Cinta Yang Bertemu Kembali

Cinta Yang Bertemu Kembali
Bab 11


__ADS_3

Clara hanya bisa membalas setiap untaian kata-kata indah yang di nyanyikan Devan dengan senyuman.


Reyhan menyadari kalau Clara terus menatap Devan. Ada raut cemburu di wajahnya.


Reza yang mengerti anaknya sedang di landa cemburu menyuruh mereka untuk tukar posisi tempat duduk.


"Lho, kenapa pa?" Bisik mama Widya. Ia baru mengerti saat suaminya itu memberi kode untuk melihat Clara dan Reyhan.


Clara dan Reyhan hanya mengikuti perintah papa Reza. Dalam hati Reyhan berterimakasih pada papanya.


Acara selesai, Clara harus berpisah dengan kedua orang tua Reyhan. Ada rasa tidak rela di hati Clara saat berpisah dengan mereka.


Mereka berdua mengantar kedua orang tua Reyhan sampai mobil. Sebelum masuk, Mama Widya memeluk Clara dan mengusap lembut rambutnya. Mendapat perlakuan seperti itu membuat Clara berkaca kaca.


"Nak, Tante percayakan Reyhan sama kamu ya. Walau dia terlihat dingin, tapi percayah, hatinya sangat baik. Tante harap kamu bisa merubah dan menyembuhkan Reyhan" bisik mama Widya.


Clara hanya mengangguk mencoba menyembunyikan wajah bersalahnya 'maafin aku Tante, kalau Tante tau aku hanya pacar bayaran kak Reyhan, yang hanya melakukan akting karena sudah di bayar, mungkin Tante akan membenciku'


Setelah mengantar kedua orang tua Reyhan, mereka menuju mobil untuk pulang. Clara duduk bersama Reyhan di kursi depan.


Mobil yang membawa Clara dan Reyhan melaju memecah kesunyian malam.


Clara menghela nafas "Kak, aku merasa bersalah telah membohongi mereka. Apa yang akan mereka lakukan kalau mereka tau kita hanya pura pura pacaran? Mereka pasti akan membenci ku"


Reyhan sebenarnya juga merasa bersalah, tapi dia melakukan semua ini untuk membahagiakan omahnya dan kedua orangtuanya. Lagipula jika dia tidak melakukan ini, maka dia akan di jodohkan dengan anak teman papanya. Dia tidak suka hal itu.


"Lo gak usah khawatir, untuk urusan itu biar gue yang urus, yang penting Lo menjalankan tugas Lo dengan baik"


Ting!


✉️"Clara, kamu udah pulang ya?"


Clara melihat ponselnya, dia tersenyum melihat pesan dari Devan.


'Ingat! Selama Lo masih sama gue, itu artinya perjanjian kita masih berlangsung, jadi Lo jangan godain atau dekat dengan cowok lain. Apa Lo ngerti?!'


Masih terngiang jelas setiap ucapan Reyhan tadi hingga membuatnya urung untuk membalas pesan Devan.


Ting!


✉️"Clara, kok gak di balas? Sibuk ya?"


Ting!


✉️"Ra, Lo gak apa apa kan? Setidaknya pesan gue di baca😟😟"


"Dari siapa?" Tanya Reyhan dingin.


"Bukan siapa-siapa kok kak" Clara langsung mematikan HP-nya.


'Cih, pasti dari pemuda brengs*k itu'


Flashback saat Clara ke toilet


Reyhan menjadi cemas saat Clara tak kunjung kembali. "Ma, pa, aku cari Clara dulu ya, takutnya dia tersesat"


Tanpa persetujuan dari orangtuanya, Reyhan langsung beranjak dari duduknya dan mencari Clara.

__ADS_1


"Hadeehh, yang lagi kasmaran emang gak bisa jauh jauh ya, bawaannya rindu terus" mama Widya hanya geleng-geleng kepala.


"Udah ma, biarin. Kayak gak pernah muda aja. Lagian papa senang lihatnya, itu artinya Reyhan ada kemajuan" Papa Reza tersenyum penuh makna.


Reyhan terus mencari keberadaan Clara hingga matanya menangkap sosok Clara yang sedang berbincang dengan seseorang.


"Lho, Devan!"


"Eh, Clara, kok Lo di sini?"


"Ada acara Dev" Clara senang karena bisa bertemu dengan Devan.


Reyhan mengawasi dari jauh, tangannya mengepal saat melihat betapa senangnya Clara bertemu pemuda itu.


Seperti tau sedang di awasi, Devan sengaja menggoda Clara "Pasti lagi dinner sama pacar ya. Karena kamu malam ini sangat cantik, secantik bulan purnama"


"Bisa aja Dev." Clara tersipu mendengarnya.


Devan menatap Reyhan yang mengawasi mereka. Ia tersenyum sinis 'Clara cuma milik gue, gadis polos dan cantik sepertinya tidak cocok untuk pemuda kaku kayak Lo, Reyhan Ananda Setya'


Dada Reyhan serasa terbakar saat mendengar gombalan Devan, ingin rasanya dia mencabik cabik mulut Devan. Emosi Reyhan bertambah saat melihat Devan tersenyum sinis padanya 'Cih, Lo yang duluan nantang gue. Gue pastiin Lo gak akan bisa dapatin Clara, karna dia masih terikat perjanjian dengan gue'


Reyhan segera menghampiri Clara setelah melihat Devan pergi.


Clara membalas lambaian tangan Devan. Saat akan berbalik, Clara malah menabrak dada bidang seseorang.


Jantung Reyhan berdetak kencang, jarak mereka yang dekat membuatnya tidak bisa mengontrol jantungnya. Wangi tubuh Clara menggoda imannya, apalagi Clara yang tidak juga bergeming.


Reyhan bernafas lega saat Clara menjauhkan tubuhnya.


"Kak Reyhan" ucap Clara lirih.


Reyhan menarik tangan Clara menuju meja tempat mereka duduk tadi, sedangkan Clara hanya ikut saja.


...****************...


Di tempat lain, Wildan sedang termenung. Dia menghela nafas, membuka jendelanya dan menatap indah sang rembulan.


Walau matanya menatap rembulan, tapi pikirannya tertuju pada Clara, saat dia melihat Clara menangis karenanya. Jika dia bilang hatinya baik baik saja, tentu dia bohong. Semenjak kejadian itu, Wildan menjadi gelisah, pikirannya terus tertuju pada Clara.


Apalagi saat Wildan melihat kedekatan Reyhan dengan Clara tadi. Dadanya sesak menahan cemburu. Memang waktu bisa menumbuhkan benih benih cinta tanpa kita sadari.


"Apa aku mulai menyukainya? Tidak mungkin, aku hanya menyukai Ayunda. Tapi kenapa aku terus memikirkannya? Aarrgghh!!" Wildan mengacak rambutnya, perasaannya kalut.


"Wildan.. Kenapa? kenapa kamu mempermainkan aku? apa salahku? kenapa harus Ayunda yang menjadi selingkuhan mu. Wil kenapa?!!"


Terngiang kembali setiap ucapan Clara yang seperti menggores hatinya. Selama berpacaran, tidak pernah sekalipun ia melihat Clara bersedih, apalagi menangis saat ia sering meninggalkan Clara dan terkadang mengacuhkannya.


Wildan menarik nafasnya kembali mencoba menetralkan perasaannya. "Ayo Wildan, Clara bukan siapa siapa Lo, ingat! Lo pacaran sama dia karena Lo mau manfaatin dia, jadi tidak mungkin Lo punya perasaan dengan gadis udik itu. Sekarang Lo harus fokus dengan Ayunda, pacar Lo!" Wildan mencoba mengingatkan kembali dirinya.


Wildan menutup jendelanya, kemudian dia menuju ranjangnya dan tertidur.


...****************...


Clara berjalan menuju kelasnya, saat di koridor dia malah berpapasan dengan Ayunda.


Mereka berdua hanya saling tatap tanpa menyapa, mereka terhanyut dengan pikiran masing-masing yang membuat mereka terpaku.

__ADS_1


Clara menghela nafas, kemudian berjalan melewati Ayunda. Sedangkan Ayunda masih terdiam, ada yang hilang di hatinya.


Biasanya jika mereka berpapasan, Clara akan tersenyum dan menyapanya ramah, mereka akan berbincang dan tertawa bersama layaknya sahabat, walaupun di hati Ayunda hanya menganggap Clara sebatas orang yang bisa di manfaatkan.


"Sayang, kok ngelamun, ntar kesambet setan lho" Wildan menepuk lembut bahu Ayunda.


Ayunda menoleh, kemudian menggeleng dan mengajak Wildan pergi.


Sedangkan Clara menatap dari kejauhan dengan mata berkaca-kaca, tak ingin berlarut dalam kesedihannya, dia memilih segera pergi ke kelas.


Clara merebahkan kepalanya di meja. Mita dan Santi menghampirinya.


"Tumben Ra, biasanya Lo baca novel, bukannya tidur" Ucap Mita.


"Mood gue hancur tadi ketemu Wildan sama Ayu" jawab Clara, suaranya hampir tak terdengar.


Mita menyenggol lengan Santi kemudian berbisik "Clara ngomong apaan?"


"Dia bilang moodnya hancur gara gara ketemu nyamuk gatel sama spesies hewan baru" Santi balas berbisik. Mita mengerti karena tau siapa yang di maksud Santi.


"Terus kenapa? Ingat Ra, MOVE-ON" Ucap Mita menegaskan perkataannya.


Clara mengangkat wajahnya dan menatap kedua sahabatnya "Heehhh, gak semudah itu ta, mengucapkannya emang mudah, tapi melakukannya susahnya setengah mati"


"Ra, lagian Lo juga udah punya kak Reyhan kan. Kenapa Lo masih mikirin mereka lagi?" Kali ini Santi yang berbicara.


"Lo tau kan San, tipe gue itu cowok humoris, romantis, jago nyanyi plus tampan. Lah, kak Reyhan? Udah kaku, dingin, jutek, galak, mulutnya pedes, wajahnya doang yang tampan paripurna."


"Eh, kalau gak salah Lo ada cerita tentang cowok yang deketin Lo, kan. Cowoknya tipe Lo banget dan sebelas dua belas dengan Wildan" Ucap Mita.


"Oh, si Devan. Iya sih, tapi kan itu menurut gue, siapa tau gue aja yang kegeeran dan menganggap dia suka sama gue, padahal aslinya enggak" jawab Clara lesu.


"Tapi kalau bener kan gak papa Ra, lagian Lo sama kak Reyhan cuma pura pura pacaran" timpal Santi.


"Siapa tau si Devan ngajak Lo ngedate, uunchh so sweet" balas Mita.


"Kalau dia ngajak gue ngedate pun percuma, karna kak Reyhan bilang selagi gue masih sama dia itu artinya perjanjiannya masih berlaku dan gue gak boleh dekat dengan cowok lain. Padahal gue udah mulai suka dengan Devan" Jawab Clara lesu.


"Ya elah Ra, kan kak Reyhan bilang selagi Lo sama dia, kalau Lo gak lagi sama dia itu artinya perjanjiannya gak berlaku, jadi Sans aja" jawab Mita.


"Iya ya. Entar deh gue izin sama kak Reyhan buat dating bareng Devan" Clara tersenyum membayangkan jika dia benar benar akan berpacaran dengan Devan.


Mita dan Santi menepuk jidatnya "Mana di kasih kalau Lo minta izin dod*l!!" ucap mereka serempak.


Clara hanya cengengesan menunjukkan deretan gigi rapinya.


"Lagian belum tentu juga Devan ngajak Lo ngedate, jangan terlalu berharap kawan, ntar kalau gak sesuai ekspektasi rasanya sakit lho" Ucap Mita cengengesan.


"Yee, kok Lo malah ngomong gitu sih ta, semangatin dong biar gue cepet move-on dan bisa sama Devan" ucap Clara cemberut.


"Iya iya, udah ah, dah masuk tuh"


Mita dan Santi menuju ke mejanya dan jam pelajaran pun di mulai.


*****


maaf kalau ceritanya gak nyambung.

__ADS_1


Bagi para reader's mohon dukungannya ya.


__ADS_2