Cinta Yang Bertemu Kembali

Cinta Yang Bertemu Kembali
Bab 53


__ADS_3

Beberapa Minggu kemudian.


Dreeet dreeet


"Halo" Ucap Clara mengangkat telpon.


"Bu, ada tamu yang ingin bertemu dengan pak Reyhan"


"Siapa namanya?" Tanya Clara.


"Dia tidak memberitahukan nya Bu. Dia hanya bilang, pak Reyhan pasti mengenalnya"


"Baiklah, aku akan menunggunya di sini" Ucap Clara.


Tak lama ada suara ketukan pintu. Clara segera membuka pintu tersebut. Clara mematung, netranya membulat, jantungnya berdetak kencang. Pria itu ..


"Siapa Ra?" Tanya Reyhan dari balik mejanya.


"Lama tidak berjumpa, Clara" Sapa pria itu tersenyum. Ia berjalan menuju sofa dan duduk di sana. Clara masih mematung di pintu.


Reyhan melihat sekilas. Ia seperti mengenal pria itu. Tapi, ia sedikit lupa. Tiba tiba ia menggebrak meja.


Brakk!


"Fathan!!" Ucap Reyhan yang baru mengenali pria tersebut.


"Lama tidak bertemu tuan Reyhan. lo terlihat keren dengan jas itu" Ucap Fathan.


Reyhan menatap Clara yang masih mematung di pintu. "Ra, Ra, Clara!" Panggil Reyhan.


Clara yang tersadar membalikkan tubuhnya. "Iya pak"


"Kau buatlah sesuatu" Perintah Reyhan yang langsung di jalankan Clara. Di dapur, Clara terlihat gemetar saat menuangkan gula. Ia teringat lima tahun lalu saat menginap di villa Fathan. Bagaimana Fathan yang menguncinya di kamar dan pertarungan mereka yang membuat para sahabatnya terluka.


"Gue gak nyangka kalian masih bersama. Kapan rencana kalian menikah?" Tanya Fathan. Reyhan sudah duduk di depannya.


"Apa tujuan lo ke sini?" Tanya Reyhan. Ia menatap tajam pria di depannya itu.


"Wow, santai Reyhan. Kita bicarakan yang lain dulu. Apa lo gak ingin membicarakan masa lalu? Saat .. lo menghajar gue sampai hampir mati" Fathan menatap tajam dan penuh dendam pada Reyhan.


"Apa lo ingin balas dendam?" Tanya Reyhan. Clara meletakkan dua cangkir kopi dan beberapa cemilan di meja. Ia kemudian duduk di samping Reyhan. Wajahnya menunduk. Tangannya tak bisa diam.


"Kau lanjutkan saja pekerjaan mu. Aku bisa mengatasi sethan ini sendiri" Ucap Reyhan. Clara menurut dan kembali ke mejanya.


Fathan tersenyum sinis mendengar nama panggilan untuk nya dari Reyhan. "Lo masih aja melindunginya dari gue. Ayolah, gue gak akan ngelakuinnya lagi" Ucap Fathan.


"Gue tanya sekali lagi, apa tujuan lo ke sini?" Tanya Reyhan.

__ADS_1


"Hanya berkunjung. Gue ingin memastikan apa kalian masih mengingat gue" Sahut Fathan.


"Tentu kami masih sangat mengingat mu"


"Oh ya, gue juga ingin berinvestasi di sini" Lanjut Fathan. Reyhan yang mendengarnya terdiam.


"Maaf, tapi tidak perlu. Masih banyak investor lain yang lebih kaya dan lebih baik darimu" Tolak Reyhan.


"Hey, lo gak bisa pilih pilih gitu. Jangan bawa masa lalu, lo harus profesional" Ucap Fathan.


"Aku tidak peduli. Sekarang kau boleh pergi" Reyhan berdiri dan kembali ke mejanya.


Fathan terlihat kesal tapi ia coba meredamnya. Ia meminum jusnya dengan cepat. "Oke kalau lo gak mau, karena tujuan utama gue hanya berkunjung" Fathan keluar dan menutup pintu dengan kasar.


"Kenapa kau menolaknya pak?" Tanya Clara.


"Orang seperti itu untuk apa di tanggapi" Jawab Reyhan.


"Tapi kau harus profesional kan? Apa ini karena lima tahun lalu?" Tanya Clara.


"Ya, gue tidak ingin bekerja dengan orang seperti itu" Ucap Reyhan.


***


Fathan melihat ponselnya. Ia tersenyum sinis. "Dimas Anggara. Ternyata dia anak dari CEO Anggara. Pantas saja saat itu dia begitu sombong"


Nio yang melihat Fathan berjalan menuju ruang CEO segera bertanya. "Maaf, anda siapa? Dan ada keperluan apa?"


"Aku Fathan, CEO Raditya Company. Aku teman lama pak Dimas" Ucap Fathan memperkenalkan dirinya. Nio kemudian mengizinkan nya masuk.


"Halo Dimas, lama tak berjumpa" Sapa Fathan.


"Fathan! Bukannya lo di penjara?" Tanya Dimas. Setelah Fathan sembuh, ia di tuntut penjara 5 tahun atas kasus percobaan pelecehan dan penyerangan terhadap Clara dan teman temannya.


"Lo lihat gue di sini kan, itu artinya gue udah bebas" Jawab Fathan.


"Apa mau lo?" Dimas segera menghampiri Fathan. Dua orang pria yang pernah mengisi hati Mira. Sekarang mereka berdiri berhadapan dengan wajah penuh dendam.


"Balas dendam. Kalian telah menghajar kemudian memenjarakan gue. Bukankah wajar jika gue balas dendam sekarang?" Fathan tersenyum sinis.


"Lo terlihat keren dengan jas ini. Duduk di kursi CEO dan memimpin perusahaan. Apa benar ini lo, Dimas? Lo terlihat sangat berbeda. Oh ya, bagaimana keadaan mantan pacar gue? Dia baik baik saja kan? Apa dia bertambah cantik?" Tanya Fathan.


Dimas yang kesal mencengkram kerah baju Fathan. "Sudah selesai bacotnya? Jika lo ingin balas dendam, baiklah, kami akan menunggu pembalasan lo itu dan jangan pernah menanyakan keadaan Mira"


Fathan melepas cengkraman tangan Dimas dan merapikan bajunya. "Oke, kalian tunggu aja. Oh ya, gue udah datangi lo, Reyhan dan si cantik nan imut Clara. Kira kira siapa yang akan gue temui selanjutnya?" Tanya Fathan. Ia menatap Dimas yang juga menatapnya tajam.


"Mira" Lanjut Fathan. Ia kemudian meninggalkan ruang kerja Dimas.

__ADS_1


"Mira? gue harus menghubungi Clara" Dimas segera menghubungi Clara. Setelah mendapatkan di mana lokasi Mira, Dimas bergegas mendatangi nya.


Saat sampai di restoran milik Mira. Terlihat mobil polisi sudah ada di sana. Dimas yang bingung memilih masuk ke restoran.


"Pak, ini pasti salah paham, saya tidak mungkin melakukan itu pak" Sangkal Mira.


"Tapi bukti sudah ada Nona. Lebih baik sekarang anda ikut kami ke kantor polisi" Ucap pak polisi tersebut.


"Ada apa ini pak?" Tanya Dimas menghampiri mereka berdua. Mira terkejut melihat Dimas berada di sini.


"Em, anda siapanya nona Mira?" Tanya pak polisi.


"Saya temannya. Nama saya Dimas"


"Begini pak Dimas. Tuan Fathan memesan makanan dari sini. Pesanan pun di kirim ke kantor pak Fathan. Sayangnya dia tidak sempat memakannya dan memberikannya ke sekretaris nya. Setelah memakannya, sekretaris nya merasa mual dan muntah, diare dan sakit kepala. Setelah di periksa ke rumah sakit, ternyata ia keracunan makanan. Makanan terakhir yang dia makan berasal dari sini. Kami langsung ke sini atas laporan pak Fathan dan kami menemukan botol racun di tong sampah dapur. Para juru masak mengaku bahwa nona Mira yang menyiapkan pesanan tersebut dan salah satunya mengatakan melihat nona Mira memasukkan sesuatu ke dalamnya. Atas bukti tersebut, nona Mira harus di tahan" Ucap pak polisi menerangkan.


"Tapi saya tidak pernah melakukannya pak. Atas dasar apa saya melakukannya?" Mira tetap menyangkal karena dia tidak melakukannya.


"Mira, lebih baik kita ikuti dulu. Aku akan menemanimu" Ucap Dimas. Mira akhirnya setuju ke kantor polisi. Dimas segera menghubungi Clara untuk memberitahunya hal ini.


Clara yang mendapat berita tersebut segera menyusul bersama Reyhan.


Sekarang Mira, Dimas dan Fathan sedang berkumpul di ruang investigasi. Fathan tersenyum miring menatap mereka, masih ada dua orang lagi yang belum dia temui. Kali ini dia benar benar akan membalaskan dendamnya. Bukan hanya di penjara, kelakuannya itu membuat kerja sama antara ayahnya dan perusahaan Reyhan terputus. Ia juga kehilangan sahamnya dan hartanya yang lain. Jika bukan karena ayahnya yang sakit dan adiknya yang tidak bisa memimpin perusahaan, ia tidak akan pernah menjadi CEO Raditya sekarang.


"Nona Mira, semua bukti sudah begitu jelas, kenapa kau masih menyangkalnya?" Tanya Pak Jaka, petugas investigasi.


"Tapi memang benar saya tidak melakukanya pak"


"Heehhh, baiklah. Terus, kenapa cctv di dapur rusak dan rusaknya hari ini? Bukankah itu mencurigakan?"


"Saya juga tidak tahu pak" Ucap Mira frustasi.


"Apa kalian mempunyai dendam masa lalu?" Tanya Pak Jaka.


"Kami ini mantan pacar, pak. Kami putus karena saya .. mendekati sahabatnya. Saya baru keluar dari penjara, mungkin karena itu dia ingin balas dendam dengan saya sekarang" Sahut Fathan.


"Hei, yang lo katakan itu salah. Lo pasti sengaja menuduh gue kan? Lo yang ingin balas dendam sama gue kan?" Mira berdiri sambil menunjuk Fathan.


"Mira, tenangkan dirimu" Ucap Dimas yang menemaninya.


Setelah investigasi yang cukup alot. Mira di tahan sementara selagi polisi mencari bukti yang lebih kuat. Keterangan juru masak yang melihat Mira memasukkan racun ke dalam makanan belum jelas kebenarannya. Cctv yang rusak juga membuat semua menjadi rumit.


Fathan tersenyum senang. Ia melangkahkan kakinya dengan sombong melewati Clara dan Reyhan yang menunggu di luar ruangan investigasi.


"Kak Mira yang sabar ya, aku pasti bakalan bantuin kakak" Ucap Clara memeluk Mira.


"Makasih ya Ra" Ucap Mira.

__ADS_1


"Aku juga bakalan bantuin kamu Mir" Ucap Dimas. Mira tersenyum dan mengangguk.


__ADS_2