Cinta Untuk Kanaya

Cinta Untuk Kanaya
BAB 54. DONOR DARAH


__ADS_3

"Kanaya...


Teriakan yang menggema itu menyebut nama nya, seakan tak terdengar lagi di telinga Kanaya ketika sebuah p!sau yang tajam tertancap tepat di perut nya.


Kanaya menunduk melihat darah segar yang mengalir dari perut nya ketika p!sau itu telah di tarik dari perut nya, membuat nya membeku seolah tidak merasakan apa pun. Namun, di detik berikutnya tubuhnya telah ambruk ke atas lantai.


Rasa nya seluruh tubuh Keenan bagai tak memiliki tulang belulang lagi melihat apa yang terjadi pada Istri nya, tanpa menghiraukan apa pun lagi ia langsung saja berlari ke arah istri nya dan tak memperdulikan jika dirinya juga dalam bahaya.


"Kanaya, bangun." Dengan tangan yang bergetar, Keenan menepuk-nepuk pipi istri nya meminta nya untuk membuka mata.


Di samping itu Vino berlari dengan cepat ketika melihat Zara mengangkat p!sau hendak menusuk putra nya juga, namun belum sampai Zara sudah terlebih dulu terkapar karena mendapatkan luncuran timah panas di bagian kaki nya. Setelah tersangka berhasil di lumpuhkan, polisi bergegas membawa Zara masuk ke dalam mobil polisi.


"Keenan, ayo cepat bawa Kanaya ke rumah sakit." Titah Vino dengan suara yang cukup keras.


Keenan pun dengan cepat menggendong tubuh istri nya menuju mobil, tak menghiraukan Damar yang hendak membantunya. Namun, Damar tak tinggal diam, ia juga bergegas berlari menuju mobil untuk mengambil alih mengemudikan nya menuju rumah sakit.


Sepanjang jalan, tak hentinya Keenan terus mengguncang tubuh istri nya meminta nya untuk bangun. Air mata nya mengalir dengan deras berjatuhan membasahi pipi istri nya.

__ADS_1


Dari kaca spion di depan nya Damar melihat Keenan dan Kanaya di bangku penumpang, hati nya juga merasa pilu melihat wanita yang pernah di cintai nya itu terluka dan tak sadarkan diri.


Damar menambah kecepatan laju mobil nya, hingga tak lama kemudian akhir nya mereka pun telah sampai di rumah sakit.


.


.


.


Di depan ruangan Instalasi Gawat Darurat, Keenan dan yang lain nya menunggu dengan cemas. Dalam hati semua mendoakan Kanaya semoga bisa terselamatkan melihat darah yang begitu banyak keluar dari luka tusukan itu.


Tak lama kemudian, pintu IGD terbuka. Keenan dan yang lain nya bergegas menghampiri dokter yang baru saja keluar.


"Dok, bagaimana keadaan istri saya, dia baik-baik saja kan?" Tanya Keenan dengan nada yang bergetar.


Tampak dokter itu menarik nafas dalam sebelum menjawab pertanyaan Keenan.

__ADS_1


"Keadaan pasien kritis, akibat luka tusukan yang cukup dalam sehingga pasien kehilangan banyak darah. Di butuhkan segera dua kantong darah untuk pasien,"


Mendengar penuturan dokter, seluruh tubuh Keenan terasa lemas. Hampir saja ia terjatuh jika Vino tak segera menahan tubuh nya.


"Tapi sayang nya rumah sakit kami sedang kehabisan stok darah golongan A, apa di antara kalian ada yang memiliki golongan darah yang sama dengan pasien?" Lanjut dokter.


Keenan, Damar dan Vino hanya bisa menggeleng lemah karena golongan darah mereka tidak sama dengan Kanaya.


"Saya Dok, golongan darah saya A, ambil darah saya sebanyak yang dibutuhkan." Ujar Vania, membuat yang lain nya menoleh menatap nya.


Keenan tampak menghela nafas lega karena istri nya telah mendapatkan pendonor darah meskipun kekhawatiran masih begitu besar hinggap di hati nya tentang Kanaya yang sedang kritis.


"Vania, biar Papa saja yang mendonorkan darah untuk Kanaya, golongan darah Papa kan juga A. Keadaan kamu juga lemah dan benar yang dikatakan Om Vino sebaiknya kamu juga di rawat." Ucap Rizal.


Meski lega menantu nya telah mendapat pendonor darah, namun Vino tetap saja tercengang karena Vania dan Papa nya memiliki golongan darah yang sama dengan Kanaya.


Tak ingin membuang waktu terlalu lama dan membuat pasien nya semakin kritis, dokter pun segera mengajak Rizal menuju ruangan untuk melakukan pemeriksaan terlebih dahulu sebelum melakukan transfusi darah.

__ADS_1


Setelah papa nya pergi bersama dokter, Vania mendekati Keenan meminta maaf pada laki-laki itu karena menolong diri nya Kanaya menjadi seperti ini.


Keenan hanya bisa menggeleng lemah mendengar permintaan maaf Vania, lidahnya benar-benar terasa keluh untuk mengeluarkan sepatah katapun. Apa yang terjadi pada Kanaya sangat membuat nya syok, namun ia sama sekali tidak menyalakan siapapun termasuk Vania atas yang telah terjadi pada istrinya. Menurutnya ini hanya sebuah musibah.


__ADS_2