Cinta Untuk Kanaya

Cinta Untuk Kanaya
BAB 66. INGIN TES DNA


__ADS_3

"Kak Kanaya..."


Kanaya yang hendak ke kamar mandi, menoleh kearah pintu mendengar suara Anin memangilnya.


"Biar aku saja yang buka." Ujar Keenan yang sedang menggendong putri kecilnya.


Kanaya mengangguk lalu kembali melanjutkan langkahnya ke kamar mandi.


Keenan pun membaringkan bayinya diatas tempat tidur lalu melangkah kearah pintu.


"Ada apa, Anin?" Tanya Keenan setelah membuka pintu kamarnya.


"Ada Kak Vania sama Om Rizal, mau ketemu sama Kak Kanaya katanya." Jawab Anin.


Keenan terdiam sejenak, ia sudah dapat menebak jika kedatangan Vania kali bersama papanya pasti tentang pakaian dan perhiasan bayi itu.

__ADS_1


"Baiklah Anin, nanti Bang Keenan sama Kak Kanaya menyusul. Kak Kanaya sekarang lagi dikamar mandi." Ujar Keenan.


Anin mengangguk lalu kembali ke ruang tamu.


Setelah menutup pintu kamarnya, Keenan melangkah ke tempat tidur. Melihat putrinya yang telah terbangun iapun menggendong si bayi cantiknya itu.


"Anak Papa pintar ya bangun gak nangis." Ujarnya sambil mencium dengan gemas pipi tembam putrinya itu.


Tak lama kemudian Kanaya pun keluar dari kamar mandi.


"Loh, Anin nya mana?" Tanya Kanaya yang tengah melangkah menghampiri suami dan putrinya.


Sama seperti Keenan, Kanaya pun sudah dapat menebak kenapa Om Rizal ingin bertemu dengannya pasti karena pakaian dan perhiasan bayi itu.


Setelah mengganti pakaiannya, Kanaya dan Keenan keluar dari kamar menemui Vania dan Om Rizal, dengan Keenan yang menggendong bayinya.

__ADS_1


Melihat kedatangan Kanaya, Rizal sontak membenarkan posisi duduknya. Sejak masih diperjalanan menuju kediaman Erlangga, sudah banyak kalimat yang tersusun rapi yang akan ia bicarakan dengan Kanaya.


Meski belum terbukti, tetapi Rizal merasa sangat yakin jika Kanaya adalah Alisya putrinya yang hilang. Rizal merasa semuanya bukan kebetulan melainkan memang memiliki kaitan. Dari sejak awal melihat mata Kanaya yang sangat mirip dengan Riska mendiang istrinya, ia juga sudah merasa dekat dengan Kanaya padahal mereka baru bertemu. Dan beberapa hari lalu ia juga mendonorkan darahnya untuk Kanaya.


"Selamat siang, Om." Sapa Kanaya yang baru saja tiba di ruang tamu bersama putri dan suaminya. Kemudian tersenyum kepada Vania karena baru beberapa jam lalu wanita itu meninggalkan rumah ini dan sekarang kembali lagi bersama papanya.


Rizal hanya mengangguk dengan terus menatap Kanaya tanpa berkedip.


Setelah duduk berdampingan dengan suaminya, Kanaya mengarahkan tatapannya pada Rizal. "Ada apa ya Om mau bertemu aku? Tanyanya berbasa-basi, padahal ia tahu apa maksudnya kedatangan Rizal ingin menemuinya.


Rizal tiba-tiba saja gugup berhadapan dengan Kanaya, kalimat yang sudah ia susun rapi saat diperjalanan menguar entah kemana. Dan akhirnya ia hanya mengutarakan keinginannya yang membuat semua yang ada di ruangan itu tercengang.


"Kanaya, Om mau melakukan tes DNA dengan kamu."


Sejenak ruangan itu hening, tak ada yang bersuara mencerna ucapan Rizal baru saja. Kanaya tidak menyangka jika Rizal senekat itu ingin melakukan tes DNA padahal jelas-jelas ia adalah anak ayah dan ibunya.

__ADS_1


"Om jangan bercanda, jangan hanya karena aku memiliki pakaian dan perhiasan bayi yang sama dengan milik Alisya, Om jadi menganggap aku adalah Alisya." Kanaya terkekeh.


"Kanaya, tidak ada salahnya kamu melakukan tes DNA untuk menunjukkan siapa kamu sebenarnya. Maksud Papa, untuk memperjelas kepada Pak Rizal jika kamu bukanlah Alisya dan Pak Rizal sendiri tidak akan berandai-andai kalau kamu adalah Alisya." Ujar Vino yang sedari tadi diam.


__ADS_2