
Mendengar ketukan di balik pintu kayu yang sudah terlihat rapuh itu, salah satu pria yang berdiri di sisi Vania bergegas untuk membukakan pintu untuk bos mereka yang datang.
Setelah pintu terbuka, kedua mata Vania membulat ketika melihat siapa yang datang.
"Mama Zara... " Ucap Vania dalam hati. Benar-benar terkejut melihat kedatangan mantan istri papa nya itu. Jadi dalang penculikannya adalah dia, tapi untuk apa menculik dirinya?
"Kenapa menatap ku seperti itu, hum?" Zara yang baru saja masuk, melangkah dengan angkuhnya mendekati Vania dan berhenti tepat di hadapan anak mantan suaminya itu.
"Coba tebak, kenapa kamu bisa berada di tempat ini, hum?" Zara membungkukakkan tubuhnya berbisik di telinga Vania.
__ADS_1
Vania yang mulut nya di bekap kain tentu tidak bisa bersuara untuk menjawab, ia hanya bisa terus berteriak dalam hati meminta untuk di lepaskan.
"Huh, apa? Aku tidak dengar, ayo bicara yang keras! Kenapa suara mu sama seperti tikus kejepit." Zara mengolok Vania dengan meniru suara yang di keluarkan Vania di balik kain yang membekap mulut nya itu.
Merasa cukup mengolok Vania, Zara pun memerintah anak buahnya untuk membuka kain yang membekap mulut Vania.
Terlihat pipi dan di sekitar mulut Vania memerah bekas bekapan itu, belum lagi bekas tamparan anak buah Zara yang terlihat lebam.
"Shuuttt, jangan berteriak nanti ada yang dengar." Ujar Zara lalu terkekeh. Sebenarnya mau bagaimanapun kerasnya Vania berteriak tentu tidak akan ada yang mendengar nya, karena tempat Vania di sekap ini sangat jauh dari pemukiman warga.
__ADS_1
"Ma, aku mohon lepaskan aku. Papa pasti khawatir mencari aku." Mohon Vania, wanita sudah hampir menangis.
"Itulah yang aku inginkan, membuat Papa mu khawatir mencari mu. Tapi kamu tenang saja, aku akan melepaskan kamu setelah dua anak buah ku ini bersenang-senang dulu dengan mu." Ujar Zara sambil melirik kedua anak buah nya. "Setelah itu pulanglah ke Papa mu, bilang padanya, Pa aku sudah kotor." Lanjut kemudian tertawa.
Dua pria yang menculik Vania itu ikut tertawa renyah mendengar ucapan bos nya itu, mereka menatap Vania dengan tatapan lapar seolah sudah tak sabar untuk menyantap wanita itu bulat-bulat.
"Ma, aku mohon jangan lakukan itu padaku. Lepaskan aku." Mohon Vania, dan kali ini ia sudah menangis. Terlebih melihat kedua pria itu terus menatap dirinya dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Jangan panggil aku Mama karena aku bukan Mama mu! Saat masih menjadi Istri Papa mu saja aku tidak suka kau memanggil ku dengan sebutan Mama!" Sentak Zara yang membuat Vania terkejut.
__ADS_1
"Ma, sejak dulu aku sudah memanggap Mama Zara sudah seperti Mama kandung ku sendiri, aku sangat senang saat Papa menikah lagi karena aku berpikir akan mendapatkan sosok Pengganti Mama yang telah tiada. Tapi aku tidak tahu kenapa Mama Zara malah sangat membenci aku, padahal selama ini aku sudah berusaha menjadi anak yang baik untuk Mama." Ucap Vania dengan terisak, apa yang di ucapkannya itu adalah tulus dari dalam hati nya.
Bukan nya merasa terharu mendengar ucapan Vania, Zara malah tertawa dengan kencang, hati nya sama sekali tidak tersentuh dengan ucapan Vania yang begitu tulus.