
Tiga hari telah berlalu, hari ini Kanaya sudah diperbolehkan pulang oleh dokter, namun harus rutin untuk meminum obat dan datang ke rumah sakit jika terjadi keluhan pada luka tusukan di perut Kanaya.
Di rumah, Keenan tengah bersiap-siap untuk menjemput istrinya namun sebelum berangkat ia memandikan bayi nya terlebih dahulu setelah itu ia memakaikan bayinya itu pakaian milik Kanaya saat masih bayi untuk memberi kejutan pada istrinya, tak lupa Keenan juga memakaikan gelang dan kalung bayi itu pada putri kecilnya.
Selama Kanaya berada di rumah sakit, Keenan tidak pernah lagi datang ke kantor semua urusan kantor ia serahkan kepada Damar karena dirinya sibuk bulak-balik dari rumah ke rumah sakit mengurus istri dan bayinya.
Meski Anin dan Aryan setiap pulang sekolah selalu ke rumah sakit menemani Kanaya, dan di rumah ada Tania yang mengurus cucunya. Namun, Keenan sama sekali tidak melalaikan tugasnya sebagai suami dan ayah.
Saat pagi Keenan pulang ke rumah mempersiapkan segala keperluan bayi nya termasuk memandikan sebelum ia berangkat kembali ke rumah sakit menemani Kanaya di sana, dan saat sore hari Keenan akan pulang untuk bayinya dan saat malam hari ia kembali lagi ke rumah sakit. Begitu seterusnya sampai akhirnya Kanaya sudah diperbolehkan pulang.
"Anak Papa cantik banget," ujar Keenan menatap kagum bayinya yang telah memakai pakaian dan aksesoris Kanaya saat masih bayi. Keenan jadi membayangkan jika Kanaya sewaktu bayi secantik putri kecilnya ini.
"Kanaya memang cantik sih, jadi wajarlah Putrinya nya juga cantik." Kekeh nya lalu menggendong bayinya.
"Sekarang kamu sama Nenek dulu ya cantik, Papa mau jemput Mama di rumah sakit." Ujarnya, mencium dengan gemas pipi tembam itu lalu membawa bayinya keluar kamar mencari keberadaan mamanya.
Setelah menitipkan bayinya pada mamanya, Keenan pun bergegas berangkat ke rumah sakit.
.
.
__ADS_1
.
Sesampainya di rumah sakit, Keenan pergi ke bagian administrasi untuk membayar semua biaya rumah sakit dan setelah itu ia segera menuju ruang perawatan istrinya.
Didalam ruangan Kanaya, ternyata sudah ada Vania yang menemani. Sejak kemarin Vania memang mengatakan ingin ikut mengantar Kanaya pulang sekalian menjenguk si bayi cantik. Sejak kejadian penculikan itu Vania memang belum pernah menemui bayi Kanaya.
Kanaya juga telah rapi, semua pakaiannya sudah dimasukkan ke dalam tas dengan dibantu oleh Vania.
Rasanya Kanaya sudah tidak sabar ingin segera sampai rumah, ia sudah sangat merindukan putri kecilnya. Baru sehari bersama, ia terpisah dari bayinya karena harus dirawat dirumah sakit.
"Keenan, ayo buruan." Seru Vania, ia sejak tadi tak sabaran menunggu Keenan datang karena sudah tidak sabar untuk bertemu si bayi cantik itu.
Keenan yang tadinya ingin memeluk istirnya, urung karena Vania sudah tidak sabaran ingin segera berangkat.
Sepanjang jalan senyum tak lepas menghiasi wajah Kanaya, wajah bayinya seolah sudah menari-nari di hadapannya.
Tak membutuhkan waktu lama, mereka pun telah sampai di rumah.
Anin dan Aryan yang memang sudah menunggu, bergegas keluar rumah saat mendengar suara mobil Keenan.
"Eh, ada Kak Vania juga." Seru Anin terlihat senang, kemudian membantu Keenan menurunkan Kanaya dari mobil lalu mendudukkan nya di kursi roda.
__ADS_1
Sementara Vania, ia membantu membawakan tas Kanaya.
Setelah berada di dalam rumah mereka di sambut hangat oleh Tania dan Vino. Tania memeluk menantunya serta mencium seluruh wajah Kanaya seolah melepaskan rindu lama tak bertemu.
"Maafin Mama ya, selama kamu di rumah sakit Mama gak pernah jengukin kamu."
"Gak apa-apa, Ma, seharusnya aku yang minta maaf karena sudah merepotkan Mama jagain si kecil." Ujar Kanaya.
"Mama gak kerepotan kok, kan Keenan selalu pulang pagi dan sore merawat bayinya sendiri. Mama cuma jagain aja." Ucap Tania sambil melirik Keenan, ia sangat bangga pada putranya itu yang bisa juga mengurus bayinya.
Kanaya tersenyum mendengar ucapan mama mertuanya, sampai sini ia semakin merasa kagum pada suaminya. Keenan benar-benar laki-laki bertanggung jawab, tak pernah sedikitpun ia mendengar keluhan suaminya itu meskipun Kanaya tahu jika Keenan sedang lelah.
"Tante, si kecil mana kok gak kelihatan?" Tanya Vania yang celingak-celinguk mencari keberadaan si bayi cantik itu.
"Ada di kamar sama kakeknya." Jawab Tania, kemudian pergi ke kamarnya untuk mengambil cucu nya itu.
.
.
.
__ADS_1