Cinta Untuk Kanaya

Cinta Untuk Kanaya
BAB 64. AKAN MENCOBA LAGI


__ADS_3

Setelah Vania pulang, Keenan langsung membawa istri dan bayinya ke kamar karena Kanaya juga harus banyak beristirahat pasca pemulihan.


Kanaya menatap sedih pada botol dot yang berada di atas meja riasnya. Beberapa hari dirumah sakit ia jadi tidak menyusui bayinya dan terpaksa Keenan menggantinya dengan susu formula.


"Minum yang banyak ya sayang," ujar Kanaya yang kini sedang menyusui putri kecilnya itu.


"Papa juga mau dong." Sahut Keenan yang sedang berbaring miring memperhatikan bayinya menyusu dengan lahapnya.


"Apaan sih." Tegur Kanaya.


Keenan terkekeh, kemudian ia bangkit dari pembaringan dan mendekati istrinya. Kecupan singkat ia labuhkan di pipi bayinya yang membuat Kanaya sedikit merasa risih karena bayinya itu masih menyusu.


"Aku cemburu deh sama Damar." Ujar Keenan, menatap istirnya dengan mengulum senyum.


"Cemburu kenapa?" Tanya Kanaya terdengar acuh, namun ada kekhawatiran didalam hatinya. Ia bertanya-tanya dalam hati kenapa Keenan mencemburui Damar, padahal ia sudah tidak pernah dekat lagi dengan mantan kekasihnya itu barang sekedar mengobrol saja.


"Ya Aku cemburu karena kamu panggil Damar dengan sebutan Abang sementara aku tidak." Jawab Keenan, memasang wajah cemberut seolah sedang merajuk.


"Kanaya tersenyum, ia merasa lega karena ternyata Keenan bukan mencemburui hal yang tidak-tidak.

__ADS_1


"Jadi, mau dipanggil Abang juga?" Tanyanya.


Keenan mengangguk dengan antusias, "Iya dong. Di panggil sayang, cinta, honey, my husband juga boleh." Ucapnya sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Ya udah, aku panggil Abang aja. Bang Keenan." Ujarnya sambil tersenyum tipis, entah kenapa ia merasa aneh memanggilnya suaminya dengan sebutan Abang, mungkin karena belum terbiasa.


Keenan pun tersenyum, ia menggeser duduknya lebih mendekati istrinya sambil melirik bayinya yang telah tertidur sehabis menyusu.


Dasar Putri tidur.


"Kalau aku panggil kamu Sayang, boleh?" Tanyanya tepat ditelinga istrinya, membuat bulu kuduk Kanaya meremang diterpa hangat deru nafasnya.


Dan kali ini senyum diwajah Keenan semakin mengembang. Ia mengambil bayinya yang telah tertidur kemudian membawanya ke box bayi. Setelah membaringkan putri kecilnya itu didalam box bayi, Keenan dengan cepat menghampiri istrinya kembali.


Hap...


Tanpa aba-aba Keenan langsung saja mengungkung istrinya dibawah tubuhnya membuat Kanaya terkejut dan hampir saja berteriak jika Keenan tak segera membungkam mulutnya dengan ciuman.


"Bang, jangan macam-macam ya aku masih...

__ADS_1


Dengan cepat Keenan kembali membungkam mulut istrinya dengan ciuman sehingga Kanaya tak jadi meneruskan kalimatnya.


"Iya aku tahu," ujar Keenan setelah melepas ciumannya. "Lagipula kalau kamu sudah selesai, memangnya kamu mau? Kamu kan masih takut." Ujarnya terkekeh, lalu menjatuhkan tubuhnya di samping istrinya. Menarik tubuh Kanaya dalam pelukannya.


"Gak apa-apa kalau kamu belum bisa, aku masih bisa sabar kok nungguin sampai kamu udah gak takut lagi. Udah dapat bagaian atas nya aja aku juga udah senang kok." Ucap Keenan. 'Apalagi kalau sudah dapat bagaian bawahnya juga.' Lanjutnya dalam hati.


Kanaya benar-benar merasa bersalah telah membuat suaminya menunggu, padahal hal semacam itu adalah kewajiban bagi pasangan suami istri namun entah kenapa dirinya masih saja tidak bisa melawan rasa takutnya.


"Bang Keenan," Panggil Kanaya, mendongakkan kepalanya menatap sang suami.


"Ada apa?" Tanya Keenan.


"Setelah masa nifas ku selesai, aku mau mencobanya. Bantu aku untuk melawan rasa takutku." Ujar Kanaya, meskipun ia masih merasa ragu namun ia harus bisa menghilangkan rasa takutnya. Akan sangat berdosa dirinya tidak memberikan hak Keenan sebagai seorang suaminya.


"Kamu yakin? Gak akan teriak ketakutan lagi nanti kalau kita coba?" Keenan tersenyum kecut, kare sudah beberapa kali ia mencoba nyatanya hanya selalu membuat Kanaya berteriak ketakutan dan dirinya pun tersiksa menahan hasratnya yang tidak tertuntaskan.


Kanaya hanya mengangguk sebagai jawabannya.


"Terima kasih, Sayang." Keenan memeluk istirnya dengan erat namun tetap berhati-hati agar tidak mengenai luka diperut istirnya. Laki-laki tampan itu tersenyum membayangkan nanti mereka akan mencobanya lagi dan berhasil.

__ADS_1


__ADS_2