Cinta Untuk Kanaya

Cinta Untuk Kanaya
BAB 36. KHILAF


__ADS_3

Keenan benar-benar tidak bisa berkata apapun sekarang, sampai didalam kamar pun ia masih terdiam. Yang ada dalam pikirannya saat ini, jika saja waktu itu papa nya tidak membatalkan perjanjian pinjam rahim itu, mungkin ia tidak akan pernah merasakan kasih sayang sosok ibu kandungnya sendiri.


Usapan lembut di pundaknya membuatnya terhenyak, ia menoleh, senyum tipis terukir di bibirnya melihat Kanaya yang berdiri di sampingnya.


Tanpa mengucapkan apapun, ia menarik pinggang istrinya untuk duduk di pangkuannya. Membuat Kanaya terkejut dan refleks memeluknya.


Tak ingin melewatkan kesempatan ini, Keenan pun dengan cepat mengecup bibir istrinya sekilas, membuat si empunya terdiam mematung dengan ekspresi terkejutnya. Untuk yang pertama kalinya Keenan berani mencium bibirnya, namun sebenarnya Kanaya tidak tahu saja jika hampir setiap malam Keenan mencuri ciumannya disaat ia sudah terlelap.


Melihat tak ada reaksi apapun dari istrinya, Keenan kembali melancarkan aksinya. Dengan gerakan pelan dan tatapan tak lepas menatap kedua netra istrinya, Keenan memajukan Kepalanya memangkas jarak hingga bibirnya kembali menyentuh bibir Kanaya. Masih tak ada reaksi apapun, Keenan semakin memberanikan diri mulai memberi ******* pada bibir ranum itu.


Entah sadar atau tidak, Kanaya membalasnya membuat Keenan tersenyum senang. Kedua matanya perlahan terpejam ketika Keenan menarik tengkuknya memperdalam ciumannya.


Semakin menuntut, Kanaya benar-benar terbuai, kedua tangannya ia kalungkan di leher sang suami sehingga Keenan lebih leluasa dalam permainannya.


Satu menit...


Dua menit...


Tiga menit...


Dan akhirnya ciuman itu terlepas saat tiba-tiba saja Kanaya mencubit pinggang suaminya dengan keras.


"Auw." Keenan meringis sambil mengusap pinggangnya yang terasa panas dan perih. "Ya ampun, lagi enak-enak nya juga malah di cubit."


Kanaya melotot dengan wajah memerah entah karena marah atau menahan malu, 'Bisa-bisanya aku terbuai bahkan membalas ciumannya.' Ujarnya dalam hati, kemudian hendak mengambil bantal untuk memukul suaminya. Namun, belum sempat ia mengambil bantal itu Keenan sudah lebih dulu memeluknya.


"Maaf, aku khilaf." Ucap Keenan sambil cekikikan. "Tapi boleh cium lagi gak? Bibir kamu manis, aku suka."

__ADS_1


Dan kali ini bukan hanya pinggang suaminya yang Kanaya cubit, tapi seluruh bagian tubuh Keenan yang dapat ia jangkau.


Keenan pun melepas pelukannya karena benar-benar merasa kesakitan.


"Sakit banget, kamu kuat banget cubit nya." Ekspresi wajahnya menggambarkan rasa sakit yang ia rasakan.


"Rasain, siapa suruh nyosor-nyosor!" Kanaya berkacak pinggang serta menatap tajam suaminya.


"Siapa yang nyosor-nyosor? Kan aku cium nya baik-baik, malahan kamu juga balas ciuman aku dan menikmatinya, kan?"


Telak! Kanaya terdiam, wajahnya semakin memerah karena malu. Ia merutuki dirinya yang bisa-bisanya terbuai dengan permainan bibir Suaminya.


Tanpa mengucapkan apapun, Kanaya turun dari tempat tidur kemudian melangkah cepat masuk ke dalam kamar mandi.


Keenan tersenyum sambil menatap pintu kamar mandi yang baru saja tertutup dengan cukup keras. Ia yakin, didalam kamar mandi pasti istrinya itu sedang mencuci bibirnya yang bekas ia cium.


"Percuma dicuci nanti akan aku cium lagi, lihat saja."


"Pokoknya lain kali aku harus waspada!"


.


.


.


"Gimana rasanya Tuan Putri setelah balik lagi ke Istananya?" Tanya Damar, ia memiringkan duduknya menatap Vania disampingnya yang masih menikmati bubur ayamnya, dan ini adalah mangkuk kedua.

__ADS_1


"Biasa aja," Jawab Vania sambil terus menyuapi mulutnya. "Mau aku di apartemen atau dirumah sama aja, sama-sama sepi." Lanjutnya, kemudian mengambil air minum dan meminumnya. "Seandainya saja Mama ku masih ada dan Adikku tidak hilang..." Vania menghentikan kalimatnya seiring helaan nafas panjang yang terhembus. Ia sangat merindukan suasana rumahnya dulu, setiap pulang sekolah ia disambut dengan suara tangisan sang adik bayinya. Mama dan papa nya pun akan bercanda bersama.


"Apa kau tidak pernah mencoba untuk mencari Adikmu lagi?"


"Papa selalu berusaha mencari dengan berbagai cara, bahkan akan memberi imbalan tinggi bagi siapa yang bisa menemukan Adik ku. Setelah Mama tiada pun Papa masih berusaha mencari, hingga Papa bertemu dengan sosok pengganti Mama. Setelah menikah lagi Papa menghentikan pencarian Adikku."


"Bagaimana kalau kita yang mencoba mencari nya sekarang?" Tawar Damar.


Vania terkekeh, "Ku rasa itu agak sulit, selain sudah lama sekali aku juga tidak tahu bagaimana caranya." ucapnya dengan lirih.


"Apa Adikmu mempunyai tanda lahir?"


Vania menggeleng, "Saat Papa masih mencari hanya berbekal foto. Hari itu beberapa jam sebelum Adikku hilang Mama sempat memotret nya."


Damar membenarkan posisi duduknya, ia menjadi semakin tertarik mendengar cerita tentang hilangnya Adik Tania.


"Foto. Apa didalam foto itu jelas terlihat pakaian yang dipakai Adikmu? Kalau iya, itu bisa kita jadikan bahan pencarian. Siapa tahu orang yang merawat Adikmu masih menyimpan pakaiannya saat bayi."


Vania menoleh menatap Damar dengan kening mengkerut, "Kenapa malah kau yang jadi bersemangat ingin mencari Adikku?"


Damar tersenyum, "Yah siapa tahu saja nasib baik masih berpihak padamu, kau bisa dipertemukan Adikmu. Kau masih berharap bisa bertemu Adikmu kan?"


"Tentu saja, tapi Damar bagaimana seandainya kalau dia sudah tiada." Nada bicaranya melemah, jika itu benar itu artinya ia akan benar-benar sendirian mendampingi hari tua Papa nya, padahal ia suka berkhayal punya saingan didalam rumah.


"Jangan pesimis seperti itu, Kita tidak tahu. Bisa jadi kan Adikmu sekarang tumbuh menjadi gadis yang cantik, bahkan kecantikannya mengalahkan dirimu."


Vania terkekeh, "Dia akan menjadi saingan terberat ku."

__ADS_1


"Baiklah Tuan Putri, kalau begitu cepat habiskan sarapanmu setelah itu kita bekerja. Kita harus punya uang yang banyak untuk mencari saingan mu itu."


"Ya kau benar."


__ADS_2