Cinta Untuk Kanaya

Cinta Untuk Kanaya
BAB 29. JANGAN PAKSA AKU!


__ADS_3

Seminggu berlalu...


Seperti saran Damar, hari ini Keenan bersama Arland mendatangi langsung perusahaan papanya Vania untuk mengajak bekerja sama. Sesampainya di perusahaan itu beruntung pak Rizal papanya Vania sedang berada di kantor sehingga mereka bisa bertemu langsung.


"Suatu kebanggaan bagi saya kedatangan orang-orang besar seperti kalian." Ucap pak Rizal kemudian menjabat tangan Keenan dan Arland secara bergantian.


Keenan melirik kearah wanita paruh baya disamping pak Rizal. Pasti dialah mama sambung nya Vania, batin Keenan.


Pak Rizal pun menuntun kedua tamu pentingnya menuju sofa.


Keenan pun langsung mengutarakan niat kedatangannya untuk mengajak perusahaan pak Rizal untuk bekerja sama dengan perusahaannya. Dan tentu pak Rizal sangat senang karena perusahaan Erlangga adalah perusahaan terbesar dan pak Rizal pun menyetujui ajakan Keenan untuk bekerja sama.


Dapat Keenan lihat mimik wajah istri pak Rizal yang nampak senang. Keenan juga memperhatikan jika sedari tadi istri pak Rizal itu terus menatapnya.


"Oh ya mohon maaf sebelumnya, karena terlalu senang saya jadi lupa memperkenalkan istri saya," pak Rizal tersenyum kikuk kemudian menoleh menatap istirnya. "Perkenalkan Istri saya, Zara." ucapnya.


Keenan dan Arland pun juga memperkenalkan dirinya kemudian menjabat tangan istri pak Rizal itu.


'Dia sangat tampan, sama seperti papanya. Sayangnya anak bodoh itu gagal menjalankan misinya malam itu, jika tidak Erlangga pasti sudah hancur.' Batin Zara.


Tak lama kemudian Keenan dan Arland pun berpamitan pulang.


.........


"Arland, aku perhatikan Istri Pak Rizal itu terus menatapku." Ucap Keenan, saat ini mereka sudah sampai di perusahaan Erlangga. Mereka berdua bercerita sambil berjalan menuju ruangan Keenan.


"Iya, aku juga melihatnya." Jawab Arland.


"Jadi bagaimana menurutmu? Apa jangan-jangan yang dibilang Damar itu benar, jika Istri Pak Rizal itu mengenal keluargaku dan memiliki dendam?"


"Mungkin saja. Sebenarnya jika kau ingin masalah ini cepat terpecahkan, kita harus melibatkan Om Vino dan Tante Tania. Jika memang Istri Pak Rizal itu mengenal keluargamu pasti Mama dan Papa mu juga mengenalnya." Usul Arland.

__ADS_1


Keenan menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Jika kita melibatkan Papa dan Mama ku, yang jelas mereka juga akan tahu apa sebenarnya yang telah terjadi antara Aku dan Kanaya."


"Menurutku, itu sudah bukan persoalan lagi Keenan. Lagian kalian juga sudah menikah dan tidak akan lama lagi bayi kalian akan lahir." Arland tersenyum.


Keenan nampak berpikir, "Baiklah nanti aku pikirkan lagi."


Mereka berdua pun telah sampai di ruangan Keenan. Dan ternyata didalam ruangannya sudah ada Vania bersama Kanaya.


Seminggu belakangan ini, Vania memang sering mendatangi kantor Keenan dengan alasan ingin bertemu Kanaya yang memang akhir-akhir ini selalu ingin ikut ke kantor. Keenan pun senang dengan kedatangan Vania jadi ia tidak khawatir meninggalkan Kanaya sendirian di ruangannya jika ia ada urusan pekerjaan diluar kantor.


Keenan mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Damar namun ia tidak melihatnya.


"Damar ada di ruangannya." Ucap Vania yang mengerti gelagat Keenan.


Keenan menganggukkan kepalanya kemudian membawa dirinya duduk di samping Kanaya.


"Kanaya, karena Suamimu sudah datang, aku pamit ke ruangan Damar ya." Ujar Vania sembari beranjak dari tempat duduknya.


Karena tidak ingin mengganggu sepasang suami istri itu, Arland pun juga berpamitan kembali ke kantornya.


Dan di ruangan itupun tinggal Kanaya dan Keenan berdua.


"Apa dia merepotkan mu hari ini?" Tanya Keenan sembari menunjuk perut Kanaya dengan ekor matanya.


"Tidak," jawab Kanaya dengan singkat.


Keenan pun mendekati Kanaya, tanpa rasa canggung lagi ia langsung merebahkan kepalanya di pangkuan sang istri sambil mengusap perut istrinya. Dan Kanaya sendiri, meskipun masih terkadang cuek dan terkesan tidak perduli namun akhir-akhir ini ia juga sudah tak memperdulikan lagi saat Keenan dengan seenaknya mendekatinya. Karena bagaimanapun ia berusaha menolak dan menghindar, Keenan akan tetap seperti itu.


"Boleh aku tiduran sebentar disini?" Tanya Keenan sambil mendongakkan kepalanya menatap Kanaya.


"Hem," meski jawaban itu terkesan tidak mengizinkan namun, Keenan tidak perduli yang terpenting ia bisa dekat dengan istrinya.

__ADS_1


Kanaya terdiam ketika merasakan usapan lembut diperutnya. Hampir saja ia mengusap rambut Keenan namun, ia segera tersadar dan segera menarik kembali tangannya. Hatinya ingin, namun egonya lebih tinggi dan pada akhirnya ia hanya bisa membiarkan apa yang sedang dilakukan Keenan saat ini.


Tak lama kemudian, Keenan bangkit dari pangkuan Kanaya. Ia menatap dengan lekat istrinya, sebelah tangannya bergerak meraih tangan Kanaya kedalam genggamnya.


Saat Kanaya akan menarik tangannya, Keenan menggenggamnya semakin erat dan tak membiarkannya terlepas.


"Kanaya, aku tahu Kamu belum bisa menerima aku sepenuhnya. Aku juga masih ingat pernah mengatakan akan melepaskan mu jika bayi kita sudah lahir tapi kamu masih membenci aku. Tapi Kanaya, apa kamu tidak memikirkan anak kita nanti? Apa kamu tidak memikirkan perasaannya saat teman-temannya bertanya kenapa Ayah dan Ibunya terpisah? Setiap anak pasti menginginkan orangtuanya utuh, bersama dalam merawatnya hingga dewasa. Kanaya, apa kamu tidak ingin kita merawat anak kita bersama-sama? Aku sangat ingin, Kanaya dan aku mohon tolong berikan aku kesempatan itu." Keenan menatap istrinya dengan penuh permohonan, bahkan kedua matanya telah berkaca-kaca menunggu respon istrinya. Berharap Kanaya akan mau sedikit saja berkorban untuk anak mereka.


"Tolong jangan paksa aku!" Hanya kalimat itu yang terucap dari bibir Kanaya dengan tegas.


Membuat Keenan memejamkan mata sehingga cairan bening itu menggenang di sudut matanya. Genggaman tangannya pun perlahan mulai terlepas dan Kanaya menjauhkan tubuhnya dari Keenan.


Keenan merasakan hatinya bagai diremas melihat reaksi Kanaya. Apakah kalimat panjang lebar yang baru saja ia ucapkan tak sedikitpun menyentuh hati istrinya?


"Aku tidak memaksamu, Kanaya. Aku hanya...


"Berhentilah bicara, karena apapun yang kau katakan tak akan berpengaruh apapun padaku. Sejak awal aku sudah menekankan jika aku hanya terpaksa menerima pernikahan ini!"


Lagi dan lagi, dada Keenan semakin terasa sesak dibuatnya.


Setelah mengatakan kalimat itu Kanaya beranjak dari tempat duduknya kemudian masuk kedalam kamar mandi yang ada didalam ruangan suaminya itu. Didalam kamar mandi, Kanaya menyandarkan tubuhnya di balik pintu. Entah kenapa hatinya juga merasa sakit saat mengatakan hal itu pada Keenan, terlebih ketika melihat suaminya menitihkan air mata karena ucapannya itu. Sejujurnya ia tidak berniat menyakiti hati suaminya, namun Kanaya sendiri tidak mengerti dengan dirinya sendiri yang selalu saja kalah dengan keegoisannya.


.


.


.


MAMPIR JUGA KAK KE NOVEL OTHOR YANG LAGI IKUT EVENT, MOHON DUKUNGANNYA YA 🙏🙏🙏


__ADS_1


__ADS_2