
"Nio, apa lokasi Clara sudah ketemu?" Tanya Dimas pada Nio yang sedang mengutak-atik laptopnya.
"Sebentar .... Em, ponselnya terakhir aktif di daerah puncak Bogor" Sahut Nio.
"Baiklah, gue akan menelpon Reyhan agar ke sana" Dimas segera menelpon Reyhan.
Reyhan segera mengangkat ponselnya yang berdering. Ia sudah keluar dari rumah sakit.
"Kenapa?"
"Rey, Clara ada di Bogor. Cepat lo temui dia di sana"
Mendengar ucapan Dimas, Reyhan langsung bergegas menaiki motornya menuju Bogor. Ia tidak peduli dengan tangannya yang berdarah begitu juga tubuhnya yang lelah akibat jarang istirahat akhir akhir ini. Di saat orang lain memilih istirahat karena sudah malam, ia lebih memilih menemui Clara walaupun harus menempuh jarak jauh.
Sedangkan di kantor Dimas. Pria itu segera menelpon Tomi yang berada di Bogor.
Tomi segera menjauh dari Clara untuk mengangkat telpon dari Dimas.
"Tom, apa lo bersama Clara sekarang?" Tanya Dimas.
Tomi yang mendapatkan pertanyaan seperti itu memilih balik bertanya.
"Memangnya kenapa? Apa terjadi sesuatu?"
"Bisa di bilang Clara menghilang. Dia tidak ada kabar beberapa hari ini. Terakhir kali ponselnya aktif di daerah Bogor. Mungkin saja ia menemui mu. Jika tidak, bisa kau temui dia sekarang, hanya untuk memastikan kondisinya saja. Reyhan sebentar lagi juga akan ke sana. Kasihan Reyhan, sudah beberapa hari ini dia jarang istirahat hanya untuk mencari Clara. Makan nya jadi tidak teratur. Aku sangat senang jika kau bisa membantu" Ucap Dimas.
"Baiklah, aku akan mencari Clara" Ucap Nio. Ia segera menghampiri Clara dan mengajak wanita itu kembali ke hotel karena sudah malam.
**
Dua jam kemudian Reyhan baru sampai di puncak Bogor. Ia segera berjalan menuju puncak sambil memanggil nama Clara.
Tubuhnya menggigil karena ia tidak memakai baju hangat. Ia tidak mempedulikan dinginnya udara di puncak dan tetap mencari Clara.
"CLARA!! RA, KAMU DI MANA?! CLARA!"
Reyhan terbungkuk karena merasakan tubuhnya begitu lemas dan kepalanya pusing.
"Ra, aku pergi dulu ya. Aku ingin membelikan sesuatu untuk mu. Kau tunggu di sini" Ucap Tomi kemudian meninggalkan Clara.
Tak sengaja matanya menangkap seorang pria yang berada di tengah tengah kebun teh. Melihat gelagat aneh pria itu membuat Tomi berlari menghampirinya.
"Apa anda baik baik saja?" Tanya Tomi sambil memegang bahu pria itu.
"Pak Reyhan!!" Ucap Tomi terkejut karena ternyata pria itu adalah Reyhan. Ia menjadi khawatir melihat Reyhan yang pucat. Ia segera melepaskan jaketnya dan memasangkan nya pada Reyhan.
"Apa yang anda lakukan di sini?" Tanya Tomi, ia menuntun Reyhan untuk turun.
"Clara... Aku mencari Clara" Ucap Reyhan lirih. Tubuhnya terlihat menggigil.
"Tidak mungkin Clara berada di puncak malam malam begini!" Ucap Tomi.
"Kau tahu di mana dia sekarang?"
"Aku akan mengantarmu ke tempatnya" Ucap Tomi membuat Reyhan tersenyum bahagia. Akhirnya ia bisa bertemu dengan wanita itu.
Tomi mengantarkan Reyhan ke depan kamar Clara.
"Selesaikan urusan kalian. Aku pergi dulu" Ucap Tomi kemudian meninggalkan Reyhan.
"Terimakasih..." Ucap Reyhan lirih. Ia kemudian memencet bel.
Clara yang berpikir itu Tomi langsung membukanya. Ia terkejut saat bukan Tomi yang berada di depannya.
"Kak Reyhan!"
"Akhirnya aku menemukanmu"
Bruugh
Reyhan jatuh pingsan, beruntungnya Clara segera menangkap pria itu sehingga Reyhan jatuh ke pelukan nya.
__ADS_1
"Kak! Kak Reyhan!" Clara berusaha menyadarkan nya namun Reyhan tak kunjung sadar.
Dengan sekuat tenaga, Clara memapah pria itu ke kasur. Ia kemudian melepaskan sepatu Reyhan dan menyelimuti pria itu.
"Astaga! Kenapa tangannya terluka? Apa dia habis berkelahi?" Clara segera mengambil kotak obat dan mengobati Reyhan.
Ia mengobati tangan Reyhan dengan telaten. "Apa yang membuatnya begitu marah sampai tangannya terluka begini?"
"Kenapa dia pucat sekali?" Clara memperhatikan wajah Reyhan yang pucat dan kelihatan lelah juga kantong mata pria itu yang menghitam.
"Sepertinya kak Reyhan demam" Ucap Clara memegang kening Reyhan yang terasa panas. Ia segera mengambil air dan kain untuk mengompres Reyhan.
Semalaman Clara terjaga untuk mengganti kompres Reyhan. Ia baru bisa tidur saat panas Reyhan turun.
Reyhan mengerjapkan matanya saat sinar mentari pagi menyinari matanya. Ia mengedarkan pandangan matanya, ruangan itu tampak asing baginya.
Reyhan menatap Clara yang tidur di kursi sebelah nya, ia meletakkan kepalanya di kasur dan tanpa sadar menimpa tangan Reyhan.
"Pantas saja tangan ku kesemutan" Ucap Reyhan. Ia merapikan rambut Clara yang menutupi wajah manis wanita itu.
"Aku begitu senang bertemu dengan mu lagi. Banyak hal yang ingin aku ceritakan" Ucap Reyhan menatap lekat Clara.
"Kau tetap cantik, imut dan manis. Bahkan bertambah cantik. Aku sangat merindukanmu, Ra. Aku seperti orang gila saat kau menghilang. Aku tidak pernah istirahat dan jarang makan hanya untuk mencari mu, bahkan aku tidak bisa tidur. Berjanjilah kau tidak akan meninggalkan ku lagi" Ucap Reyhan mengelus rambut Clara.
Clara membuka matanya saat merasa seseorang mengelus rambutnya.
"Kau sudah sadar, kak" Ucap Clara, ia terlihat senang saat melihat keadaan Reyhan mulai membaik.
"Hm, ini berkat dirimu. Terima kasih sudah merawat ku" Ucap Reyhan tersenyum.
"Coba katakan sekali lagi, aku begitu merindukan panggilan itu" Pinta Reyhan.
"Panggilan apa?" Tanya Clara bingung.
"Kak" Jawab Reyhan.
"Cuci dulu wajahmu!" Ucap Reyhan.
Clara segera berbalik untuk mencuci wajahnya. Reyhan hanya tersenyum melihat tingkah Clara.
"Aku harap semuanya kembali seperti dulu. Sekarang aku sudah mengetahui semuanya" Ucap Reyhan menyandar kan tubuhnya di ranjang.
Clara segera keluar dari kamar mandi. Ia segera pergi ke kaca dan menggunakan make up tipis agar wajahnya terlihat segar.
"Kau tidak perlu ber-make up karena kau sudah cantik dari lahir"
Clara yang mendengar ucapan Reyhan berusaha menyembunyikan senyum di wajahnya.
"Oh ya, apa kau ada baju untukku. Aku mau mandi, sudah dua hari aku tidak mandi" Ucap Reyhan membuat Clara terkejut.
"Tidak mandi dua hari? Pantas saja kau sangat bau" Cibir Clara. Ia segera memilih pakaiannya yang cocok untuk Reyhan. Ia menyodorkan kaos hitam dan celana hitam selutut pada Reyhan.
"Apa ini muat?" Tanya Reyhan yang ragu. Clara bertubuh kecil sedangkan ia bertubuh besar. Ia khawatir baju Clara akan robek jika ia kenakan.
"Ini sudah yang paling besar dari semua pakaian yang aku miliki. Gunakan saja. Aku pergi dulu" Ucap Clara melenggang pergi. Ia meninggalkan pakaian Reyhan tadi di ranjang.
"Serahlah" Reyhan berjalan ke kamar mandi. Ia mengguyur tubuhnya, benar benar menyegarkan.
***
Cklek
Clara baru pulang dari membeli sarapan.
"Astaga!" Clara langsung menutup matanya dan membalikkan tubuhnya saat melihat Reyhan keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk untuk menutupi tubuh bagian bawahnya.
"Kau kenapa?" Tanya Reyhan usil. Ia sebenarnya sudah tahu kenapa Clara bertingkah seperti itu.
"Cepat pakai bajumu" Perintah Clara, ia masih menutup matanya.
__ADS_1
Reyhan sengaja berjalan mendekati Clara. Ia berdiri di belakang wanita itu kemudian membisikinya.
"Memangnya kenapa? Bagaimana jika aku tidak mau memakai bajunya?"
Clara bisa mencium wangi tubuh Reyhan membuatnya benar benar deg degan. Hembusan nafas Reyhan yang menerpa lehernya membuatnya meremang.
"Bukannya kau suka melihat ku seperti ini?" Bisik Reyhan lagi.
Clara yang kesal segera berbalik dan mencubit pinggang Reyhan.
"Aarrgh, hati hati, Ra. Bagaimana kalau kau salah cubit? Atau malah membuat handuknya terjatuh? Apa kau mau tanggung jawab jika ularnya bangun dan menerkam mu?" Omel Reyhan.
Clara bergidik mendengarnya. "Sudah, cepat pakai bajumu"
Setelah Reyhan selesai memakai bajunya. Ia segera duduk kembali di ranjang.
"Ini" Ucap Clara menyodorkan semangkuk bubur ayam pada Reyhan.
"Tanganku lemas sekali karena kau tidur menimpanya. Bisakah kau menyuapiku" Pinta Reyhan manja.
"Tapi kau masih memiliki tangan kanan kan. Apa selama ini kau makan dengan tangan kiri?" Ucap Clara sinis.
"Tetap saja, seluruh tubuhku lemas karena belum makan dari kemarin. Lagian tangan kananku terluka. Kau pasti yang mengobatinya kan" Ucap Reyhan teringat tangannya yang sudah di perban tadi. Karena begitu senang saat mendapatkan lokasi Clara dari Dimas, ia sampai tidak sempat mengobati tangannya sendiri.
Clara mengambil kotak obat untuk mengobati tangan Reyhan lagi.
"Ayolah Ra, sekali ini saja" Pinta Reyhan. Akhirnya mau tidak mau Clara menyuapi nya.
"Apa benar kau tidak makan dari kemarin?" Tanya Clara tak percaya.
"Sebenarnya aku makan juga, tapi tidak selera, jadi hanya makan sedikit" Ucap Reyhan menerima suapan Clara.
"Satu lagi, kenapa kau tidak sopan sekali? Panggil aku kak" Lanjut Reyhan.
"Terserah! Lagian, kenapa kau .. eh, kak Rey kesini?" Ucap Clara melarat ucapannya saat Reyhan menatapnya tajam.
"Untuk meluruskan semuanya" Sahut Reyhan. Ia kemudian menggenggam tangan Clara.
"Ra, aku ke sini untuk meluruskan kesalahpahaman kita dulu. Aku yang salah paham karena berpikir kau rela melakukan apapun demi uang, bahkan memberikan tubuhmu pada Farel dan kau yang salah paham karena berpikir aku menuduh mu tanpa alasan hingga membuatmu sakit hati. Aku ingin meluruskan semuanya, aku ingin memberitahu mu kebenaran yang sebenarnya"
"Tidak ada yang perlu di luruskan. Kak Rey emang benar. Aku memang wanita kotor, murahan, jal*ng. Aku sudah mengetahui kebenarannya. Jadi lebih baik kita tak perlu membahas ini lagi" Ucap Clara getir. Dia mencoba tersenyum walaupun hatinya selalu sakit jika mengingat itu.
"Itu tidak benar, Ra. Aku minta maaf dengan perkataan ku lima tahun lalu maupun perkataan ku yang sekarang. Aku tahu aku salah. Aku sudah mencari tahu kebenarannya dari Farel. Video itu tidak benar" Ucap Reyhan mengusap air mata Clara.
Reyhan segera mengeluarkan surat dari Farel dalam saku jasnya. Ia memberikan nya pada Clara.
"Itu surat dari Farel. Dia memintaku untuk memberikan nya padamu"
Clara segera membaca isi surat tersebut.
Dear Clara.
Saat kau menerima surat ini, aku sudah pergi. Pergi sangat jauh. Aku minta maaf Cla... Maaf karena sudah membuatmu dan Reyhan putus lima tahun lalu... Maaf karena membuatmu begitu shock dengan video itu. Tapi dapat aku pastikan itu bukan dirimu. Itu orang yang mirip denganmu. Sejujurnya ini adalah rencana Vizah dan aku. Aku begitu cemburu melihat mu dengan Reyhan jadi aku mengiyakan rencananya. Dengan melakukan itu, aku berharap bisa mendapatkan mu. Tapi kau malah semakin menjauh. Kau enggan dekat dengan pria manapun. Saat itulah aku mulai sadar kalau perbuatan ku salah dan aku sangat menyesal.
Cla, kau jangan membenci dan menyalahkan Reyhan. Dia juga korban keegoisan ku. Dia tidak tahu apa apa, dia tidak bersalah. Maaf karena membuat hubungan dan kehidupan kalian berdua hancur. Aku sangat senang jika kalian bersatu kembali.
Maaf karena aku menyampaikan permintaan maaf ku melalui surat. Aku tak sanggup melihat wajahmu, aku begitu merasa bersalah dan malu untuk menemui mu. Cla, jaga dirimu baik baik ya. Aku tidak bisa menemui mu lagi. Makasih karena sudah hadir dalam hidupku. Kau sangat berharga bagiku, Cla. Aku tidak bisa menemui mu, tapi kau bisa menemui ku. Tolong bawakan aku bunga mawar ya. Jaga juga cincin pemberian ku. Semoga kau bahagia. Aku mencintaimu, Cla. Jangan membenciku ya...
Clara tak dapat menahan air matanya saat membaca surat dari Farel. Ia merasa terjadi sesuatu dengan pria itu.
"Apa yang terjadi padanya? Kemana Farel pergi?" Tanya Clara pada Reyhan.
Reyhan hanya menatapnya dengan tatapan sendu. Ia bingung harus mengatakan apa pada Clara. Ia hanya bisa memeluk Clara yang mulai menangis terisak.
"Katakan kak! Apa yang terjadi pada Farel?! Kemana dia pergi?! Kenapa dia tidak menyampaikan nya langsung padaku?!" Tanya Clara meminta penjelasan.
"Farel.. dia sudah tenang di alam sana. Dia menyuruhku menyampaikan surat itu untukmu"
"Apa maksudmu... Farel sudah tiada?" Tanya Clara melepaskan pelukan Reyhan. Ia menatap lekat pria itu.
Reyhan mengangguk mengiyakan. Clara menangis sejadi jadinya. Ia membenci Farel, membencinya karena tidak menyampaikan permintaan maafnya secara langsung juga karena pria itu meninggalkan nya. Ia baru sadar kata 'pergi' yang selalu Farel katakan bukanlah pergi ke luar negeri tapi pergi dari dunia ini. Ia menyesal baru mengetahuinya sekarang, jika ia tahu lebih awal, ia akan bersikap lebih baik pada pria itu, walaupun pria itulah yang menghancurkan hidupnya.
__ADS_1
Reyhan memeluk Clara dan menenangkan nya. "Kita akan mengunjungi nya besok. Aku harap ia tenang di alam sana" Ia mengelus rambut Clara.