
POV author
Keesokan harinya Reyhan datang lebih awal. Ia pergi ke dapur untuk menyeduh kopi kemudian membawanya ke meja. Ia duduk di kursi kebesarannya kemudian menyeruput kopinya pelan. Ritual yang selalu ia lakukan sebelum bekerja.
Setengah jam kemudian Clara sampai ke kantor. Ia membuka pintu dan masuk ke ruangan. Ia tidak terkejut lagi saat melihat Reyhan ada di meja CEO.
"Pagi ... Pak Reyhan" Sapa Clara. Ia lihat Reyhan sudah membuat kopinya sendiri, maka ia pun pergi ke dapur untuk membuat teh manis.
"Pagi" Balas Reyhan tanpa menoleh ke Clara.
Setelah selesai membuat teh manis, Clara membawanya ke meja dan meminumnya sedikit, ia kemudian memulai pekerjaannya.
1 menit, 10 menit, 30 menit hingga 1 jam berlalu. Tidak ada yang berbicara sama sekali. Mereka berdua sibuk dengan pekerjaannya dan mencoba fokus untuk tidak memikirkan satu sama lain.
Pengingat di hp Clara berbunyi, ia segera mengeceknya, ternyata ada jadwal yang harus mereka lakukan. Clara menarik nafasnya terlebih dahulu sebelum menemui Reyhan. Setelah di rasanya tenang, ia segera menemui Reyhan.
"Pak, kita harus mengecek alat dan bahan konstruksi juga lokasi tempat jembatan akan di bangun" Ucap Clara tanpa melihat Reyhan. Ia pura-pura sibuk dengan dokumen di tangannya.
Reyhan mengangguk, ia segera menyusun dokumen di mejanya kemudian melewati Clara begitu saja menuju pintu. Clara segera mengikuti di belakangnya.
Saat mereka memasuki lift, hanya ada mereka berdua. Sebisa mungkin mereka mencoba untuk tidak saling menatap dan berbicara. Jika mereka bertatapan hanya akan membuat kenangan masa lalu mereka kembali dan akan menyakiti hati sendiri.
Setelah sampai di basement, Clara dan Reyhan segera memasuki mobil dan mobil melaju menuju gudang penyimpanan alat & bahan konstruksi.
Setelah sampai, mereka segera mengecek kualitas alat dan bahan konstruksi agar kejadian beberapa tahun yang lalu tidak terulang lagi.
Clara dan Reyhan berjalan-jalan untuk melihat bahan-bahan yang lain.
Seorang pekerja membawa dua tumpuk kotak di tangannya. Karena tidak berhati hati, ia tidak sengaja menyenggol deretan kayu yang di susun diagonal hingga terjatuh.
Clara yang berada di sana hampir tertimpa kayu kayu itu, beruntungnya Reyhan yang mengetahuinya segera menarik Clara ke dalam pelukannya.
BRAAAKK!!!
Deg!
"Ra, kamu ga papa kan?" Tanya Reyhan khawatir.
Mereka berdua saling menatap dalam keadaan masih berpelukan. Jelas terpancar di mata mereka kerinduan yang mendalam, tapi juga ada kebencian di dalamnya. Mereka masih saling menatap hingga pekerja tadi menyadarkan mereka.
"Maafin saya pak. Bapak sama ibu gak papa kan?" Ucap pekerja itu.
Reyhan yang tersadar langsung melepaskan pelukannya. Ia dan Clara terlihat gugup.
"Kami baik baik saja. Lain kali hati hati pak, untung kayunya gak rusak. Kalau rusak, emang bapak mampu gantinya?" Reyhan segera meninggalkan Clara dan pekerja itu dengan hati yang kesal.
"Maafkan saya, Bu" Ucap pekerja itu. Ia sepertinya sangat menyesal.
"Tidak apa pak, setelah ini bapak harus lebih berhati-hati. Saya permisi dulu" Clara pamit dan berlari mengejar Reyhan.
Reyhan sedang berbicara dengan seseorang. "Kapan kalian akan mengantar alat dan bahan ini ke lokasi?"
"Hari ini, pak"
"Aku ingin hari ini semua beres, jadi kita bisa mulai pembangunannya besok"
"Baik pak" Orang itu permisi untuk melanjutkan pekerjaannya.
Clara segera menghampiri Reyhan. "Bapak tidak seharusnya sekejam itu pada pekerja tadi. Dia kan tidak sengaja" Ucap Clara membahas masalah tadi.
"Apa kau ingin menanggung kerugiannya?" Tanya Reyhan membuat Clara seketika terdiam.
"Tidak kan? Kalau begitu jangan banyak omong" Reyhan segera ke mobilnya di ikuti Clara. Mereka menuju lokasi pembangunan jembatan.
Sesampainya di sana, sudah ada kepala proyek yang menunggu mereka.
"Pagi pak Reyhan, Bu Clara" Sapa pak Yunus sang kepala proyek menghampiri mereka.
"Pagi pak"
__ADS_1
Clara dan Reyhan segera menjabat tangan pak Yunus.
"Bagaimana lokasi nya pak?" Tanya Reyhan melihat sekeliling.
"Pemandangan di sini sangat indah. Di dekat sini juga banyak rumah makan. Di tambah dengan rancangan jembatan yang indah dan menarik, aku yakin jembatan ini akan menjadi tempat wisata"
"Hm, tapi jembatan ini di peruntukkan untuk kendaraan. Jika banyak orang berlalu lalang di sini, pasti akan berbahaya" Ucap Reyhan.
"Bapak tenang saja, jambatan ini akan memiliki tempat khusus untuk para pengunjung di sisi kanan kirinya. Tempat itu juga bisa di gunakan untuk berjualan karena ukurannya yang luas. Kami juga memberi batas antara tempat khusus dan kendaraan, jadi resiko kecelakaan akan kecil" Terang pak Yunus.
"Rancangan yang bagus. Kalau boleh tahu siapa yang merancangnya?" Tanya Reyhan.
"Yang merancangnya adalah saya dan Bu Clara. Tapi usulan tempat khusus itu dari Bu Clara sendiri" Sahut pak Yunus.
"Kerja bagus. Aku yakin proyek ini akan berhasil" Ucap Reyhan.
"Terimakasih, pak" Ucap Clara dan pak Yunus bersamaan.
Pak Yunus menjelaskan lebih detail lagi tentang pembangunan jembatan. Reyhan mengangguk mengerti. Ia dan Clara pamit undur diri untuk kembali ke kantor.
Karena sudah waktu makan siang, Reyhan mencari restoran terdekat. Ia menghentikan mobilnya di warung nasi Padang. Warung yang sederhana dan hanya ada beberapa pelanggan.
Clara dan Reyhan memasuki warung makan dan segera memesan makanan. Tak lama pesanan mereka pun datang. Mereka makan pakai tangan dan duduk lesehan saling berhadapan.
Lima belas menit kemudian mereka selesai makan. Mereka memutuskan untuk istirahat sebentar sebelum kembali ke kantor.
Tring!
✉️ "Kak Reyhan di mana?" Tanya Adel.
✉️ "Di luar"
✉️ "Lagi ngapain?"
✉️ "Kerja" Balas Reyhan.
✉️ "Aku gak bisa datang hari ini. Tapi besok aku pasti datang. Kakak lagi sama siapa? Sama sekretaris baru itu?" Tanya Adel.
✉️ "Vc sekarang!" Perintah Adel. Reyhan yang kesal segera mematikan handphone nya.
"Kita harus bertemu dengan CEO Anggara Corporation jam tiga. Ini tentang kontrak dengan perusahaan retail seminggu yang lalu" Ucap Clara. Ia menyeruput es jeruk nya.
"Hm" Reyhan kembali sibuk dengan handphonenya.
Dreeet dreeet
Reyhan berdecih kesal kemudian mematikan panggilan Vc dari Adel. Ia terus melakukan itu membuat Clara geram.
"Berisik! Angkat aja kenapa sih" Bentak Clara.
"Lo bentak atasan? Mau di pecat sekarang?" Tanya Reyhan.
"Iya iya maaf"
Reyhan segera mengangkat panggilan Vc yang ke sebelas dari Adel. Tapi ia tidak mengarahkan ke wajahnya melainkan ke wajah Clara.
"Kak Reyhan! Kok lama banget sih ngangkatnya?! Ngapain aja kakak sama sekretaris itu?! Awas kalau macem macem, aku bilangin sama Tante Widya nanti" Ucap Adel nyerocos.
"Loh, kamu bukan kak Reyhan? Kak Reyhan mana?" Tanya Adel saat ia melihat bukan Reyhan lah yang mengangkat panggilan nya.
Reyhan berbicara pada Clara dengan gerakan mulut.
'Bilangin gue lagi ke toilet'
"Pak Reyhan lagi ke toilet" Ucap Clara pada Adel.
"Ke toilet apa ke luar planet? Kok lama banget" Gerutu Adel.
"Pak Reyhan mules karena kebanyakan makan cabe rawit" Sahut Clara membuat Reyhan melotot.
__ADS_1
"Hah! Dia gak papa kan? Please kak, kakak sekretaris kak Reyhan kan? Tolong jagain dia ya, aku hari ini gak bisa datang karena ngerjain tugas" Terlihat wajah Adel yang begitu khawatir.
"Tenang aja, aku pasti bakalan jagain pak Reyhan seperti anakku sendiri" Ucap Clara terkekeh. Panggilan pun selesai.
"Apa maksud lo ngomong kek gitu?" Tanya Reyhan ketus.
"Emang kenapa?" Tanya Clara.
"Ekhem, baby sitter nya imut dan perhatian banget ya pak. Duh, bayi mana yang gak nyaman sama dia" Ucap Clara mengejek, tapi di dalam ejekannya itu, terselip rasa cemburu.
"Maksud lo gue bayi?" Tanya Reyhan kesal.
"Ututu, bayinya lagi kesel. Hahaha" Ucap Clara terkekeh.
Ada perasaan bahagia di hati Reyhan melihat tawa lepas Clara yang sudah lama tak di lihatnya.
"Gue potong gaji lo" Ucap Reyhan meninggalkan Clara.
"Dih, bayi nya ngambek" Ejek Clara sambil mengikuti Reyhan. Mereka berdua kembali ke kantor.
Pukul tiga mereka sampai di Anggara Corporation. Mereka langsung menuju ruangan CEO. Reyhan sepertinya sudah hapal tempat ini hingga mudah baginya menuju ruangan CEO.
Cklek
"Pak, ketuk dulu pintunya" Ucap Clara saat Reyhan nyelonong masuk tanpa mengetuk pintu.
"Gak perlu"
Mereka berdua memasuki ruangan. Sudah ada pria yang sedang meminum kopinya menunggu mereka di sofa. Clara merasa tak asing dengan wajah pria itu.
"Loh, kak Dimas!"
"Eh, Clara! Wah, apa kabar Ra?" Dimas segera menghampiri Clara dan ingin memeluknya.
Reyhan yang melihat itu langsung menarik kerah belakang Dimas. "Jangan modus, dia sekretaris gue"
"Bilang aja lo cemburu" Gumam Dimas kesal.
"Kabar aku baik kak" Jawab Clara.
Dimas mengajak mereka duduk dan menyuruh Nio membuatkan minum untuk mereka.
"Loh, jadi bukan Nio CEO nya?" Tanya Clara bingung.
"Bukanlah, Ra. Nio itu sekretaris gue. Saat itu gue gak ada waktu, jadi gue nyuruh dia"
Clara mengangguk paham.
"Ra, kabar Mira gimana?" Tanya Dimas tersenyum malu.
"Yee, kok tanya aku sih. Tanya ke orangnya langsung lah. Siapa suruh dulu kalian putus kalo masih saling cinta" Ucap Clara.
"Bukan keinginan gue putus Ra. Tapi Mira gak bisa LDR-an, jadi kita terpaksa putus dulu. Eh, sampai sekarang gak ada kabar" Ucap Dimas lesu.
"Bukan gak ada kabar, tapi kak Dimas yang gak mau nemuin kak Mira" Balas Clara.
"Emang Mira masih sendiri?" Tanya Dimas.
"Mana aku tahu" Sahut Clara.
"Udah reunian nya?" Tanya Reyhan kesal yang di angguki Clara dan Dimas.
"Kita bahas kerjaan sekarang?" Mereka mengangguk lagi, Nio ikut bergabung.
Mereka berempat pun membahas mengenai furniture yang di inginkan Dimas. Pembahasan mereka tidak terlalu serius, bahkan diiringi dengan canda tawa.
Clara dan Reyhan pamit karena urusan mereka sudah selesai.
Di ruangan kerja Dimas.
__ADS_1
"Gue tahu kalian juga masih saling suka. Gue gak tahu kenapa dulu kalian putus, tapi gue harap kalian bersatu kembali. Walau pasti sulit karena Reyhan sudah bertunangan" Gumam Dimas.