Cinta Yang Bertemu Kembali

Cinta Yang Bertemu Kembali
Bab 77


__ADS_3

Setelah Raja dan Anton di tangkap. Mereka berdua berencana melarikan diri. Di tengah tengah jalanan sepi, tiba tiba Raja memukul kepala petugas yang menjaga mereka hingga pingsan. Anton yang melihatnya juga melakukan hal yang sama pada petugas di sampingnya.


Mereka berdua menendang pintu belakang mobil dan melompat saat mobil masih melaju dengan kencang.


Anton merasa punggungnya seperti patah saat mendarat dengan keras. Raja menyuruh Anton untuk cepat berdiri agar mereka tak tertangkap.


Sayangnya petugas polisi itu menyadari jika mereka kabur dan langsung memutar kembali mobilnya untuk mengejar mereka.


Raja berhasil kabur, namun sayangnya Anton tertangkap karena kakinya tertembak.


Raja yang bingung mau kemana hanya bisa berjalan terus menerus melewati panasnya matahari dan jalanan yang sunyi.


"Hei, bukankah itu buronan yang ada di tv?" Seorang pria menepuk paha temannya dan menunjuk Raja yang sedang membeli kopi di warung.


Raja yang merasa dirinya menjadi pusat perhatian, memilih untuk pergi meninggalkan tempat itu.


Karena ia berjalan sambil sesekali melihat kebelakang karena takut para warga mengejarnya, ia hampir tertabrak mobil karena tak memperhatikan jalan.


Ciiit!


"Woi! Jalan yang bener dong! Lo mau mati ya?!" Teriak seorang wanita menyumbulkan kepalanya dari jendela mobil.


Raja yang melihat wanita itu, segera masuk ke dalam mobilnya.


"Woi, lo ngapain masuk ke mobil gue?"


"Zah, ini gue. Gue gak punya waktu untuk jelasin sekarang, lebih baik kita cepetan pergi" Ucap Raja menjelaskan pada wanita di sampingnya.


Vizah yang baru menyadari itu Raja memilih untuk mengikuti ucapan pria itu.


"Apa yang terjadi? Kenapa lo kelihatan kayak gembel?" Tanya Vizah, mobil mereka sudah berjalan cukup jauh.


"Gue kek gembel? Yang benar aja!" Ucap Raja tak terima di katai gembel.


"Yah, wajar dong kalau gue ngomong gitu. Baju lo kotor walaupun lo pake jas kayak orang kantor" Balas Vizah.


Raja menghela nafas panjang. "Lo udah liat berita?"


Vizah menggeleng.


"Gue di tangkap karena melakukan penggelapan dana dan juga percobaan pembunuhan terhadap Reyhan" Ucap Raja lesu.


"What! Bajingan! Bagaimana mungkin lo mau bunuh Reyhan?!" Vizah memukul Raja dengan tangan kirinya, hal itu tentu membuat mobil oleng karena hanya satu tangan yang memegang setir.


"Awas, Zah! Gue belum mau mati!" Ucap Raja. Vizah kembali tenang dan fokus pada jalanan.


"Gue di hasut sama paman Anton. Jadi, gue lakuin itu semua atas hasutan dia"


"Tetap aja, seharusnya lo mikir. Percuma dong gelar master lo itu. Awas kalau sampai Reyhan kenapa napa!" Ucap Vizah mengancam.


Raja tahu Vizah merupakan wanita nekat yang akan melakukan apa yang sudah di katakan nya. Jika dia bilang akan membunuh, maka saat itu juga dia akan melakukannya. Itu membuat nya harus berhati hati dengan Vizah.


"Gue tinggal di rumah lo dulu ya untuk sementara. Cuma tempat lo yang aman" Pinta Raja.


"Enak aja. Gue gak mau buronan tinggal di rumah gue!" Tolak Vizah.


"Zah, lo tahu hotel itu kan?" Tanya Raja tersenyum menyeringai. Hotel yang di maksud nya itu adalah hotel di mana praktek jual beli narkoba dan prostitusi di lakukan.


Vizah menelan saliva nya dengan susah. "Gue tahu"


"Mau gue bongkar siapa pemilik sah dari hotel itu?" Ancam Raja.


"Oke, gue bakalan izinin lo tinggal di rumah gue"


...----------------...


Hari hari terus berlalu. Pernikahan Reyhan dan Adel di tunda sampai Reyhan sembuh. Beberapa hari yang lalu seharusnya menjadi hari bahagia bagi Adel karena ia akan menikah dengan Reyhan, namun apalah daya Reyhan belum sadar sampai sekarang. Walaupun kondisi pria itu semakin baik setiap harinya, namun Reyhan seakan enggan untuk membuka matanya.


"Kau belum bangun juga" Clara memasuki ruang rawat inap Reyhan. Pria itu di pindahkan dari ruang ICU semalam karena kondisinya sudah membaik walaupun masih koma.


"Apa kakak sengaja tidak bangun agar aku bisa terus di sini?" Tanya Clara, namun Reyhan tetap diam karena ia belum sadar.

__ADS_1


Adel memasuki ruangan dengan membawa kresek berisi makanan.


"Ini, Tante Widya yang menyuruh ku untuk memberikannya padamu" Adel mengulurkan tangannya yang memegang plastik itu pada Clara. Ia membuang mukanya agar tak di lihat Clara.


"Makasih. Mau makan juga?" Clara menerima pemberian Adel dengan senang. Setidaknya gadis itu sudah sedikit melunak padanya.


"Aku sudah makan" Adel kemudian pergi begitu saja.


Clara makan dengan lahap. Tak lupa juga dia selalu berbicara pada Reyhan walaupun Reyhan tak menanggapi nya. Ia berharap Reyhan akan bangun karena lelah mendengar celotehan nya.


"Aku pergi sebentar. Kalau kau bangun segera panggil aku ya" Clara kemudian pergi meninggalkan ruang rawat Reyhan. Tanpa ia sadari, jari tangan Reyhan mulai bergerak. Mata pria itu juga mulai terbuka lemah.


"Ra..."


Beberapa menit kemudian, Clara kembali. Ia hanya bisa tersenyum kecut melihat Reyhan belum juga sadar. Ia duduk di samping pria itu dan seperti biasa, ia akan menceritakan kesehariannya.


"Apa kakak tahu, perusahaan sekarang berada di pimpinan Tomi. Om Reza meminta nya mengurus perusahaan selagi kau belum sadar. Karena aku terjebak di sini, aku tidak bisa menolongnya di perusahaan. Aku harus mengerjakan semua pekerjaan ku di sini. Jika kakak bangun, maka hal pertama yang akan kakak lihat adalah tumpukan dokumen di meja dan juga aku yang awut awutan ini" Ucap Clara cemberut.


Reyhan tersenyum tipis mendengarnya. Sayangnya Clara tak menyadari itu.


"Aku harus kembali ke perusahaan. Aku merindukan suasananya. Ku rasa aku harus memikirkan kembali surat pengunduran itu, karena sekarang Tomi lah atasan ku. Aku tak sabar untuk menemuinya, aku begitu merindukan nya"


"Karena itu cepatlah sadar. Apa kakak tidak bosan hanya berbaring saja. Aku yang melihatnya saja sudah lelah"


"Karena itu bangunlah, aku tidak sanggup lagi melihat mu seperti ini, kak. Aku merindukan dirimu, kak, hiks" Clara tak sanggup lagi membendung air matanya. Ia berusaha tegar selama ini di depan keluarga Reyhan, namun hatinya begitu hancur melihat pria yang sangat di cintai nya dalam keadaan antara hidup dan mati.


Reyhan yang mendengar tangisan Clara, membuatnya perlahan membuka matanya.


"Maaf merepotkan mu.." Ucap Reyhan lirih.


Clara terkesiap, matanya berbinar, ia mengusap air matanya dengan cepat.


"Kakak sudah sadar.."


"Hm. Bisa kau ambil minum, aku haus" Pinta Reyhan dengan suara serak.


Clara segera mengambilkan minum untuk Reyhan dan membantu pria itu untuk minum.


"Aku akan memanggil yang lain" Clara berlari keluar. Reyhan hanya tersenyum melihatnya.


"Ma.. Jangan terlalu erat, aku tidak bisa bernapas" Ucap Reyhan lirih.


"Maaf, mama terlalu senang" Widya melepaskan pelukannya.


"Akhirnya kau sadar juga, Rey. Kau tahu, kami hampir putus asa karena hampir seminggu kau tak sadar" Ucap Reza juga memeluk putranya.


"Aku tidak tahu kalau sudah selama itu"


"Woi, bro!! Akhirnya bangun juga lo!"


Reza langsung menarik kerah belakang Dimas saat pria itu ingin memeluk Reyhan.


"Kenapa om?" Tanya Dimas bingung.


"Dia masih lemah, gak boleh peluk peluk" Ucap Reza dengan tatapan menusuk.


"Yaahhh"


"Akhirnya lo bangun juga, kak. Hampir aja motor lo gue ambil" Ucap Rayyan terkekeh.


Clara begitu senang saat melihat kebahagiaan di wajah mereka.


"Kakak sudah sadar!" Seseorang membuka pintu dengan kencang hingga berbunyi brak.


"Adel, pelan pelan nak. Kau tidak ingin mengganti pintunya kan?" Ucap Widya.


"Hehe, maaf Tante" Adel kemudian berjalan menghampiri Reyhan yang menatapnya datar.


"Syukurlah kakak sudah sadar. Aku tidak sabar untuk melangsungkan pernikahan kita yang sempat tertunda"


"Dia siapa ma?" Pertanyaan Reyhan membuat suasana ruangan menjadi sunyi.

__ADS_1


"Rey, masa kamu gak ingat dia. Dia Adel, calon istri kamu" Ucap Widya memberi tahu nya. Reza segera memanggil dokter karena curiga akan sesuatu.


"Dia? Calon istri? Bukannya Clara, ya?" Tanya Reyhan bingung. Ia memegang kepala nya yang tiba tiba sakit.


Clara yang mendengar ucapan Reyhan jadi terkejut sendiri.


Dokter datang dan langsung memeriksa Reyhan.


"Sepertinya benturan akibat kecelakaan itu membuatnya hilang ingatan sementara. Ini bisa saja terjadi. Kalian bisa membuat nya mengingat pelan pelan. Jangan terlalu di paksakan karena itu akan membuatnya semakin sulit untuk mengingat" Penjelasan dokter membuat Adel begitu shock. Reyhan tak mengingat nya? Apa segitu tak berharganya dia bagi Reyhan hingga mudah di lupakan?


"Tak apa, Del. Kita bisa membuat nya mengingat mu pelan pelan" Hibur Widya mengusap lengan Adel.


"Clara, kenapa kau di sana? kemari lah" Reyhan menepuk ranjangnya yang kosong.


Clara menatap Widya, Widya mengangguk agar ia mengikuti permintaan Reyhan.


"Aku begitu merindukan mu. Terimakasih karena sudah merawat ku" Reyhan memeluk Clara di depan semua orang di ruangan itu. Adel hanya menatap sendu ke arah mereka.


Clara hanya diam tak membalas ucapan maupun pelukan Reyhan. Ia bingung harus bagaimana.


"Kenapa kau diam saja? Berjanjilah kau akan merawat ku sampai sembuh" Ucap Reyhan.


Adel yang tak sanggup lagi memilih keluar dari ruangan dan menangis di sana. Widya yang tak tega pergi menyusulnya.


"Andai aku yang merawatnya, aku yakin dia tidak akan melupakan aku" Ucap Adel terbata menyesali keputusannya.


"Maafkan kami" Ucap Widya merasa bersalah.


"Tidak apa. Aku senang kak Reyhan sadar walaupun dia melupakan aku" Adel mencoba tegar. Ia pamit untuk pulang dan akan kembali lagi nanti.


"Kau harus disini. Reyhan harus mengingat mu" Cegah Widya.


"Aku akan kembali nanti. Aku ada urusan sebentar di rumah"


Widya hanya bisa menatap kepergian Adel. Ia paham apa yang di rasakan Adel sekarang.


...----------------...


Semenjak ia menjadi buron, Raja harus lebih berhati hati jika keluar rumah, tentu keluar dari rumah Vizah. Ia tidak mungkin kembali ke rumahnya atau kos di tempat lain. Ia bisa saja tertangkap.


Setelah selesai melakukan pembayaran, Raja menurunkan topinya dan keluar dari minimarket.


"Mmpphh, mpphh" Raja berusaha memberontak saat seseorang menutup mulutnya dengan kain. Ia mencoba menyikut pria di belakangnya, namun belum sempat ia lakukan, pria di belakangnya lebih dulu memukul lehernya hingga ia pingsan.


Saat ia sadar, ia berada di sebuah gudang yang pengap dengan kaki tangan nya yang terikat. Ia melihat seorang pria yang duduk menyilangkan kakinya dan menghisap rokok nya.


"Siapa kau?!!"


"Tenang, Raja. Ini aku.., Anton"


"Paman? Kau bebas?" Tanya Raja tak percaya.


"Tentu, apa yang tak bisa di lakukan dengan uang. Lagian, aku bisa bebas karena suatu alasan" Anton tersenyum penuh arti. Ia bisa keluar karena ia mengaku sebagai kaki tangan Raja. Ia mengaku hanya melakukan perintah Raja. Ia bisa memanipulasi keadaan hingga ia bebas tak bersalah dan Raja yang semakin di beratkan.


"Jadi apa mau mu sekarang?" Tanya Raja.


"Lepaskan ikatan nya" Perintah Anton pada anak buahnya. Setelah Raja bebas, Anton mengajaknya untuk bicara santai.


"Aku dengar Reyhan sudah sadar sekarang" Ucapnya mengawali pembicaraan.


"Benarkah? Setelah kecelakaan yang begitu dahsyat dia masih hidup? Ck, sia sia aku menabraknya" Ucap Raja kesal.


"Kenapa kau tak membunuh nya lagi?" Anton memberikan ide yang begitu buruk untuk di lakukan.


"Kau mau hukuman ku semakin berat?!" Bentak Raja.


"Hei, ayolah. Aku bisa mengurus nya. Aku bisa bebas dari penjara, maka kau juga akan bisa bebas. Kau percaya saja padaku. Penggelapan dana itu, aku bisa mencari orang untuk di kambing hitamkan. Dan jika kau memang ingin membunuh Reyhan, aku bisa membuat seolah olah bukan kau yang membunuhnya. Kau bisa kembali ke perusahaan, lakukan pencitraan dan mereka akan kembali memihak mu" Ucap Anton semakin memprovokasi Raja.


"Akan aku pikirkan lagi" Ucap Raja, ia kemudian pergi meninggalkan gudang.


"Hahahaha!" Tiba tiba Anton tertawa setelah Raja pergi.

__ADS_1


"Raja, Raja. Apa kau pikir aku akan menolong mu setelah ini? Setelah kau meninggalkan aku begitu saja hingga tertangkap? Bunuh saja Reyhan, kalau bisa kalian saling membunuh, itu lebih baik. Setelah Reyhan tiada, aku akan melaporkan mu dan kau akan masuk penjara. Dengan begitu aku bisa mendapatkan posisi CEO untuk keluarga ku"


"Oh ya, aku dengar ada pemimpin sementara di perusahaan, aku juga harus menyingkirkan nya" Anton tersenyum menyeringai..


__ADS_2