
Di malam yang sama. Dimas dan Nio pergi ke gudang di pinggir kota. Mereka menghentikan mobilnya tak jauh dari sana. Tampak dua bodyguard berjaga di pintu depan. Terpaksa mereka lewat samping dengan memanjat dinding.
Mereka berhasil masuk dan berjalan mengendap endap hingga salah satu penjaga memergoki mereka.
"Hei, siapa kalian?! Ada penyusup!" Teriak orang tersebut.
Dimas dan Nio terlihat khawatir. Suara derap langkah kaki yang begitu banyak mendekati mereka.
"Mana penyusup nya?" Tanya orang yang bertubuh tinggi. Orang yang memanggil mereka hanya terdiam dan menunduk.
"Hei, jawab!"
"Mereka sudah pergi ke arah sana. Mereka memanjat dinding. Aku tidak bisa mengejarnya" Ucap orang tersebut.
Pria tinggi itu segera menyuruh beberapa orang pergi mengejar penyusup yang di maksud orang tersebut. Sisa lima orang berjaga di sana. Mereka segera meninggalkan orang tersebut.
"Kerja bagus Pak" Ucap Nio muncul dari balik kotak kayu.
Orang tersebut membuka hoodie nya. "Tentu, siapa dulu, Dimas gitu loh"
"Gue akan masuk, lo bawa orang itu ke mobil" lanjut Dimas. Nio segera membawa orang yang memergoki mereka melewati dinding di bantu Dimas. Orang tersebut pingsan karena Nio memukul kepalanya.
Seseorang menepuk bahu Dimas membuat tubuhnya menegang. "Ayo, bos udah manggil kita tuh" Dimas segera mengikuti orang di depannya.
"Malam ini bawa barang barang di mobil itu ke gudang kita, setelah itu bakar mobilnya. Jack, aku menugaskan mu untuk menabrak Clara, tapi pastikan gadis manis itu masih hidup. Malam ini Bari harus membawa Santi ke sini dalam keadaan hidup atau mati dan Joni harus membakar ludes kafe milik gadis sok itu. Oh ya Tini, kau tidak perlu khawatir, kau tidak akan ketahuan, aku akan melindungi mu seperti kesepakatan awal"
Dimas menajamkan matanya. Ia masih tidak bisa melihat siapa orang yang sedang berbicara karena orang itu duduk di kegelapan.
"Balas dendam ku akan segera tuntas, aku akan mendatangi Reyhan malam ini di kantornya" Orang tersebut keluar dari kegelapan. Seperti yang mereka duga, Fathan lah pemimpin mereka.
Dengan susah payah Dimas berusaha memotret wajah Fathan dan yang lainnya sebagai barang bukti. Setelah mendapatkan nya, ia langsung pergi. Beruntungnya tidak ada yang curiga.
Sekarang ia sudah berada di mobil bersama Nio dan satu anak buah Fathan yang pingsan.
"Bagaimana?" Tanya Nio. Dimas segera memutar rekaman suara saat ia di gudang. Nio mendengarkan nya dengan seksama.
"Kita harus menolong Santi!" Ucap Nio terlihat khawatir. Dimas yang melihat perubahan wajah Nio menjadi curiga.
"Lo suka sama Santi?" Tanya Dimas. Nio terlihat salah tingkah.
"Iya, dia gadis yang anggun, cantik dan dewasa" Ucap Nio tersenyum malu.
"Lo belum kenal dia" Ucap Dimas geleng kepala. Jika Nio tahu perangai Santi sebenarnya, ia yakin Nio akan memilih mundur.
"Gini aja, lo temui Santi dan gue temui Reyhan, oke?" Usul Dimas. Nio mengangguk setuju.
----------------
Malam itu Santi pergi ke minimarket. Saat akan pulang ia sengaja memilih jalan sunyi. Ia berjalan lambat saat merasa ada seseorang yang mendekat di belakangnya. Ia berlari sekuat tenaga dan sayangnya jalan itu buntu.
"Kau mau kemana nona?" Tanya Bari, anak buah Fathan.
Santi menghadap Bari dengan tatapan datar. "Apa mau mu?"
"Membunuhmu!" Bari segera melesatkan pukulan nya ke wajah Santi. Santi berhasil menghindar dan menendang perut Bari. Mereka terus bertarung, Santi terlihat mengulur waktu. Saat Bari mengeluarkan pisau dari balik jaketnya dan ingin menikam Santi, Mita datang dan menendang pisau di tangan Bari.
"Kau tidak sendiri ternyata" Ucap Bari. Ia menepuk tangannya tiga kali dan tak lama muncul dua pria berbadan kekar lainnya. "Pantas saja bos menyuruhku membawa mereka untuk berjaga jaga"
Mita dan Santi mulai melawan mereka lagi. Beberapa menit kemudian dua teman Bari tumbang dan hanya menyisakan dirinya.
__ADS_1
"Kalian benar benar luar biasa" Bari mulai menyerang lagi. Ternyata dia ahli karate membuat Mita dan Santi mulai kewalahan. Bari menendang Mita hingga membuatnya menghantam dinding.
Mita memegangi perutnya yang terasa sakit. Darah mengalir di bibirnya. Santi terus berusaha menyerang Bari, sayangnya Bari berhasil menyayat tangannya. Darahnya mengalir jatuh ke tanah.
"Kalian hanya lah dua wanita lemah" Ucap Bari. Saat ia akan menghujamkan pisau itu pada Santi, seseorang datang memukul kepalanya menggunakan balok kayu namun itu tidak membuatnya pingsan.
Bari terlihat marah, ia balik menyerang orang di belakangnya dengan pisau. Beruntungnya orang itu pandai menghindar.
"Lo memiliki badan yang bagus, sangat gentleman lah. Tapi sayangnya ternyata lo banci ya" Ucap Nio, ia mencoba memancing emosi pria itu. Untungnya ia datang tepat waktu.
"Bacot!!" Pria itu terlihat mulai menggila dan serangannya tak menentu. Nio terus memancing emosinya dan saat ia lengah, Nio merebut pisaunya dan menendang ************ pria itu.
Bari terduduk. Wajahnya memerah menahan sakit. Dengan sekali pukulan telak dari Nio, Bari pun pingsan.
"Bagaimana keadaan kalian?" Tanya Nio menatap Mita dan Santi.
"San, lo gak apa apakan?" Tanya Mita menghampiri Santi.
"Gue aman" Jawab Santi.
"Kamu gak apa apa kan? Kita ke rumah sakit aja ya?" Nio membuka jaketnya dan melilit tangan Santi yang terluka.
"Kayak nya ada yang mau pdkt nih" Celetuk Mita. Nio tersenyum menatap Santi sedangkan Santi tak berekspresi.
----------------
Reyhan baru saja kembali dari mengantar Clara. Ia memasuki ruangannya dan mulai membuka laptopnya.
Reyhan tiba tiba mengangkat tangannya. Ia tersenyum sinis. "Serangan diam diam?"
Orang yang mengalungkan pisau di lehernya hanya tersenyum sinis. "Gue harus membunuh lo"
Bugghh
Bugghh
Reyhan menyeka bibirnya. Lengannya sudah basah karena darah. Reyhan menatap tajam pria di depannya. "Lo .. yang akan gue bunuh. Kebetulan udah lama sekali gue gak berkelahi seperti ini"
Perkelahian mereka berdua terus berlanjut. Di satu kesempatan Reyhan memukul bagian bawah mata pria itu. Saat pria itu lengah, Reyhan merebut pisaunya dan balik mengacungkannya.
"Sekarang giliran lo, Dim!"
Dimas muncul dari pintu di samping meja CEO. Ia membekap mulut pria itu dengan obat bius, sayangnya pria itu menyikut perut Dimas dan berhasil kabur.
"Yah Rey, Fathan berhasil kabur" Ucap Dimas lesu.
"Gak apa apa. Dia gak akan bisa kabur lagi nanti" Ucap Reyhan.
Saat Clara keluar ruangan, tak lama Dimas menelpon dan memberi tahu semuanya. Reyhan menyuruh Dimas ke kantornya dan ia sengaja meninggalkan kunci pintu rahasianya di meja.
**************
Keesokan harinya di hari Minggu. Mereka berkumpul di kafe Mita untuk membahas penemuan mereka tadi malam. Beruntungnya kafe itu tak terbakar karena satpam memergoki orang misterius tersebut dan menangkapnya.
"Persidangan Mira akan dilaksanakan besok tapi kita belum menemukan bukti bahwa bukan dia pelakunya" Ucap Dimas. Ia menyandarkan tubuhnya di kursi.
"Aku rasa bukti ini belum cukup karena tak ada bukti yang mengarah pada kasus Mira" Ucap Nio memberi pendapat nya.
"Gue juga setuju, tapi kita bisa memaksa Tini untuk mengakuinya. Bukti bukti ini kurasa cukup untuk menakutinya" Ucap Reyhan.
__ADS_1
"Kita akan membuat Fathan mendekam di penjara lagi" Ucap Santi tersenyum jahat.
Diputuskan Clara dan Reyhan yang akan menemui Tini. Mereka tak di izinkan masuk oleh pemilik rumah, namun Reyhan tetap memaksa masuk. Tini terlihat ketakutan.
"Tenang saja Bu Tini. Kami hanya ingin berbincang sedikit. Jika kau ingin bekerja sama dengan kami, aku pastikan dia tidak akan melukaimu" Ucap Clara. WeIa mengajak Tini untuk duduk.
"Apa Fathan mengancam mu atau kau dengan sukarela mengikuti perintahnya?" Tanya Reyhan menatapnya tajam.
"A apa maksud kalian?"
"Jawab saja dengan jujur, kami janji akan melindungi mu. Kau tidak akan bisa mengelak karena kami sudah memiliki buktinya" Ucap Clara menunjukkan bukti bukti yang mereka dapatkan.
"Bukankah ini anda, Bu Tini?" Clara menunjuk foto Tini di gudang bersama Fathan dan lainnya. Tini terlihat cemas, wajahnya semakin ketakutan.
"Kami sudah tahu trik yang kau lakukan hingga bukan sidik jarimu yang ada di botol itu. Lebih baik kau mengaku sekarang" Ucap Reyhan berbohong. Itu dilakukan untuk memancing Tini saja.
"Jika aku mengaku, kalian pasti akan memenjarakan ku" Ucap Tini.
"Tenang saja, kami akan melindungi mu. Sekarang jawab, apa Fathan mengancam mu? Jika iya, kau bisa menggunakan alasan kau melakukannya karena di ancam" Ucap Clara. Tini terlihat berpikir, ia menarik nafas dulu sebelum berbicara.
****************
Persidangan Mira pun di mulai. Clara, Reyhan, Mita dan Santi sudah duduk manis di bangku pengunjung begitu pula dengan Fathan.
Hakim memulai persidangan. Jaksa menuntut Mira atas kasus percobaan pembunuhan terhadap Fathan dengan meletakkan racun di makanannya dan penjara 15 tahun. Pengacara Mira menyangkal, kandungan racun di makanan itu terlalu sedikit untuk membunuh seseorang. Lagipula tidak ada cctv yang menunjukkan Mira pelakunya.
"Tapi ada sidik jari nona Mira di botol itu dan juga kami memiliki saksi" Ucap jaksa penuntut kemudian memanggil Tini ke kursi saksi.
"Saat itu kau bersama nona Mira di dapur, benar kan?" Tanya jaksa penuntut. Tini mengiyakan.
"Benarkah nona Mira yang membuat pesanan itu?" Tini mengiyakan lagi.
"Tidak ada orang lain yang memasuki dapur selain kalian, apa itu benar?"
"Benar" Ucap Tini. Mira mulai terpojok saat jaksa menunjukkan bukti sidik jarinya di botol itu.
"Kau melihat nona Mira memasukkan racun ke dalam pesanan pak Fathan, benar begitu?"
"Itu .. tidak benar" Semua orang terkejut mendengarnya. Fathan membulatkan matanya mendengar itu. Sedangkan Clara dan teman temannya tersenyum.
"Apa maksudmu, bukankah sebelumnya kau mengatakan melihatnya?" Tanya jaksa.
Tini terlihat ragu untuk menjawabnya. "Aku .. aku berbohong. Akulah yang meletakkan racun itu atas perintah pak Fathan sendiri" Semua orang mulai berbisik saat mendengar pengakuan Tini.
"Anakku bekerja di perusahaan nya, ia mengancam akan memecat anakku dan .. membunuh nya. Aku tidak ada pilihan lain selain menuruti perintahnya" Tini terlihat menangis.
"Itu tidak benar! Dia berbohong!" Teriak Fathan. Hakim menyuruhnya diam.
"Tapi bagaimana kau melakukannya? Tidak ada sidik jarimu di botol racun itu" Tanya hakim.
"Itu sebenarnya hanya botol biasa. Aku menyimpannya di lemari dapur kemudian meminta nona Mira untuk mengambilkannya. Aku menyuruhnya untuk melihat lihat botol itu dan bertanya apakah botolnya bagus. Sepulang bekerja aku mengisi racun ke dalam botol itu. Saat nona Mira izin ke toilet, saat itulah aku menuangkan racunnya" Ucap Tini. Mira menatap tak percaya atas pengakuan Tini.
"Pak hakim, nona Mira tak bersalah. Saya yang melakukannya atas perintah pak Fathan sendiri" Ucap Tini. Hakim bertanya pada Fathan apa itu benar, tapi Fathan menyangkalnya.
Reyhan tiba tiba berdiri. "Pak hakim, izinkan saya bicara. Nama saya Reyhan Ananda Setya. Sebenarnya kami memiliki masalah di masa lalu dengan Fathan yang membuatnya sangat membenci kami. Dia pasti melakukan ini untuk menjebak Mira"
Hakim kemudian bertanya apa masalah mereka di masa lalu. Reyhan kemudian menceritakan semuanya.
"Aku yakin ia ingin balas dendam pada kami. Aku mengatakan hal ini bukan tanpa bukti. Aku membawa beberapa orang sebagai saksinya" Ucap Reyhan. Dimas dan Nio muncul sambil membawa dua anak buah Fathan.
__ADS_1