Cinta Untuk Kanaya

Cinta Untuk Kanaya
BAB 74. SUKA BUKAN BERARTI NAKSIR


__ADS_3

"Cucu Kakek cantik banget sih, Rizal tak hentinya memuji dan terus menciumi cucunya, bahkan ia mengabaikan Keenan dan Kanaya yang duduk di sofa seperti orang asing.


hingga tak lama kemudian Vania pun datang, ia langsung mendudukkan tubuhnya di samping sang adik.


"Udah lama datangnya?" Tanya Vania.


"Udah sekitar setengah jam, Kak?" Jawab Kanaya.


Vania mengalihkan tatapannya kearah papanya, senyum menghiasi wajahnya. Iapun tak kalah bahagianya melihat papanya yang terlihat sangat bahagia telah menemukan Putri bungsunya sekaligus telah memiliki cucu.


"Kanaya, ikut kakak yuk." Ajak Vania, ia menarik tangan adiknya menuju kamar papanya. Keenan pun turut ikut, ia membuntut dibelakang kakak dan adik itu. Hingga mereka bertiga masuk kedalam kamar Vania.


Vania meletakkan tasnya diatas tempat tidur, kemudian membuka laci disamping tempat tidur mengeluarkan sebuah album berukuran besar dari dalam sana.


Vania menghampiri Kanaya dan Keenan yang duduk di sofa sambil membawa album tersebut.


Lembaran pertama yang dibuka Vania, dipenuhi oleh foto-foto papa dan mamanya ketika masih muda hingga telah memiliki dua orang putri. Di setiap foto semuanya dihiasi dengan senyuman. Terlihat begitu bahagia.


"Cantik," gumam Kanaya tanpa sadar, dengan terus menatap foto mamanya.

__ADS_1


"Mama tuh lebih mirip sama kamu, kalau aku ya mirip Papa sih katanya." Vania terkekeh.


Kemudian, Vania membalik lembaran selanjutnya yang dipenuhi foto-foto dirinya bersama Kanaya yang masih bayi, saat itu Vania berusia enam tahun.


"Kak Vania ternyata dari kecil udah cantik." Ujar Kanaya, namun tatapannya terus tertuju pada foto-foto itu sambil tersenyum.


Sementara Vania merona malu dipuji oleh adiknya.


"Boleh aku ambil yang ini?" Ucap Keenan sembari menunjuk foto Kanaya yang masih bayi.


"Boleh, ambil aja." Vania pun mengeluarkan selembar foto itu lalu memberikannya pada Keenan.


Keenan menatap kagum pada selembar foto yang kini ada tangannya. Ternyata istrinya sudah cantik sejak bayi.


Vania mengangguk, "Tanya apa?"


"Sebenarnya hubungan kamu sama Damar itu gimana sih? Kelihatannya kalian berdua sangat akrab." Keenan melirik istirnya, yang nampak tersenyum samar. Ia tahu jika Kanaya tak memiliki rasa lagi pada Damar.


"Yah biasa aja sih, cuma temenan aja." Jawab Vania tampak acuh.

__ADS_1


"Cuma temenan? Tapi kalian kelihatan akrab banget loh."


"Bener, kami tuh cuma temenan aja. Kenapa sih, ngarep nya aku tuh pacaran ya sama Damar?"


Keenan dan Kanaya serentak mengangguk dengan antusias.


"Ya tapi gak mungkin aku yang nembak cowok, aduh bisa jatuh harga diriku." Vania terkekeh.


"Apa Kak Vania menyukai Bang Damar?" Tanya Kanaya.


Vania terdiam, ia sendiri tidak tahu bagaimana perasaannya terhadap Damar. Yang ia rasakan, ia merasa nyaman setiap berada di dekat Damar. Namun, tidak tahu bagaimana dengan Damar sendiri?


"Kalau dibilang suka ya iya, kan Damar tuh orangnya baik. Ya tapi suka bukan berarti naksir kan?" Ujar Vania. Ia tertawa pelan mengurai kegugupan karena pertanyaan adiknya itu.


"Kalau aku jodohkan sama Damar mau gak?" Celetuk Keenan, dan diangguki oleh Kanaya.


"Jangan bercanda deh kalian berdua, apaan jodoh-jodohin. Jaman Siti Nurbaya udah lama lewat, sekarang tuh jaman nya cari kenyamanan." Ucap Vania.


"Tapi Kak Vania nyaman kan sama Bang Damar?"

__ADS_1


Vania terdiam, tidak mungkin ia mengatakan seluruh isi hatinya meskipun itu kepada adiknya sendiri. Ia masih menghargai Kanaya meskipun telah menjadi mantannya Damar.


"Udah ah, ganti topik pembicaraan." Elak Vania.


__ADS_2