Cinta Untuk Kanaya

Cinta Untuk Kanaya
BAB 56. I LOVE YOU, ISTRIKU


__ADS_3

Sepeninggalan mama nya ke dapur untuk membuat susu, air mata Keenan kembali mengalir. Ia mengecup dengan lembut pipi putri kecilnya yang sedang menangis itu.


"Sayang, doakan Mama cepat sadar ya agar bisa kumpul sama kita lagi."


Baru kemarin ia merasakan kebahagiaan yang begitu besar dalam hidupnya, menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri sang istri bertaruh nyawa melahirkan bayinya. Namun, kini istrinya itu sedang terbaring tak sadarkan diri di rumah sakit yang seharusnya sekarang mereka menikmati hari-hari bahagia menjadi ayah dan ibu.


Tak lama kemudian, Tania kembali ke kamar dengan membawa botol dot.


Keenan segera mengambil dot itu dari mama nya kemudian segera memberikan kepada bayi nya, sontak saja bayi cantik itu langsung terdiam setelah mulut mungilnya menyambar ujung dot. Perlahan kedua matanya terpejam setelah merasa kenyang. Dengan pelan Keenan meletakkan bayi nya di atas tempat tidur.


"Keenan, sebenarnya Kanaya kemana, kenapa tidak ikut pulang bersama mu?" Tanya Tania yang telah duduk di sisi tempat tidur sambil menatap cucu nya yang sudah tertidur.


Tampak Keenan menarik nafasnya dalam lalu menghembuskan nya dengan perlahan. "Kanaya di rumah sakit, Ma." Ucapnya dengan lirih.


"Di rumah sakit?" Tania menatap putranya dengan kening mengkerut, sama sekali tidak terpikir jika telah terjadi sesuatu pada menantu nya itu.


"Kanaya terkena tusukan di perutnya dan sekarang Kanaya masih belum sadarkan diri di rumah sakit." Ucap Keenan menjelaskan.

__ADS_1


"A-pa, terkena tusukan? Bagaimana bisa?"


"Kanaya di tusuk oleh mantan istrinya Pak Rizal saat mencoba menyelamatkan Vania, ternyata dia yang telah menculik Vania."


Tania tak dapat berkata-kata lagi mendengar penuturan putranya, ternyata mantan istri pertama suaminya itu masih saja berulah.


Tania pun meninggalkan kamar putranya untuk mencari keberadaan suaminya.


Di ruang tengah, Vino nampak duduk melamun sambil memijit pelipisnya. Ia sedikit mengembangkan senyum diwajahnya melihat kedatangan istrinya.


"Mas, Kanaya..."


Vino benar-benar tak menyangka jika mantan istrinya itu masih belum berubah dan akan melakukan apa saja yang dia inginkan. Dendam benar-benar telah menguasai hati wanita itu sehingga dengan tega akan melukai siapapun.


"Semoga kali ini Elza akan berubah, Mas dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi." Ujar Tania, iapun tidak menyangka jika mantan madu nya itu masih saja suka berbuat nekat.


"Semoga, jika tidak lebih baik dia dilenyapkan saja!"

__ADS_1


.


.


.


Malam hari...


Setelah menidurkan bayi nya, Keenan meminta mamanya untuk menjaga bayinya lagi karena ia akan ke rumah sakit menemani istrinya, beberapa saat lalu Vania menelpon dan mengatakan jika Kanaya sudah sempat sadar namun tertidur kembali karena pengaruh obat.


"Sayang, Papa pergi dulu ya, kamu jangan nakal dan kita doakan semoga Mama cepat sembuh dan bisa kumpul sama kita lagi." Keenan mencium pipi nan lembut itu kemudian berpamitan pada mama nya.


Sesampainya di rumah sakit, Keenan menyuruh Vania dan Damar untuk pulang karena malam ini ia sendiri yang akan menjaga istrinya.


Setelah Damar dan Vania telah pergi, Keenan pun naik ke ranjang pasien yang ukurannya cukup untuk dua orang. Ia membaringkan tubuhnya di samping Kanaya, memeluk istrinya itu dengan erat.


"Sayang, kau harus segera sembuh, bayi kita merindukan mu. Kita juga belum memberikannya nama kan? Jadi kau harus segera sembuh biar kau yang memberikan nama pada Putri kecil kita."

__ADS_1


Dari samping, Keenan tak berkedip menatap wajah lelap istrinya, ia pun mendekatkan wajahnya mengecup pipi yang nampak pucat itu lalu berpindah mencium dengan singkat bibir sang istri.


"I love you, Istriku."


__ADS_2