
Reyhan sedang mengantar Clara pulang setelah acara ultah Vizah selesai. Mereka berdua terhanyut memikirkan ucapan mamah Widya tadi.
"Ra, kamu tenang aja. Kita gak bakalan tunangan kok" Ucap Reyhan tanpa menoleh sedikitpun ke arah Clara.
"Syukurlah, aku sempat khawatir dengan ucapan Tante tadi" Ucap Clara bernapas lega.
"Semua akan baik baik saja sampai perjanjian kita berakhir"
Clara mengangguk paham. 'Sampai perjanjian berakhir. Apa setelah itu, kita akan menjadi asing? Tidak bisakah aku berdua bersamamu lagi, kak? Entah kenapa aku tidak ingin perjanjian kita berakhir. Aku mulai nyaman bersamamu. Aku tidak ingin mengakuinya, tapi ... aku sudah jatuh cinta dengan mu, kak'
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ujian akhir semester telah tiba. Reyhan menjadi sibuk dengan ujian kelulusan nya itu. Namun, ia selalu menyempatkan waktunya untuk bertemu Clara. Ia khawatir ancaman Vizah benar terjadi.
"Kakak seharusnya gak perlu antar jemput Clara lagi. Kakak harus belajar supaya lulus dengan nilai tertinggi" Ucap Clara saat Reyhan mengantar nya menuju restoran.
"Gak papa, aku gak belajar juga pasti lulus"
"Orang kaya mah beda" Ucap Clara membuat Reyhan tersenyum.
"Besok kan Minggu, kita ketemu omah yuk" Ajak Reyhan yang di setujui Clara.
"Aku jemput jam sepuluh" Lanjut Reyhan, kemudian pergi setelah mengantar Clara sampai restoran.
"Ra, ada yang nyariin kamu tuh" Ucap Mira saat Clara memasuki restoran.
"Siapa?"
"Gak tahu, tapi kayaknya mereka seumuran sama gue. Mereka ada di meja nomor 13"
Clara segera menuju meja yang di maksud Mira. Ia terkejut saat tahu siapa yang ingin bertemu dengannya.
"Vizah!"
"Wah, akhirnya Lo datang juga. Kita udah bekarat nungguin Lo nih" Ucap Vizah menarik tangan Clara untuk duduk bersamanya.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" Tanya Clara curiga.
"Kita? Ya, mau ketemu calon menantu Setya lah" Ucap Vizah tertawa kecil. Ia kemudian berdiri dan ...
"Hei semuanya! Kalian silahkan makan sepuasnya ya. Dia ini, calon menantunya Reza Prawira Setya, pemilik Setya Group. Jadi, dia mentraktir kita selama satu hari untuk merayakan akan di terimanya dia keluarga Setya" Lanjut Vizah memegang bahu Clara sambil tersenyum yang lebih tepatnya menyeringai.
Semua pelanggan restoran terlihat antusias mendengar nya. Mereka mengucapkan terimakasih dan memesan makanan yang mereka mau.
"Ini hanya hal kecil kan bagimu? Kau kan calon menantu Tante Widya" Aulia tertawa di ikuti Vizah dan Lita.
"Kenapa kalian melakukan ini?" Tanya Clara mencoba menahan emosinya.
"Kenapa kau masih bertanya? Kau telah merebut posisiku, akulah yang seharusnya berada di posisimu saat ini. Akulah yang seharusnya di jodohkan dengan Reyhan. Tapi kau malah muncul dan merusak semuanya" Ucap Vizah berbisik namun penuh penekanan.
"Kau sama saja seperti gadis kecil itu. Kalau tidak salah, namanya Ara. Aku masih ingat dia begitu marah saat aku menginjak gantungan kuncinya. Dia bahkan meninggalkan luka di tanganku. Kukunya terlalu tajam hingga bekas lukanya pun tidak mau hilang" Vizah menunjukkan bekas luka cakar di tangannya yang sedikit memudar.
'Luka itu! Bukankah dulu aku menyakar orang yang merundung ku sampai tangannya berdarah. Aku hampir di keluarkan jika saja bocah itu tidak membelaku. Jadi benar, kak Reyhan adalah bocah itu'
"Beruntungnya bekas lukanya tidak panjang. Benar benar merusak. Andai saja Reyhan tak membelanya, dia pasti sudah di keluarkan dari sekolah. Oh ya, aku dengar gadis itu mati tertabrak mobil. Syukurlah, setidaknya cinta pertama Reyhan sudah mati"
"Tapi sayangnya, kau muncul. Apa aku harus membuatmu mati juga, sama seperti aku membuat Ara mati"
Clara terkejut mendengarnya. Ia tidak menyangka karena cinta, Vizah sampai membunuh seseorang, bahkan di usianya yang masih kecil.
"Kau tenang saja. Aku masih belum puas bermain main denganmu. Jadi, aku tidak akan membunuh mu dulu. Jangan lupa kau mentraktir mereka, jadi kau harus membayar tagihannya. Kalau begitu, sampai jumpa Clara" Vizah dan kedua sahabatnya kemudian meninggalkan Clara.
"Astaga, bagaimana aku membayarnya?" Gumam Clara cemas.
Saat restoran tutup, Clara di panggil oleh bos nya.
"Clara, totalnya dua puluh juta. Mau cash atau transfer?"
__ADS_1
"Maksud pak bos apa ya?"
"Jangan pura pura bodoh. Kau kan yang mentraktir pelanggan di sini selama satu hari? Kenapa sekarang kau tidak ingin membayar nya?" Bentak bos Clara.
"Tapi pak, aku tidak pernah mengatakan itu" Sanggah Clara.
"Teman mu yang mengatakannya. Aku tidak mau tahu, kau harus membayarnya"
Clara mengecek rekeningnya. 'Astaga, cuma ada lima juta. Di dompet paling cuma ada lima ratus ribu. Gimana ya?'
"Pak, aku bayar lima juta dulu ya?"
Brak!
"Kau ingin membuat restoran bangkrut!"
Clara hanya tertunduk pasrah saat bosnya itu memarahinya.
"Aku yang akan membayar nya"
Reyhan memasuki ruangan bos Clara. Ia menatap tajam lelaki paruh baya itu.
"Dua puluh juta kan? Aku akan mentransfer nya sekarang juga"
Reyhan langsung menarik tangan Clara dan meninggalkan restoran. Sesampainya di rumah Clara.
"Maaf ya kak, aku janji akan membayarnya"
"Tidak perlu. Besok, aku akan menjemputmu jam sepuluh" Reyhan mengacak rambut Clara kemudian pamit.
Clara tersenyum sambil memegangi rambutnya yang di acak Reyhan.
...****************...
Di hari Minggu tepat pukul sepuluh pagi, mereka berdua telah sampai di rumah sakit. Mereka langsung menuju ruang perawatan omah Ken.
"Hah! Itu siapa?" Tanya Clara menunjuk anak kecil yang duduk di samping omah Ken.
"Wah, ini kakak baru aku ya" Rayyan segera berlari menghampiri Clara.
"Halo kak, nama aku Rayyan. Yang jelas, aku berbeda dengan kak Reyhan. Aku tidak cerewet, dan tidak susah di ajak main"
"Lo nyindir gue?" Tanya Reyhan bersedekap dada.
"Menurut Lo?" Balas Rayyan.
"Kalian ini, adik kakak tapi pake Lo gue" Ucap omah Ken geleng kepala.
"Ish, kamu imut banget. Kayaknya Rayyan seumuran deh sama adik aku. Kamu mau gak sama adik, kakak? Dia itu cantik, pintar, hanya saja dia itu terlalu genit dan cerewet" Ucap Clara mencubit pipi Rayyan.
"Gak ah, kak. Udah ada yang aku suka. Dia cantik, pintar, galak, cerewet tapi perhatian" Ucap Rayyan sambil tersenyum.
"Imut? Gak salah, Ra? Dia itu udah dua belas tahun. Yang ada, dia itu jelek" Ejek Reyhan.
Rayyan yang tak terima juga membalas. "Yee, kakak yang jelek. Rayyan mah ganteng"
Clara tak menghiraukan mereka yang saling mengejek dan memilih menghampiri omah Ken.
"Omah udah sehat ya? Kelihatannya lebih seger"
"Iya sayang. Akhir akhir ini omah merasa lebih baik" Jawab omah Ken.
"Alhamdulillah. Aku yakin omah pasti sembuh. Tetap semangat ya omah"
Saat makan siang, Reza dan Widya sengaja ke rumah sakit karena tahu Clara ada di sana. Clara pun menghabiskan siangnya bersama keluarga Reyhan. Ia merasa sudah di terima di keluarga itu.
Saat akan mengantar Clara pulang. Omah Ken mengajak Reyhan untuk bicara berdua saja. Clara menunggu di luar bersama Rayyan.
__ADS_1
"Rey, omah tahu kau sebenarnya tidak berpacaran dengan Clara. Kalian, hanya pura pura pacaran kan?" Kalimat pembuka dari omah Ken membuat Reyhan terkejut.
"Apa kau pikir omah tidak tahu? Sedari awal aku sudah mengetahuinya. Kau begitu mencintai gadis kecil itu, dan rencana perjodohan itu baru di katakan oleh papah mu beberapa hari. Tapi kau tiba tiba sudah memiliki pacar? Siapa yang tidak curiga? Aku sengaja diam dan mengikuti alur main mu. Setelah omah lihat, kau yang awalnya tidak menyukai Clara, sekarang kau mulai menyukainya. Omah bisa melihatnya, kau begitu perhatian pada gadis itu"
"Maafkan aku omah"
"Tidak apa. Omah malah senang, kau rela melakukan apapun untuk membuat omah bahagia. Aku tahu sulit mengabulkan permintaan ku ini. Omah lebih setuju kau bersama Clara daripada bersama Vizah atau bersama Adel"
"Omah, aku ..."
"Rey, nyatakan lah perasaan mu sebelum terlambat. Clara tidak akan terluka hanya karena kau mencintai nya. Jangan pendam terus perasaan mu. Jangan terus mengingat Ara dalam percintaan mu. Dia sudah berbeda. Hidup terus berjalan, Rey. Nyatakan lah sebelum terlambat"
"Akan aku pikirkan"
"Hem, sekarang kau boleh pergi"
Reyhan membuka pintu dan melihat Clara bercanda bersama Rayyan. Ia dan adiknya memang berbeda. Rayyan terkenal ramah, supel dan periang. Sedangkan Reyhan terkenal kaku, dingin dan jutek.
"Ayo kita pulang" Ajak Reyhan.
"Baiklah, dadah Rayyan. Sampai jumpa lagi"
"Dadah calon kakak ipar"
Clara tertawa mendengarnya.
"Rayyan dan Tante Widya sama saja" Ucap Clara saat mereka berada di mobil.
"Maaf jika itu membuat mu tak nyaman"
"Tidak apa kak, hari ini benar-benar menyenangkan" Ucap Clara tersenyum.
Clara melambaikan tangannya pada Reyhan saat ia sudah sampai di rumah.
"Yang habis ketemu camer, seneng bener kayak nya" Goda Mita menghampiri Clara. (Camer, calon mertua)
"Jangan sembarangan bicara, Mita. Gue cuma jengukin omah Ken, kok. Lebih baik kita masuk aja" Mita dan Santi pun memasuki kediaman Clara.
"Gimana, udah kalian lakuin apa yang gue minta?" Lanjut Clara.
"Nih" Santi menyerahkan sebuah map kepada Clara.
"Wih, segala pake map. Kayak apa aja isinya" Ucap Clara membuka map itu.
"Biar bergaya, Ra" Mita pun adu tos dengan Santi.
Clara mengambil koran berisi kecelakaan maut di lampu merah delapan tahun lalu. Ia membacanya dengan seksama.
"Di sini tidak di beritahukan nama korban kecelakaan nya. Di koran lain juga tidak ada. Di berita online juga tidak ada" Ucap Clara lesu.
"Apa kau benar benar tidak ingat?" Tanya Santi.
"Seingatku, saat pulang sekolah memang hujan. Aku tidak melewati lampu merah, kok. Aku lurus saja" Sahut Clara mengingat ingat.
"Ini, kami memfotonya saat di perpus" Mita memberikan hpnya pada Clara.
"Ini, foto alumni sekolah" Ucap Clara.
"Kami memeriksa tahun tahun saat kau sekolah. Dan kami menemukan itu" Ucap Santi.
"Vizah, Lita dan Aulia, mereka memang bersekolah di tempat ku sekolah dulu. Tapi, kak Reyhan, tidak" Ucap Clara.
"Kami bertemu dengan penjaga perpustakaan. Katanya, dia sudah bekerja selama dua puluh tahun di sana. Dia sangat dekat dengan korban kecelakaan yang di rumorkan bernama Ara. Tapi, dia bilang itu bukan Ara. Ara masih menemuinya beberapa hari setelah kecelakaan itu. Teman kelasnya pun tahu itu bukan Ara. Tapi, mereka takut untuk memberitahunya kepada semua orang. Apalagi kasus itu segera di tutup, lebih tepatnya seperti sengaja di tutup" Terang Mita panjang lebar.
"Maksudmu, pak Marno?" Tanya Clara memastikan.
"Iya, benar pak Marno! Wah, sepertinya itu emang lo, Ra" Sahut Mita.
__ADS_1
"Satu sekolah percaya itu adalah Ara, padahal penjaga perpus bilang itu adalah_" Ucap Santi sengaja menggantung ucapannya.
"Tunggu! Pantas saja aku tidak ingat jika aku pernah kecelakaan saat kecil. Itu bukan aku, itu bukan Ara, nama gadis yang kecelakaan itu bukan Ara. Tapi ..."