Cinta Yang Bertemu Kembali

Cinta Yang Bertemu Kembali
Bab 41


__ADS_3

"Mungkin bukan hari ini. Aku masih ragu, lebih baik lain kali saja. Aku masih bisa mengatakannya lain kali" Gumam Reyhan.


Dreeet dreeet


Reyhan mengambil handphone nya. Ia langsung menjawab telepon dari mamanya.


"Kenapa ma?"


"Rey, omah sudah meninggal"


Deg!


"Ma, mama bercanda kan?" Tanya Reyhan dengan suara bergetar.


"Tidak, nak. Omah meninggal jam sembilan tadi"


Tes!


Satu butiran bening keluar dari mata Reyhan. Hatinya hancur, jiwanya hilang separuh. Apa benar yang di ucapkan mamanya?


"Pergilah ke rumah sakit, Rey. Mama tunggu di depan kamar jenazah"


"Iya, ma. Rey, akan ke sana" Ucapnya terbata menahan tangis. Reyhan pun melajukan motornya.


Sesampainya di rumah sakit. Reyhan berlari menuju kamar jenazah. Di sana sudah ada keluarganya yang menunggunya.


"Ma .."


Widya menoleh, ia menghamburkan dirinya memeluk sang putra.


"Omah dimana?" Tanya Reyhan lirih.


"Rey, kamu harus sabar, nak. Ikhlaskan omah, nak" Ucap Widya menghibur anaknya.


"Omah gak mungkin meninggal, ma. Omah baik-baik aja semalam. Omah masih sehat, ma. Aku gak percaya omah udah meninggal" Ucap Reyhan tak percaya. Dari matanya mengalir air, lama lama air itu semakin deras diiringi suara isak tangisnya.


Seluruh keluarganya menatap iba ke arah Reyhan.


Reza sedang menenangkan Rayyan yang terus menangis. "Kita akan mengurus pemakaman omah besok" Ucap Reza. Ia harus terlihat tegar di depan keluarganya.


...****************...


Keesokan nya di sekolah. Clara tidak melihat Reyhan sama sekali di kantin, bahkan Reyhan tidak ada di perkiraan seperti biasa menunggunya.


"Apa kak Reyhan gak masuk sekolah ya?" Gumam Clara.


"Clara!"


Clara menoleh ke asal suara.


"Loh, kak Dimas. Kak Reyhan mana?"


"Reyhan hari ini gak masuk, Ra" Sahut Dimas.


"Kenapa?" Tanya Clara lagi.


"Kamu belum tahu, Ra? Omah Ken tadi malam meninggal. Reyhan nyuruh aku jemput kamu ke rumah duka" Ucap Dimas membuat Clara terkejut.


"Omah Ken meninggal? Jangan ngaco deh, kak. Terakhir kali aku jumpa sama omah, masih sehat sehat kok. Malah kelihatan bugar" Ucap Clara, matanya mulai memerah menahan tangis.


"Beneran, Ra. Omah meninggal tadi malam sekitaran jam sembilan"


Mendengar itu, tangis Clara pun pecah. Ia memang baru beberapa kali bertemu omah Ken, namun hubungan mereka cukup dekat.


Dimas mencoba menenangkan Clara. "Lo harus kuat, Ra. Lo harus bisa nyemangatin Reyhan, dia pasti yang paling terpukul dengan kejadian ini. Lebih baik sekarang kita pulang dulu untuk ganti baju, baru kita ke sana. Pemakamannya akan di lakukan jam dua siang"


Clara mengangguk dan Dimas mengantar nya sampai rumah. Pemuda itu berjanji akan menjemputnya nanti.


****


Clara dan Dimas sampai di rumah duka. Banyak orang yang datang melayat, entah itu sanak saudara, teman atau rekan bisnis.


Dimas mengantar Clara menemui keluarga Reyhan.


Clara mencium tangan Papa Reza kemudian memeluk omah Widya. "Turut berduka cita, Tante"


"Makasih banyak, nak"


Clara berkali-kali mengusap air matanya saat mama Widya menceritakan bagaimana omah Ken bisa meninggal. Malam itu tiba-tiba omah Ken mengalami serangan jantung mendadak. Dokter sudah berusaha namun Tuhan lebih menyayangi omah Ken. Tidak ada yang menyangka omah Ken akan meninggal malam itu. Padahal kemarin mereka baru liburan bersama dan omah Ken kelihatan sehat. Namun, ajal siapa yang tahu, hanya tuhan yang maha mengetahui.


"Tante, kak Reyhan dimana?" Tanya Clara saat ia tak melihat Reyhan di sana.


"Reyhan ada di kamarnya, kau pergilah temui dia. Sebentar lagi omah akan di makamkan. Raja! Bisa kau antar Clara ke kamar Reyhan" Pinta mama Widya.


"Baik Tante"

__ADS_1


Clara pun mengikuti pemuda di depannya.


"Apa kau pacarnya Reyhan?" Tanya Raja.


"Iya kak"


"Gue Raja, sepupunya Reyhan" Ucap Raja mengulurkan tangannya saat mereka sudah sampai di depan kamar Reyhan.


"Clara" Ucap Clara membalas uluran tangan Raja.


'Manis juga ni cewek'


"Lumayan, Lo bisa taklukin si kulkas"


Setelah mengatakan itu, Raja pun mengetuk pintu kamar Reyhan.


Tok tok


"Rey, buka pintunya"


Tak ada sahutan dari dalam.


"Rey" Panggil Raja sekali lagi.


Namun, hening. Tidak ada jawaban.


"Kak, ini Clara"


Setelah Clara mengucapkan itu, terdengar suara kunci yang di putar dari dalam. Reyhan membuka pintunya dan terlihatlah wajahnya yang kusut.


"Di panggil ayang dulu baru keluar" Cibir Raja.


Tak ingin menjadi nyamuk di antara mereka berdua, Raja memilih pamit undur diri.


"Gue tinggal dulu ya, Ra"


Setelah Raja pergi. Tiba-tiba Reyhan menarik tangan Clara masuk ke kamarnya dan langsung memeluknya.


"Sebentar aja, Ra"


Clara membalas pelukan Reyhan. Ia tahu Reyhan sedang terpuruk. Kehilangan orang yang kita sayang membuat dunia kita serasa hancur. Clara memahami nya karena ia pernah merasakannya saat ayahnya tiada dulu.


"Kakak kalau mau nangis, nangis aja. Gak papa kok, gak bakalan ada yang lihat"


Setelah mendengar ucapan Clara, Reyhan pun menangis dalam pelukan gadis itu. Kali ini Clara melihat diri Reyhan yang rapuh.


Reyhan memeluk Clara, erat. Ia hanya butuh ketenangan dan kenyamanan.


"Kak, bentar lagi omah Ken akan di kuburkan, kita keluar yuk"


Reyhan melepaskan pelukannya. Ia menggandeng tangan Clara keluar kamar menuju ruang tamu.


Keluarga nya sudah menunggunya. Setelah melihat Reyhan keluar bersama Clara, mereka pun segera mengantar omah Ken ke peristirahatan terakhirnya.


Sekarang, tubuh omah Ken sudah tertimbun tanah yang tertancap baru nisan bernama Niken Aprilia. Taburan bunga mawar membuat tempat peristirahatannya wangi.


Clara tetap berada di sisi Reyhan dan selalu menggenggam tangannya untuk memberikan kekuatan.


Reyhan tidak menangis, namun siapapun yang melihat wajahnya pasti paham, jika pemuda itu sedang menahan kesedihan yang mendalam.


'Omah Ken, terima kasih untuk semuanya. Walau aku dan omah baru bertemu beberapa kali, tapi aku sudah menganggap omah sebagai nenekku. Makasih omah, atas waktunya. Terima kasih karena sudah menceritakan kisah Kak Reyhan padaku. Terimakasih juga karena berkat omah, aku bisa menjadi pacar kak Reyhan. Omah, terima kasih dan selamat jalan, aku akan selalu mengingat omah dalam hati dan pikiranku' Clara mengusap air matanya yang menetes.


"Farel!" Sapa seseorang membuat pemilik nama tersebut menoleh.


"Vizah" ucapnya ragu.


"Iya rel, ini gue. Lo udah balik?" Vizah menghampiri Farel yang berdiri tak jauh dari Clara dan Reyhan.


"Gue baru balik beberapa hari yang lalu"


"Oh, gimana? udah sembuh penyakit lo?" Tanya Vizah lagi.


Farel mengalami penyakit leukemia stadium awal yang membuatnya harus dirawat beberapa kali, itu alasan ia sering cuti sekolah. Beruntungnya ia sembuh walau beberapa kali penyakit itu kambuh kembali.


"Udah" Jawab Farel. Matanya terus menatap Clara dan Reyhan.


Merasa diacuhkan oleh Farel membuat Vizah menatap ke arah yang ditatap Farel. Vizah tersenyum sinis saat mengetahuinya.


"Apa lo cemburu?" Tanya Vizah membuat Farel menoleh ke arahnya.


"Tentu gue cemburu, Clara cuma milik gue"


"Gue juga cemburu, Reyhan cuma milik gue, gimana kalau kita buat mereka berpisah?" Ucap Vizah memberi ide.


"Gue setuju, tapi gimana caranya?" Tanya Farel.

__ADS_1


Vizah berpikir sejenak, tiba-tiba Ia mendapat sebuah ide gila.


"Gue punya ide bagus, tapi kita tunggu waktu yang tepat. Ntar gue kasih tau ke Lo" Vizah menyeringai.


Satu persatu pelayat meninggalkan area pemakaman dan menyisakan keluarga Reyhan, Clara, Dimas dan ayahnya.


"Gue turut berduka cita, Za" Ucap papa Dimas yang bernama Danu memeluk sahabatnya itu.


"Makasih Dan" Mereka pun melepaskan pelukannya.


"Dimas, kau ingin pulang sekarang?" Tanya Danu.


"Papa duluan aja. Aku mau nemenin Reyhan bentar"


Danu mengangguk dan pamit pulang.


"Rey, ayo kita pulang" Ajak mama Widya.


*****


Sekembalinya mereka dari pemakaman. Reyhan langsung masuk ke kamar. Widya bertanya pada Clara apa dia sudah makan atau belum.


"Belum Tante, sepulang sekolah aku langsung ke sini bareng kak Dimas"


"Kalau gitu kamu makan dulu gih. Terserah kamu mau makan apa, tinggal minta aja sama mbok Iyem" Ucap mama Widya.


"Clara aja yang di tawarin, aku enggak?" Tanya Dimas cemberut.


"Eh, maaf, tante lupa kalau ada Dimas. Ya udah, kalian makan dulu ya. Clara, kalau udah selesai makan, kamu bisa anterin makanan untuk Reyhan? Dia belum makan dari pagi"


"Bisa Tante"


Setelah Clara selesai makan, ia segera menyiapkan makanan untuk Reyhan. Dimas pamit pulang karena sudah ada Clara yang menemani Reyhan, jadi ia tidak perlu khawatir.


tok tok


"Kak"


Cklek!


Pintu terbuka.


"Kakak makan dulu ya" Ucap Clara sambil masuk ke kamar Reyhan.


"Gak selera" Ucap Reyhan duduk di tepi ranjang.


"Kakak harus makan! Kalau gak, aku marah ni" Ancam Clara.


"Tapi, Ra"


"Kak Rey!" Ucap Clara menatap tajam Reyhan sambil menyodorkan sendok berisi nasi dan lauk pauknya.


Reyhan menurut dan membuka mulutnya. Ia hanya makan sedikit karena tidak selera.


Clara menyodorkan air minum untuk Reyhan. "Kakak harus makan supaya gak sakit. Kakak boleh sedih, tapi sedih juga butuh tenaga. Jangan terlalu hanyut dalam kesedihan, itu tidak baik"


"Makasih Ra"


"Makasih kenapa?" Tanya Clara.


"Karena udah menguatkan aku dan selalu ada di sisiku"


Clara tersenyum mendengar ucapan Reyhan.


"Aku ke kamar mandi dulu ya" Ucap Reyhan beranjak dari duduknya.


Clara mengamati setiap sudut ruangan Reyhan. Matanya terpaku dengan sebuah foto. Ia berjalan menuju tempat foto itu berada. Foto dirinya bersama Reyhan di bilik foto saat double date bersama Dimas dan Mira. Ia tidak menyangka Reyhan sampai memajang fotonya.


Tak sengaja sudut matanya menangkap suatu benda yang tak asing. Ia mengambil benda itu dan menatapnya lekat.


"Gantungan kunci .. milikku" Ucap Clara lirih.


'Kenapa bisa di sini? Bukankah aku menghilangkannya?' Batinnya bertanya tanya.


"Ra, ngapain di situ?" Tanya Reyhan yang baru keluar dari kamar mandi.


Clara membalikkan badannya dengan masih memegang gantungan kunci miliknya itu.


"Kak, ini ... punya siapa?"


"Oh, itu punya orang yang pernah aku sayang saat SD dulu. Dia menjatuhkannya, saat aku ingin mengembalikannya, aku malah membuatnya tertabrak mobil" Jawab Reyhan tersenyum getir.


"Si siapa namanya?"


"Ara"

__ADS_1


Deg!


'Jadi benar, kak Reyhan adalah bocah keren yang dulu aku sukai'


__ADS_2