Cinta Yang Bertemu Kembali

Cinta Yang Bertemu Kembali
Bab 75


__ADS_3

"Sial!!" Raja mengamuk di ruangannya. Ia begitu marah saat ia kalah dari Reyhan. Bahkan Vizah yang katanya akan menyokong nya, malah berkhianat. Bahkan berita yang ia ciptakan tak juga membuat Adel membatalkan pernikahan nya dengan Reyhan dan tetap mendukung pria itu.


Anton yang melihat Raja menghancurkan barang barangnya, hanya bisa menghela nafas panjang.


"Tenangkan dirimu. Kau masih bisa mengalahkan nya lain kali. Mungkin dia hanya beruntung kali ini"


"Lain kali? Apa kau yakin? Aku kalah jauh darinya! Semua hal yang kau katakan sudah aku lakukan, tapi hasilnya dia selalu menang dan kita kalah! Mengalahkannya mungkin sudah mustahil" Ucap Raja pesimis.


"Jangan menyerah. Aku punya satu cara agar kau bisa mendapatkan posisi CEO tanpa bersusah payah. Kau hanya harus melakukan satu hal saja dan dia akan langsung turun bahkan hilang dari perusahaan ini" Anton tersenyum simpul, senyumnya yang punya makna sendiri. Terlihat dari wajahnya dia sudah merencanakan sesuatu yang sangat buruk.


"Apa?"


"Membunuhnya"


Raja begitu terkejut saat mendengar ucapan Anton. Membunuh Reyhan? Ia memang ingin mengambil posisi pria itu tapi ia tidak akan tega jika sampai membunuh sepupunya sendiri.


"Tidak! Kau jangan bercanda, paman! Ini bukan main main"


"Aku tidak sedang bercanda. Hanya ini cara satu satunya agar kau bisa merebut posisinya. Bayangkan, apa kau akan memberikan kekuasaan ini padanya? Harta ini? Perusahaan ini? Kau yakin akan memberikan semuanya pada Reyhan? Apa kau tidak ingin di hormati? Tidakkah kau menginginkan kejayaan perusahaan ini? Namamu akan terkenal di kalangan pemimpin perusahaan lain. Apa kau yakin tidak menginginkan nya?"


Anton tersenyum tipis saat Raja mulai terpengaruh dengan ucapannya itu.


"...Baiklah, aku akan melakukannya. Tapi jika sampai aku tertangkap, maka aku juga akan menyeret mu kedalam penjara" Raja kemudian meninggalkan Anton di ruangannya. Obsesinya untuk mendapatkan posisi CEO membuat hati nuraninya membatu. Ia ingin menyingkirkan sepupunya itu dengan cara apapun.


"Pah, apa kau tidak berlebihan? Membunuh kak Reyhan..."


"Sudahlah, ini harus kita lakukan agar kau mendapatkan posisi itu. Raja ataupun Reyhan tidak pantas mendapatkan nya. Hanya kau yang pantas, jadi turuti saja permainan nya" Anton tersenyum pada putranya itu. Ia merupakan adik dari Arnold dan sudah banyak jasa yang ia lakukan pada perusahaan ini. Namun ia begitu kecewa saat ia tidak mendapatkan apresiasi dari perusahaan. Bahkan Reyhan juga menurunkan jabatannya, hal itu membuatnya begitu membenci Reyhan dan juga keluarganya.


Untuk membalas dendam atas sakit hatinya, ia sengaja mengadu domba Reyhan dan Raja. Ia selalu menghasut Raja untuk menyingkirkan Reyhan dari perusahaan. Setelah kedua pria itu saling menghancurkan, maka dengan mudah dia bisa mengambil posisi CEO untuk putranya.


...----------------...


Reyhan baru kembali dari kantor dan sekarang ia sedang dalam perjalanan menuju apartemen nya.


"Kenapa aku merasa mobil itu mengikuti ku?" Reyhan melihat dari kaca dasboard mobil. Ia memutar arah untuk memastikan apakah mobil di belakangnya benar mengikutinya. Dan ternyata dugaannya benar, mobil itu terus mengikutinya kemanapun.


Reyhan tersenyum sinis, ia melajukan mobilnya dengan cepat. Mobil di belakangnya pun melaju dengan cepat agar tak kehilangan jejak Reyhan.


"Aku yakin orang itu punya niat buruk" Reyhan diam diam memasang kamera cctv berukuran kecil di sela kaca mobil. Ia kemudian memencet asal nomor telepon di ponselnya.


"Ambil dokumen warna biru di laci meja kerjaku, jangan lupa juga cctv di sela kaca mobilku. Itu akan sangat berguna jika sampai aku kenapa napa"


Saat berada di belokan. Mobil yang di belakangnya tiba tiba menabrak mobilnya dengan kencang.


Brak!!


Hal itu membuat mobil yang di tumpangi Reyhan berguling kemudian menabrak pembatas jalan.


Reyhan yang masih sadar mencoba keluar dari mobilnya. Beruntungnya mobilnya tak terbalik hingga memudahkan nya untuk keluar.


Bruugh!


Reyhan yang mengalami luka parah akhirnya pingsan tak berdaya di jalanan yang sunyi itu.


Pengemudi mobil yang menabrak Reyhan tadi keluar dari mobilnya dan menghampiri Reyhan yang pingsan.


"Andai lo mau mengalah, gue pasti gak bakalan lakuin ini ke lo. ...Hehh, karena gue masih menganggap lo sepupu gue, maka gue akan membiarkan lo hidup, setidaknya untuk beberapa hari" Raja kemudian meninggalkan Reyhan sendirian. Ia tidak mempedulikan darah yang terus mengalir di kepala Reyhan yang bisa saja membuat pria itu tak selamat.


***


"Rey, bertahanlah nak"


"Rey, kamu pasti kuat! Papah percaya sama kamu!"


"Kakak harus bertahan demi Ray!"

__ADS_1


"Jangan tinggalin Adel, kak!"


Suara keluarga Reyhan yang mengantar nya ke ruang IGD berdengung di telinganya. Tapi ia tidak mendengar satu suara yang begitu ia harapkan.


Keluarga Reyhan menunggu cemas di depan ruang IGD. Widya memeluk erat suaminya dan menangis dalam pelukannya.


"Mama yang tenang ya, Reyhan pasti selamat kok. Dia anak yang kuat" Hibur Reza, namun Widya tahu harapan untuk anaknya selamat sangat sedikit. Dokter sempat berkata padanya sebelum masuk ke IGD.


Rayyan menatap nanar ke ruang operasi di mana kakaknya sedang berjuang. Ia akan sangat marah jika kakaknya itu sampai meninggalkan nya.


Adel terus menangis sambil berdoa agar Reyhan selamat.


Luka di kepala Reyhan sangat parah begitu juga luka luka di tubuhnya akibat kecelakaan itu. Hal itu membuat harapannya untuk selamat sangat sedikit. Apalagi jalanan yang sunyi membuat Reyhan hampir tidak selamat karena tidak ada pengemudi yang melintas. Beruntungnya ada seorang pengendara bermotor yang melihatnya dan langsung menelepon ambulans.


Raja datang bersama keluarganya. Bak tak terjadi apapun, ia bertingkah seolah olah begitu mengkhawatirkan Reyhan dan tak tahu apapun. Padahal kita tahu sendiri, bahwa Raja lah yang membuat Reyhan sampai kritis.


Berjam jam menunggu, akhirnya dokter keluar dari ruangan. Widya dan Reza langsung mendekati dan bertanya pada dokter.


"Ia berhasil melewati masa kritisnya dan kita tinggal menunggu nya bangun dari komanya. Saat ini kondisinya belum stabil jadi bisa saja dia tiba tiba drop. Tetap berada di dekatnya dan dukung dia, walau koma dia tetap bisa mendengar ucapan kalian. Jadi ucapkan kata kata penyemangat agar dia segera sadar. Satu lagi, aku harap orang yang di cintai nya bisa terus menemaninya. Orang yang di cintainya pasti bisa membuat semangat hidupnya kembali" Dokter kemudian pamit untuk melanjutkan tugasnya.


*Setelah memindahkan Reyhan ke ruangan ICU.


Satu persatu keluarga nya menjenguknya. Adel tak bisa menahan tangisnya melihat calon suaminya terbaring tak berdaya.


"Adel, sepertinya pernikahan kalian harus di tunda sampai Reyhan benar benar sembuh" Ucap Widya saat Adel keluar dari ICU.


Adel mengangguk. Ia pamit untuk pulang kerumahnya dan akan kembali lagi nanti.


...****************...


Clara datang sedikit terlambat ke kantor. Ia buru buru menghentikan pintu lift yang hendak tertutup.


"Hei, tunggu!"


Clara bernafas lega saat seseorang menahan pintu lift tersebut.


"Sama sama. Lo pasti kelelahan. Makanya jangan lupa untuk istirahat. Nanti kalau lo sakit, siapa yang susah?"


Clara yang merasa pria di sebelahnya ini bertingkah sok akrab segera menoleh..


"Tomi!!" Clara berbinar bahagia saat melihat rekan kerja paling the best nya itu ada di sampingnya.


"Tumben lo ke sini"


"Ada yang harus gue urus" Sahut Tomi. Ia dan Clara keluar dari lift dan langsung menuju ruang CEO.


"Bagaimana hubungan lo sama pak Reyhan?" Tanya Tomi. Ia menuju meja Reyhan untuk mengambil sebuah dokumen di laci pria itu. Ternyata nomor asal yang di telpon Reyhan adalah Tomi.


Tomi yang merasa terjadi sesuatu dengan bos nya itu memutuskan untuk ke jakarta esok harinya. Dan ternyata dia benar, sesuatu yang buruk terjadi pada bos nya itu.


"Ya, begitulah.. Tapi.., kok pak Reyhan belum datang ya?" Tanya Clara melihat meja Reyhan masih kosong.


"Apa dia masih tidur?" Clara berjalan menuju kamar rahasia Reyhan di ruangan itu. Ia membuka pintunya yang tak terkunci dan tak melihat Reyhan di sana.


"Apa lo belum tahu?.. Pak Reyhan kecelakaan tadi malam" Ucap Tomi menatap Clara.


"Kecelakaan?!"


"Hm, sekarang dia di rawat di rumah sakit X. Kondisi_nya" Tomi hanya bisa berdecak sebal saat Clara langsung pergi meninggalkan nya tanpa menunggu nya selesai bicara.


***


*Sesampainya Clara di rumah sakit X. Ia langsung bertanya pada suster di mana ruangan Reyhan. Ia langsung berlari setelah mengetahui di mana pria itu berada.


"Rayyan!" Panggil Clara pada Rayyan yang duduk di depan ruang ICU.

__ADS_1


"Kak Clara!" Rayyan langsung menghampiri Clara dan memberikan sebotol minuman kepada Clara yang terengah-engah.


"Thanks" Clara langsung meneguknya dengan cepat.


"Bagaimana keadaan pak Reyhan?"


"Dia masih koma.." Rayyan berucap sedih.


Widya dan Reza yang baru sampai, menghampiri mereka berdua.


"Bagaimana kak Reyhan bisa kecelakaan?" Tanya Clara pada kedua orang tua Reyhan itu.


"Kami juga tidak tahu bagaimana kronologi nya" Jawab Reza.


"Bisakah.. aku menjenguknya? Sekali ini saja" Pinta Clara memelas.


Widya dan Reza saling pandang.


"Tentu bo_"


"Gak boleh!" Adel keluar dari ruang ICU dan langsung memotong ucapan Widya.


"Wanita ini gak boleh dekat dekat sama kak Reyhan. Aku gak sudi calon suamiku di dekati wanita jal*ng sepertinya!"


"Adel, jaga bicaramu" Ucap Reza dingin.


"Sekali ini saja, aku hanya ingin melihat kondisinya saja" Pinta Clara, namun Adel tak menggubris nya.


Widya menarik tangan Reza untuk bicara berdua dan meninggalkan Adel dan Clara yang masih ribut.


"Dokter mengatakan jika orang yang di cintai Reyhan bisa membuat nya lekas sadar. Adel terus bersama Reyhan, namun Reyhan tak ada kemajuan. Jika kita meminta Clara untuk_"


"Maksudmu Clara bisa membuat Reyhan cepat sadar?" Reza memotong ucapan Widya.


"Ya, aku tahu mereka masih saling menyukai. Mata Reyhan tak bisa berbohong, masih ada cinta untuk Clara di dalamnya" Sahut Widya.


"Tapi kita harus menjaga perasaan calon istri Reyhan" Ucap Reza sedikit tak setuju dengan istri nya itu.


"Tapi ini demi Reyhan, aku yakin Adel akan mengerti" Tanpa menunggu persetujuan suaminya, Widya segera menghampiri Clara dan mengatakan jika dia bisa menjenguk Reyhan.


"Gak bisa gitu dong, tante!" Ucap Adel kesal.


"Adel, mengertilah. Ini demi Reyhan" Widya terus membujuk dan memberi pengertian pada Adel.


"Terserah kalian saja. Aku tahu kalian lebih memihak Clara daripada aku" Adel kemudian duduk di kursi tunggu dengan kesal.


Setelah mendapatkan izin dan mensterilkan dirinya. Clara melangkah perlahan mendekati Reyhan. Ia begitu sedih melihat Reyhan yang terbaring koma.


"Sadarlah, pernikahan mu tinggal sebentar lagi. Kau harus menepati janjimu untuk bersama Adel" Clara meletakkan tangan Reyhan di pipinya. Tangan yang sejuk itu tak merespon begitu pula dengan tubuhnya.


"Kau bilang tak ingin kehilangan Ara ataupun Clara, tapi jika kau terus begini, maka kemungkinan kau akan kehilangan mereka berdua.."


"Tidak, kami lah yang akan kehilangan bocah keren ini. Agar itu tak terjadi, aku mohon sadarlah.."


"Kau harus sadar, kak.."


Reyhan mulai menggerakkan tangannya dengan lemah. Ia dapat menangkap suara Clara di dekatnya. Hal itu membuatnya ingin cepat sadar.


"Waktu lo habis, mending lo keluar atau gue yang akan memaksa lo keluar!" Ucap Adel dari luar ruangan.


"Aku pergi dulu. Ingat, kau harus sadar, kau harus bangun kak. Ini terakhir kali aku menemui mu. Kakak harus sadar sekarang jika ingin melihat ku untuk terakhir kalinya. Sejujurnya, hari ini aku ingin mengajukan surat berhenti kerja, tapi sepertinya aku harus mengundurnya sampai kakak sadar"


Beberapa saat setelah Clara keluar, entah kenapa tiba tiba Reyhan drop. Jantungnya mulai melemah membuat Widya segera memanggil dokter.


"Apa yang terjadi pada pasien?" Dokter terlihat begitu panik, ia segera mengecek kondisi Reyhan.

__ADS_1


"Apa semangat hidupnya menurun hingga dia sampai seperti ini?" Dokter bertanya pada dirinya sendiri.


__ADS_2