Cinta Untuk Kanaya

Cinta Untuk Kanaya
BAB 31. JANGAN MENDIAMI AKU


__ADS_3

"Oh, jadi kau memang sengaja mendiami aku, begitu?" Tanya Kanaya dengan mata yang berkaca-kaca.


"Iya." Jawab Keenan dengan singkat.


Membuat Kanaya langsung membuang muka sembari menerbitkan senyum kecut. Dadanya serasa tersentak. Entah kenapa hatinya merasa sakit mengetahui jika Keenan memang sengaja mendiaminya.


"Oke, kurasa memang sebaiknya seperti itu."


Kanaya mengayun langkah hendak keluar dari ruangan itu. Namun, Keenan menarik tangannya. Melihat kedua mata Kanaya berkaca-kaca membuat Keenan bingung, ada apa dengan istrinya ini?


Keenan menarik tangan mungil itu dengan kuat sehingga tubuh Kanaya menabrak tubuhnya, kemudian ia melingkarkan sebelah tangannya di pinggang Kanaya merapatkan ke tubuhnya. Keenan menatap dengan lekat kedua netra istrinya yang hampir saja mengeluarkan air mata.


"Kenapa kau seperti ini? Seharusnya kau senang kan jika aku mendiami mu? Tak ada lagi yang mengganggu mu, kau juga tidak akan kesal karena aku tidak lagi bertanya ini dan itu. Tapi kenapa kau masih saja seperti ini, hum? Katakan, aku harus bagaimana lagi agar membuatmu nyaman, aku harus bagaimana lagi agar membuatmu senang. Katakan Kanaya?"


Keenan semakin merapatkan tubuh mungil itu ditubuhnya, menatap semakin dalam netra yang sudah hampir banjir itu. Kedua mata Keenan pun sudah berkaca-kaca.


Satu detik...


Dua detik...


Tiga detik...


Tes ...


Cairan bening itupun berhasil lolos menuruni kedua pipi Kanaya, bahkan bibirnya sudah bergetar namun tak dapat mengatakan apapun.


Sementara Keenan masih menunggu jawaban istrinya, menunggu satu kata saja yang mungkin bisa membuat hatinya lega atau justru sebaliknya.


Dua pasang netra yang masih saling menatap dengan tubuh yang tak ada jarak satu inci pun, larut dalam pikiran dan perasaannya masing-masing.


Hingga beberapa saat kemudian, Keenan menenggelamkan bibirnya diatas puncak kepala istrinya, menciumnya dengan dalam ketika tiba-tiba saja Kanaya memeluknya dengan erat bersamaan isak tangis yang sudah tak bisa ia tahan.


"Jangan mendiami aku," ucap Kanaya dengan nada yang bergetar.


"Kenapa, hum? Seharusnya kau senang kan?" Air mata Keenan pun sudah luruh, sungguh ia sangat merindukan istrinya ini. Beberapa hari tak mendekatkan diri dengan Kanaya membuatnya begitu gelisah.


"Ternyata aku lebih kesal saat kau tak lagi bertanya apapun, aku sangat kesal saat kau mendiami aku. Ternyata aku merindukan perhatianmu." Kanaya semakin terisak, ia menenggelamkan wajahnya di dada sang suami.

__ADS_1


Keenan pun tak hentinya terus menciumi puncak kepala istrinya, menghirup dalam-dalam aroma yang begitu menenangkan. Sesak di dadanya seketika lenyap mendengar penuturan istrinya.


"Aku juga merindukan selalu dekat denganmu, hatiku gelisah ketika mencoba menjauh darimu. Ternyata aku tidak bisa karena aku..." Keenan menghentikan kalimatnya, tepatkah waktunya sekarang bila mengungkapkan perasaannya pada Kanaya.


Mendengar ucapan Keenan terhenti, Kanaya mendongakkan kepalanya menatap wajah sang suami. "Karena aku... Apa?" Tanyanya.


Keenan menggelengkan kepalanya, "Tidak apa-apa." Jawabnya sembari tersenyum.


"Kau menyembunyikan sesuatu dariku?" Ujar Kanaya dengan lirih.


"Tidak ada."


"Kau bohong!" Kanaya mengusap sudut matanya sembari mencoba melepaskan diri dari pelukan suaminya.


Namun, Keenan tak ingin melepaskan dan memeluknya semakin erat. "Yah, aku memang bohong. Aku memang menyembunyikan sesuatu darimu. Apa kau mau dengar?"


Kanaya menganggukkan kepalanya.


Keenan pun tersenyum kemudian berkata, "Aku sudah jatuh cinta pada Istriku. Kanaya aku mencintaimu." Ucapnya dengan lantang.


"Aku tidak percaya." Ucap Kanaya dengan masih menatap lekat suaminya.


"Aku tidak akan memaksamu untuk percaya, tapi aku sama sekali tidak berbohong untuk itu. Kanaya, aku mencintaimu!" Keenan mengulang kalimatnya dengan penuh penekanan.


Beberapa saat Kanaya masih terdiam tanpa mengalihkan sedikitpun tatapannya dari Keenan, ungkapkan cinta sang suami benar-benar membuatnya terdiam tanpa kata. Masih ada rasa tak percaya, namun melihat dari netra suaminya tak ada kebohongan disana. Dan Kanaya tidak tahu harus menanggapi nya bagaimana?


"Sudahlah, lupakan saja apa yang aku katakan tadi dan anggap saja aku tidak pernah mengatakannya. Sekarang kita baikan ya? Aku tidak akan mendiami mu lagi, dan kau juga jangan ketus lagi denganku. Ok!" Ucap Keenan mengalihkan suasana yang membuatnya gugup sendiri, mengungkapkan perasaannya pada Kanaya membuat dadanya berdebar cepat.


Dan Kanaya pun hanya bisa menganggukkan kepalanya.


"Astaga, aku lupa jika kau belum makan. Ini sudah siang." Keenan melepaskan pelukannya lalu mengusap perut istrinya. "Sayang, maafkan Papa ya, kau pasti sudah lapar."


"Kau juga belum makan." Ujar Kanaya.


"Bagaimana kalau sekarang kita pergi makan siang diluar? Anggap saja sebagai tanda kita telah berbaikan." Ajak Keenan.


Kanaya menganggukkan kepalanya lagi.

__ADS_1


"Jawab dong, jangan mengangguk terus. Nanti Anakku juga ikut-ikutan seperti Mama nya suka mengangguk." Ucap Keenan dengan tertawa pelan.


Kanaya pun ikut terkekeh, "Hem, iya."


****************


Di tempat lain, setelah bertemu Keenan, Damar langsung menemui Vania dan memberitahukan seperti yang sudah dikatakan Keenan.


"Tapi Damar, aku tidak berani bertemu Papaku." Vania menautkan jari-jari tangannya, ia sangat merindukan papanya namun juga takut untuk bertemu, mengingat bagaimana dulu murkanya sang papa ketika mengusirnya. Dan bukan hanya itu, Vania juga merasa tak enak karena akan berpura-pura menjadi calon istrinya Damar.


"Jangan takut, Vania. Papamu tidak akan berani melakukan sesuatu yang akan menjatuhkan harga dirinya sendiri dihadapan keluarga Erlangga." Damar berusaha meyakinkan.


"Em baiklah Damar. Aku harus berani untuk menebus perbuatan ku malam itu. Aku berjanji akan membantu kalian sampai menemukan jawabannya." Ucap Vania kemudian.


Damar tersenyum, iapun mengajak Vania untuk makan siang bersama di sebuah resto yang baru buka, yang katanya ada berbagai macam menu baru yang belum ada di resto lainnya. Sekaligus merayakan pertemanan mereka.


Sesampainya di resto itu, ternyata pengunjung ramai sekali. Damar dan Vania mengedarkan pandangan mencari meja yang kosong, namun tidak mendapatinya. Dengan berat hati mereka pun akan mencari resto lain karena waktu makan siang sudah hampir terlewat dan perut mereka juga sudah merasa lapar.


Saat akan berbalik pergi, langkah mereka terhenti karena panggilan seseorang. Damar dan Vania serentak menoleh dan ternyata itu adalah Keenan yang memanggil mereka.


"Ayo, gabung disini saja bareng kita." Panggil Keenan dengan sedikit berteriak sambil melambaikan tangannya. "Sudah tidak ada meja yang kosong." Lanjutnya.


"Em, Vania, sebaiknya kita makan ditempat lain saja." Ucap Damar dengan sedikit berbisik.


"Kenapa? Apa kau belum bisa move on, hum?" Goda Vania juga berbisik.


Damar berdecak, "Bukan itu, aku hanya tidak mau mengganggu mereka. Kita makan ditempat lain saja." Ucapnya.


"Alasan saja. Ayo!" Vania langsung saja menarik tangan Damar menuju meja dimana Keenan dan Kanaya berada. Membuat Damar hanya bisa pasrah.


.


.


.


__ADS_1


__ADS_2