
Waktu menunjukkan pukul delapan pagi, didalam kamarnya Damar tengah berkutat membenahi penampilannya. Sejak semalam ia sudah tak sabar menunggu pagi tiba. Begitu fajar menyingsing, ia langsung segera bersiap-siap.
Kemeja putih lengan panjang berbalut dengan jas berwarna biru dongker terlihat pas ditubuh kekarnya. Dan jangan lupakan parfum aroma aquatic yang fresh dan maskulin, aroma yang disukai oleh wanita.
Dan tidak lupa jam tangan branded yang melingkar dengan gagahnya di pergelangan tangan membuatnya semakin terlihat berkharisma.
Damar pun membawa langkah kakinya yang terbalut sepatu pantofel, keluar dari kamarnya.
Sepanjang langkah menuruni anak tangga, senyumnya semakin merekah hingga kini dia sudah berada didalam mobil dimana papa dan mamanya sudah menunggu. Bara dan Vani sangat senang saat putranya mengatakan akan melamar Vania, karena sudah sejak lama mereka menantikan momen ini. Dan hari ini mereka pun sangat antusias untuk berangkat ke rumah wanita yang akan dilamar oleh Damar.
Damar menyalakan mesin mobilnya, dia juga menambah volume AC mobilnya, karena tiba-tiba saja keningnya dipenuhi dengan peluh, rasanya dia akan bertemu dengan polisi saja.
Sepanjang perjalanan menuju menuju rumah vania, tiada hentinya Damar mengukir senyum diwajahnya membayangkan bagaimana nanti Vania akan terkejut akan lamaran dadakan nya ini.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama, hanya dalam 15 menit berkendara , mobil Damar sudah terparkir rapi di pelataran rumah Vania.
Rizal yang sebelumnya sudah diberitahu akan kedatangan Damar beserta kedua orangtuanya yang berniat melamar putrinya, juga sudah bersiap dan sejak semalam ia sudah mengatakan pada Vania untuk tidak pergi ke kantor namun ia tidak memberitahu apa alasannya seperti permintaan Damar yang ingin memberikan kejutan.
Mendengar deru mesin mobil, Rizal bergegas keluar dari rumah menyambut kedatangan Damar dan orangtuanya. Kemudian menuntun tamunya itu masuk kedalam rumah.
.
.
.
Di ruang tamu, Vania yang duduk disamping Papanya menatap satu-satu persatu semua orang yang ada di ruangan itu dengan kening mengkerut. Sama sekali tidak mengerti dengan maksud ini semua.
__ADS_1
Hingga beberapa saat kemudian, Bara papanya Damar mulai membuka suara.
"Pak Rizal, sebelumnya Bapak sudah mengetahui maksud kedatangan kami hari ini. Dan sekarang saya selaku Papa nya Damar akan mengutarakan secara langsung maksud kedatangan kami sebenarnya." Ujar Bara, kemudian beralih menatap Vania.
"Pa, apa boleh aku yang mengatakannya?" Pinta damar, meski sebenarnya sebuah lamaran itu adalah kendali orangtua namun ia ingin dirinya sendiri yang mengutarakan niatnya itu kepada wanita yang akan ia lamar.
Dan Bara pun menyetujui permintaan putranya itu.
Sebelumnya, Damar menarik napasnya dengan dalam lalu menghembuskan nya dengan perlahan kemudian mengarahkan tatapannya kepada Vania yang tampak kebingungan.
"Vania, aku tahu kau pasti akan terkejut dengan apa yang akan aku katakan, tapi ketahuilah aku sudah memikirkannya jauh-jauh hari dengan pertimbangan yang sangat matang bahwa aku ... Ingin melamar kamu menjadi istriku." Ujar Damar setelahnya ia kembali menghembuskan nafas dengan panjang. Terasa lega setelah mengutarakan niatnya namun, juga sedikit khawatir jika Vania akan menolak lamarannya ini.
Di tempat duduknya, Vania membeku dengan tatapan tak lepas menatap Damar. Bahkan kedua matanya sedikitpun tak berkedip, benar-benar terkejut dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Damar. Melamar dirinya?
__ADS_1
Usapan lembut di bahunya membuat Vania sedikit tersentak, ia menoleh menatap papanya. "Jadi karena ini Papa melarang Aku untuk pergi ke kantor?" Tanyanya.
Dan Rizal menganggukkan kepalanya, "Jadi bagaimana, Vania, apa kamu mau menerima lamaran Damar?"