
Malam itu Clara memasuki rumahnya dengan langkah gontai. Rasanya dunia nya benar benar hancur saat mengetahui kebenaran yang sesungguhnya. Ia tidak menyangka Farel begitu tega memperk*sanya secara diam diam. Otaknya terlalu lelah untuk memikirkan hal itu, ia memilih tidur untuk menenangkan batinnya.
Keesokan harinya Clara memutuskan untuk pergi ke Bogor. Ia berharap dengan pergi ke sana dapat membuat nya sedikit lebih tenang. Ia enggan memberi tahu sahabatnya perihal apa yang menimpanya sekarang karena ia tahu benar tabiat ke empat sahabatnya itu. Walau ia membenci Farel, namun ia tidak ingin Farel terluka karena amukan sahabat nya.
Sesampainya Clara di Bogor, ia segera memesan hotel di dekat puncak Bogor.
Seharian itu Clara menikmati kesendirian nya. Ia tidak mengaktifkan ponselnya agar tidak ada orang yang mengganggunya.
Seharian itu Clara melakukan hal hal positif untuk menghibur dirinya. Walau kenyataan itu berat, tapi ia tidak ingin hanya karena hal itu membuat hidupnya berhenti. Ia harus bangkit karena seperti yang di katakan Reyhan, video itu belum tentu benar. Apalagi ia tidak merasakan rasa sakit di daerah kewanitaan nya saat ia terbangun di rumah sakit malam itu. Hal itu membuatnya sedikit ragu akan kebenaran video itu.
Keesokan harinya Clara menghubungi Tomi.
"Tom, lo di mana sekarang?" Tanya Clara.
"Di kantor. Emangnya kenapa?"
"Bisa lo temui gue sekarang. Gue butuh teman, di sini terlalu sepi" Ucap Clara.
Tomi yang merasa Clara sedang tak baik baik saja, segera bertanya apa yang terjadi pada wanita itu.
"Gue gak apa apa. Kebetulan gue ada di Bogor. Lo temui gue ya, gue ada di puncak"
Sesampainya Tomi di puncak. Ia segera menemui Clara di hotel tempatnya menginap. Ia segera menghampiri gadis itu yang duduk di kursi di bawah pohon.
"Ra, apa yang terjadi?" Tanya Tomi duduk di samping Clara.
"Tidak terjadi apapun. Aku hanya ingin liburan di sini. Karena bosan aku menelpon mu untuk datang ke sini. Maaf jika aku membuatmu bolos kerja" Sahut Clara. Ia merasa sangsi jika harus menceritakan nya pada Tomi.
"Ceritakan lah kalau kau ada masalah. Itupun jika kau masih menganggap ku sebagai saudaramu" Ucap Tomi menatap hamparan perkebunan teh di depannya.
Clara hanya tersenyum getir. Ia mencoba mengalihkan pembicaraan dengan mengajak Tomi untuk jalan jalan.
...----------------...
Sedangkan di jakarta. Reyhan terus berusaha mencari Clara. Ia sudah bertanya kepada teman teman Clara, apakah Clara bersama mereka, namun mereka semua menjawab tidak.
"Rey, lo istirahat aja dulu. Biar gue sama Nio yang mencari Clara. Lo juga butuh istirahat Rey. Lihat, muka lo pucat karena gak ada istirahat dari semalam" Ucap Dimas menatap sahabatnya itu yang terlihat pucat.
Reyhan sedang berada di kantor Dimas. Ia sudah menceritakan semua masalahnya pada Dimas. Di mulai dari video itu yang membuatnya dan Clara putus dan Clara yang tidak ada kabar setelah melihat video itu. Ia takut Clara melakukan hal buruk pada dirinya sendiri.
"Tapi Rey, menurut gue ini aneh. Masa Clara sampai segitu shock nya pas ngelihat video itu. Seharusnya dia udah tahu semuanya kan. Itupun kalau video nya emang benar. Melihat reaksi dia, gue yakin itu hoax. Lagian lo kenapa langsung percaya sih? Kenapa gak di selidiki dulu? Sebagai seorang pacar, lo seharusnya percaya sama Clara. Lo kenal Clara, gak mungkin dia serendah itu" Ucap Dimas memberikan pendapatnya.
"Lo benar. Itu yang membuat gue menyesal sekarang. Seharusnya gue gak buru buru. Seharusnya gue mencari kebenaran video itu dari Farel. Video itu pasti tidak benar, atau saat Farel melakukannya, Clara dalam keadaan tidak sadar. Dan dengan mudahnya gue menuduh dia wanita murahan. Padahal dia tidak tahu apa apa" Ucap Reyhan, dari matanya terlihat penyesalan yang begitu mendalam. Ia hanya bisa menutup matanya dan menghela nafas panjang untuk menenangkan dirinya.
"Sabar Rey, Clara pasti ketemu. Dia mungkin hanya menenangkan dirinya di suatu tempat" Ucap Dimas menepuk bahunya.
'Gue harap lo benar Dim. Tapi tetap saja, gue harus mencarinya agar hati gue tenang karena ini semua terjadi karena gue. Gue harus ada di sisinya, menguatkannya seperti dulu'
"Gue pergi dulu" Ucap Reyhan kemudian meninggalkan Dimas.
...----------------...
Sore harinya di Bogor. Clara dan Tomi sedang duduk di atas tikar sambil menikmati secangkir teh hangat. Clara terlihat mengunyah roti yang ia beli tadi. Tatapan matanya menatap jauh ke bawah.
"Ra, kau yakin kau baik baik saja?" Tanya Tomi.
__ADS_1
Clara mengangguk lemah. Matanya menatap matahari yang mulai tenggelam. Cahaya nya begitu indah menghiasi langit sore. Ia sudah menghabiskan sebungkus roti nya.
"Ra, jika kau masih menganggap ku sebagai abang mu, maka cerita lah. Aku tidak suka melihat mu seperti ini. Jangan pura pura kuat, Ra. Terkadang kita harus menceritakan masalah kita kepada orang lain, agar beban kita berkurang" Ucap Tomi menangkup kedua pipi Clara.
"Tapi aku malu, Tom" Ucap Clara lirih. Matanya mulai berkaca-kaca. Kepalanya menunduk.
"Malu kenapa? Kau tidak perlu malu denganku. Kita ini saudara kan... Tapi jika kau tidak ingin cerita dengan ku juga tidak apa apa, aku tidak memaksa" Ucap Tomi melepaskan tangannya dari pipi Clara. Hatinya miris saat ia mengatakan jika mereka 'saudara', hanya saudara tidak lebih. Padahal ia berharap lebih pada Clara.
"Aku kotor.." Ucap Clara lirih setelah diam sekian lama.
Tomi yang mendengarnya tampak mengerutkan kening. Ia tidak ingin bertanya, ia ingin Clara menumpahkan segala kegundahan di hatinya.
"Aku wanita kotor... Aku sudah tidak perawan lagi... Hiks.. Lima tahun yang lalu ternyata aku di perk*sa seseorang dan aku baru mengetahui nya sekarang" Ucap Clara terbata. Ia menundukkan kepalanya karena malu. Air mata terus mengalir membasahi pipinya.
Mata Tomi membulat sempurna saat mendengar nya.
"Siapa yang melakukannya?! Aku akan memberinya pelajaran! Beraninya dia melakukan itu padamu! Apa dia tidak punya hati? Dasar binatang! Jawab Ra, siapa yang melakukannya padamu? jawab pertanyaan ku, Ra"
"...JAWAB CLARA, SIAPA ORANG YANG MELAKUKANNYA PADAMU?!!" Ucap Tomi mencengkram bahu Clara. Wajahnya memerah menunjukkan ia begitu marah. Rahangnya mengeras dengan mata yang berkaca-kaca.
Mendengar ucapan Tomi malah membuat Clara semakin terisak. Tomi yang iba segera memeluknya dan menenangkan wanita itu.
"Aku benar benar tidak percaya... Aku pikir selama ini dia menuduhku tanpa alasan. Ternyata aku salah, dia benar, aku memang wanita kotor" Ucap Clara memukuli dirinya.
"Ra, cukup! Jangan menyakiti dirimu Ra!" Ucap Tomi menahan tangan Clara.
"Sudahlah, kau jangan menangis lagi. Aku tahu ini berat tapi jangan menyakiti dirimu. Aku janji akan membalas perbuatan pria itu" Ucap Tomi menghapus air mata Clara.
"Ra, kenapa kau baru mengetahui nya sekarang? Kau bilang kejadian itu sudah lima tahun lalu?" Tanya tomi saat melihat Clara sudah mulai tenang.
"Kak Reyhan?" Tanya Tomi bingung karena Clara memanggil bos nya itu dengan sebutan 'kak'.
"Sebenarnya, aku dan kak Reyhan sudah saling mengenal sejak dulu. Kami bahkan pernah pacaran, tapi karena seseorang mengirimkan video itu .. karena video itu kami putus" Ucap Clara merasa sedih mengingat lima tahun lalu.
"Bisa kau jelaskan lebih rinci? Itupun jika kau tidak keberatan" Ucap Tomi .
Clara menceritakan semuanya sambil terisak. Siapa pelakunya dan apa isi video itu, juga apa yang Reyhan katakan saat mereka putus dulu.
"Dasar brengsek! Kenapa dia langsung menuduh mu? Seharusnya dia mencari kebenaran nya dulu. Zaman sudah canggih, bisa saja video itu bohong" Gerutu Tomi yang kesal pada Reyhan.
"Tapi aku mengerti perasaannya. Jika aku jadi dia, aku pasti juga akan melakukan hal yang sama, bahkan lebih kejam. Aku yakin saat itu ia tidak bisa berpikir jernih" Ucap Clara membela Reyhan.
"Apa kau masih menyukainya?" Tanya Tomi tiba tiba.
Clara tidak bisa menjawab. Ia memang membenci Reyhan, tapi entah kenapa, masih ada perasaan nyaman saat bersama dengan pria itu.
Melihat Clara diam, Tomi menyimpulkan jika wanita itu memang masih menyukai Reyhan. Ia hanya bisa tersenyum kecut.
...----------------...
"Halo" Ucap Reyhan mengangkat ponselnya.
"Temui aku.. di rumah sakit Harapan" Ucap Farel lirih.
Reyhan segera melajukan motornya menuju rumah sakit. Ia ingin membalas dendam pada Farel. Rasanya pembalasan nya lima tahun lalu belum cukup. Apalagi ia baru mengetahui sekarang jika Clara tidak mengetahui apapun tentang video itu, bahkan Clara begitu shock saat melihat video itu. Ia bersumpah akan membuat Farel tiada malam ini.
__ADS_1
Sesampainya ia di rumah sakit. Ia segera menghubungi Farel di ruangan mana ia di rawat. Setelah mendapatkan lokasi pria itu, Reyhan bergegas ke sana.
Reyhan mendobrak pintu dengan keras membuat semua orang yang berada di ruangan itu terkejut. Jonathan bahkan sampai memeluk erat ibunya dan menatap takut ke arah Reyhan.
Farel terduduk lemah di ranjangnya. Ia yang melihat Reyhan datang dengan emosi yang membuncah hanya bisa tersenyum simpul menatapnya. Ia lantas menyuruh keluarganya untuk keluar agar ia bisa bicara dengan Reyhan.
Reyhan segera memukul wajah Farel hingga bibirnya berdarah. Ia mencengkram kerah pria itu.
"Dasar brengsek! Bangsat! Kenapa lo tega ngelakuin itu ke Clara?! Lo tahu betapa shock nya dia saat mengetahui itu?! Betapa dia membenci dirinya sekarang! ASAL LO TAHU, CLARA SEKARANG HILANG ENTAH KEMANA, ITU KARENA LO!"
"Maafin gue..." Ucap Farel lirih, matanya berkaca-kaca.
"Maaf? MAAF GAK AKAN BISA MENGEMBALIKAN APA YANG UDAH LO RAMPAS DARI DIA!" Reyhan yang marah kembali menghujani pukulan ke wajah Farel.
Ibu Farel yang mendengar keributan di ruangan itu segera memanggil dokter dan sekuriti. Mereka langsung menahan Reyhan. Dokter segera memeriksa keadaan Farel.
"Aku baik baik saja, dok. Biarkan aku berbicara dengannya" Ucap Farel lemah, ia meminta kepada sekuriti untuk melepaskan Reyhan.
"Sebaiknya anda tidak memukuli pasien lagi. Ia dalam kondisi tidak sehat, anda bisa saja membuatnya tiada" Ucap sang dokter kemudian meninggalkan mereka berdua.
Farel meminta Reyhan untuk duduk di sampingnya.
"Dengar, gue tahu gue salah. Saat itu gue di hasut oleh Vizah. Karena gue begitu cemburu dan emosi, gue setuju dengan rencananya. Gue gak memikirkan apa dampak buruknya bagi Clara. Yang ada di pikiran gue saat itu hanyalah bagaimana cara memisahkan kalian" Ucap Farel dengan linangan air mata. Ia tampak begitu menyesal.
"Satu lagi, lo gak perlu khawatir. Gadis yang ada di foto dan video yang gue kirim ke lo, ... itu bukan Clara. Itu orang lain" Ucap Farel membuat Reyhan terkejut setengah mati.
"Gue dan Vizah mencari gadis yang sangat mirip dengan Clara. Saat para preman yang gue bayar berhasil membuat Clara pingsan, gue segera mengantar nya ke rumah sakit. Setelah itu gue segera ke hotel menemui Vizah dan gadis yang mirip dengan Clara... Gue dan gadis itu mulai berakting seakan akan benar benar melakukan hubungan intim dan Vizah lah yang merekamnya" Ucap Farel. Reyhan masih tidak percaya.
"Kalau lo gak percaya, lo bisa menemui gadis itu atau menemui Vizah. Yang jelas, gue
gak pernah menyentuh Clara sedikitpun" Ucap Farel.
Reyhan terlihat sangat frustasi mendengar nya. Ia salah, selama ini ia salah menilai Clara. Clara wanita yang baik, ialah yang jahat karena tidak mempercayai mantan pacar bayaran nya itu.
"Selama ini, Clara selalu terlihat murung. Di kampus, ia tidak pernah dekat dengan seorang pria selain gue. Saat lo dan Clara putus di taman, gue melihat dan mendengar semua yang lo katakan padanya. Clara terlihat begitu sedih, ia terlihat bingung sedangkan gue malah bahagia malam itu. Ia hampir tertabrak mobil yang gue kendarai karena jalan sambil melamun. Sungguh, saat itu tak ada penyesalan sedikitpun di hati gue. Gue baru merasakan nya saat melihat dampak buruknya pada Clara. Ia di katai penyuka sesama jenis, tidak normal dan masih banyak lagi. Hanya gue dan teman temannya yang membela nya" Ucap Farel membuat Reyhan tak bisa menahan air matanya hingga luruh membasahi pipinya. Ternyata perkataannya selama ini cukup untuk membuat hidup wanita itu hancur. Ia tidak bisa membayangkan apa yang di rasakan Clara.
"Bisa lo berikan ini untuk Clara. Gue gak bisa meminta maaf langsung kepadanya karena gue sedang sekarat di sini. Gue harap lo menyampaikan pesan ini" Ucap Farel menyerahkan sebuah surat pada Reyhan.
"Tolong jaga Clara, gue harap lo kembali lagi padanya seperti lima tahun lalu. Jangan buat dia menangis atau gue akan menghantui lo seumur hidup. Gue mau tidur dulu. Lo pergilah" Ucap Farel, suaranya terdengar begitu lirih, ia kemudian memejamkan matanya.
Reyhan yang melihat Farel terpejam menjadi panik. Ia segera memanggil dokter untuk memeriksa pria itu.
"Maaf, tapi ia sudah tiada" Ucap dokter setelah mengecek denyut nadi Farel. Mendengar itu ibunya Farel langsung menangis histeris penuh penyesalan. Terlihat Jonathan dan kedua orangtuanya pun tak bisa menahan tangisnya atas kepergian Farel.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Apa penyakitnya?" Tanya Reyhan yang masih bingung.
"Pasien mengidap leukemia stadium akhir" Jawab dokter.
Reyhan keluar dari ruang perawatan Farel. Ia masih berdiri di pintu dan menatap surat pemberian Farel. Ia berjanji padanya akan menyampaikan surat itu seperti permintaan terakhir Farel padanya.
Reyhan teringat pengakuan Farel tadi yang membuatnya begitu terkejut. Ia salah menilai Clara...
Bugghh
Reyhan yang kesal pada dirinya memilih melampiaskan nya dengan meninju tembok berkali kali hingga membuat tangannya berdarah.
__ADS_1
"Maafkan aku Clara... maaf karena sudah membuat mu menderita selama ini. Kau wanita baik, akulah yang jahat. Maaf karena sudah menuduh mu. Aku menyesali perbuatan ku yang dulu dan yang sekarang. Aku bersyukur kita putus, kau tidak pantas mendapatkan pria brengsek seperti ku" Ucap Reyhan mengangkat wajahnya agar air matanya tak turun. Tangannya terluka dan mengeluarkan darah yang cukup banyak.