Cinta Untuk Kanaya

Cinta Untuk Kanaya
BAB 58. PEMANDANGAN MENYEJUKKAN MATA


__ADS_3

"Kenapa menatapku seperti itu, hum?" Tanya Keenan, pasalnya Kanaya terus menatapnya tanpa berkedip setelah permainan bibir mereka berakhir.


Kanaya hanya menggeleng kepalanya dengan pelan, ia sendiri juga tidak tahu kenapa selalu ingin menatap suaminya. Apakah karena ia benar-benar telah jatuh cinta pada suaminya ini?


"Mau lagi?" Tanya Keenan menggoda istrinya.


Namun, Kanaya menggeleng lalu menyusupkan wajahnya di dada sang suami. Pasti kedua pipinya saat ini telah memerah seperti tomat karena pertanyaan suaminya itu.


"Apa ini masih sakit?" Tanya Keenan sambil meraba bagian perut istrinya.


"Sedikit," jawab Kanaya yang masih menyusupkan wajahnya di dada Keenan, menghirup aroma maskulin sang suami yang begitu menenangkan di indra penciumannya.

__ADS_1


Keenan mengeratkan pelukannya namun tetap berhati-hati agar tak menekan luka di perut istrinya, ia menundukkan sedikit kepalanya mencium pucuk kepala sang istri dengan dalam.


"Ketika aku mengatakan aku mencintaimu, aku tidak mengatakannya dengan santai. Aku mengatakannya untuk mengingatkanmu bahwa kamu adalah segalanya bagiku, dan hal terbaik yang pernah terjadi padaku dalam hidup ini. Aku selalu dipenuhi dengan rasa suka cita dan kedamaian yang mendalam setiap kali memikirkan fakta bahwa kita akan menghabiskan sisa hidup kita dalam pelukan satu sama lain. Setiap hari aku menemukan bahwa aku semakin mencintaimu, dan di alam semesta tanpa batas ini aku akan mencintaimu sampai akhir. Orang kerap bertanya, mengapa aku mencintaimu? Jawabannya adalah aku selalu menemukan diriku utuh bersamamu. Kanaya, aku sangat mencintaimu." Ujar Keenan semakin memperdalam kecupannya di pucuk kepala istrinya.


Di dalam pelukan Keenan, Kanaya menyunggingkan senyum, sungguh hatinya terasa menghangat mendengar setiap kata yang terucap dari bibir suaminya.


"Terima kasih karena sudah mencintaiku, dan terima kasih atas semua hal istimewa yang kamu lakukan untukku. Aku tidak berjanji, tapi aku akan berusaha menjadi Istri terbaik untukmu dan menjadi Ibu yang baik untuk anak-anak kita." Ujar Kanaya.


Keenan pun tersenyum, sungguh tak ada lagi yang ia inginkan di dunia ini selain cinta sang istri dan hidup bahagia selamanya bersama anak-anak mereka kelak serta keluarga yang selalu terasa hangat menemani hingga hari tua mendatang.


.

__ADS_1


.


.


Pagi hari...


Di ufuk timur matahari sudah sangat tinggi, para makhluk di bumi telah sibuk berkutat pada kegiatan masing-masing terkecuali sepasang suami istri yang masih tertidur di atas ranjang pasien dengan posisi masih berpelukan.


Di sebuah sofa didalam ruangan itu, Vania dan Damar duduk sambil memandangi Keenan dan Kanaya yang masih tertidur sambil berpelukan. Terbit senyum samar diwajah Damar melihat sepasang suami istri itu, ada kelegaan di hatinya melihat bagaimana Keenan memperlakukan Kanaya dengan sangat baik, bahkan melebihi perhatiannya dulu saat masih menjadi kekasih Kanaya.


Tak lama kemudian pintu ruangan terbuka, dua orang perawat masuk dan tatapan keduanya tertuju ke ranjang pasien kemudian tersenyum sambil menggeleng pelan.

__ADS_1


"Ya ampun, pagi ini sudah tiga kali kita kesini tapi pasiennya masih belum bangun juga." Ucap salah satu perawat itu.


Vania dan Damar yang mendengar ucapan perawat itu terkekeh, mereka berdua saja sudah sekitar tiga puluh menit berada di ruang perawatan Kanaya tanpa berniat untuk membangunkan sepasang suami istri itu. Bagi mereka ini adalah pemandangan menyejukkan mata di pagi hari.


__ADS_2