
Niat hati untuk menjalin silaturahmi dengan mengundang keluarga Erlangga makan malam, namun justru menjadi ajang terbongkarnya kedok istrinya. Rasanya Rizal sudah tidak tidak punya muka, baik dihadapan keluarga Erlangga maupun di hadapan putrinya sendiri.
"Pak Rizal, maaf kan kami telah merusak acara makan malam ini." Vino sebenarnya sangat menyayangkan hal ini, namun bagaimana lagi? Ini menyangkut nama baik keluarganya.
"Tidak apa-apa Pak Vino, justru saya meminta maaf atas nama Zara maupun Vania atas kejadian yang telah menimpa Putra dan menantu Pak Vino."
Vino menepuk bahu Rizal, "Masalahnya sudah selesai dan sebaiknya sekarang kita lupakan. Putra dan menantu saya juga sejauh ini baik-baik saja, dan sekarang giliran Pak Rizal sendiri yang memperbaiki hubungan Pak Rizal dengan Vania."
Rizal melirik kearah putrinya yang nampak asyik mengobrol dengan keluarga Erlangga.
"Rasanya aku sudah tidak punya muka dihadapan Putriku sendiri, aku juga tidak tahu bagaimana cara meminta maaf padanya." Ucapnya lirih seiring nafas berat yang terhembus kan.
"Kelihatannya Vania anak yang baik, dia pasti bisa memakluminya." Ucap Vino kemudian mengajak Rizal untuk bergabung dengan yang lainnya.
Melihat papanya datang, Vania langsung berdiri memeluk papanya.
Rizal mematung, namun di detik berikutnya ia membalas pelukan putrinya dengan erat. "Maafkan Papa, Vania, maafkan Papa." Hanya kata itu yang sanggup ia ucapkan.
"Aku sudah memaafkan Papa sejak awal. Aku tidak pernah marah ataupun membenci Papa, malah aku selalu merindukan Papa." Ucap Vania mulai terisak.
"Itu benar, Om. Vania selalu datang ke pemakaman hanya untuk melihat Om." Damar menyahuti.
Rizal menatap Damar dengan tersenyum, kemudian tatapannya tak sengaja bertemu dengan istri Keenan. Sejenak ia menatap mata gadis itu yang sangat mirip dengan mendiang istrinya, Rizal tersenyum. Putrinya yang hilang itu pasti saat ini sudah sebesar Kanaya.
.
.
.
Setelah drama yang cukup menegangkan, keluarga Erlangga pun berpamitan pulang.
Sesampainya di rumah, Keenan langsung memboyong istrinya menuju kamar untuk beristirahat begitupun dengan yang lainnya.
__ADS_1
Sebenarnya masih ada yang ingin Keenan tanyakan pada mama dan papa nya tentang Zara mama sambung Vania, namun melihat Kanaya yang nampak kelelahan ia pun mengurungkan niatnya itu dan akan bertanya esok hari saja.
"Mau aku pijitin?" Tawar Keenan ketika Kanaya sudah merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
"Gak usah, elusin perut aku aja. Akhir-akhir ini sering gatal." Jawab Kanaya, matanya sudah terpejam karena sudah mengantuk.
Keenan pun merangkak naik ke tempat tidur, kemudian menyingkap baju Kanaya dan mengelus perutnya.
"Kanaya, aku mencintaimu."
Meskipun sudah mengantuk, namun Kanaya masih dapat mendengar ungkapan suaminya. Iapun tersenyum tanpa membuka mata. hatinya terasa menghangat mendengar pernyataan cinta Keenan.
Rasa kantuknya perlahan menghilang namun Kanaya tidak membuka matanya. Ia mengingat bagaimana sikapnya selama beberapa bulan ini terhadap Keenan, suaminya itu dengan sabar menghadapi semua perlakuannya, bahkan Keenan pernah memohon memintanya untuk membuka hati dan memberikan kesempatan padanya. Dan hingga saat ini Kanaya tidak mengerti dengan perasaannya sendiri, apakah sudah bisa menerima Keenan atau hatinya masih terpatri pada Damar.
Kanaya membuka mata saat merasakan kecupan di keningnya.
"Aku tidak akan memaksamu untuk menerimaku, tapi aku ingin kau tahu, bahwa aku akan selalu berada di sampingmu."
Setelah puas mencium kening Istrinya, Keenan pun menjauhkan bibirnya. Ia menatap istrinya dengan lekat begitupun dengan Kanaya yang juga menatapnya dengan dalam.
"Maaf." Satu kata itu tiba-tiba saja terucap dari bibir Kanaya.
Keenan mengerutkan keningnya, "Maaf untuk apa?" Tanyanya.
"Maaf, karena hingga saat ini aku belum menjalankan kewajiban ku sebagai Istri. Aku masih merasa takut mengingat kejadian malam itu." Kanaya kembali memejamkan mata. Bayangan saya Keenan merenggut paksa kehormatannya kembali terlintas. Bahkan ia belum bisa melupakan rasa sakit atas perbuatan Keenan malam itu.
Keenan pun langsung memeluk istirnya dengan erat. "Seharusnya aku yang minta maaf, aku yang sudah memberikan rasa takut itu padamu."
Kanaya menggeleng dalam dekapan suaminya. "Tidak, itu juga bukan salahmu. Mungkin memang sudah takdirku akan mengalami kejadian seperti itu. Aku benar-benar minta maaf karena belum bisa memberikan hakmu sebagai Suami."
"Sudah, jangan katakan apapun lagi." Keenan mengecup kening istrinya dengan dalam sembari mengusap puncak kepala istrinya dengan lembut. Ia benar-benar merasa bersalah telah membuat Kanaya merasa takut.
"Kau mau menerimaku saja itu sudah lebih dari cukup untukku. Aku tidak akan meminta apapun darimu sampai kau sendiri yang telah dengan siap memberikannya." Ujar Keenan dengan tulus. Namun, bohong rasanya ia sebagai laki-laki normal tak pernah menginginkan hal itu dari Kanaya. Namun, ia juga tak mau egois dan mementingkan dirinya sendiri. Ia lebih mementingkan kesehatan mental istrinya dari rasa takut itu.
__ADS_1
"Terima kasih karena sudah mau mengerti." Kanaya mempererat pelukannya ditubuh Keenan. Ia memang sudah terbiasa berdekatan dengan Keenan, namun untuk urusan hubungan badan ia benar-benar masih merasa takut.
"Sekarang tidurlah," Keenan pun kembali mengelus perut Kanaya hingga istrinya itu benar-benar tertidur.
Meskipun juga sudah mengantuk, namun Keenan tidak ingin melewatkan kesempatan untuk menatap wajah lelap istrinya.
'Aku memang tidak akan memintanya. Tapi aku akan membuatmu terbiasa bersentuhan denganku, hingga suatu saat aku bisa menghilangkan rasa takutmu dan menjadikanmu sebagai istriku yang seutuhnya.' Keenan tersenyum membayangkan saat itu.
.
.
.
Pagi yang cerah menyapa, Kanaya pun mulai terjaga. Hal pertama yang hadir dalam pandangannya adalah wajah lelap sang suami yang terlihat sangat menggemaskan saat tidur.
Kanaya mengulurkan tangannya menyentuh pipi Keenan yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Ia tersenyum, rasanya masih seperti mimpi. Laki-laki yang seharusnya menjadi kakak iparnya malah menjadi suaminya. Inikah takdirnya yang sesungguhnya?
Tentang takdir memang tidak ada yang tahu bagaimana akan berjalan. Saat takdir menghampiri kita tidak bisa menolaknya. Meski terkadang kita juga sudah berhati-hati dalam bertindak dan melangkah. Tanpa harus menyalahkan takdir, kita justru perlu belajar ikhlas menerimanya.
Dan Kanaya pun kini telah yakin jika inilah takdirnya. Bersama Keenan, laki-laki yang telah menjadi suaminya. Kejadian malam itu, mungkin begitulah takdir mempertemukannya dengan jodoh sesungguhnya.
Mengingat pengakuan cinta suaminya tadi malam membuat Kanaya merona dan semakin tersenyum lebar. Haruskah ia bangga, fakta bahwa dirinya adalah cinta pertama bagi Keenan. Namun, senyumnya seketika surut saat mengingat dirinya yang belum bisa menjalankan kewajibannya sebagai istri karena rasa takutnya itu, bagaimana jika Keenan mulai goyah dan tergoda dengan perempuan lain di luar sana? Sungguh Kanaya tidak bisa membayangkan hal itu.
Kanaya pun kembali memeluk Keenan yang masih tidur, dengan erat. Seakan sedang menjaga suaminya dari siapapun yang ingin mengambil Keenan darinya.
.
.
.
__ADS_1