
Waktu terus berjalan, bahkan detik tak pernah terlambat walau satu langkah, menciptakan setiap momen yang terjadi hingga beberapa bulan telah berlalu.
Di dalam ruangan poli kandungan, sepasang suami istri yang sebentar lagi akan menjadi ayah dan ibu tak lepas menghiasi wajahnya dengan senyuman sembari menatap layar USG yang memperlihatkan bayi mereka yang berjenis kelamin perempuan. Tepat seperti yang diharapkan oleh Keenan, ingin memiliki anak pertama perempuan.
"Kau terlihat senang sekali bayi kita perempuan."
Keenan tersenyum sembari membantu istrinya duduk usai melakukan pemeriksaan.
"Tentu, aku memang sangat berharap jika anak pertamaku adalah perempuan. Anak perempuan yang bisa melindungi, menyayangi serta menjadi pendengar dan penasehat yang baik bagi Adik-adiknya kelak."
"Adik-adik?" Kanaya menatap suaminya sambil menahan senyum. Sepertinya suaminya ini melupakan sesuatu.
Dan Keenan pun menghela nafasnya dengan panjang, "Yah Adik-adik," ucapnya dengan lirih. Bagaimana ia bisa memberikan adik pada anaknya nanti jika si ibunya saja sampai sekarang masih takut untuk disentuh.
Hampir setiap malam Keenan sudah mencoba, awalnya Kanaya biasa saja saat melakukan pemanasan, namun pada akhirnya Keenan hanya bisa menjambak rambutnya dengan frustasi setiap kali akan melakukan penyatuan Kanaya selalu berteriak ketakutan. Untung saja kamarnya berjauhan dengan yang lainnya, jika tidak hampir setiap malam seisi rumah akan dibuat heboh dengan teriakan Kanaya.
"Maaf ya,"
Keenan tersenyum seraya menggeleng, "Tidak perlu minta maaf, kamu begitu juga gara-gara aku."
Kanaya pun tersenyum, meski Keenan sejauh ini terlihat tidak mempersoalkan. Namun, jujur dalam hatinya tak tenang, Keenan laki-laki normal bagaimana bisa menahan hasratnya selama ini. Terkadang ia merasa bersalah karena tidak bisa memberikan hak suaminya, namun ia juga tidak bisa melawan rasa takutnya.
Setelah membantu istrinya turun dari ranjang pasien, Keenan pun menuntun istrinya duduk di kursi yang berhadapan dengan dokter. Kehamilan Kanaya yang sudah memasuki bulan ke sembilan membuatnya kesusahan bergerak, dan Keenan pun selalu siap siaga mendampingi sang istri apalagi saat dokter mengatakan hari taksir persalinan tinggal menunggu beberapa hari lagi.
__ADS_1
Setelah mendapatkan resep dari dokter, Kanaya dan Keenan pun berpamitan pada dokter.
Saat baru keluar dari ruangan, Kanaya langsung disambut pelukan hangat dari Vania yang memang sedang menunggunya bersama Damar.
"Duh, aku jadi gak sabar pengen lihat dia lahir." Ucap Vania setelah mengurai pelukannya.
"Iya Kak, aku juga." Jawab Kanaya.
"Nikah dong biar punya bayi juga." Tiba-tiba Keenan menyeletuk yang membuatnya langsung mendapat cubitan di pinggangnya.
Vania tersenyum, "Iya nanti, aku bakal nikah kalau aku sudah menemukan keberadaan Adik ku entah dia masih hidup atau sudah...
"Dia pasti masih hidup." Damar menyela dengan cepat.
Vania tersenyum lagi, sejak awal Damar lah yang sangat antusias ingin membantu mencari keberadaan adiknya padahal ia sendiri sudah ingin menyerah. Namun, melihat kegigihan Damar, iapun jadi bersemangat mencari keberadaan adiknya.
Kanaya mengangguk karena ia dan Keenan memang belum membeli apapun untuk bayi nya.
Mereka berempat pun meninggalkan rumah sakit usai menebus resep obat untuk Kanaya, kemudian segera berangkat menuju sebuah toko perlengkapan bayi.
Sesampainya di toko tersebut, Keenan dan Damar membuntut dibelakang Kanaya dan Vania yang sedang sibuk memilih beberapa pakaian bayi.
"Damar, bagaimana hubunganmu dengan Vania?" Tanya Keenan.
__ADS_1
Damar yang sedang melihat aksesoris bayi, menoleh menatap Keenan disampingnya.
"Biasa saja, sejauh ini pertemanan kami baik." Jawabnya.
"Hanya berteman?" Tanya Keenan lagi.
Damar hanya mengangguk sebagai jawabannya.
"Melihat kedekatan kalian, Bang Keenan pikir kalian berdua...
"Tidak, kami hanya berteman." Sela Damar.
Keenan mengangguk pelan, entah kenapa ia menjadi sedikit khawatir mengetahui jika Damar dan Vania hanya berteman. Ia jadi berpikir apakah Damar masih belum bisa melupakan Kanaya.
"Apa ini bagus?" Tanya Kanaya sembari menunjukkan pada suaminya beberapa helai pakaian bayi perempuan.
Keenan pun menghampiri istrinya. "Apapun pilihanmu semuanya bagus, tapi kamu harus ingat seberapa banyak pun pakaian bayi yang kamu beli. Tetap bayi kita nanti akan memakai pakaian milikmu sebagai pakaian pertamanya saat dia lahir nanti."
"Apa? Jadi sampai sekarang pakaian Kanaya saat bayi masih ada?" Tanya Vania.
"Hem iya, walaupun hanya sepasang tapi itu penuh kenangan." Keenan yang menjawab.
"Aku juga baru tahu jika pakaian bayi itu masih ada setelah ibu dan ayah meninggal, mereka menyimpannya di dalam kotak kayu tua. Setiap kali aku ingin melihat apa isi kotak kayu itu mereka selalu melarang." Ujar Kanaya.
__ADS_1
"Aneh juga ya, jika itu memang pakaian bayi milikmu kenapa mereka melarang mu untuk melihatnya?"
Kanaya menggeleng, itulah yang ia tidak mengerti hingga saat ini. Ayah dan ibunya telah tiada, entah kepada siapa ia bisa bertanya tentang pakaian beserta kalung dan gelang bayi didalam kotak kayu tua itu.