Cinta Untuk Kanaya

Cinta Untuk Kanaya
BAB 27. BERTEMU


__ADS_3

Beberapa jam berlalu, meeting pun selesai. Para klien telah pergi dan di ruangan itu tinggal menyisakan Keenan, Damar dan juga Arland.


"Aku berangkat sekarang jemput Vania." Ujar Damar setelah merapikan berkas-berkasnya.


"Iya," ucap Keenan sembari menutup benda lipatnya.


"Kalau begitu Aku pergi beli makanan dulu," Sahut Arland. "Keenan, Kau ingin menitip apa?" Tanyanya.


"Beli dua porsi Mie Pangsit untukku dan Kanaya. Dan camilan nya kentang goreng saja." Jawab Keenan.


"Bang Arland, untuk Kanaya jangan terlalu pedas, dia tidak suka yang terlalu pedas. Tapi sebaiknya jangan Mie Pangsit karena sepertinya itu tidak baik untuk Ibu hamil, dan juga camilannya sebaiknya diganti buah-buahan saja yang lebih terjamin dan sehat." Ucap Damar yang


Membuat Keenan tertegun. Ternyata Damar masih sangat perhatian pada Kanaya. Keenan jadi khawatir jika adiknya itu belum sepenuhnya merelakan Kanaya untuknya dan begitupun dengan Kanaya sendiri yang sepertinya masih berharap untuk bisa bersama Damar. Bagaimana jika Damar berubah pikiran dan menginginkan Kanaya kembali padanya?


"Em, Arland kalau begitu pergi saja ke Restoran tempat kita biasa makan, Koki disana pasti tahu menu yang sehat untuk Ibu hamil, dan jangan lupa buah-buahan nya juga." Ucap Keenan kemudian.


Arland mengangguk lalu segera pergi, begitupun dengan Damar yang akan langsung pergi menjemput Vania.


Dan Keenan, ia juga bergegas kembali ke ruangannya. Ia sudah terlalu lama meninggalkan Kanaya sendirian, entah apa yang sedang dilakukan istrinya itu sekarang.


Sesampainya di ruangannya, Keenan tersenyum melihat ternyata Kanaya sedang tertidur di sofa dengan music yang menyala di ponselnya.


Keenan mengambil ponselnya dari tangan Kanaya dengan hati-hati agar tak membangunkan istrinya itu. Kemudian ia menatap wajah lelap Kanaya yang sudah menjadi candu baginya.


"Dari kemarin kau selalu ketiduran di sofa ini. Apa sebaiknya setiap hari kau ikut saja ke kantor dan akan aku belikan ranjang kalau perlu, jadi kau bisa tidur dengan nyenyak sambil menunggu ku bekerja." Keenan terkekeh dengan ucapan sendiri.


.


.


.

__ADS_1


Di tempat lain...


Damar baru saja sampai di apartemen Vania, dan Vania sendiri sebenarnya sudah menunggu sejak pagi dengan perasaan yang campur aduk. Takut jika nanti dua orang yang menjadi korbannya masih tidak terima dengan perbuatannya malam itu, dan akan memberinya hukuman yang cukup mengerikan.


"Kita berangkat sekarang?" Ujar Damar ketika Vania sudah membukakan nya pintu.


"Em, Damar tadi aku masak. Apa kau mau masuk dulu kita makan bareng." Ajak Vania, sebenarnya ini hanya untuk mengulur sedikit waktu untuk mengurangi ketakutannya.


Damar berpikir sejenak, "Baiklah, sebenarnya Aku juga memang belum makan siang."


Vania tersenyum, kemudian ia langsung saja menarik tangan Damar masuk yang membuat Damar tersentak kaget.


Ketika sampai di ruang makan, Damar cukup tertegun melihat ada beberapa menu makanan yang terlihat sangat menggugah selera.


"Ini semua kamu yang masak?" Tanya Damar tanpa mengalihkan tatapannya dari makanan itu.


"Iya, ayo duduk." Vania menarik kursi, kemudian menuntun Damar untuk duduk, lagi-lagi Damar dibuat terkejut dengan tindakan Vania yang tiba-tiba saja menarik kedua pundaknya untuk duduk.


"Gak usah, biar Aku ambil sendiri." Cegah Damar, ketika Vania akan menyendok makanan ke piringnya.


Dengan sedikit canggung, Damar memulai makan dengan sesekali melirik Vania yang tampak fokus pada makanan nya. Wanita itu tak sedikitpun mengalihkan tatapannya dari makanannya, Damar jadi berpikir jika Vania memang seperti itu saat makan. Ia jadi teringat dengan Kanaya yang juga selalu fokus pada makanannya saat makan.


Beberapa saat kemudian setelah selesai makan...


"Kita berangkat sekarang ya? Kita pasti sudah ditunggu." Ajak Damar, ia merasa sudah terlalu lama belum kembali membawa Vania. Keenan dan Kanaya pasti sudah menunggu.


"Em, Damar sebenarnya Aku takut bertemu mereka." Akhirnya Vania mengungkapkan juga rasa takutnya.


"Jangan takut, Aku sudah menceritakan semuanya pada mereka." Ujar Damar.


"Apa mereka percaya? Aku takut mereka tidak percaya dan menganggap Aku hanya mengarang cerita."

__ADS_1


"Tidak usah khawatir. Kau tenang saja, aku percaya jika kau tidak berbohong jadi aku akan membantu meyakinkan mereka lagi nanti."


Vania tersenyum lega, "Damar, terima kasih karena Kau sudah percaya denganku. Aku pikir tidak ada lagi orang yang mau memercayai Aku." Vania begitu terharu karena Damar percaya padanya.


"Setiap orang pasti bisa membedakan mana yang berbohong dan mana yang tidak, dan aku bisa melihat kejujuran di matamu." Ujar Damar yang tidak ia ketahui, ucapannya itu membuat Vania tersanjung.


Mereka pun berangkat menuju perusahaan Erlangga.


Vania cukup terkejut saat Damar membawanya ke perusahaan yang ternyata tak jauh dari apartemennya. Perusahaan yang hampir setiap hari ia lewati, namun hanya perusahaan ini yang belum pernah ia coba memasukkan lamaran kerja.


Di ruangan Keenan, suasana mendadak jadi tegang setelah kedatangan Vania dan Damar.


Kanaya tak hentinya menatap wanita yang duduk di samping mantan kekasihnya. Ada rasa yang tak biasa ia rasakan saat ini, bukan cemburu seperti sebelumnya saat Damar menyebutkan nama wanita itu. Namun, Kanaya tidak bisa mengartikan perasaan apa yang dirasakannya ini saat tatapannya bertemu dengan wanita asing itu.


Sementara Vania sendiri, ketika melihat tatapan mantan kekasih Damar itu, ia langsung menunduk dan tak berani menatapnya lagi. Namun, bukan rasa takut lagi yang dirasakannya saat ini, tetapi entahlah Vania juga tidak mengerti.


"Damar sudah menceritakan semuanya, dan semoga saja apa yang kamu beritahu pada Damar adalah kebenarannya. Karena jika kamu berani memanipulasi kamu akan tahu akibatnya." Ujar Keenan, suasana tegang pun mulai menguap.


"Aku tidak bohong, Rizal Wirawan itu nama Papa ku, kalian boleh mencari tahu jika kalian tidak percaya." Jawab Vania, ia mengangkat pandangan sekilas menatap Keenan. Ia merasa malu karena malam itu datang menghampiri Keenan dengan pakaian yang cukup terbuka.


"Maaf Bang Keenan," Damar menyela sembari mengeluarkan sebuah map dari dalam tas kerjanya kemudian meletakkan di atas meja.


"Kemarin, Vania bilang dia kesusahan melamar pekerjaan di beberapa perusahaan karena menurutnya mungkin namanya sudah di blacklist. Dan kemarin saat kembali ke kantor, aku mencoba mencari data laporan masuk tentang penolakan penerimaan pelamar kerja dan aku menemukan nama Vania. Ternyata data blacklist Vania juga dikirim ke perusahaan kita." Ujar Damar.


Keenan menekan pangkal hidungnya sembari menatap map itu, ternyata masalahnya cukup pelik juga. Wanita yang ingin menjebaknya itu kini berada dalam keadaan rumit karena gagal dalam misinya.


"Sekarang, ada satu pertanyaan yang belum ada jawabannya. Apa tujuan Mama sambung mu, menyuruh Kamu untuk menjebak Aku?" Tanya Keenan.


.


.

__ADS_1


.



__ADS_2