Cinta Untuk Kanaya

Cinta Untuk Kanaya
BAB 28. OGAH!


__ADS_3

"Sekarang, ada satu pertanyaan yang belum ada jawabannya. Apa tujuan Mama sambung mu, menyuruh Kamu untuk menjebak Aku?" Tanya Keenan.


Vania langsung saja menggelengkan kepalanya karena ia memang tidak tahu apapun untuk itu.


"Bagaimana Kamu tidak tahu?" Tanya Keenan lagi, nada suaranya mulai meninggi.


"Aku tidak berbohong untuk itu, aku benar-benar tidak tahu aku juga tidak bertanya apapun karena yang aku pikirkan hanyalah keselamatan Papa ku."


Keenan mendesah panjang lalu menyandarkan kepalanya sembari mengusap wajahnya.


"Bang Keenan, hanya ada satu cara jika ingin mengetahui apa motif Mama sambung Vania menyuruhnya melakukan hal itu." Ujar Damar yang sedari tadi hanya diam.


''Apa?" Tanya Keenan.


"Vania harus bertemu lagi dengan Mama sambungnya."


"Itu tidak mungkin, aku sudah tidak bisa menjangkau mereka lagi." Sahut Vania.


"Bang Keenan, bagaimana jika kita mengajukan kerja sama dengan perusahaan Papanya Vania? Dari situ kita bisa mencari tahu dan tentunya juga akan melibatkan Vania. Bang Keenan, aku curiga jika Mama sambung Vania mengenal keluarga kita atau mungkin memiliki dendam." Ujar Damar.


Keenan terdiam menatap Damar dengan nampak berpikir.


"Baiklah Damar, kau atur saja." Ucap Keenan.


Tak lama kemudian, Arland pun datang dengan membawa beberapa bungkusan plastik.


Setelah Arland meletakkan di meja, dengan antusias Keenan menyajikan makanan untuk Kanaya, dan itu semua tak lepas dari perhatian Damar.


'Semoga Bang Keenan akan selalu memperlakukan Kanaya seperti ini, aku akan mencoba ikhlas meskipun sebenarnya hati ini belum rela.' Batin Damar, iapun langsung mengalihkan pandangannya ke arah Vania.


"Ayo, kalian makan juga." Ajak Keenan pada Damar dan Vania.


"Tidak Bang, Kami berdua sudah makan di apartemen Vania sebelum kesini." Jawab Damar, dan itu langsung membuat Kanaya tersedak makanan.


Uhuk... uhuk...


"Kanaya, kau tidak apa-apa?" Keenan langsung memberikan air minum pada istirnya. Kemudian mengambil tisu mengusap sudut bibir Kanaya yang basah.


Dan lagi-lagi Damar langsung mengalihkan pandangannya dari pemandangan itu, hatinya masih saja sakit. Vania yang memperhatikan Damar benar-benar merasa bersalah karena dirinya Damar harus kehilangan wanita yang dicintainya.


Tidak ingin berlama-lama dan menambah luka hatinya, Damar pun berpamitan untuk mengantarkan Vania pulang.


............


"Damar, aku benar-benar minta maaf." Ucap Vania setelah mobil Damar terparkir di pelataran apartemen nya.


Damar yang mengerti arti permintaan maaf Vania hanya menanggapinya dengan senyuman.

__ADS_1


"Katakan, apa yang harus aku lakukan untuk menebus rasa sakit hatimu karena kehilangan wanita yang kau cintai?"


Damar menggeleng, "Entahlah."


"Tapi aku benar-benar merasa bersalah, Damar. Jika kau tidak keberatan, aku siap menemani kamu kapanpun kamu butuhkan. Em maksudnya menjadi teman curhatmu, aku siap mendengarkan apapun keluh kesah mu. Jika perlu aku akan mengajakmu ke taman bermain dan menghiburmu."


Damar terkekeh, "Kau pikir aku anak kecil yang mau kau ajak ke taman bermain."


"Tidak, bukan seperti itu maksudnya. Aku hanya sedang berusaha menghiburmu."


"Ada banyak cara lain jika ingin menghiburku." Ucap Damar dengan tersenyum menyeringai.


"A-pa?" Tanya Vania dengan terbata, ia jadi takut melihat senyuman Damar yang seperti itu.


"Kau harus mentraktir aku segelas capuccino setiap kali aku datang ke cafe tempat mu bekerja."


Vania langsung menghembuskan nafas lega, ia tadi sudah berpikir yang tidak-tidak.


"Baiklah, aku tunggu nanti malam." Vania pun turun dari mobil Damar. Ia melambaikan tangannya ketika mobil Damar kembali melaju.


.........


Di kantor, setelah kepergian Damar dan Vania. Kanaya jadi kehilangan selera makannya karena memikirkan dua orang itu. Kemana dan apa yang dilakukan mereka sekarang?"


"Kanaya, kenapa tidak dihabiskan makannya?"


"Tapi kau baru makan sedikit."


"Aku bilang, aku sudah kenyang!"


Keenan pun terdiam dan kembali melanjutkan makannya sendiri.


Arland yang masih berada di ruangan itu sampai menggeleng-gelengkan kepalanya, ia tidak bisa membayangkan bagaimana Keenan menghadapi sikap Kanaya yang seperti itu selama tiga bulan ini? Dan bagaimana jika Kanaya akan terus bersikap seperti itu hingga kedepannya. Sungguh ia tidak bisa seperti Keenan yang sangat sabar. Bahkan Arland membatin, akan meremukkan tulang-tulang istrinya jika memperlakukan dirinya seperti itu. Arland menjadi kesal sendiri melihat sikap Kanaya.


"Em, Arland apa aku boleh minta tolong lagi?" Ucap Keenan setelah menyelesaikan makannya.


"Apa?"


"Tolong jemput Aryan dan Anin ya disekolah, mereka pasti sudah menunggu." Jawab Keenan.


Mendadak kedua mata Arland membulat, baru saja ia mencerca sikap Kanaya dan sekarang ia harus bertemu gadis yang selalu membuatnya naik darah. Oh apa-apaan ini?


Namun, tak mungkin juga ia menolak permintaan Keenan dan akhirnya Arland pun menyetujui meskipun hatinya merasa dongkol.


Arland memilih untuk menjemput Aryan lebih dulu, setelah itu ia baru menjemput Anin.


"Kak Anin!" Aryan melambaikan tangannya pada Anin yang sudah menunggu di luar gerbang sekolah.

__ADS_1


Melihat Aryan, Anin pun segera menghampiri. Namun, ia mengerutkan keningnya karena yang menjemput bukanlah abangnya.


"Kok Om Brewok yang jemput? Bang Keenan mana?"


"Di kantor." Jawab Arland dengan acuh. "Cepat naik atau akan aku tinggal!"


Anin pun bergegas masuk ke mobil, dan hal yang membuat Arland kesal pun kembali terjadi. Anin menutup pintu mobil dengan cara membantingnya.


Bruk ....!!


'Astaga, bagaimana jika pintu mobilku terlepas, gadis itu benar-benar..." Arland mencengkeram kemudinya dengan erat. Kemudian melajukan mobilnya dengan kencang yang membuat Anin berteriak karena belum memasang sabuk pengaman sehingga ia terlempar ke depan dan kepalanya terbentur.


'Rasain! Emangnya enak, sakit kan?' Dalam hati Arland tersenyum puas.


Namun, tiba-tiba saja ia dibuat terkejut dan refleks menghentikan laju mobilnya ketika kepalanya mendapatkan hantaman sepatu dari belakang.


"Rasain tuh! Sakit kan? Sama nih kepala ku juga sakit." Anin menatap Arland dengan tajam, begitupun dengan Arland yang menatap Anin tak kalah tajam. Jika saja tidak ada Aryan, pasti ia sudah memberi pelajaran pada gadis tengik itu.


'Awas saja nanti!' Gerutu Arland dalam hati. Kemudian iapun kembali melajukan mobilnya.


"Kak Anin, jangan seperti itu sama Bang Arland nanti kualat loh!" Tegur Aryan.


"Om, Aryan, bukan Bang Arland! Om Brewok!" Tekan Anin.


Aryan tertawa, "Awas loh berantem terus nanti jodoh." Ucap Aryan.


"Ogah!" Ucap Anin dengan cepat.


"Aku juga ogah!" Balas Arland. Ia bergidik ngeri membayangkan gadis seperti Anin yang menjadi pendampingnya, bisa-bisa ia cepat mati mendadak.


Suasana pun hening ketika mobil kembali melaju, baik Arland maupun Anin tak ada lagi yang bersuara. Hanya Aryan yang sesekali bertanya pada Arland. Hingga tak lama kemudian mobil Arland pun telah terparkir di pelataran kediaman Erlangga.


Bruk ....!


Lagi, setelah Anin keluar ia menutup pintu mobil Arland dengan membantingnya.


"Sabar ya Bang." Ucap Aryan kemudian juga turun.


Arland hanya bisa mendengus kesal, ia tidak mau lagi disuruh Keenan untuk menjemput gadis tengik itu.


.


.


.


__ADS_1


__ADS_2