
"Ara! Ara! Ra, tunggu!" Reyhan berlari mengejar Ara.. Hingga di penyebrangan jalan, tiba tiba..
Tiiit!
Brak!
"Ara! Hah! Hah! Hah!"
"Mimpi itu lagi.." Reyhan memegang kepalanya yang masih terasa pening.
Ia merasa asing dengan tempat itu. Ia menatap sekeliling.
"Dimana aku?" Matanya terpaku pada sebuah foto seorang wanita.
"Ternyata aku di kamar Clara"
Reyhan berjalan pelan menghampiri foto itu. Ia memegangi kepalanya yang masih terasa pening. Ia kemudian tersenyum menatap foto itu.
"Kau terlihat cantik. Mungkin aku harus menghabiskan waktu bersama mu sebelum aku menikah dan harus menjaga jarak dengan mu" Ucap Reyhan tersenyum pahit.
Reyhan melihat foto foto Clara yang lain. Hingga senyumnya memudar saat ia melihat sebuah foto yang membuat dadanya terasa sesak menahan tangis.
"Ara.." Dengan tangan gemetar Reyhan mengambil foto itu.
"Benar.. Ini Ara. Jadi selama ini Clara adalah.."
Cklek!
"Kakak sudah sadar?" Clara menutup pintu kemudian menghampiri Reyhan yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Kenapa?" Tanya Clara saat Reyhan terus menatapnya.
Ia terkejut saat tiba tiba Reyhan memeluknya begitu erat.
"Kau masih hidup.. kau masih hidup" Ucap Reyhan dengan suara bergetar.
"Tentu aku masih hidup. Apa kakak bermimpi buruk? Apa kakak bermimpi aku tiada?"
"Ini benar kau kan? Aku tidak bermimpi kan? Ternyata selama ini kau masih hidup. Kenapa kau tidak menemui ku? Kenapa selama ini kau membiarkanku merasa bersalah selama belasan tahun?" Reyhan memeluk Clara dengan begitu bahagia. Ia menangis bahagia karena ternyata cinta pertamanya adalah Clara, pacar bayarannya. Ara begitu dekat dengannya, bahkan pernah menjadi pacarnya, tapi ia tidak mengetahui hal itu.
Clara bingung dengan celotehan Reyhan. Ia melirik foto yang tadi di pegang Reyhan dan paham sekarang kenapa Reyhan seperti ini. Foto itu merupakan foto dirinya waktu kecil.
"Kau kejam Ra, kenapa kau tidak memberitahuku jika kau adalah Ara? Bahkan setelah kau melihat gantungan kunci itu. Bahkan setelah omah menceritakan nya dengan jelas padamu" Reyhan melepaskan pelukannya dan menatap sendu wanita di depannya. Terlihat sudut matanya yang masih mengeluarkan air mata.
"Maaf.. Aku bingung harus melakukan apa waktu itu. Aku ingin mengatakan nya padamu malam itu, tapi semuanya hancur karena video itu. Jadi aku memendam nya sampai sekarang" Sahut Clara merasa bersalah.
"Aku tahu seberapa merasa bersalah nya dirimu. Tapi aku ragu untuk mengatakannya. Aku tahu kakak menganggap Ara sudah tiada. Aku takut kakak tidak akan percaya saat aku mengatakan yang sebenarnya" Ucap Clara tak mampu menahan air matanya.
"Aku pasti percaya. Aku begitu senang ternyata kau masih hidup. Kau tahu betapa suramnya hidupku saat tahu kau tiada"
"Maafkan aku.."
"Tidak perlu minta maaf. Aku yang membuat mu sampai tiada.. Tunggu, tapi kau masih hidup" Reyhan terlihat bingung.
Clara menariknya duduk di ranjang.
"Itu bukan aku. Saat pulang sekolah dulu, aku melihat temanku yang tidak memakai payung ataupun jas hujan. Aku jadi kasian dan memberikan payung ku padanya. Kebetulan baju yang di pakainya berwarna sama dengan jas hujanku. Mungkin karena itu lah kau berpikir itu aku" Terang Clara.
"Kau tahu, karena kau memberikan payung itu padanya membuat aku menderita selama belasan tahun karena berpikir aku telah membunuhmu" Ucap Reyhan cemberut namun wajahnya malah terlihat menggemaskan.
"Maaf" Clara hanya bisa cengengesan. Ada perasaan bahagia saat akhirnya Reyhan menyadari bahwa ia adalah cinta pertamanya.
"Maaf saja tidak cukup. Kau membuatku menderita, maka aku akan membuat mu menderita juga" Ucap Reyhan menatap wanita yang ternyata cinta pertamanya itu.
__ADS_1
"Bagaimana caranya?"
"Begini"
Cup!
Clara terkejut saat Reyhan tiba tiba mengecup bibir nya. Wajahnya merona merah, ia menggigit bibirnya menahan malu.
Reyhan menatapnya sambil tersenyum. Ada perasaan lega di hatinya saat ia mengetahui ternyata Ara masih hidup dan ternyata Ara adalah Clara.
"Aku sangat bahagia sampai aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi" Ucap Reyhan menggenggam erat tangan Clara.
"Maaf membuatmu menderita selama belasan tahun" Ucap Clara membalas genggaman tangan Reyhan. Ia menatap lekat pria itu.
"Kalau boleh tahu, kenapa saat di SD namamu Ara, bukannya Clara?" Tanya Reyhan penasaran.
"Ara merupakan nama panggilan untukku dari ayah. Ibu juga terkadang memanggil ku dengan nama itu. Tapi setelah kami pindah, aku memutuskan untuk tidak menggunakan nama itu lagi hingga sekarang" Ucap Clara.
"Ternyata kau memiliki dua nama. Jika namamu tetap Ara, mungkin aku akan mengetahui nya lebih awal. Tapi syukurlah, akhirnya aku bisa bertemu kembali dengan cinta pertamaku" Ucap Reyhan mengacak acak rambut Clara.
"Senang juga akhirnya bocah keren ini mengetahui siapa aku sebenarnya"
"Bocah keren? Apa kau menamai ku itu?" Tanya Reyhan.
"Iya, bocah paling keren yang selalu membelaku di sekolah"
Reyhan kembali memeluk Clara untuk meluapkan rasa bahagianya. Ia tak henti-henti nya mengucap syukur saat mengetahui Ara masih hidup.
"Berjanjilah kau tak akan pernah pergi atau menghilang dari mataku. Aku tidak ingin kehilangan Ara maupun kehilangan Clara" Reyhan mengecup kening Clara dengan sayang.
"Kak_" Laila langsung menutup matanya saat melihat Clara dan Reyhan berpelukan. Ia tadi memang tidak mengetuk pintu dan main nyelonong masuk saja.
"Eh, maaf. Aku gak liat apa apa kok. Silahkan dilanjutkan ya, tapi jangan kebablasan. Aku belum siap jadi Tante" Celoteh Laila kemudian pergi dari kamar.
Reyhan tertawa kecil. Ia masih menatap lekat Clara, seakan takut wanita itu akan menghilang lagi dari hidupnya.
"Ara.."
Clara menatap Reyhan saat pria itu memanggil 'namanya'.
"Maaf karena baru menyadari kalau ini kamu. Aku begitu sering menyakiti dirimu. Maaf selalu membuatmu terluka" Ucap Reyhan berkaca-kaca.
"Maaf karena baru memberi tahumu sekarang. Aku membuatmu menderita karena rasa bersalah selama belasan tahun" Clara menatap lekat pria di depannya.
"Ra.. Tak bisakah kita bersama lagi?"
Clara hanya bisa tersenyum pilu mendengar pertanyaan Reyhan. Bersama lagi? Itu hal mustahil karena Reyhan akan menikah.
"Mustahil kak. Kita sudah gak mungkin. Biarlah aku tetap menjadi kenangan. Yang penting kau sudah mengetahui kalau aku masih hidup dan tidak menyalahkan dirimu lagi"
"Tapi.. Kebenaran ini malah membuat ku semakin ingin bersamamu. Aku ingin menebus kesalahanku dulu. Aku mohon Ra.."
Clara menggeleng pelan. "Jika kakak ingin menebus kesalahan kakak dulu. Maka lupakan aku.. Anggap Ara ataupun Clara sudah tiada. Aku sekretaris mu di kantor, hanya itu. Bisa kan?" Clara menatap harap pada Reyhan.
Dengan berat hati Reyhan mengangguk mengiyakan permintaan Clara.
"Ayo, kita harus makan" Seperti tidak terjadi apapun, Clara berusaha tegar dan bersikap biasa pada Reyhan.
"Tunggu!" Cegat Reyhan. Ia merogoh saku bajunya yang di gantung oleh Clara. Ia kemudian memberikan gantungan kunci itu pada Clara.
"Aku menyimpannya selama belasan tahun dan sekarang aku akan mengembalikan nya pada pemiliknya"
Clara menerima gantungan kunci itu dengan senang. Akhirnya ia mendapatkan kembali benda pemberian ayahnya itu.
__ADS_1
...----------------...
"Vizah?"
Vizah menoleh saat seseorang memanggil nya.
"Ternyata benar ini lo. Kapan lo pulang dari Australia?" Raja menghampiri Vizah yang terlihat sedang berbelanja pakaian di mall kota.
"Raja? Ah, maaf, gue sempat lupa sama wajah lo" Vizah segera memeluk sahabatnya itu.
"Baru sebulan kita gak ketemu, masa lo udah lupa sama wajah gue"
"Sorry, kita cari tempat untuk ngobrol yuk" Ajak Vizah. Mereka segera mencari restoran terdekat.
"Apa lo udah menemui Reyhan?" Tanya Raja.
"Udah. Sepertinya lo begitu gencar untuk menurunkan dia. Dia terlihat kacau"
"Benarkah? Itu malah bagus" Ujar Raja bahagia.
"Walau kita ini sahabat, gue akan tetap ngebela Reyhan, orang yang gue cintai. Gue akan membantunya untuk mempertahankan posisinya"
Raja tersenyum sinis mendengar ucapan bucin satu ini.
"Tidak apa jika lo ingin mendukung nya. Apa lo masih ingin mengejar nya? padahal dia akan menikah beberapa hari lagi"
Vizah terdiam sebentar mendengar ucapan Raja.
"Gue akan memisahkan mereka"
"Wih, lo tetap kejam sama seperti dulu.."
"Apa lo akan membunuhnya?" Tanya Raja berbisik.
"Mungkin" Jawab Vizah acuh.
"Lo akan semakin sulit untuk mendapatkan Reyhan. Walaupun lo udah menyingkirkan Adel, tapi jangan lupakan Clara" Ucap Raja memberi tahunya.
"Clara?"
"Ya, Clara adalah sekertaris Reyhan sekarang" Jawab Raja membuat Vizah terdiam.
"Sepertinya gue harus menyingkirkan mereka berdua" Ucap Vizah.
"Ngeri bet ambisi lo untuk mendapatkan Reyhan" Raja bergidik saat tahu Vizah juga akan menyingkirkan Clara.
"Tentu"
"Gue punya satu ide. Gue jamin ide ini bagus dan tidak akan mengotori tangan lo" Ucap Raja meletakkan kedua tangannya di meja.
"Apa ide lo?"
Raja memberi isyarat untuk mendekat. Ia kemudian membisiki sesuatu pada Vizah.
"Ide lo bagus juga. Tapi lo yakin ini akan berhasil?" Tanya Vizah pesimis.
"Kalau gak berhasil, lo bisa menjalankan ide lo. Tapi kalau berhasil, lo harus menuruti permintaan gue"
"Apa?" Tanya Vizah penasaran.
"Jangan mendukung Reyhan di pemilihan CEO nanti"
Vizah terdiam sejenak. Reyhan bisa kalah jika dia tak mendukung nya.
__ADS_1
"Lo jangan khawatir. Walaupun Reyhan bukan CEO di sana, tapi dia akan tetap bekerja di perusahaan itu" Ucap Raja membuat Vizah akhirnya menyetujui nya.