
Didalam kamar Vania, dipenuhi canda tawa. Ada-ada saja cerita lucu Keenan yang terus membuat kakak dan adik itu tertawa.
Hingga terdengar suara ketukan dibalik pintu kamar Vania, menghentikan kekocakan mereka.
Dengan masih tertawa kecil Vania berjalan kearah pintu dan membukanya.
"Eh, Papa..." Ujar Vania begitu membuka pintu kamarnya ternyata papanya yang mengetuk.
"Kalian ngapain sih, dari bawah Papa dengerin berisik banget?" Tanya Rizal.
"Gak ngapa-ngapain kok, Pa, cuma ngobrol aja." Jawab Vania.
Rizal pun melangkah masuk kedalam kamar Vania, ia menghampiri Kanaya kemudian memberikan bayinya.
"Papa mau ke rumah sakit dulu, tadi ada yang telepon Papa katanya ada yang mau ketemu sama Papa." Ujar Rizal.
"Siapa, Pa?" Tanya Vania.
"Papa gak tau juga, tapi katanya ada hal penting yang mau dibicarakan sama Papa."
Kemudian, Rizal pun bergegas pergi setelah sebelumnya kembali menghujani kecupan bertubi-tubi di pipi tembem cucunya.
Sesampainya di rumah sakit, Rizal bergegas menuju ruangan dimana orang yang ingin bertemu dengannya berada.
Dengan langkah cepat dan terburu-buru sampai akhirnya Rizal menabrak seseorang karena tidak memperhatikan keadaan sekitar.
"Maaf, maaf saya tidak sengaja." Rizal dengan cepat berjongkok membantu memunguti plastik obat milik orang yang ditabraknya.
"Pak Rizal," ujar seseorang yang ditabrak oleh Rizal ternyata adalah Vino, besannya sendiri.
"Eh, Pak Vino rupanya. Sekali lagi saya mohon maaf, Pak. Saya buru-buru sampai gak memperhatikan keadaan sekitar." Rizal tersenyum canggung sembari memberikan plastik obat milik Vino.
__ADS_1
Vino hanya tersenyum sembari mengambil plastik obatnya.
"Oh ya, ngomong-ngomong Pak Vino ngapain disini? Siapa yang sakit?" Tanya Rizal.
"Istri saya, Tania dari semalam demam." Jawab Vino.
"Sudah kabarin Keenan dan Kanaya? Kebetulan mereka lagi ada dirumah saya."
"Gak usah, Pak, Istri saya tidak mau membuat mereka cemas lagian cuma demam biasa kok."
Rizal nampak mengangguk pelan.
"Kalau Pak Rizal sendiri ngapain disini?" Tanya Vino balik.
"Oh itu tadi ada yang telepon katanya ada mau ketemu sama saya, ada hal penting yang mau dibicarakan katanya." Jawab Rizal.
"Siapa?" Tanya Vino lagi.
"Em, kebetulan Istri saya juga lagi masih tidur, biar saya temani Pak Rizal deh." Tawar Vino.
Rizal mengangguk, dua lelaki paruh baya itupun berjalan beriringan menuju ruangan dituju Rizal.
Sesampainya di ruangan tersebut, tatapan Vino langsung tertuju pada seseorang yang terbaring lemah diatas ranjang pasien, seperti tidak asing dimatanya.
"Pak Rizal ya?" Tanya seorang wanita paruh baya yang berdiri di samping ranjang pasien.
Rizal mengangguk. Sementara Vino yang berdiri di samping besannya itu terus menatap lelaki paruh baya diatas ranjang pasien itu. Ia seperti mengenali, tetapi lupa dimana pernah bertemu.
"Pak Rizal, Suami saya sedang sakit keras, ada yang ingin dia sampaikan kepada Pak Rizal sebelum ajal datang menjemput suami saya." Wanita paruh baya itu mulai terisak. Ia juga cukup terkejut mendengar pengakuan suaminya beberapa hari yang lalu.
"Maaf, Bu, ini sebenarnya ada apa ya? Apa hubungan suami Ibu sama saya?" Rizal tidak mengerti.
__ADS_1
"Pak," wanita paruh baya tersebut mengusap punggung tangan suaminya.
Sambil mengatur nafasnya yang sudah terasa sesak, pria paruh baya yang berada di atas ranjang pasien itu mengangkat tangannya melambai agar Rizal mendekat.
Setelah Rizal telah berdiri di samping ranjang pasien, lelaki paruh baya itu mulai membuka mulut untuk berbicara.
"Pak Rizal, Saya benar-benar minta maaf saya telah melakukan dosa besar kepada Bapak. Tapi saya melakukan itu atas perintah majikan saya, waktu itu saya sedang butuh uang untuk biaya pengobatan Anak saya. Majikan saya bersedia membiayai semua pengobatan Anak saya asalkan saya mau menuruti perintahnya. Yaitu menculik bayi Pak Rizal lalu membuangnya." Terlihat lelaki paruh baya itu kesusahan menarik nafasnya.
Deg...
Wajah Rizal seketika memerah mendengar pengakuan lelaki paruh baya tersebut, jika saja orang itu tidak sedang sakit pasti ia sudah mengajarnya habis-habisan.
"Asal Bapak tahu, Istri saya sakit-sakitan sampai meninggal karena terus memikirkan bayi kami yang hilang!" Rizal begitu emosinya, ia tidak perduli jika lawan bicaranya sedang sekarat.
"Hanya karena uang, Bapak dengan tega melakukan hal keji itu. Katakan, siapa majikan Bapak dan kenapa dia menyuruh Bapak melakukan itu?"
"Pak Her-man..." Setelah mengatakan itu, lelaki paruh baya tersebut pun menutup matanya seiring kurva dilayar monitor bergerak lurus satu arah.
Seketika ruangan itu dipenuhi oleh suara tangis dari Istri lelaki paruh baya tersebut.
Sementara Rizal hanya mematung dengan tatapan bak kosong menatap orang yang baru saja membuat pengakuan.
Herman, adalah almarhum mantan papa mertuanya, papa dari Zara. Rizal benar-benar tidak menyangka ternyata dalang penculikan bayinya adalah orang yang ia hormati selama ini, lalu apa tujuan Herman melakukan hal tersebut?
.
.
.
__ADS_1