Cinta Untuk Kanaya

Cinta Untuk Kanaya
BAB 23. SEBENARNYA


__ADS_3

Wanita itu berhenti saat punggungnya menabrak dinding, dan itu membuatnya semakin ketakutan karena tidak ada ruang lagi untuknya bisa bergerak, sementara laki-laki didepannya terus melangkah maju.


Damar pun menghentikan langkahnya, ia menyilang kedua tangannya di dada sambil menggelengkan kepalanya melihat wanita itu ketakutan.


"Kau penakut rupanya, tapi kenapa waktu itu kau ingin menjebak Kakakku untuk tidur denganmu, huh!"


Wanita itu tersentak kaget dan refleks memejamkan mata mendengar bentakan itu, iapun sekarang tahu jika laki-laki dihadapannya ini adalah adik dari laki-laki yang hampir masuk kedalam perangkapnya malam itu.


"Siapa yang menyuruhmu melakukan itu? Dan kau dibayar berapa? Katakan!" Lagi-lagi Damar bertanya dengan membentak.


"Apa Kau tahu? Karena perbuatanmu itu kekasihku yang menjadi korbannya. Dan sekarang aku harus kehilangan dia dan merelakannya bersama kakakku." Akhirnya, Damar meluapkan emosinya.


Wanita itu tergugu, ia tidak menyangka jika obat perangsang yang ia masukkan kedalam minuman itu ternyata bereaksi dan lebih tidak ia sangka, wanita lain yang menjadi korbannya. Namun, waktu itu ia bersyukur karena kehilangan jejak laki-laki itu, karena jika tidak hidupnya pun akan hancur karena harus menyerahkan dirinya pada laki-laki itu. Namun, karena kegagalannya malam itu membuatnya terusir dari rumahnya, ibu tirinya mengarang cerita bohong jika ia sudah membawa laki-laki untuk tidur di hotel dan membuat papanya begitu murka. Padahal ibu tirinya sendirilah yang mengancam akan membunuh papanya dan merebut semua harta papanya jika ia tidak mau menjebak laki-laki itu untuk tidur dengannya, entah apa tujuan ibu tirinya menyuruhnya melakukan hal sehina itu ia sama sekali tidak tahu. Yang ia pikirkan waktu itu hanyalah keselamatan papanya tanpa memikirkan resiko dari perbuatannya itu. Dan saat ia akan angkat kaki dari rumahnya sendiri, ibu tirinya kembali mengancam untuk menutup mulut atas peristiwa di hotel malam itu.


"Kenapa diam saja? Jawab! Dasar wanita murahan!" Damar tak bisa lagi membendung emosinya. Ia tidak tahu jika ucapannya barusan melukai perasaan wanita itu.


"Jangan mengatakan apapun tentang ku jika kau tidak tahu kebenarannya. Apa kau pikir aku mau melakukan itu? Tidak! Aku juga terpaksa!" Wanita itupun marah harga dirinya diinjak.


"Jika kau bukan wanita seperti itu lalu apa, huh? Hanya wanita murahan yang ingin menjebak laki-laki untuk tidur dengannya."


"Diam! Aku bukan wanita murahan!" Wanita itu benar-benar tidak terima, ia dengan kuatnya melempar pecahan vas bunga itu dan hampir mengenai Damar. Kemudian ia menjatuhkan tubuhnya terduduk di atas lantai sambil menangis.


Menangis karena ucapan laki-laki itu yang menyebutnya sebagai wanita murahan, karena kalimat itu juga yang terucap dari bibir papanya ketika mengusirnya waktu itu.


'Pergi dari rumah ini, Papa tidak sudi punya anak wanita murahan seperti mu!'


Kalimat hinaan sang papa masih terekam jelas diingatnya, namun ia sama sekali tidak marah pada papanya, karena papanya juga hanyalah korban dari kebohongan ibu tirinya.


Melihat wanita itu menangis, amarah yang membuncah di hati Damar perlahan meredup, sepertinya wanita itu benar-benar dalam keadaan yang terpuruk. Damar pun juga ikut mendudukkan tubuhnya di lantai, memandangi wanita itu yang menangis dan terlihat sangat mengenaskan.


.


.


.

__ADS_1


.


Damar sedikit menyesali ucapannya beberapa saat lalu telah mengatai wanita itu murahan.


Dan wanita itupun memaklumi karena siapapun akan beranggapan seperti itu.


Beberapa saat lalu karena wanita itu tak kunjung berhenti menangis, akhirnya Damar pun mencoba menenangkan. Dan setelah wanita itu kembali tenang, Damar kembali bertanya dengan cara yang halus tentang apa tujuan wanita itu ingin menjebak Kakaknya.


Karena tidak mungkin selamanya ia menutupi kebenaran dan membuat orang-orang beranggapan buruk padanya, akhirnya wanita itu menceritakan semuanya tanpa ada yang terlewat.


"Kenapa kau tidak berusaha untuk meyakinkan Papa mu? Kenapa Kau diam saja saat dituduh dan di usir dari rumah?"


"Apa yang bisa Aku lakukan? Jangankan untuk bertemu Papa ku lagi, nama ku saja sudah di coret dan tidak di anggap anak lagi. Bahkan mungkin juga namaku sudah di blacklist sehingga aku kesulitan mencari pekerjaan, setiap perusahaan yang aku datangi tidak ada satupun yang mau menerima aku bekerja."


"Benar-benar keterlaluan!" Damar pun turut prihatin atas apa yang dialami oleh wanita itu.


"Lalu Apartemen ini?" Tanya Damar kemudian, karena jika wanita itu sudah dicoret dari keluarganya lalu bagaimana ia bisa tinggal di apartemen semewah ini.


"Aku membelinya dari hasil tabunganku sendiri saat masih bekerja di perusahaan Papa ku."


"Lalu, bagaimana caramu membiayai kebutuhan mu sehari-hari?" Tanya Damar lagi.


"Ck ck ck, sangat memperihatinkan, seorang anak konglomerat sekarang jadi pelayan Cafe." Tanpa sadar Damar terkekeh.


"Mau bagaimana lagi, daripada Aku jadi gelandangan." Wanita itupun terkekeh, menertawai dirinya yang begitu malang.


Damar mengangkat pandangan menatap ke sekeliling kamar yang cukup berantakan, ia pun jadi berpikir jika wanita itu adalah pemalas. Beberapa saat netra nya terus berputar hingga tatapannya tertuju pada pigura kecil diatas meja yang terdapat foto bayi.


"Itu foto bayi siapa? Bayi mu?"


"Bukan, itu foto Adikku yang hilang saat masih bayi. Dan sampai sekarang tidak tahu dimana keberadaannya, entah dia masih hidup atau sudah menyusul Mama."


Damar pun mengangguk mengerti, ia merasa sudah terlalu jauh untuk kepo tentang wanita itu. Wanita yang tadinya akan ia beri pelajaran.


"Aku sudah menceritakan semuanya, jadi apa yang akan kau lakukan sekarang?" Tanya wanita itu.

__ADS_1


"Tadinya Aku ingin memberimu pelajaran," Jawab Damar.


"Membalas dengan meniduri ku seperti yang dialami kekasihmu?"


Damar terkekeh, "Apa Kau tidak takut, aku masih berada disini?"


"Tadinya aku takut, tapi sepertinya kau sudah berubah pikiran."


"Yah kau benar, aku sudah berubah pikiran. Dan sebagai gantinya Aku mau kau menemui orang yang sudah menjadi korbanmu, minta maaf lah padanya." Ujar Damar.


"Kekasih mu?"


"Mantan kekasih, yang sekarang sudah menjadi Adik ipar ku." Damar terkekeh.


Seakan menular, wanita itupun ikut terkekeh. "Aku benar-benar minta maaf, karena aku, kau jadi kehilangan wanita yang kau cintai. Tapi aku rasa kejadian itu juga tidak terjadi secara kebetulan melainkan kalian memang tidak berjodoh."


Bukannya marah, Damar malah tersenyum miris. "Yah mungkin kau benar, mungkin kami memang tidak berjodoh."


"Dan ternyata selama ini kau hanya menjaga jodoh kakakmu sendiri."


Keduanya pun terkekeh.


Sesaat suasana menjadi hening, hingga beberapa saat wanita itu terlonjak kaget ketika tatapannya tertuju pada jam dinding yang menunjukkan sudah pukul sebelas siang.


"Ada apa? Tanya Damar.


"Aku terlambat ke pemakaman Mama."


"Hei, ada banyak waktu untuk pergi ke pemakaman."


"Bukan itu, setiap jam 10 Papa pasti datang ke pemakaman Mama, dan saat itulah Aku bisa dengan leluasa melihat Papa meskipun dari kejauhan."


.


.

__ADS_1


.



__ADS_2