia sudah memberitahu Vania apa yang harus dilakukan untuk memancing mama sambungnya agar berbicara.
"Maaf Tante, bisa tolong tunjukkan dimana toiletnya? Saya ingin buang air kecil." Ucap Vania sembari beranjak dari tempat duduknya.
Zara tersenyum menyeringai, akhirnya ia memiliki kesempatan untuk berbicara dengan anak bodoh itu. "Ayo, Tante tunjukkan." Ucapnya lalu melangkah lebih dulu.
Vania mengikuti langkah mama sambungnya itu dengan sesekali menoleh ke belakang. Ia tahu akan kembali mendapat ancaman. Namun, kali ini ia tidak akan takut lagi, ada keluarga Erlangga bersamanya.
Benar saja, sesampainya di ruang tengah. Zara berbalik mendorong tubuh Vania hingga terbentur ke dinding. Kemudian dengan cepat menghampiri Vania mencengkeram wajahnya dengan kuat.
"Apa maksud semua ini, Vania? Bagaimana bisa kamu bersama mereka!" Kedua mata Zara menatap anak tirinya itu dengan nyalang.
Vania tertawa, "Kenapa Ma? Apa Mama takut, hum?"
"Jangan panggil aku Mama, aku bukan Mama mu! Dan jangan lupa nyawa Papa kamu akan menjadi taruhannya jika kamu berani bermain-main dengan ku!" Ancam Zara.
Jika sebelumnya Vania akan takut setiap kali diancam seperti itu, tapi kali ini ia terlihat marah. Ia balik mendorong mama sambungnya itu hingga cengkeraman diwajahnya terlepas.
"Sebenarnya apa masalah Mama dengan keluarga Erlangga sehingga menyuruh aku melakukan hal menjijikan itu?" Vania berteriak marah. Untuk yang pertama kalinya ia berani pada mama sambungnya itu.
Vania terperangah. Dendam apa yang dimiliki oleh mama sambungnya ini sehingga ingin menghancurkan keluarga Erlangga?
Prok... Prok... Prok...
Tepukan tangan yang tiba-tiba saja menggema,
Zara dengan cepat menoleh ke asal suara, dan seketika wajahnya berubah pias.
Di ambang pembatas ruangan, telah berdiri secara berjejer keluarga Erlangga bersama Rizal, suaminya.
Vino yang berdiri di samping Rizal pun menghentikan tepuk tangannya.
"Bagaimana, Pak Rizal? Apa masih belum percaya dengan ucapan saya?"
__ADS_1
Rizal memejamkan mata sembari menghela nafas panjang yang terasa tercekat. Beberapa saat lalu tak lama setelah Zara dan Vania berlalu, Vino memberitahu tentang kejahatan Zara yang melibatkan Vania. Namun ia tidak percaya serta marah istrinya difitnah. Rizal malah mengatakan bahwa Vania lah yang hampir membuat namanya jelek karena membawa laki-laki untuk tidur di hotel. Vino pun memaksanya untuk ikut menyusul Zara dan Vania, dan berakhirlah ia disini. Mendengar semuanya secara langsung. Putrinya bukan hanya dijadikan kambing hitam, tetapi juga diancam atas nyawanya.
"Mas Rizal,"
Rizal langsung merentangkan tangannya ketika Zara hendak mendekatinya, "stop disitu jangan mendekat.
"Mas, aku bisa jelaskan."
"Aku sudah mendengar semuanya." Meski nada bicaranya pelan, namun tatapannya begitu menghujam.
Sejenak Rizal mengalihkan tatapannya pada Vania, rasa bersalah menyeruak di dadanya ketika mengingat bagaimana saat ia mengusir putrinya itu dengan tanpa perasaan.
Sekali lagi menghela nafas panjang, dan di detik berikutnya ia maju dengan cepat. Menarik tangan Zara dengan kuat, menyeretnya hingga keluar pagar. Menghempaskan tubuh istrinya itu hingga terjerembab di jalanan, persis ketika ia mengusir putrinya sendiri.
"Jangan pernah menginjakkan kakimu dirumah ini lagi, bahkan aku tidak mau melihat wajahmu lagi. Detik ini juga aku talak kamu!" Rizal berucap dengan nada yang bergetar, rahangnya mengeras, kedua matanya memerah. Sungguh tidak pernah membayangkan sosok Zara yang ia nikahi tiga tahun setelah istrinya meninggal, begini ternyata sifat aslinya.
Mendengar kata talak itu, Zara dengan cepat berdiri namun ia tidak bisa mendekati Rizal lagi karena laki-laki itu telah menutup pagar.
Tak memperdulikan teriakan Zara yang terus berteriak meminta dibukakan pagar dan tidak mau diceraikan, Rizal terus melangkah menjauh dari pagar.
Hingga terdengar kalimat yang dilontarkan Zara membuat langkahnya terhenti namun tidak membalik badannya.
"Mas Rizal kamu akan menyesal telah memperlakukan aku seperti ini!"
"Yah aku memang sudah menyesal, aku menyesal karena lebih mempercayai mu daripada Putri ku sendiri." Rizal pun kembali melanjutkan langkahnya.
Dari ambang pintu, Vino menyaksikan dengan puas. Wanita yang pernah menjadi istrinya itu, didepan matanya sendiri di usir dan di talak atas perbuatan yang sama bodohnya dengan yang dilakukannya dulu di masa lalu.
'Itulah akibatnya telah berani mengusik keluarga ku, Elzara. Aku pikir kamu sudah berdamai dengan masa lalu tapi ternyata tidak. Kamu malah semakin bodoh, dan lihatlah sekarang. Beruntung Rizal tidak memenjarakan kamu seperti yang aku lakukan dulu.'
Vino menghela nafasnya dengan lega, peristiwa kelam di kamar hotel yang menimpa anak menantunya akhirnya telah terungkap. Dan itu semua disebabkan oleh Elza, mantan istri pertama Vino.
.
.
__ADS_1
.