Cinta Untuk Kanaya

Cinta Untuk Kanaya
BAB 71. PAPA


__ADS_3

"Sudah Kanaya, berhentilah menangis. Seharusnya kau senang telah bertemu dengan orangtua kandungmu." Ujar Keenan, berusaha menenangkan sang istri yang menangis tergugu didalam pelukannya.


Namun, Kanaya semakin mengeratkan pelukannya mencoba meredam suara tangisnya di dada sang suami.


Sungguh ini begitu menyakitkan untuknya, dua orang yang begitu ia sayangi ternyata bukanlah orangtua kandungannya.


Melihat Kanaya menangis, Rizal dan Vania pun turut menangis Mereka tahu apa yang dirasakan Kanaya saat ini. Terkadang sebuah kenyataan memang sangat menyakitkan.


Sambil mengusap air matanya, Rizal bergerak mendekati anak yang selama ini ia cari keberadaannya. Di usapnya puncak kepala Kanaya dengan lembut, sungguh ia sangat ingin memeluk putri bungsunya ini. Andai saja mendiang istrinya masih ada, pasti Risa akan sangat bahagia putrinya yang hilang telah ditemukan.


"Apa Kau tidak ingin memeluk Papa mu ini? Papa dan kakak mu selalu mencari keberadaan mu selama ini." Rizal kembali terisak, sementara Kanaya masih bergeming didalam pelukan suaminya.


Melihat tidak ada pergerakan dari Kanaya membuat hati Rizal terasa nyeri. Ia tahu ini tidak akan mudah bagi Kanaya, dan mungkin ia hanya bagaikan orang asing dimata Kanaya yang tiba-tiba datang.


Vania pun turut mendekat, ia mengulurkan tangannya mengusap punggung Kanaya. Meski tak terdengar lagi suara tangisnya, tapi Vania tahu jika adiknya ini masih menangis merasakan dari punggungnya yang bergetar.


"Ternyata Adik ku cengeng sekali," ujar Vania juga terisak. Ia menoleh menatap wanita paruh baya yang nampak ikut terharu melihat momen pertemuan ini.


"Bu, apa Kanaya ini memang cengeng? Jika iya, berarti dia harus belajar dari kakaknya ini untuk menjadi wanita yang kuat." Vania tertawa pelan, namun air matanya terus mengalir. Hari yang selalu ia tunggu akhirnya terwujud, hari ini ia sudah bertemu dengan adiknya.

__ADS_1


Wanita paruh baya tersebut hanya menggeleng pelan sambil mengusap sudut matanya yang berair, ia ikut terharu menyaksikan pertemuan ayah dan anak itu.


"Sayang, udah dong nangis nya." Ujar Keenan sambil mengusap-usap punggung istrinya, rasanya iapun ingin ikut menangis.


Perlahan, Kanaya melonggarkan pelukannya ditubuh sang suami. Sesekali terdengar sesenggukan efek menangis.


Setelah Kanaya telah duduk di tempatnya kembali, Keenan mengusap air mata istrinya yang terus berjatuhan seperti menimpa air didalam perahu yang bocor, tak akan surut airnya.


"Udah dong nangis nya nanti bedaknya luntur loh, mahal tau belinya gak sayang duit suami apa?" Canda Keenan, berusaha menghibur istirnya.


Dan ia berhasil, Kanaya sedikit tersenyum dibuatnya. Namun, air matanya tetap saja masih mengalir walau tak sederas sebelumnya.


Dan Kanaya hanya menoleh sekilas menatapnya.


"Papa mau peluk kamu, Nak, boleh?"


Kanaya menoleh menatap suaminya, melihat Keenan mengangguk pelan iapun beralih menatap Rizal kemudian mengangguk pelan.


Tanpa mengucapkan sepatah katapun lagi, Rizal langsung saja menarik Kanaya kedalam pelukannya. Kanaya kembali menangis didalam pelukan papanya itu.

__ADS_1


Vania pun turut mendekat, ia juga ikut memeluk adiknya itu. Membuat Keenan tak tahan untuk menahan air matanya agar tak jatuh.


Sungguh ini adalah momen mengharukan yang pernah ia lihat. Keenan turut bahagia, istrinya telah bertemu dengan keluarga kandungnya.


Tak hentinya Rizal mengecup pucuk kepala putri bungsunya itu. Dalam hati ia menggumamkan nama sang istri. Risa meninggal dikarenakan sakit-sakitan terus memikirkan bayinya yang hilang, dan kini ia telah menemukannya.


"Papa," ucap Kanaya dengan lirih disertai isakan nya.


Dengan cepat Rizal mengurai pelukannya, ia menatap Kanaya dengan mata kepalanya.


"Kau bilang apa tadi, Nak?"


"Papa." Ucap Kanaya sekali lagi, dan kali ini terdengar lebih jelas. Membuat Rizal begitu bahagia mendengarnya. Ia kembali memeluk Kanaya dengan erat bersamaan Vania.


.


.


.

__ADS_1



__ADS_2