
"Kanaya kamu adalah Alisya, Alisya Wirawan Adikku yang hilang." Vania menatap Kanaya dengan berkaca-kaca, sungguh ia berharap ini adalah nyata dan bukan hanya sebuah kebetulan sama.
"Itu gak mungkin, Kak. Aku adalah Anak Ayah dan Ibu, dan dia adalah Adikku." Ujar Kanaya sambil menunjuk Aryan. "Mungkin saja, Ayah dan Ibuku membeli pakaian dan perhiasan bayi ini dari seseorang." Lanjutnya, mematahkan keyakinan Vania jika ia adalah Alisya.
Seketika wajah Vania nampak murung, helaan nafas panjang terhembus kan. Kenapa ia tidak berpikir seperti itu dan langsung menyimpulkan bahwa Kanaya adalah Alisya. Mungkin benar yang dikatakan oleh Kanaya, jika ayah dan ibunya Kanaya membeli pakaian dan perhiasan bayi itu dari seseorang yang kemungkinan menculik adiknya.
20 tahun silam, saat Riska mamanya Vania sedang membawa bayinya berjalan-jalan di pagi hari sekitaran kompleks. Tiba-tiba saja seseorang menjambret tas nya, sontak Riska mengejar jambret itu dan meninggalkan bayinya yang berada didalam stroller. Karena tak berhasil mengejar jambret tersebut Riska pun kembali ke tempat dimana ia meninggalkan bayinya dengan perasaan cemas, karena tindakannya itu meninggalkan bayinya seorang diri bisa saja membahayakan bayinya. Terlebih pagi itu sekitaran kompleks sedang sepi karena hampir semua warganya sedang menghadiri pagelaran musik di pusat kota. Dan saat sampai di tempat ia meninggalkan bayinya, Riska berteriak histeris karena bayinya sudah tidak ada didalam stroller nya. Karena tidak ada bukti dan saksi mata, baik pihak polisi maupun orang suruhan Rizal sendiri kesulitan mencari bayinya yang hilang itu dan hingga saat ini tidak tahu dimana keberadaannya.
"Kak Vania baik-baik saja kan?"
__ADS_1
Vania mengangguk lemah sambil tersenyum tipis, ia yang tadinya sangat yakin jika Kanaya adalah adiknya, seketika tak bersemangat saat Kanaya mengucapkan kalimat yang mematahkan keyakinannya.
"Meskipun aku bukan Adiknya Kak Vania, tapi aku sudah menganggap kakak seperti kakakku sendiri, dan aku juga akan sangat senang jika Kak Vania juga menganggap aku seperti Adik Kak Vania sendiri." Ujar Kanaya, mencoba menghibur Vania yang nampak bersedih.
"Iya Kanaya," ucap Vania sambil mengangguk, ia mencoba tersenyum lebar meskipun hatinya merasa sedih karena lagi dan lagi gagal menemukan adiknya.
Vania pun meminta untuk menggendong bayinya Kanaya karena memang inilah tujuannya, ingin menjenguk bayinya Kanaya. Tatapannya tak lepas menatap pakaian dan perhiasan bayi itu, dalam hati ia berpikir akan memberitahu tentang ini pada papanya, karena itu mungkin saja bisa dijadikan petunjuk untuk mencari keberadaan adiknya yang hilang itu.
Kanaya menoleh menatap suaminya, barangkali Keenan sudah menyiapkan nama untuk putri kecilnya itu.
__ADS_1
"Belum ada, Aku ingin Kanaya yang memberikannya nama." Ujar Keenan.
"Tapi, yang lebih berhak memberikan nama pada anak adalah Ayahnya. Jadi Bang Keenan saja memberikannya nama." Ucap Kanaya.
Keenan tersenyum mendengarnya, ia tersenyum karena Kanaya menyebutnya dengan panggilan 'Bang Keenan' dihadapan keluarganya saja, saat sedang berdua Kanaya hanya menyebutnya dengan nama atau kamu.
"Em, bagaimana kalau Alisya saja sama seperti nama Adiknya Vania, Alisya Erlangga." Ujar Keenan. "Bagaimana, apa kamu setuju?" Tanyanya kemudian pada istrinya.
Kanaya nampak berpikir, dan beberapa saat kemudian ia menganggukkan kepalanya. "Iya, nama itu sangat bagus.
__ADS_1
Vania yang masih menggendong bayinya Kanaya tersenyum lalu mencium pelan pipi tembam itu, ia turut senang karena Keenan memberi nama bayinya sama seperti nama Adiknya.
"Hei cantik, sekarang nama kamu adalah Alisya, Alisya Erlangga." Ujar Vania.