
Setelah mendapatkan telephone dari Damar yang mengatakan jika Vania kemungkinan di culik, Kanaya tak hentinya merengek agar Keenan membawa nya ke kantor polisi bertemu Om Rizal untuk bertanya langsung bagaimana kejadian nya.
Entah kenapa, pikiran Kanaya selalu tertuju pada Vania.
"Tapi Kanaya, kalau bayi kita nangis mau nyusu gimana kalau kita pergi? Gak mungkin juga kita bawa dia."
"Aku udah siapin stok ASI nya, ya please kita pergi sebentar aja ketemu Om Rizal." Kanaya masih terus membujuk suaminya.
"Tapi kan kita bisa telephone Om Rizal aja, gak perlu datang ke kantor polisi."
"Ya udah kalau kamu gak mau anterin aku, biar aku pergi sendiri aja." Rajuk Kanaya.
Keenan menghela nafasnya. "Ok baik lah kita pergi, sekarang kamu siap-siap biar aku panggil Mama dulu buat jagain dia." Ujar Keenan melirik bayi nya dengan ekor mata kemudian keluar dari kamar.
__ADS_1
.
.
.
Setelah menitipkan bayi nya kepada Tania, Keenan dan Kanaya pun bergegas ke kantor polisi. Sepanjang jalan Kanaya tampak gelisah, ia selalu berusaha menghubungi nomor Vania berulang kali yang selalu berakhir dengan suara operator.
"Gak usah khawatir, Vania pasti baik-baik saja." Ujar Keenan menenangkan sang istri yang nampak gelisah. Sudah tentu Kanaya akan merasa khawatir karena mereka berdua sudah dekat dan sudah seperti kakak dan adik.
Vino dan Tania yang saat ini berada di kamar Keenan menjaga bayi cantik yang kembali tetidur setelah meminum ASI yang sudah di sediakan Kanaya, dua paruh baya itu juga tampak memikirkan Vania yang tiba-tiba hilang.
"Mas, jika Vania memang di culik kira-kira siapa yang menculik nya? Jika melihat karakter Vania yang sangat friendly apa mungkin dia punya musuh? Atau ini ulah saingan bisnis?"
__ADS_1
Vino nampak memikirkan ucapan istri nya, "Kalau saingan bisnis aku rasa tidak akan segila itu sampai menculik, tapi kalau musuh mungkin saja."
'Musuh?' Vino yang tadi nya berbaring miring di samping cucu nya, dengan cepat bangkit mendududukkan tubuh nya. Sekali lagi ia berpikir, jika Vania memang di culik dan yang menculik nya adalah musuh, dan hanya satu orang yang bisa melakukan itu...
"Ada apa, Mas?"
"Sayang, seperti nya aku juga harus menyusul Keenan dan Kanaya ke kantor polisi." Jawab Vino kemudian beringsut turun dari tempat tidur.
"Mas, ada apa?" Tania tahu betul bagaimana suaminya nya, pasti lah ada sesuatu yang terjadi melihat ekpresi Vino yang nampak menahan amarah.
"Sayang, jika dugaan ku benar berarti aku juga turut andil untuk mencari Vania. Aku yakin kau pasti mengerti maksud ku." Tanpa menunggu jawaban istri nya, Vino langsung saja keluar dari kamar setelah melabuhkan kecupan singkat di kening Tania.
"Hati-hati, Mas." Ujar Tania, namun sudah tidak terdengar oleh Vino. Wanita yang masih saja terlihat cantik di usianya yang tak lagi muda itu mendududukkan tubuh di tepi tempat tidur sambil menatap cucu nya. Namun, pikiran nya melayang jauh ke masa lalu. Ia pikir, hidup nya akan damai di masa depan dan bahagia bersama bersama suami dan anak-anak nya. Namun, ternyata bayang-bayang masa lalu masih saja menghinggapi. Dan cucu ini hadir karena ulah wanita dari masa lalu suaminya.
__ADS_1
Tania menghela nafasnya, ia hanya bisa berharap agar semua nya akan baik-baik saja dan Vania segera di temukan.