
Berbekal jejak ban mobil yang ada di sepanjang jalan beserta keterangan dari beberapa warga, akhirnya tim polisi beserta keluarga Erlangga sampai di sebuah rumah tua yang terletak cukup jauh dari pemukiman warga. Terlihat dua buah mobil yang terparkir di depan rumah itu.
Sebelumnya polisi juga telah mematikan sirine mobil agar incaran mereka tidak melarikan diri.
"Tunggu Pak Rizal, jangan bertindak gegabah." Cegah salah seorang polisi, ketika Rizal hendak berlari memasuki rumah itu terlebih ketika mendengar suara teriakkan dari dalam sana.
"Pak biarkan saya masuk, saya yakin itu suatu teriakan Vania Putri saya."
"Biarkan kami tim polisi yang bertindak, sebaik Pak Rizal dan yang lainnya tetap berada di sini."
Kemudian beberapa polisi bersiap-siap membagi tugas untuk mengepung rumah tersebut. Setelah tim polisi sudah mengambil posisi masing-masing, tiba-tiba saja pintu rumah itu terbuka, membuat polisi langsung saja menodongkan senjata ke arah wanita paruh baya yang keluar dari rumah itu.
Rizal dan yang lainnya benar-benar terkejut melihat siapa yang keluar dari rumah itu, berbeda dengan Vino yang menampakkan kemarahan di wajah nya melihat mantan istri pertamanya itu masih saja berulah.
"Za-ra." Ucap Rizal terbata, benar-benar tak menyangka jika mantan istrinya sendiri yang dalang di balik penculikan putrinya.
Sementara itu, Zara yang baru saja keluar sangat terkejut tiba-tiba saja polisi menodongkan senjata kearahnya.
'Sial! Kenapa polisi bisa secepat ini bertindak.'
__ADS_1
Dengan kedua tangan berada di atas kepala, Zara tengah berpikir keras bagaimana caranya ia bisa melarikan diri. Ia melirik ke arah sekelilingnya, tidak ada cela untuk bisa melarikan diri melihat beberapa polisi sudah mengepung tempat tersebut dan depan sana Rizal dan keluar Erlangga berkumpul.
Setelah beberapa saat berpikir, Zara akhirnya berlari kembali masuk ke rumah tersebut membuat kedua anak buahnya yang tengah merobek-robek pakaian Vania menghentikan aksinya itu.
"Bos, ada apa kembali lagi? Kami belum selesai." Ujar salah satu pria itu tampak kesal karena merasa terganggu.
"Di luar ada polisi, " ujar Zara kemudian meraba bagian pinggangnya mengeluarkan sebuah p!sau yang sudah ia persiapkan.
Kesempatan ini di pergunakan Vania untuk berteriak sekencang-kencangnya dan tak lama beberapa polisi pun masuk kedalam rumah itu.
Dengan cepat Zara berlari ke belakang Vania memeluknya dari belakang sambil menodongkan p!sau tepat di leher Vania.
"Jika kalian berani maju, p!sau ini akan menancap di lehernya." Ancam Zara. Sementara kedua anak buahnya sudah di amankan polisi.
Perlahan Zara bergerak maju kearah pintu dengan menjadikan Vania tawanan nya.
Polisi terpaksa memberi ruang agar Zara tidak melukai Vania, namun tetap masih waspada agar Zara tidak melarikan diri.
Setelah berada di luar, Zara pun mengancam Rizal dan yang lainnya akan menggorok leher Vania jika ada yang berani mendekat.
__ADS_1
Tanpa yang lainnya sadari, diam-diam Kanaya melangkah pelan kearah sebuah balok kayu yang bersandar di dinding samping rumah. Setelah mengambil balok itu Kanaya bergerak maju dari arah belakang Zara untuk melumpuhkannya dengan balok itu.
Sambil melangkah Kanaya mengangkat balok yang di bawa itu tinggi-tinggi, dan...
Bugh...
Satu kali hantaman, Kanaya berhasil memukul bagian pundak Zara sehinga p!sau yang di tikamkan ke leher Vania terlepas, pun dengan Vania akhir nya terlepas dari dekapan Zara. Vania langsung saja berlari ke arah papa nya.
Dengan sigap Rizal membuka jas nya lalu menutupi tubuh putri nya yang pakaian nya telah robek-robek.
Namun, ini belum berakhir, pukulan Kanaya tak sepenuh nya melumpuhkan Zara. Kini Kanaya lah yang dalam bahaya.
Dengan menahan sakit di bagian pundak nya, Zara bergerak cepat mengambil p!sau nya yang terjatu, dan dengan cepat berlari ke arah Kanaya.
"Kanaya....
.
.
__ADS_1
.