
Beberapa jam berlalu, hari sudah beranjak sore.
Kanaya pun telah dipindahkan ke ruangan perawatan intensif setelah menerima donor darah.
Di samping ranjang pasien, tak sedetikpun Keenan beranjak dari sisi istrinya. Di samping kirinya Vania juga ikut menemani dengan keadaan yang sudah tampak segar setelah membersihkan diri dan berganti pakaian. Sementara Damar dan Vino duduk di sofa yang tersedia di ruangan itu, dan Rizal masih di rawat usai mendonorkan darahnya.
"Keenan, pergilah dulu mengisi perutmu atau sebaiknya kau pulang dulu membersihkan diri, biar aku mengganti menjaga Kanaya di sini." Ujar Vania.
Namun, Keenan menggelengkan kepalanya. Ia tidak ingin meninggalkan Kanaya walaupun sedetik saja sampai istrinya itu sadar.
Beberapa saat ruangan itu hening, semua yang ada di ruang itu larut dalam pikiran masing-masing. Hingga beberapa saat kemudian terdengar dering ponsel Keenan mengambil alih kesunyian.
Keenan mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana, ia melihat ternyata mamanya yang menelpon. Setelah menekan icon berwarna hijau itu ia langsung menempelkan benda pipih itu di telinganya. Suara yang ia tangkap pertama kali di seberang telepon adalah suara tangisan bayi nya.
"Keenan, kalian di mana sih kenapa belum pulang juga ini sudah sore?" Tanya Tania di seberang telepon.
Keenan masih diam, rasanya tidak sanggup memberitahu pada mamanya tentang Kanaya yang saat ini sedang terbaring di rumah sakit.
__ADS_1
"Keenan, cepat bawa Kanaya pulang. Bayi kalian dari tadi nangis terus, stok ASI juga sudah habis."
Setetes cairan bening itu akhirnya lolos dari sudut mata Keenan, dirinya masih begitu syok atas apa yang terjadi pada Kanaya di tambah mendengar suara tangisan bayinya yang mungkin saja sedang kelaparan membutuhkan ASI ibunya membuat Keenan benar-benar merasa terpukul.
"Iya, Ma, aku segera pulang." Ujar Keenan akhirnya kemudian memutuskan sambungan telepon itu.
Keenan berdiri dari tempat duduknya, kemudian menghampiri papa nya yang duduk di sofa.
"Pa, aku harus segera pulang, bayi ku menangis terus kata Mama stok ASI nya sudah habis, aku akan membelikan susu formula terlebih dahulu sebelum pulang." Ujar Keenan.
Vino pun beranjak dari tempat duduknya, "Baiklah kalau begitu kita pulang bersama." Ucapnya.
"Tolong jaga Kanaya, aku akan pulang sebentar dan segera kabari aku jika Kanaya sudah sadar." Ujar Keenan menitipkan istrinya pada Vania.
"Kau tenang saja, aku akan menjaga Kanaya di sini." Ucap Vania sambil terus tipis.
Keenan dan Vino pun meninggalkan ruang rawat Kanaya.
__ADS_1
Saat di perjalanan, Keenan mampir ke sebuah toko membelikan susu formula untuk bayi nya. Ini satu-satunya cara agar bayinya tidak kelaparan.
Setelah membeli susu, Keenan pun kembali melajukan mobilnya menuju rumah.
Sesampainya di rumah, Keenan bergegas menuju kamarnya dimana bayi dan mamanya berada.
"Loh, Keenan kok kamu sendirian Kanaya nya mana? Dan apa yang kamu bawa itu?"
Keenan tak menjawab, ia meletakkan plastik yang berisi susu formula itu diatas tempat tidur kemudian mengambil alih menggendong bayinya yang masih menangis itu.
"Ma, aku minta tolong buatkan susu untuk bayi ku." Ujar Keenan sambil menunjuk ke plastik yang berisi susu formula itu dengan ekor matanya.
"Keenan, kenapa harus bikin susu, Kanaya nya mana?"
"Ma, nanti aku jelaskan dan sekarang aku tolong sama Mama, tolong buatkan susu untuk bayi ku."
Meski masih merasa bingung, akhirnya Tania menuruti permintaan putranya untuk membuat susu. Setelah mengambil plastik yang berisi susu formula itu iapun segera keluar dari kamar menuju dapur.
__ADS_1
Sepeninggalan mama nya, air mata Keenan kembali mengalir. Ia mengecup dengan lembut pipi putri kecilnya yang yang sedang menangis itu.
"Sayang, doakan Mama cepat sadar ya."