Cinta Yang Bertemu Kembali

Cinta Yang Bertemu Kembali
Bab 7


__ADS_3

Pak Rudi berjalan ke belakang sekolah, dia melihat Wildan malah berleha-leha sedang yang lain sedang menjalani hukuman.


Pak Rudi yang marah langsung menjewer telinga Wildan hingga dia mengadu kesakitan.


"Shh, sakit pak, jangan kenceng kenceng pak, ntar telinga aku bisa copot! Hilang deh ketampanan Wildan idola sekolah"


"Aaaa!! aarrgghh!! Sakit pak! Kok tambah kenceng sih jewer nya?"


"Itu karena kamu kepedean merasa paling ganteng, asal kamu tau di sekolah ini yang paling ganteng itu bapak"


Pak Rudi melotot, bola matanya nampak hampir mau keluar dari sarangnya, dia kemudian melepaskan jeweran nya.


"Wih, ternyata pak Rudi bisa narsis juga ya, hahaha" ucap Putra tertawa


"Diam kamu atau saya tambah hukuman kalian!"


Putra langsung terdiam. Tangannya membuat gerakan mengunci mulut kemudian membuang kuncinya.


"Eh, gue sumpahin tu mulut gak bakalan bisa kebuka sebelum ketemu kuncinya, biar mampus Lo!" Celetuk Umam.


Putra langsung mengejar Umam dan membawa gagang sapu di tangannya untuk memukul pemuda itu.


"Heh awas Lo! Punya temen bukannya doain yang baik baik malah Lo sumpahin gue!"


"Ampun, Put! Gue nyerah"


Umam berhenti dengan nafasnya yang ngos-ngosan, dia kelelahan karena terus berlari menghindari putra, sedang yang lain hanya tertawa.


"Sudah! Cepat selesaikan tugas kalian, dan kamu Wildan, awas jika kamu tidak mengerjakan hukumanmu!"


"Siap pak" Jawab mereka serentak sambil hormat pada pak Rudi.


Setelah pak Rudi pergi Wildan langsung mengeluh, dia terpaksa menjalankan hukumannya dengan wajah cemberut dan bibir manyun 10 centi.


Akhirnya mereka selesai dengan hukuman nya, tapi hanya untuk hari ini, masih ada hari esok lagi di mana mereka harus menjalani hukuman lagi.


Tepat pukul 15:30 semua selesai. Clara, Mita dan Santi menuju halte bus, tak lama bus pun datang.


"Kita pulang dulu ya Ra, bye" ucap Mita sambil melambaikan tangannya.


Clara hanya melambaikan tangannya sambil tersenyum.


Clara melihat jam di tangannya, sudah jam 15:45. Jika bus nya tidak datang juga, maka dia tidak bisa bekerja karena jam masuk untuk karyawan paruh waktu hanya sampai jam 16:00.


Suara deru motor mengejutkannya, dia melihat Reyhan ada di depannya.


"Ayo naik, ke restoran kan?"


Clara mengangguk, Reyhan memberikan helmnya pada Clara yang langsung memakainya.


"Ngebut ya, kak"


Setelah Clara naik, Reyhan langsung melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Refleks Clara langsung memeluk Reyhan dengan erat.


Konsentrasi Reyhan sempat buyar karena Clara memeluknya sangat erat membuat jantungnya terus berdetak kencang. Dia juga merasakan sesuatu yang lembut, kenyal dan hangat di punggungnya yang membuat wajahnya memerah. Sepertinya Clara tidak sadar akan hal itu. Apa dia harus mengatakannya pada Clara atau membiarkannya saja?


Setelah melewati perjalanan yang mendebarkan dan penuh drama akhirnya mereka sampai di restoran. Clara segera turun dan memberikan helmnya pada Reyhan. Ia melihat jam tangannya, 1 menit lagi jam 4, maka ia bergegas masuk ke restoran.


Reyhan hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Clara. Bahkan gadis itu tidak mengucapkan terima kasih, tapi kemudian dia tersenyum saat mengingat kejadian di motor tadi, saat Clara memeluk nya sangat erat.


"Eh, gue kenapa senyum senyum gak jelas gini ya? Jangan sampai gue beneran jatuh cinta sama tu cewek, amit amit. Tapi, gue gak mungkin jatuh cinta ama tuh cewek, gue kan... ah udahlah"


Reyhan melajukan motornya ke rumah sakit tempat omah nya di rawat.


Sesampainya di sana, dia melihat omah nya sedang di temani Rayyan.


"Tumben Ray Lo yang jaga omah" Ucap Reyhan, dia mencium punggung tangan omah nya kemudian mengacak-acak rambut adiknya.


"Tadi sama mama dan papa kak, tapi katanya ada urusan, jadi aku yang di suruh jagain omah dulu"


Reyhan hanya meng o saja.


"Rey, bagaimana hubungan mu dengan Clara?" Tanya omah Ken.


"Baik kok, omah"


"Baguslah, omah senang melihatmu dekat dengannya"


Omah Ken mengusap rambut Reyhan dengan sayang.


"Mungkin ini terdengar aneh, tapi saat pertama kali omah melihat gadis itu, omah merasa tenang. Omah nyaman bersamanya, dia gadis yang ramah dan ceria. Jika Allah menghendaki omah hidup lebih lama, omah ingin melihat kalian menikah, memiliki anak, dan hidup bahagia."


Reyhan terpaksa tersenyum, dia merasa bersalah pada omah nya, padahal hubungan nya dengan Clara hanya bohongan. Dia sengaja membayar Clara untuk menjadi pacarnya. Tapi tidak di duga, ternyata omahnya memiliki harapan lebih terhadap hubungannya dengan Clara. Bagaimana bisa menikah dan memiliki anak jika rasa cinta saja tidak ada untuk Clara?

__ADS_1


Itulah yang ada di pikirannya, padahal, hatinya sudah merasakan getaran cinta tanpa dia sadari.


"Reyhan, Rayyan, jika kalian sudah memiliki pasangan, ingat ini, jangan pernah membuatnya menangis, jika ada masalah selesaikan dengan kepala dingin, jangan dengan kekerasan, saling mempercayai akan membuat hubungan kalian semakin erat. Jika kalian ingin di cintai, di hormati, di sayangi, di percayai dan di mengerti, maka perlakukan lah pasangan kalian seperti itu juga, maka kehidupan kalian akan tenang dan damai"


Reyhan dan Rayyan mengangguk paham, mereka berjanji dalam hati akan selalu mengingat nasihat Omah.


*Ceklek


"Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumsalam" jawab Reyhan, Rayyan dan omah Ken.


"Kamu baru pulang Rey? Tumben lama" Tanya mama Widya.


"Habis jalan jalan sama Clara ma"


Jelas, Reyhan berbohong. Padahal dia sedang menjalani hukuman di sekolah, tapi jika dia jujur, maka dia akan mendapat hukuman petasan yang keluar dari mulut mamanya, di tambah dengan sendal ajaib yang bisa melayang.


"Kamu jadikan bawa Clara ketemu sama mama dan papa lusa nanti?" Tanya papa Reza.


"Jadi pa"


"Bagus, papa gak sabar pengen lihat wajah calon menantu" Kekeh papa Reza.


"Kok gitu sih pa, belum apa apa udah jadi calon menantu aja" Reyhan menekuk wajahnya.


"Ooh, jadi harus ada apa apanya ya, kita lamar Clara aja yuk pa!" Goda mama Widya.


"Gak gitu ma"


"Tapi aku gak sabar kak punya kakak baru, apalagi cewek. Lebih baik kakak cepet nikahin dia karena aku males kalau sama kakak, kakak itu judes dan susah di ajak main"


"Eh, ni anak masih kecil juga, gak usah ikut campur ini urusan kakak, pake ngatain kakak judes lagi, emang kakak cewek"


"Siapa tau jiwa kakak ketukar sama pacar kakak itu"


"Shuut, udah Ray kamu gak boleh ngomong kek gitu. Cepat minta maaf sama kakak!"


Rayyan langsung minta maaf pada kakaknya karena takut melihat mata mamanya yang seperti mau copot karena terlalu melotot.


"Males gue maafin Lo"


Reyhan pergi dengan wajah kesalnya.


**Sementara itu di restoran**.


Clara langsung menuju ke ruang di mana bosnya berada. Sempat di marahi karena hampir terlambat, tapi Clara tetap di izinkan bekerja dengan catatan tidak boleh terlambat lagi.


Clara langsung mengganti bajunya, kemudian mengerjakan pekerjaan nya.


"Astaga Clara, Lo darimana aja jam segini baru masuk. Jangan bilang... Lo habis dating sama cowok kemaren sampai lupa waktu, atau jangan jangan, kalian habis moj_ emm emmm"


Clara yang kesal langsung menyumbat mulut Mira dengan kain lap yang kebetulan sedang di pegangnya.


"Sialan Lo, Ra, jorok tau!"


Mira langsung berlari ke toilet, sedangkan Clara hanya menatapnya dengan wajah tak bersalah.


"Makanya, jangan nuduh orang sembarangan, pake mau bilang gue habis mojok lagi" gerutu Clara.


...----------------...


Pukul 23:30 WIB restoran pun tutup. Clara dan karyawan lain harus lembur karena pemilik restoran mengundang sebuah Band untuk menghibur pelanggan.


Pelanggan membludak karena para anggota Band itu sangatlah tampan yang membuat pelanggan yang sebagian wanita betah berlama lama di restoran.


Clara sangat senang karena acara berakhir dan dia bisa pulang, dia sangat mengantuk dan merindukan bantal guling yang selalu di peluknya.


"Ekhem, maaf, boleh kenalan?" Sapa seorang pemuda, sepertinya dia salah satu anggota Band tadi.


"Eh iya, kenalin, Clara"


Clara mengulurkan tangannya sambil tersenyum yang langsung di sambut oleh pemuda itu


"Devan"


"Boleh minta nomor wa nya?" Tanya Devan langsung memberikan ponselnya.


Clara langsung mengetik nomornya di ponsel pemuda itu.


"Ini kak"


"Baiklah, aku akan menelpon mu nanti, sampai jumpa!"

__ADS_1


Clara memandangi Devan yang telah pergi dengan tersenyum. Sedari awal Clara terus memperhatikan Devan, bahkan dia ikut dalam gerombolan gadis yang sedang menonton konser hingga membuat telinganya di jewer oleh Mira.


Sepertinya dia mulai tertarik dengan Devan, wajahnya sebelas dua belas dengan Wildan, padahal Reyhan jauh lebih tampan dari dua orang ini.


"WOI!!"


"Eh kampret!"


"Hahahaha"


Mira tertawa ngakak karena berhasil mengagetkan Clara, sedangkan Clara menatap tajam Mira dengan wajah cemberut.


"Apa apa'an sih kak?! ngagetin aja, untung gue gak punya jantung" Kesal Clara.


"Gak punya jantung berarti mati dong, atau jangan jangan Lo bukan manusia jadi bisa hidup tanpa jantung" Tebak Mira menaik turunkan alisnya.


"Maksud gue gak punya riwayat penyakit jantung kakak ku yang cantik, manis dan oon"


Sangking gemasnya Clara, dia sampai menoyor kepala Mira.


"Aduuh, iya iya, gak usah noyor juga kali. Lagian Lo napa kecentilan banget sama si Devan, Lo kan udah punya cowok, ntar gue bilangin baru tau rasa Lo" Ucap Mira mengancam.


"Udah di bilangin berkali-kali dia itu bukan cowok aku, cuma temen gak lebih" Tegas Clara.


"Iya deh, kalo Lo cuma menganggapnya temen gak papa, buat gue aja yang masih jomblo ini, jadi kalau pulang gak perlu mesen bang ojol lagi" Mira terkekeh kecil.


"Jangan coba coba" Clara mendelik tajam, dia tidak suka jika Mira dekat dengan Reyhan, entah apa alasannya dia pun tidak tau.


Clara memutuskan untuk ke toilet karena ingin buang air besar.


Setelah selesai dengan hajatnya, dia berniat mencuci tangan.


Saat mencuci tangan, entah kenapa dia malah teringat dengan Reyhan. Dia teringat saat kejadian di motor tadi, ada rasa nyaman di hatinya saat memeluk Reyhan.


Senyum Clara tersungging saat mengingatnya, tapi senyumnya langsung menghilang dalam sekejap. Seketika matanya melotot saat dia ingat kalau dia memeluk Reyhan terlalu erat, bahkan badannya sampai menempel lekat di badan Reyhan.


"Astaga, kenapa bodoh banget sih gue? Pasti dia ke enakan tuh! Pantesan dia sempat oleng pas bawa motor tadi. Gue kok bisa gak sadar ya? Bodoh! Bodoh!"


Clara terus merutuki kebodohan nya, bahkan saat pulang dari restoran dia dalam keadaan terus mengomel. Mira yang melihatnya hanya geleng-geleng kepala.


"Udah gak waras tuh anak, dari tadi ngomong sendiri. Ra, gue pulang dulu ya!"


Clara terus berjalan, sepertinya dia tidak mendengar Mira karena terus mengomel pada dirinya sendiri.


"Sial, gue di cuekin, bodo ah, mending gue balik, jalan bang"


Pemotor baju hijau itu pun membawa Mira pergi.


Clara mengecek HP-nya, dia menepuk jidatnya dan kembali mengomeli dirinya.


"Mampus, hp gue lobet. Gimana gue bisa pulang? duh ceroboh banget sih gue, mana halte jauh lagi"


Clara mengedarkan pandangannya, tidak ada siapapun selain dirinya, sepertinya semua sudah pulang.


"Semua udah pada pulang, terpaksa deh jalan kaki"


Clara berjalan lesu menuju halte bus yang jaraknya lumayan jauh.


Langkah kakinya berhenti saat melewati tempat sunyi yang hanya ada beberapa rumah. Suara tawa yang entah dari mana membuatnya merinding.


Tiba tiba 3 pria muncul dari kegelapan. Mereka tertawa sambil mendekati Clara dengan seringai penuh nafsu. Sepertinya mereka preman, kelihatan dari pakaian mereka.


"Hey cantik, mau kemana malam malam begini? Ikut Abang yok!" Ajak lelaki yang rambut gondrong.


"Jangan sama dia, ikut Abang aja ya, dia mah kere, gak bisa ajak kamu ke hotel, mendingan sama Abang, semua keinginan kamu pasti Abang turutin" Ajak lelaki yang bertubuh gemuk.


"Eh, mendingan sama Abang aja, dia itu badannya kegemukan jadi gampang capek, kalau sama Abang, di jamin eneng puas" Ucap yang cungkring.


Mereka bertiga terus berdebat untuk mendapatkan Clara, sedangkan Clara hanya menatap mereka dengan ekspresi datar.


"Cukup! Biarkan aku pergi" Ucapnya tegas.


"Eneng jangan gitu dong"


"Kamu kalau marah tambah cantik lho"


"Abang suka cewek galak, lebih menantang"


Perkataan mereka membuat telinga Clara panas, dia mengepal tangannya mencoba untuk meredam emosinya.


Mereka bertiga mendekati Clara. Clara menatap mereka satu persatu, dia bersiap siap untuk menyerang.


***

__ADS_1


Silahkan tinggalkan jejak para reader's dengan like, komen, gift, atau vote novel author, supaya author jadi semangat nulis novelnya 🤗🤗🤗


__ADS_2