
POV Reyhan.
Aku bertemu dengannya. Dengan wanita yang dulunya mengembalikan rasa cintaku kemudian menghancurkannya. Wanita yang dulu aku cintai dan sekarang adalah wanita yang paling aku benci. Wanita yang aku kira polos dan baik ternyata hanyalah jal*ng yang melakukan apapun demi uang.
Aku masih duduk terdiam di mejaku. Wanita itu sudah pergi beberapa menit yang lalu.
Aku mengacak rambutku kasar. Perasaan ku campur aduk saat melihatnya lagi, antara benci dan ... apalah itu.
Aku menyandarkan tubuhku di kursi kemudian memejamkan mata. Entah kenapa pikiranku melayang ke masa lalu.
POV Reyhan 5 tahun yang lalu
Aku segera mengecek handphone ku. Mungkin ada pesan dari Clara. Tapi, hanya ada pesan dari nomor tak dikenal. Aku segera membukanya. Kalimat pertama dari pengirim pesan membuat dadaku sesak dan amarahku memuncak.
"Clara adalah milikku seutuhnya. Kau tidak berhak memilikinya. Kau mungkin memiliki hatinya, tapi aku memiliki tubuhnya. Tadi malam dia tidak membawaku ke rumah sakit tapi ke hotel. Dia bilang, dia membutuhkan uang. Dia terus menggodaku dan bilang akan melakukan apapun yang aku suruh dengan imbalan uang. Kau tahu aku lelaki normal, maka aku tidak bisa menahannya dan akhirnya kami melakukannya"
Di situ tertera nama dan lokasi dimana hotel itu berada. Aku tidak percaya, aku tahu Clara adalah gadis baik baik. Aku yakin ini Farel. Jangan kau pikir bisa menipuku!
Aku penasaran dengan foto dan video yang dikirimnya dan aku segera melihatnya.
Deg!
Foto berisi dua insan dalam keadaan yang cukup intim walau tertutup selimut. Dan video itu, video berisi hal yang benar benar tidak pantas dan berisi suara desa*an pria dan wanita yang memadu kasih. Aku tidak percaya, tapi benar mereka adalah ... Clara dan Farel.
Aku melihat Clara, ia menghampiri ku. Sungguh Clara, aku tidak ingin percaya, namun bukti ini begitu nyata. Apalagi kata katamu yang seperti membenarkan bukti ini.
Aku melangkahkan kakiku meninggalkan nya. Amarahku benar benar memuncak. Aku harus menemui Farel dan menghajarnya.
Kebetulan aku melihatnya saat aku akan melajukan motorku. Aku segera mematikan mesin motorku dan berlari mengejarnya.
Saat aku sudah berdiri di depannya, tanpa aba aba aku langsung meninju nya dengan membabi buta. Dia mencoba melawanku tapi aku tidak memberi celah untuknya. Akhirnya aku menang dan ia jatuh terduduk dengan luka di wajahnya. Aku puas telah menghajar orang yang sudah merusak milikku.
Aku segera pulang menuju rumah. Aku menarik gas ku begitu kuat dan menyalip kendaraan di depanku. Aku mendengar mereka memakiku, tapi aku tidak peduli.
Saat sampai di rumah, aku langsung menuju kamar. Papa, Mama dan Rayyan sedang bersenda gurau di ruang keluarga. Entah mereka tahu aku pulang atau tidak.
Begitu sampai di kamar, aku langsung membaringkan tubuhku di kasur dan menyilangkan kedua tanganku di kepala. Pikiranku menerawang. Apa foto dan video itu benar? Apa Clara memang gadis seperti itu? Apa mereka benar benar melakukannya?
Aku segera membuka handphone ku dan melihat pesan yang di kirim orang misterius yang aku yakini itu adalah Farel. Hanya untuk memastikan jika itu memang benar mereka, dan ya, mau aku mengulang seratus kali pun, itu memang Clara dan Farel.
Karena emosi yang memuncak, aku melempar handphone ku hingga pecah. Aku tidak ingin terlalu memikirkannya dan memilih tidur saja. Siapa tahu dengan begitu, rasa sakit di hatiku akan hilang.
Keesokan harinya, aku pergi ke hotel yang di maksud. Sesampainya di sana aku segera bertanya pada resepsionis apakah ada tamu dengan nama Clara atau Farel kemarin malam?
Ternyata benar mereka menyewa kamar, tapi atas nama Farel, bukan Clara.
Untuk lebih memastikan, aku mengatakan ingin melihat rekaman cctv kemarin malam. Awalnya mereka menolak, tapi akhirnya mereka mengizinkan setelah aku mengeluarkan black card ku milikku.
__ADS_1
Mereka membawaku ke ruangan cctv dan aku mengecek kisaran waktu saat Clara dan Farel ke hotel.
Apa itu Clara? Ia memapah Farel yang masih pingsan dan mengeluarkan card kredit Farel untuk menyewa kamar. Setelah itu dia membawa Farel ke lift menuju lantai tiga. Mereka berdua memasuki kamar dan ... aku tahu apa yang terjadi selanjutnya.
Aku segera keluar dari hotel setelah urusanku selesai. Aku masih belum yakin dan puas dengan bukti bukti ini. Aku segera mengecek keaslian video ini di website. Dan ternyata benar, video ini asli tanpa editan.
Mau tidak mau aku harus percaya walau hati kecilku yakin, Clara tidak mungkin melakukan itu, tapi, buktinya sudah jelas. Sungguh aku kecewa dan membencimu, Clara. Kau benar benar membuatku hancur.
Aku memutuskan kuliah di luar negeri dan mengambil jurusan bisnis. Dimas ikut denganku atas perintah orangtuanya.
Tujuanku kuliah di luar negeri bukan hanya karena di sana kualitasnya lebih baik, tapi karena aku juga ingin menenangkan diri.
Kedua orangtuaku sering bertanya bagaimana hubungan ku dengan Clara. Aku terpaksa berbohong dan mengatakan kami baik baik saja. Hingga beberapa bulan kemudian aku memutuskan untuk memberi tahu mereka kalau kami sudah putus.
Mereka sedih dan kecewa saat mengetahuinya. Mau bagaimana lagi, jika aku memberi tahu yang sebenarnya tentang Clara dan alasan mengapa kami putus, aku yakin orangtuaku akan membenci gadis itu. Biarlah aku sendiri yang mengetahuinya.
Beberapa tahun kemudian aku dan Dimas lulus. Kami kembali ke Jakarta dan mengurus perusahaan masing-masing. Butuh perjuangan hingga akhirnya aku bisa menjadi CEO.
POV Reyhan sekarang.
Aku membuka mataku perlahan. Aku menghela nafas, lebih baik aku mengerjakan dokumen-dokumen ini daripada memikirkannya.
Sudah setengah jam aku mengerjakan dokumen ini, namun selalu saja ada kesalahan. Sial! Aku tidak bisa fokus! Bertemu wanita itu membuat hariku hancur.
Karena kesal, aku membuang dokumen itu ke lantai beserta dokumen lainnya. Kopiku yang sudah dingin aku hempaskan ke lantai hingga gelasnya pecah. Vas bunga di mejaku pun tak luput dari amukanku.
"Halo ma"
"Rey, kamu bisa pulang sekarang? Adel sudah menunggumu di rumah"
"Baik ma" Aku segera mematikan handphone ku dan berlari keluar. Ruang kerjaku begitu berantakan. Ah, sudahlah, besok aku yakin sudah bersih.
Kebetulan aku bertemu Tomi di lift. "Tom, katakan pada sekretaris baruku kalau dia bisa pulang sekarang. Aku ada urusan, lagian tidak ada pekerjaan untuknya" Aku lihat Tomi hanya mengangguk kemudian keluar dari lift.
Aku segera memasuki lift dan menuju basement. Setelah sampai, aku langsung melajukan mobilku ke rumah.
Sesampainya di rumah, aku sudah melihat mama dan Adel yang mengobrol. Aku segera menghampiri mereka.
Sedikit cerita tentang Adel, dia adalah tunangan ku. Beberapa bulan setelah aku lulus kuliah, mama dan papa menjodohkan ku dengan Adelia Anastasia Denata, gadis yang dari dulu ingin mereka jodohkan denganku. Aku sempat terkejut karena ternyata aku di jodohkan dengan adiknya Wildan, mantan pacar .. gadis di masa laluku.
Awalnya aku menolak, tapi saat aku membicarakannya dengan Dimas, dia mengatakan kalau aku harus membuka hati dan melupakan masa laluku.
Selama beberapa hari aku memikirkan ucapan Dimas, akhirnya aku mengikuti sarannya. Lagian aku tidak ingin mengecewakan orang tuaku lagi karena setelah putus darinya, aku tidak pernah menjalin kasih dengan wanita manapun sama seperti dulu.
Beberapa hari kemudian kami bertunangan. Aku dan Adel beda empat tahun. Dia terus menempel denganku dan sangat posesif membuatku risih, tapi lama lama aku mulai terbiasa. Walaupun kami bertunangan, tapi sikapku padanya tetap dingin dan cuek. Bagiku pertunangan kami hanyalah hubungan bisnis. Tidak ada cinta untuknya dalam hatiku.
Aku segera duduk di samping Adel.
__ADS_1
"Rey, Adel bilang dia ingin menjadi sekretaris mu" Ucap mama.
"Maaf, ma. Tapi aku sudah mendapatkan sekretaris. Lagian Adel juga kuliah, dia pasti tidak punya waktu" Ucapku.
Mama berpikir sejenak kemudian mengangguk.
"Tapi aku bisa bekerja setelah aku pulang kuliah. Tidak perlu jadi sekretaris, yang penting aku bisa dekat dengan kak Reyhan dan membantu sebisaku" Ucap Adel.
"Rey, sekretaris mu pria atau wanita?" Tanya mama.
"Wanita ma"
"Nah, pokoknya aku harus kerja bareng kak Reyhan. Nanti kak Reyhan malah kepincut lagi sama tuh sekretaris" Ucap Adel. Gadis itu ngotot sekali.
"Benar juga, Adel bisa kerja setelah pulang kuliah. Dia bisa membantumu dan sekretaris mu walau hanya bantuan kecil. Atau dia bisa duduk saja dan mengawasi kalian" Ucap mama.
"Aku rasa tidak perlu, aku tidak mungkin jatuh cinta pada sekretaris ku, aku janji" Ucapku meyakinkan mereka.
"Aku tidak percaya, pokoknya aku akan kerja bareng kak Reyhan sepulang kuliah" Ucap Adel memaksa.
Terpaksa aku mengizinkan nya. Aku pasti akan tertekan karena Clara dan Adel akan bekerja bersamaku. Dua wanita yang membuat otakku rasanya mau pecah saat melihatnya.
Aku beralasan ada meeting mendadak dan meninggalkan mama dan Adel. Padahal aku ingin bertemu dengan Dimas. Kami sudah janjian bertemu di kafe.
Sesampainya disana ternyata Dimas sudah menungguku. Aku segera menceritakan masalahku hari ini. Di mulai dari Clara yang ternyata adalah sekretaris baruku dan Adel yang ngotot ingin kerja bersamaku.
"Sabar Rey, mungkin udah takdir lo kali" Ucap Dimas.
"Gue harus gimana Dim?"
"Ya gak gimana gimana, lo jalani aja kayak biasa" Jawabnya.
"Ya gak bisalah dim. Mana bisa tenang gue kalau kerja bareng mantan dan tunangan gue yang over posesif dalam satu ruangan"
"Oh, lo takut ya si Adel mikir macem macem karena lo kerja bareng mantan lo, karena itu juga dia ngotot pengen ikut kerja bareng lo" Ucap Dimas menebak.
"Gak juga. Dia gak tahu kalau Clara itu mantan gue. Sebenarnya kalau Adel kerja bareng gue sih gak papa, tapi kalau Clara, gue gak bisa. Kayaknya gue harus mecat dia deh" Ucapku sambil meminum kopiku.
"Rey Rey, udah berapa banyak sekretaris yang lo pecat, ini mau lo pecat juga? Kita harus profesional Rey, jangan libatkan perasaan. Lo sama Clara kan udah end. Kalau lo mikir bisa jadiin Adel sebagai sekretaris lo, itu gak mungkin karena dia masih kuliah. Lebih baik jangan lo pecat si Clara" Ucap Dimas.
"Rey, jangan bilang lo masih suka sama dia?" Tebak Dimas.
"Ya enggaklah, gue gak mungkin masih suka sama dia" Ucapku.
"Kalau gitu jangan pecat dia, buktikan kalau lo udah move-on dari dia. Tunjukkan kemesraan lo sama Adel di depan dia. Setelah itu lo lihat, gimana reaksi dia" Ucap Dimas.
Bagus juga idenya. Dengan begitu aku bisa membuat Clara tidak nyaman bekerja bersama ku sampai dia sendiri yang memilih resign. Jika dulu kau bisa mesra mesraan bersama Farel, maka sekarang aku juga bisa melakukannya bersama Adel. Baiklah, aku akan melakukannya.
__ADS_1