Cinta Yang Bertemu Kembali

Cinta Yang Bertemu Kembali
Bab 31


__ADS_3

"Siapapun yang berani menganggu nya akan ku buat dia mati!"


Teman temannya terkejut, Reyhan yang biasanya pendiam sekarang bicara dengan lantangnya, ia juga terlihat sangat marah.


Perkataan Reyhan membuat mereka takut, apa sih yang tak bisa di lakukan dengan uang, bisa saja apa yang di katakan Reyhan benar-benar terjadi.


Reyhan segera membawa gadis itu menuju UKS dan segera mengobatinya.


"Apa kau sering di rundung seperti itu?"


"Hem, mereka bilang aku harus menjauhi mu"


Perkataan nya membuat Reyhan berhenti mengobati tangan gadis itu yang terluka akibat cakaran.


"Menjauhiku?"


Gadis itu mengangguk.


"Kalau begitu aku akan menjauhi mu. Ini, gantungan kunci ini pasti sangat berharga bagimu" Ucap Reyhan memberi gantungan kunci bermotif bunga mawar yang sempat di ambilnya.


"Terima kasih, ini sangat berharga. Ayahku memberikannya sebagai hadiah ulang tahunku. Sayangnya, beberapa hari kemudian ayah ku tiada akibat kecelakaan" Ucap gadis itu sedih. Reyhan mencoba menghiburnya.


"Sudahlah, lebih baik kau kembali ke kelas" Reyhan mengantarkan gadis itu sampai ke kelasnya.


'Apa dia di rundung karena aku mendekatinya? Sepertinya selama ini aku telah membuatnya menderita tanpa aku ketahui' Batin Reyhan merasa bersalah.


Semenjak itu, tidak ada yang berani merundung nya, bahkan untuk bertegur sapa dengannya saja mereka takut. Gadis itu bahagia karena tidak ada yang merundungnya lagi, tapi ia juga sedih karena tak ada yang mau berteman dengannya. Teman-teman nya memilih meninggalkan nya.


Sebulan kemudian.


Gadis itu membuka payungnya. Payung dengan warna kuning cerah, ia sangat menyukainya. Ia merapatkan jaket merahnya. Ia berlari menembus hujan, ibunya tidak bisa menjemput karena sakit. Karena terburu-buru, tak sengaja gantungan kuncinya terlepas dari tasnya.


Reyhan yang melihatnya segera mengambilnya dan mengejar gadis itu.


Gadis itu berlari begitu cepat. Reyhan sempat kehilangan jejaknya. Ia bernapas lega saat melihat gadis itu di lampu merah.


Gadis itu melihat lampu sudah berubah. Ia segera berjalan melewati zebra cross.


Tak ingin kehilangan lagi, Reyhan menggenggam erat gantungan kunci yang ada di tangannya. Ia segera berlari sambil memanggil nama gadis kecil itu.


"ARA!!"


Merasa namanya di panggil, gadis itu menoleh. Tiba-tiba...


Tiiit!


Brak!


Sebuah mobil melaju kencang ke arahnya. Jalanan yang licin membuat mobil itu tergelincir dan menabraknya.


Gadis itu terpelanting. Darah mengalir dari kepalanya. Luka goresan juga memenuhi tubuhnya. Payungnya hancur, terlihat darah memercik ke payung itu.


Reyhan diam mematung di antara orang orang yang menjerit melihat kejadian itu. Pandangan matanya kosong.


"Ara..."


Bruughh

__ADS_1


Suara sirine ambulan yang membawa jasad gadis itu dan Reyhan yang pingsan karena shock seakan bertanding dengan suara derasnya hujan.


Reyhan membuka matanya. Ia melihat sekeliling dan menemukan kedua orang tuanya, adiknya, omah Ken dan Dimas yang menungguinya.


Sudah 3 hari Reyhan tak sadarkan diri. Keluarganya bersyukur saat melihatnya sadar.


"Akhirnya kau sadar nak" Widya benar-benar bahagia dan langsung memeluk putranya.


"Ara.. Bagaimana dengan Ara?" Tanya Reyhan cemas.


"Siapa Ara?" Tanya Omah Ken bingung.


"Ara, gadis yang mengalami kecelakaan itu" Ucap Reyhan. Semua orang terdiam, Reyhan terus mendesak dan bertanya keadaan Ara.


"Gadis itu tiada" Jawab Papah Reza.


Reyhan terdiam mematung. Tiba-tiba ia menangis meraung dan memukul dirinya sendiri. Kedua orang tuanya bingung, mereka mencoba menghentikannya tapi Reyhan terus mengamuk.


"Reyhan berhenti menyakiti dirimu!" Teriak Widya mencoba menghentikan anaknya yang terus memukuli diri sendiri.


Reza segera memanggil dokter. Dokter tersebut berhasil menenangkan Reyhan. Ia menyarankan untuk menemui psikolog anak untuk mengecek keadaan Reyhan.


Mereka setuju dan membawa Reyhan menemui dokter tersebut.


"Apa yang terjadi?" Tanya dokter tersebut pada Reyhan yang terus menangis.


"Aku...Ara meninggal karena aku! Aku yang membuatnya tertabrak mobil! Karena aku dia mati!" Teriak Reyhan sambil menangis.


"Kenapa bisa begitu?"


"Saat dia melewati zebra cross, aku memanggilnya. Dia menoleh dan berhenti, tiba-tiba mobil menabrak nya. Andai aku tidak memanggilnya mungkin dia masih hidup" Reyhan terus menyalahkan dirinya.


"Dia mengalami trauma dan juga rasa bersalah yang sangat besar. Apa dia sangat dekat dengan korban?"


Widya dan Reza saling menatap.


"Kami tidak tahu dok, Reyhan anaknya sangat tertutup" Jawab Widya.


"Dalam kondisi seperti ini kalian harus mendukungnya. Jangan biarkan dia sendirian karena aku takut dia menyakiti dirinya lagi."


Widya dan Reza mengangguk. Mereka kemudian membawa Reyhan pulang.


Setelah kejadian itu, Reyhan mengurung dirinya di kamar. Ia selalu menyalahkan dirinya, terkadang terdengar lirih suara tangisan nya. Ia tidak makan selama beberapa hari membuat tubuhnya drop. Tentu itu membuat keluarga nya khawatir.


Setiap hari, Dimas menyempatkan dirinya untuk menjenguk sahabatnya itu. Ia selalu mengajaknya ngobrol dan bercanda. Omah Ken juga selalu menguatkannya, ia bilang kecelakaan yang menimpa Ara bukan salahnya tapi sudah takdir tuhan. Widya dan Reza juga jadi sering di rumah untuk mengurus putranya itu. Rayyan juga memilih tidur bersama kakaknya.


"Berkat dukungan dari sekitarnya, Reyhan perlahan pulih kembali. Ia mulai kembali ke sekolah. Hanya saja, ia menjadi lebih dingin dan terkesan kejam kepada gadis gadis yang ingin mendekatinya. Ia juga jadi membenci hujan, ia juga benci payung kuning yang membuat kenangan pahit itu kembali. Inilah alasan ku ingin melihat nya dekat dengan gadis lain sebelum tiada. Reyhan juga terlihat nyaman denganmu. Aku yakin kalian akan bersama sampai akhir hayat, walaupun aku tidak bisa melihat kalian menikah, doaku akan selalu menyertai kalian" Omah Ken mengakhiri ceritanya.


Mata Clara berkaca-kaca. 'Apa segitu berharap kah omah Ken dengan hubungan ini?'


"Apa kalian sudah selesai?" Tanya Reyhan memasuki ruangan.


Clara menoleh, ia menatap sendu ke arah Reyhan. 'Aku merasa familiar dengan cerita omah, seperti pernah mengalaminya. Tapi aku tidak ingat aku pernah tertabrak mobil saat kecil, mungkin hanya perasaan ku saja.'


"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Tanya Reyhan membuyarkan lamunan Clara.


"Tidak apa"

__ADS_1


Reyhan membawa Clara keluar ruangan agar omah Ken bisa beristirahat.


Selama perjalanan Clara melamun sambil menatap Reyhan. 'Aku pernah kehilangan gantungan kunci dulu, itu juga hadiah dari ayahku. Dan nama itu.. Ah, tidak mungkin. Ayolah Clara, sadar. Di dunia ini bukan hanya kau yang memiliki nama Ara, lagian gantungan kunci itu pasti banyak juga yang memilikinya.'


'Tapi, bagaimana jika itu memang aku? Apa aku harus bertanya mengenai gantungan kunci itu? Apa dulu aku dan kak Reyhan satu sekolah? Jangan jangan kak Reyhan adalah bocah keren itu. Sial! Kenapa dulu aku tidak pernah bertanya siapa namanya, teman teman yang merundung ku dulu juga tidak pernah mengatakan nama bocah itu'


Melihat Clara yang terus menatapnya membuat Reyhan salah tingkah. Ia berdehem untuk menetralkan jantungnya.


"Kau kenapa?" Tanya Reyhan membuat lamunan Clara buyar.


"Oh, tidak apa"


"Kita sudah sampai. Apa kau masih ingin didalam mobil?" Tanya Reyhan membuat Clara tersadar sekaligus malu.


Clara segera membuka pintu mobil dan keluar. Ia mengucapkan terimakasih kepada Reyhan.


"Makasih ya kak, aku masuk dulu"


Setelah mengatakan itu, Clara segera bergegas memasuki restoran.


Greep


"Kau membuatku kaget saja!" Ucap Clara sambil memegangi dadanya.


"Maaf" Mira melepaskan lengan Clara sambil cengengesan.


"Ada yang mau gue ceritain sama Lo. Ikut gue, cepet!" Mira mengajak Clara ke dapur, kebetulan dapur sedang sepi.


"Oke, apa yang mau kakak ceritain?"


"Gue di tembak Dimas, Ra!!" Sahut Mira berbinar.


"What! Kak Dimas nembak kakak! Kok tega banget sih. Terus, kenapa kakak masih hidup kalau habis di tembak? Jangan jangan, kakak setan ya!" Ucap Clara.


"Kamu ini polos atau tol*l sih. Di tembak Ra, maksudnya itu Dimas menyatakan cinta ke aku, bukannya di tembak pake pistol" Ucap Mira kesal.


"Oh, bilang dong dari tadi. Terus, apa jawaban kakak?" Tanya Clara penasaran.


"Aku belum bisa jawab Ra. Aku takut dia sama aja kayak Fathan. Menurut mu, aku harus gimana?"


"Emm, kak Dimas itu berbeda dengan kak Fathan. Walau kalian baru kenal, tapi kak Dimas itu benar-benar perhatian sama kakak. Dia rela sakit hati saat ngelihat kemesraan kakak sama Fathan di villa, yang penting baginya itu adalah keselamatan kakak. Jadi, dia paksa ikut ke villa walaupun dia tahu akan sakit hati sendiri. Menurut ku, kakak jalani aja dulu. Lihat apakah kak Dimas tulus mencintai kakak atau hanya main-main saja. Kalau kakak belum cinta, jalani aja dulu, cinta itu pasti datang karena kalian sering bersama."


"Kayak Lo dan Reyhan ya, Ra? Kalian itu sering bersama terus lama lama cinta, sebab itu akhirnya kalian pacaran." Celetuk Mira.


"Eh, mana ada. Aku gak cinta kok sama kak Reyhan. UPS!" Clara menutup mulutnya karena keceplosan.


"Lo gak cinta sama Reyhan?" Tanya Mira mengernyitkan dahinya.


"Cinta kok, itu tadi cuma salah bicara. Kalau gak, ngapain aku pacaran sama kak Reyhan" Jawab Clara gugup.


Mira mengangguk paham.


'Untung kak Mira percaya. Lagian ini mulut main ceplas-ceplos aja'


"Oh ya kak. Menurut kakak ada gak, dua orang yang berbeda memiliki nama serta kenangan masa kecil yang sama persis?" Tanya Clara.


Mira berpikir sejenak. "Kayaknya gak ada deh Ra. Gak mungkin kan mereka punya kenangan yang sama persis, kalau nama emang bisa aja sama. Menurut gue, itu orang yang sama" Jawab Mira.

__ADS_1


"Oh, gitu ya. Mereka orang yang sama" Clara mengangguk paham.


'Jadi, mungkin saja kak Reyhan adalah bocah keren itu. Dan jangan jangan aku adalah gadis kecil yang dia maksud. Tapi yang aku herannya, aku tidak pernah mengalami kecelakaan. Omah juga bilang kalau gadis itu sudah meninggal. Ara, perundungan di sekolah, gantungan kunci, payung kuning, itu semua sangat mirip dengan ku. Tapi, hanya kecelakaan itu saja yang tidak pernah aku alami. Ah, aku jadi kepo. Aku harus menyelidiki nya agar aku tenang.'


__ADS_2