
Mobil itu mengantar mereka sampai menuju rumah masing-masing. Sekarang hanya tersisa Reyhan, Dimas dan pak Joko.
Tiba-tiba ponsel Reyhan berdering.
"Halo ma"
"Apa! baiklah Reyhan segera ke sana. Pak, bisa ke rumah sakit xx" Ucap Reyhan, wajahnya terlihat cemas.
Pak Joko segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit tersebut.
Setelah tiba di rumah sakit, Reyhan segera berlari menuju ruang ICU. Ia bersyukur sekaligus sedih saat melihat omah nya, bersyukur karena Tuhan masih memberi waktu kepada omah nya sekaligus sedih saat melihat tubuh omah nya di penuhi alat medis.
"Akhirnya kau pulang Rey." Seru Mama Widya menghampirinya.
"Kenapa omah bisa drop mah?" Tanya Reyhan, ia kemudian duduk di kursi tunggu. Widya mengikuti putranya.
"Entahlah, mama juga tidak tahu. Kita doakan saja semoga omah baik-baik saja. Saat dia sadar, bawalah Clara untuk menemuinya. Mamah yakin omah pasti senang jika bertemu dengan gadis itu, semoga saja kondisinya membaik"
Reyhan mengangguk, ia izin untuk menjenguk omah nya.
"Omah, Rey janji akan membawa Clara untuk menemui omah. Omah harus kuat, bukannya omah ingin melihat Rey dan Ray menikah. Omah harus bertahan sampai saat itu" Reyhan berkaca-kaca, baginya omah nya adalah yang terpenting setelah kedua orangtuanya. Omah nya lah yang selalu mensupport Reyhan dalam menjalani kehidupannya. Omah nya juga yang membuat Reyhan bangkit dari trauma dan rasa bersalahnya.
...****************...
Hujan membasahi kota Jakarta. Reyhan berlari mencari gadis itu, ia sempat kehilangan jejaknya namun ia kemudian tersenyum saat melihat orang yang dicarinya.
Tak ingin kehilangan lagi, Reyhan menggenggam erat gantungan kunci yang ada di tangannya. Ia segera berlari sambil memanggil nama gadis kecil itu.
"ARA!!"
Gadis itu menoleh. Tiba-tiba...
Tiiit!
Brak!
Reyhan terbangun dengan napas tersengal. Keringat membasahi wajahnya. Ia memegang kepalanya yang sakit kemudian bernapas lega.
"Syukurlah hanya mimpi. Tapi, kenapa mimpi itu datang kembali? Padahal sudah sekian lama aku tak memimpikan kejadian itu lagi."
Reyhan menatap langit-langit, pikirannya menerawang jauh ke masa lalu.
"Ara, maafkan aku. Andai saja aku tak memanggilmu saat itu, mungkin kau masih hidup sampai sekarang. Aku sangat ingin bertemu denganmu dan meminta maaf"
Reyhan menatap nanar ke arah gantungan kunci milik gadis kecil itu yang selalu di simpannya.
...----------------...
Beberapa hari kemudian.
Terlihat hujan deras membasahi kota. Jalanan menjadi basah dan licin. Udara menjadi dingin. Siswa-siswi SMA Nusa bangsa sudah berpulangan menembus hujan.
Reyhan berdecak kesal. Ia tidak suka hujan, hanya akan mengingatkan nya saja akan kejadian itu. Ia memilih untuk menunggu di kelas sampai hujan reda.
Reyhan iseng mengirim pesan kepada Clara. Ia memilih kata-kata yang pas untuk di sampaikan, namun selalu di hapusnya. Tiba-tiba suara petir membuatnya terkejut dan tanpa sengaja malah mengirim pesan ke Clara.
✉️ "Ra, apa kau sudah pulang? Jika belum bisa kau temui aku?" Ia terkejut saat Clara membalasnya.
✉️ "Iya kak, aku masih ada urusan di sekolah dan ini baru selesai"
✉️ "Dimana kau sekarang?"
__ADS_1
✉️ "Meja piket"
Setelah mendapatkan pesan dari Clara, Reyhan segera bergegas menuju meja piket.
"Apa kau mau ku antar? Kebetulan aku sedang membawa mobil"
Clara menoleh dan mengangguk setuju. Melihat hujan masih deras, Clara mengeluarkan payungnya dan membukanya agar mereka tidak basah saat menuju parkiran.
Reyhan mematung melihat payung itu. Kepalanya tiba-tiba sakit, napasnya sesak. Bayang bayang kejadian yang membuatnya trauma melintas di benaknya.
"Payung itu, Ara" Ucapnya lirih, entah kenapa ia melihat bercak darah di payung itu.
Clara yang melihat Reyhan memegangi kepalanya seperti kesakitan segera menghampiri nya.
"Kakak kenapa?" Tanyanya cemas.
"Payung, buang payung itu"
"Apa? Kenapa aku harus membuang payungku?" Tanya Clara bingung.
"Buang payung itu!" Clara terkejut saat Reyhan membentaknya. Ia segera melempar payung yang di pegang nya.
"Maaf" Ucap Reyhan merasa bersalah karena sudah membentaknya.
"Lain kali jangan bawa payung warna itu, terserah kau mau warna apa, asalkan jangan warna kuning" Clara bingung, ia ingin bertanya namun ia urungkan.
Reyhan masih memegang kepalanya yang terasa sakit. Rasa bersalahnya membuat dadanya sesak. Ia terduduk karena lemas, matanya berkaca-kaca.
Clara berjongkok dan menenangkan Reyhan. Ia memeluknya dan menepuk-nepuk punggung Reyhan, sama seperti yang di lakukan Reyhan padanya.
"Aku tidak tahu kakak kenapa, jika kakak benar-benar membenci payung itu maka jangan di lihat. Pejamkan saja mata kakak"
Reyhan mengangguk, ia memejamkan matanya. Tak lama Reyhan mulai tenang dan melepaskan pelukannya.
Cekrek cekrek
"Wah, sepertinya ini akan viral di sekolah" Ucap seorang siswa yang memotret kebersamaan Clara dan Reyhan.
Setelah berada di dalam mobil. Reyhan mendapatkan telepon dari mamahnya. Ia mengangguk dan segera mematikan sambungan nya.
"Apa kau bisa menjenguk omah ku sebentar?"
"Tapi_
"Omah baru sadar dari koma. Aku harap dengan kedatangan mu omah bisa membaik" Ucap Reyhan membuat Clara terkejut.
"Baiklah"
Mobil melaju menuju rumah sakit. Tidak ada yang berbicara selama perjalanan. Akhirnya mereka telah sampai di rumah sakit. Mamah Widya segera menghampiri mereka.
"Omah sudah di pindahkan ke ruang rawat. Lebih baik kalian temui dia" Ucap mamah Widya mengantar mereka sampai ruang rawat omah Ken.
Clara dan Reyhan masuk. Clara segera menghampiri omah Ken.
"Assalamualaikum omah"
"Wa'alaikumsalam Clara. Syukurlah kau datang, omah kangen sama kamu" Jawab omah Ken membuka matanya.
"Aku juga kangen sama omah. Maaf ya Clara jarang jenguk omah."
"Tidak apa, omah tahu kau sibuk" Omah Ken tersenyum.
__ADS_1
"Kalian bicaralah dulu. Aku ada urusan sebentar." Reyhan segera keluar agar mereka bisa leluasa untuk mengobrol.
Clara dan omah Ken mengobrol banyak hal. Karena terlalu lemah, omah Ken hanya bicara seadanya. Tidak ada tawa riangnya, omah hanya tersenyum menanggapi Clara.
"Oh ya omah, aku sangat penasaran. Apa aku boleh bertanya?" Tanya Clara.
"Tentu, apapun yang kau tanyakan pasti akan ku jawab" Jawab omah Ken.
"Kenapa kak Reyhan sangat membenci payung warna kuning?" Tanya Clara.
"Payung warna kuning? Apa traumanya kembali." Seru omah Ken terkejut sekaligus cemas.
"Kak Reyhan tiba-tiba sakit kepala dan nafasnya sesak saat melihat payung itu. Ia menyuruhku untuk membuang nya. Aku hanya penasaran, sebenarnya apa yang terjadi sampai dia begitu membenci payung itu?"
"Heehhh, hanya aku, kedua orang tua Reyhan dan Dimas yang mengetahui hal ini. Karena kau pacarnya maka aku akan memberitahu mu"
Clara menunggu sampai omah Ken melanjutkan perkataannya.
"Reyhan bukannya membenci payung kuning, dia membenci dirinya. Saat melihat payung itu hanya akan membuatnya teringat akan masa lalunya. Rasa bersalahnya kepada seorang gadis kecil. Kau masih ingat kan dengan cerita ku tentang cinta pertama Reyhan? Aku akan menceritakan nya lebih jelas agar kau paham" Maka mengalir lah cerita dari mulut omah Ken.
Flashback
"Aww!" Reyhan meringis kesakitan saat ia terjatuh karena di dorong oleh temannya.
Teman temannya yang lain menertawakan nya, tidak ada satupun yang menolongnya. Mereka mengejeknya anak bisu karena tidak pernah bicara dengan siapapun di sekolah. Dimas sedang cuti jadi tidak ada yang membelanya.
Baru beberapa minggu mereka masuk ke sekolah dasar. Wajar jika mereka tak mengenal siapa Reyhan dan berani merundungnya.
Tiba tiba seorang gadis kecil berdiri di depannya. Ia mengulurkan tangannya kepada Reyhan.
Reyhan menerima uluran tangan itu dan kemudian bangkit.
Gadis itu berdiri di depannya dan segera memarahi teman teman Reyhan yang merundungnya.
Gadis itu tak segan segan memukul mereka yang ingin melawannya. Para anak anak itu pun lari meninggalkan mereka berdua.
"Kau tidak apa?"
"Hem" Jawab Reyhan.
"Lain kali kau jangan diam saja saat di rundung. Kau harus melawan mereka, jangan diam saja" Ucap gadis itu.
Reyhan mengangguk dan berterimakasih, setelah itu ia segera pergi.
Reyhan terharu dan sangat kagum dengan gadis itu. Semenjak itu ia sering mengawasinya diam diam. Di beberapa kesempatan ia mencoba untuk mendekati gadis kecil itu dan mengajaknya mengobrol.
Seiring waktu teman teman Reyhan akhirnya mengetahui kalau Reyhan adalah anak konglomerat. Mereka meminta maaf dan mencoba untuk berteman dengan Reyhan. Reyhan hanya acuh tak acuh mendapat perhatian dari teman kelasnya.
Selama lima tahun di sekolah dasar, Reyhan baru mengetahui nama gadis kecil itu. Itupun ia mengetahuinya saat ibu gadis kecil itu menjemputnya dan memanggil namanya.
'Ara, nama yang cantik' Batin Reyhan.
Ia mulai memberanikan diri mendekati gadis itu secara terang-terangan dan memberi perhatian lebih padanya. Mengetahui Reyhan menyukainya gadis kecil itu, membuat teman-teman cewek di kelas Reyhan segera merundungnya. Mereka tak segan segan untuk menjambak rambutnya, membuatnya terjatuh, mencoret mejanya dan menumpahkan makanan di bajunya.
Jangan kalian kira gadis kecil itu tak melawan. Pernah ia membalas mereka yang merundungnya, tapi yang terjadi ibunya malah di panggil dan di maki maki oleh kepala sekolah karena gadis itu telah memukul anaknya. Ia mengancam akan mengeluarkan nya dari sekolah jika tidak meminta maaf. Ibunya begitu sedih, sekolah itu merupakan sekolah khusus orang kaya dan orang yang memiliki IQ tinggi. Ia terpaksa meminta maaf walau ia tahu anaknya tak bersalah. Semenjak itu, gadis itu tak pernah melawan mereka dan hanya menahan emosinya saat mereka merundungnya.
Suatu saat, gadis itu keluar dari toilet. Tiba-tiba tubuhnya di siram air bekas pelan oleh teman sekelas Reyhan. Semua siswa-siswi berkumpul melihat gadis itu dan menertawakan nya. Tiba-tiba salah satu dari mereka mengambil gantungan kunci yang ada di tangannya. Ia menginjak injak nya membuat gadis itu marah dan langsung mendorongnya. Terjadilah aksi jambak jambakan rambut di antara keduanya.
Kebetulan Reyhan melewati toilet. Ia segera menerobos kerumunan. Ia terkejut saat gadis yang di sukai nya di rundung oleh teman temannya.
Reyhan segera memisahkan mereka dan melindungi gadis itu.
__ADS_1
"Siapapun yang berani menganggu nya akan ku buat dia mati!"