
Beberapa hari kemudian. Reyhan merengek untuk pulang karena ia tidak menyukai suasana rumah sakit, ia juga merasa bosan di sana hingga memilih pulang padahal kondisinya masih lemah.
Daripada tinggal di rumah orangtuanya seperti permintaan mereka, ia lebih memilih tinggal di apartemen nya. Orangtuanya sempat keberatan karena tidak ada orang yang akan merawatnya di apartemen, namun Reyhan bilang Clara yang akan merawatnya.
Reyhan yang hilang ingatan sementara masih berpikir sampai sekarang bahwa Clara adalah calon istrinya, bukan Adel.
Clara tidak bisa menolak permintaan Reyhan karena Reyhan terus memaksanya dan ngambek tidak mau makan.
Adel sempat keberatan dan menawarkan ia saja yang akan merawat Reyhan. Namun pria itu menolaknya mentah mentah hingga ia terpaksa membiarkan Clara merawat Reyhan selama pria itu sakit.
Clara akan datang menjelang jam makan siang dan akan kembali saat sore hari. Begitu seterusnya selama dua hari ini. Sedangkan orang tua Reyhan akan datang di pagi dan malam hari.
"Ra.." Panggil Reyhan dengan nada manja. Ia memeluk Clara dari belakang dan membenamkan wajahnya di leher Clara.
Clara hanya bisa memutar bola matanya malas karena akhir akhir ini Reyhan selalu bersikap manja padanya. Ia sampai kewalahan mengurus pria manja itu. Mungkin memang itulah sifat asli Reyhan, pria pemarah namun manja gak ketulungan.
"Ya kak. Ada apa lagi kali ini?" Tanya Clara. Ia sedang menyiram tanaman mini yang ia bawa semalam dan ia letakkan di meja dekat jendela.
"Aku haus"
"Ya ambil minum lah, kenapa malah meluk aku?"
"Ambilin" Pinta Reyhan merengek.
"Lepasin dulu" Clara mencoba melepaskan tangan Reyhan yang melingkar di pinggangnya.
"Gak, kan kamu tinggal jalan aja" Tolak Reyhan.
Sedikit kesal Clara melangkah kan kakinya menuju dapur. Reyhan yang masih memeluk nya mengikuti langkah kaki Clara yang mungil itu.
Reyhan melepaskan pelukannya saat Clara menyodorkan segelas air padanya.
"Apa kepala kakak masih sakit?" Tanya Clara mengelus pelan rambut Reyhan. Ia merasa sedih melihat kepala Reyhan yang di balut perban.
"Sedikit. Tapi kalau kamu elus terus, sakitnya bakalan hilang dengan cepat"
"Ck, kakak istirahat saja. Aku akan membereskan tempat ini" Ucap Clara, ia berjalan untuk mengambil sapu.
Pertama kali ia datang ke apartemen Reyhan, ia begitu terkejut karena melihat apartemen itu seperti tak berpenghuni. Semua barang barang terlihat berdebu seperti sudah lama tak di pakai. Saat ia bertanya pada Reyhan kenapa kondisi apartemen nya seperti itu, Reyhan bilang karena ia lebih sering berada di kantor dari pada di apartemennya.
Reyhan menawarkan bantuannya, namun di tolak oleh Clara. Reyhan memberi alasan jika ia sudah sembuh namun Clara bersikeras menolak bantuannya karena tahu Reyhan masih lemah untuk beraktivitas seperti membersihkan rumah.
Reyhan memilih ke sofa untuk menonton tv. Ia kemudian memakan snack yang ada di meja sambil menonton film aksi.
"Cuci piring sudah, menyapu sudah, tinggal mengepel" Ucap Clara. Ia mulai mengepel dari dapur hingga ke tempat Reyhan sedang menonton tv.
__ADS_1
Tiba tiba saat ia sedang mengepel di dekat Reyhan, pria itu menarik pinggangnya hingga ia jatuh ke pangkuan pria itu.
Mereka berdua saling menatap hingga Reyhan tiba tiba mendekatkan bibirnya pada bibir Clara.
Clara tiba tiba menunjuk kening Reyhan hingga pria itu berhenti mendekat kan bibirnya.
"Aku masih waras dan otak ku masih berfungsi dengan baik. Aku tidak akan mau di cium oleh calon suami orang" Ucap Clara berusaha bangkit, namun Reyhan menahannya dengan memeluk erat dirinya.
"Benarkah? Tapi kenapa kau diam saja saat aku bersikap manja padamu? Apa kau akan membiarkan calon suami orang bersikap manja padamu?" Tanya Reyhan membuat Clara mati kutu. Yang di katakan Reyhan benar juga.
"Lagian kenapa aku tidak boleh manja dan mencium calon istri ku sendiri?" Tanya Reyhan memainkan hidung Clara dengan jarinya.
"Karena aku bukan calon istri mu. Berapa kali aku harus mengatakan nya padamu, kak. Apa kau melupakan kejadian lima tahun lalu yang membuat kita berpisah?" Clara menangkap tangan Reyhan yang memainkan hidung nya itu. Ia kemudian menatap tajam pria itu yang terdiam.
"Kejadian lima tahun lalu.. aku ingat, bahkan aku ingat kalau kau adalah Ara"
"Terus kenapa kau tidak mengingat Adel sedikitpun?" Tanya Clara bingung. Seharusnya Reyhan melupakan beberapa memori di otaknya jika benar ia hilang ingatan, namun ia hanya melupakan Adel, semua tentang Adel. Bukankah itu mencurigakan? Ia curiga jika Reyhan hanya pura pura hilang ingatan.
"Lebih baik kau jangan tanyakan itu" Reyhan melepaskan pelukannya. Clara bergegas untuk bangkit dari pangkuan Reyhan.
"Duduk lah di sini sebentar. Kepalaku sakit lagi" Reyhan menepuk tempat kosong di sebelahnya yang langsung di duduki Clara.
"Makanya jangan bandel, kakak kan seharusnya masih di rumah sakit sekarang atau di rumah tante Widya biar ada yang urus" Ucap Clara mengomelinya.
Reyhan memilih tak mendengarkan ocehan Clara dan menyandarkan kepalanya di bahu wanita itu.
Clara terdiam mendengarnya. Baru kali ini ia mendengar Reyhan menyatakan cintanya dengan suasana tenang seperti ini. Ia ingat Reyhan menyatakan bahwa ia menyukainya, namun saat itu mereka sedang bertengkar, jadi momennya kurang pas.
"Kenapa kau tidak membalas perkataan ku?" Tanya Reyhan menatap Clara.
"Aku tidak pernah mendengar mu menyatakan cintamu" Lanjut Reyhan.
"Haruskah?"
"Iya. Kali ini saja. Aku tidak akan memintanya lagi" Pinta Reyhan.
"Aku juga mencintaimu, kak" Ucap Clara menahan air matanya.
Cinta? Memang masih ada, dan mungkin akan terus ada di dalam hatinya untuk Reyhan. Namun apa dia bisa memiliki Reyhan dan Reyhan bisa memiliki nya? Itu tidak mustahil, tapi sulit. Kenapa sulit? Walau Reyhan tidak mengingat Adel, namun pernikahan mereka akan tetap di langsungkan walau tidak tahu kapan pastinya. Jadi, apalah cinta bagi mereka berdua yang tidak akan bersatu karena salah satunya akan menikah? Memang cinta tidak harus memiliki, tapi bukankah lebih baik memiliki? Memang egois, tapi itu yang ada di pikiran mereka berdua sekarang.
"Senang mendengarnya" Reyhan menutup matanya agar Clara tak melihat matanya yang berkaca kaca. Mungkin kalian berpikir Reyhan adalah pria yang cengeng. Tapi, coba kalian berpikir dari sudut pandang Reyhan. Bertahun tahun takut jatuh cinta karena takut akan membahayakan orang yang di cintainya. Namun, ia harus membayar seseorang untuk menjadi pacar bayarannya untuk memenuhi permintaan terakhir omahnya. Siapa sangka ia jatuh cinta pada pacar bayarannya itu, namun sayangnya orang yang tidak menyukai mereka bersama malah membuat mereka berpisah dan jadi saling membenci. Hingga akhirnya ia jatuh cinta lagi dan sadar ternyata pacar bayarannya adalah cinta pertamanya yang ia pikir tiada karena dirinya. Namun sayangnya, mereka tak bisa bersama lagi karena Reyhan akan menikah. Bukankah itu sangat rumit?
Reyhan tidur menyandar di bahu Clara sambil memeluk pinggang wanita itu.
Clara yang tak tega membuat Reyhan terbangun memilih untuk diam di tempat.
__ADS_1
"Jujur aku paling suka melihat wajahmu saat tidur, kak. Karena saat kau tidur, wajah dingin dan galak mu seakan menghilang tergantikan dengan wajah Reyhan yang imut. Aku harap bisa melihat mu seperti ini setiap pagi" Clara berucap sambil memainkan rambut Reyhan.
...----------------...
Saat Clara akan pulang karena hari sudah sore. Reyhan memintanya untuk tinggal beberapa jam lagi, setidaknya sampai makan malam saja.
Karena sedang tidak sibuk, Clara akhirnya mau tinggal sampai makan malam nanti.
"Mau masak bersama?" Tanya Reyhan.
"Tentu"
Seperti sepasang suami istri, mereka memasak aneka makanan lezat dan juga bercanda tawa bersama. Reyhan yang iseng sesekali mengganggu Clara yang terlihat fokus dengan masakannya.
"Kakak! Ikat rambutnya jangan di lepas terus!" Bentak Clara kesal.
"Kenapa? Kau cantik jika rambutmu terurai" Ucap Reyhan dengan wajah tak bersalahnya itu.
"Kalau rambutku masuk ke masakannya gimana? Emang kakak mau makan rambut?" Tanya Clara kesal.
Reyhan mengikat rambut Clara kembali karena melihat wanita itu begitu kesal.
"Teruslah panggil aku kakak karena aku menyukai nya" Reyhan mengacak rambut Clara membuat wanita itu melotot ke arahnya.
Reyhan hanya tertawa kecil melihat nya.
Sedangkan Adel berada di sebuah minimarket untuk membeli beberapa cemilan untuk Reyhan. Akhir akhir ini ia sibuk dengan kuliahnya hingga jarang mengunjungi Reyhan. Entah apa saja yang Reyhan dan Clara perbuat selama berdua di apartemen tanpa pengawasan nya.
Karena terlalu fokus memilih cemilan, Adel sampai tak sengaja menabrak seseorang.
"Maafkan aku" Adel mengambil topi pria itu yang terjatuh akibat tertabrak olehnya. Pria itu juga ingin mengambilnya hingga akhirnya mereka malah bertatap tatapan.
"Kak Raja!"
Raja segera merebut topinya yang di ambil Adel dan melangkah cepat menuju kasir. Rencananya ia ingin membeli beberapa Snack namun gagal karena Adel ada di sana. Ia takut Adel akan melaporkan nya ke polisi.
Adel segera berjalan menuju kasir untuk memastikan jika pria itu adalah Raja. Orang yang ingin membunuh calon suaminya.
'Dia membeli pisau? Untuk apa? Apa dia ingin membunuh kak Reyhan lagi?' Berbagai pikiran buruk muncul di otak nya membuatnya khawatir. Padahal bisa saja Raja membeli pisau untuk keperluan lain. Tapi bisa saja apa yang di pikirkan nya juga benar.
Raja melirik ke samping dan ia melihat kalau Adel masih mengawasinya. Ia segera bergegas keluar dan menaiki mobilnya ke suatu tempat.
Adel yang khawatir apa yang di pikirkan nya itu benar terjadi memilih untuk mengikuti Raja.
"Del, lo mau kemana?" Tanya Wildan saat adiknya itu meninggalkan nya dengan menggunakan mobilnya. Ia yang merasa ada yang janggal dari tingkah adiknya segera menghentikan taksi untuk mengejar adiknya itu.
__ADS_1
"Kali ini harus berhasil apapun yang terjadi" Ucap Raja. Selama beberapa hari ini ia gunakan untuk berpikir apakah harus mengikuti ide Anton atau tidak untuk membunuh Reyhan. Hati nuraninya yang sudah tertutup dan terlanjur di liputi rasa kebencian dan keserakahan hingga ia memilih nekat untuk membunuh Reyhan malam ini.