
"Kira kira di mana Rayyan meletakkan nya?" Ucap Raja menebak nebak. Ia menyibakkan rerumputan yang menghalangi jalannya.
"Kau yakin ke arah sini?" Tanya Clara yang ragu. Melihat begitu rimbun nya rumput yang tumbuh di situ.
"Tentu, Rayyan pintar menyembunyikan sesuatu" Jawab Raja.
Setelah lelah mencari akhirnya mereka mendapatkan satu bendera yang di bawah batu.
"Dapat satu! Kita tinggal mengumpulkan dua lagi dan kita akan menang" Ucap Raja bahagia.
"Kenapa kau terlihat senang sekali? Memangnya apa hadiahnya?" Tanya Clara. Mereka kembali berjalan. Kali ini jalanan sedikit mendaki.
"Aku juga tidak tahu apa hadiahnya. tapi aku akan meminta hadiah motor sport terbaru. Aku yakin papah akan mengabulkannya" Raja membantu Clara untuk naik ke tanah yang lebih tinggi.
"Kalau kau akan minta apa?" Tanya Raja.
"Entahlah, aku belum memikirkannya" Jawab Clara.
"Bukankah itu benderanya?" Tunjuk Clara pada bendera kuning yang di sangkutkan di dahan pohon.
"Mana?" Mata Raja langsung membulat saat melihat di mana letak bendera itu.
"Astaga! Bagaimana cara Rayyan menyangkutkan nya? Apa dia tidak di sengat lebah?" Ucap Raja saat melihat bendera yang berada tepat di samping sarang lebah.
"Lupakan saja kalau gitu. Kita bisa mencari bendera lain" Ucap Clara menarik tangan Raja untuk pergi.
"Tidak. Kita harus mengambilnya. Kau tunggu di sini" Ucap Raja. Ia berjalan hati hati menuju bendera.
"Kenapa dia keras kepala sekali? Jika dia di sengat lebah, aku juga nanti yang susah" Gerutu Clara.
Clara melihat sekeliling. Pemandangan nya cukup indah. Ia meraba saku celananya dan terkejut saat ponselnya tidak ada di sana.
"Yah, pasti ketinggalan. Gak bisa foto foto dong" Ucap Clara lesu. Melihat Raja masih sibuk untuk mengambil benderanya, ia memilih untuk berjalan jalan sebentar.
"Ja, gue jalan bentar ya. Gak jauh kok" Ucap Clara. Namun karena Raja terlalu fokus, ia tidak mendengar ucapan Clara.
"Ayolah" Raja yang sudah memanjat pohon mencoba untuk lebih dekat dengan bendera.
"Sialan si Rayyan! Apa gak ada tempat lain untuk meletakkan benderanya selain di sini?" Gerutu Raja.
Akhirnya ia berhasil mengambilnya. Raja segera turun dari pohon.
"Ternyata tak sesusah yang aku bayangkan. Mungkin lebahnya lagi liburan makanya gak ada yang muncul" Ucap Raja bernafas lega.
"Ra, aku berhasil nih!" Ucap Raja. Namun ia terkejut saat melihat Clara tak ada di sana.
"Ra! Ck, kemana dia?" Raja segera berjalan untuk mencari Clara.
"Tempatnya sangat indah. Sayang cuma satu hari lagi kami di sini" Ucap Clara merentangkan tangan nya.
Clara terus berjalan sambil melihat sekeliling hingga ia tidak sadar jika dia sudah berjalan cukup jauh.
"Tunggu, suara apa itu?" Clara berhenti dan melihat sekeliling. Ia mulai ketakutan saat ia sadar ternyata ia sudah berjalan jauh dari lokasi Raja.
"Sial, karena keasikan gue sampai gak sadar kalau udah jalan jauh"
*sss, sss, sss*sss
"Apa itu suara ular?" Tanya Clara pada dirinya.
Clara segera berlari meninggalkan tempat itu.
"Sial! Tadi gue datang dari arah mana?" Tanya Clara yang lupa. Ia berhenti dan melihat sekeliling.
"Duh, hari makin gelap. Gimana kalau gue gak bisa pulang juga?" Ucap Clara khawatir.
•
"Clara!! Clara! Woi, Ra!" Raja berteriak memanggil nama Clara. Ia sudah setengah jam mencari wanita itu. Waktu sudah menunjukkan pukul lima dan Clara belum ketemu.
"Mungkin aku harus kembali dan meminta bantuan yang lain" Raja segera kembali menemui keluarganya.
...----------------...
"Om, mana hadiah kita?" Tanya Adel pada Arnold. Ia menunjukkan tiga bendera kuning yang sudah di dapatkan nya.
"Oke, kita tunggu Raja dan Clara" Ucap Arnold.
"Mereka belum kembali?" Tanya Reyhan cemas.
"Ya, mungkin sebentar lagi juga kembali" Sahut Reza.
"Haruskah aku menjemput mereka?" Tanya Reyhan.
"Tidak perlu Reyhan. Raja bisa menjaganya" Widya segera menghampiri anaknya dan menepuk bahunya. Ia tidak ingin kecemasan Reyhan pada Clara akan membuat Adel curiga.
"Ma, Pa!" Ucap Raja menghampiri mereka dengan nafas tersengal.
"Raja. Ada apa? Kenapa kau sendiri?" Tanya Risa menghampiri anaknya dan memberikan sebotol air padanya.
__ADS_1
"Clara, ma.. dia menghilang!" Ucap Raja membuat Reyhan segera menghampiri pria itu dan mencengkram kerah nya.
"Bagaimana dia bisa hilang? Apa lo tidak menjaganya?" Tanya Reyhan geram.
"Gue juga gak tahu kenapa dia bisa hilang. Saat gue berhasil ngambil bendera, dia sudah gak ada di sana. Gue udah coba hubungi ponselnya, tapi tak di angkat" Ucap Raja menjelaskan.
"Kita harus mencarinya" Tanpa aba aba, Reyhan langsung berlari menerobos pepohonan.
Adel yang melihat itu, segera berlari mengikuti nya.
"Reyhan! Adel!" Teriak Widya. Namun putra nya itu tak mau mendengarkan dan terus berlari.
•
"Udah magrib. Gue gak bawa hp ataupun senter. Gimana gue mau pulang?" Clara masih berjalan di tengah tengah hutan.
"Kenapa semakin menyeramkan saja ni hutan? Apa gue akan di tangkap makhluk halus?" Clara semakin ketakutan melihat malam semakin pekat. Suara suara hewan hutan menambah kesan mistis di sana.
Koak koak!
Clara melihat keatas saat burung gagak terbang melewati nya. Ia melihat dahan dahan pohon yang terlihat menyeramkan.
"AAWW!"
Karena terlalu fokus melihat ke atas membuat Clara tersandung karena tidak melihat jalan.
"Aw! Sakit sekali, sepertinya kaki ku terkilir. Bagaimana aku bisa berjalan kalau begini?" Ucap Clara meringis.
Ia mencoba berdiri, namun kaki nya begitu sakit. Ia segera menyeret tubuhnya untuk bersandar di batang pohon.
Terdengar suara hewan hutan saling bersahutan. Samar, ia juga mendengar suara telapak kaki yang mendekat namun tidak ada siapapun.
"Tolong aku... Hiks, tolong, aku takut" Karena ketakutan membuat Clara menangis.
•
"Ra! Clara! Ra, jawab Ra!" Teriak Reyhan. Ia terus mencari di ikuti Adel.
"Kak, kita tunggu bantuan yang lain saja. Bahaya jika kita mencari hanya berdua. Bisa saja kita ikut tersesat" Ucap Adel memberi saran.
"Gak! Gue akan tetap mencari Clara. Kalau lo mau pulang, pulang aja sendiri!"
Reyhan kembali memanggil nama Clara.
"Kenapa kau terlihat begitu cemas saat kak Clara menghilang? Apa kau juga akan bersikap begitu kalau yang menghilang itu aku?" Gumam Adel menatap punggung Reyhan yang mulai menjauh. Ia segera mengejar Reyhan agar tak ketinggalan.
Suara burung hantu mulai terdengar menambah kesan mistis di sana.
Sedangkan Reyhan dan Adel masih mencari Clara. Adel terus menempel pada Reyhan karena ketakutan. Hutan itu memang terlihat sangat menyeramkan.
Samar, mereka mendengar suara tangis seseorang.
"Kak, itu suara siapa?" Tanya Adel berbisik ketakutan.
"Sshutt" Reyhan menyuruhnya diam. Ia menajamkan pendengarannya. Ia berjalan perlahan menuju belakang pohon di ikuti Adel di belakangnya.
"Clara!" Ucap Reyhan tersenyum lega. Ia langsung memeluk wanita itu yang terlihat ketakutan.
"Syukurlah kau ketemu. Sudah ku katakan, jangan pernah menghilang lagi. Kau hampir membuatku jantungan" Ucap Reyhan mengeratkan pelukannya.
"Aku takut kak.." Ucap Clara membalas pelukan Reyhan dan menangis di pelukan pria itu.
"Cup cup, kau aman sekarang. Aku bersamamu" Ucap Reyhan mengelus rambut Clara.
Clara segera mendorong Reyhan saat melihat Adel ternyata ada di sana.
Reyhan meringis memegangi bokong nya.
Adel menatap mereka berdua dengan tatapan tak percaya. Baru kali ini ia melihat Reyhan begitu peduli dengan seseorang.
Adel menatap sendu Clara. Ia mulai berpikir negatif jika Clara sudah merebut Reyhan darinya dan membohongi nya selama ini. Tidak mungkin Reyhan sekhawatir itu pada orang asing, mereka pasti memiliki hubungan spesial.
"Aku harap kau tidak salah paham" Ucap Clara menatap cemas Adel. Ia mencoba berdiri untuk menghampiri Adel, namun karena kakinya yang terkilir, malah membuatnya hampir jatuh.
Beruntungnya Reyhan segera menangkap tubuh nya.
"Tenang saja. Aku percaya padamu" Ucap Adel mencoba tegar.
"Maaf, tadi aku kelepasan. Sungguh aku tidak sengaja" Ucap Reyhan menatap Adel.
'Kenapa kalian benar benar teguh menutupi hubungan kalian ini?' Batin Adel.
"Aku akan menghubungi om dan tante" Ucap Adel.
Tak lama, keluarga mereka sampai di tempat mereka bersama beberapa orang warga.
Widya langsung memeluk Clara saat melihat wanita itu.
"Kamu baik baik aja nak? Gak ada yang luka kan?" Tanya Widya mengecek tubuh Clara.
__ADS_1
"Gak papa tante, cuma terkilir dikit" Jawab Clara tersenyum pada Widya yang terlihat begitu cemas.
"Syukurlah, apa kau bisa berjalan?"
Clara menggeleng mendengar pertanyaan Widya.
"Raja, kau gendong Clara turun" Perintah Widya.
"Ma_" Ucap Reyhan.
"Dengarkan Mama, Reyhan. Biarkan Raja saja, kau bawalah Adel. Mengerti?" Ucapnya menatap lekat Reyhan.
"Mengerti ma"
'Bahkan tante Widya begitu cemas saat kak Clara menghilang. Apa yang sebenarnya mereka sembunyikan dariku?' Batin Adel.
Raja kemudian menggendong Clara turun. Ia terus bersama wanita itu sampai ke villa.
...----------------...
"Kau baik baik saja?" Tanya Reyhan menghampiri Clara yang duduk di belakang villa.
"Ya, kaki ku sudah mendingan" Jawab Clara.
"Syukurlah"
"Kak.. bisa kau menjauhiku" Pinta Clara menatap lekat Reyhan.
"Kenapa?"
"Aku tidak ingin menghancurkan kepercayaan Adel, tante dan om Reza. Aku tidak ingin jadi duri di hubungan kalian. Di lihat dari tatapan Adel tadi, dia terlihat sangat membenciku. Aku tidak ingin pertemanan kami hancur" Ucap Clara getir. Selama perjalanan pulang sampai sekarang, Adel tidak berbicara dengannya. Bahkan menatapnya saja dia enggan.
"Jadi kau mengorbankan perasaan mu dan juga perasaan ku?" Tanya Reyhan tak percaya.
"Harus ada yang berkorban, jadi biar aku saja. Kau harus membuka hatimu untuk Adel dan lupakan aku" Ucap Clara diam diam menyeka air matanya.
"Apa menurutmu semudah itu aku menerima Adel? Selama lima tahun aku tidak pernah membuka hatiku untuk orang lain, karena kau masih ada di sana dan sekarang pun kau masih ada di sana. Kenapa kau begitu mudah menyuruh ku melupakanmu?" Tanya Reyhan.
"Ini demi kebaikan kita kak. Mengertilah. Bukankah kau membenciku? Maka tetaplah membenci ku untuk selamanya"
"Tapi sekarang aku menyukaimu! Aku tidak membencimu lagi setelah mengetahui kebenarannya. Aku malah menyesal dan ingin memperbaiki hubungan kita" Ucap Reyhan memegang erat bahu Clara.
"Tapi itu tidak mungkin kak! Pernikahan mu tinggal sebentar lagi. Jangan egois, jika kau bersama ku hanya akan membuat dirimu hancur. Bisnis mu, keluarga mu, dirimu, semua akan hancur karena aku. Jadi lebih baik, kau lupakan aku. Anggap aku tidak pernah ada dalam hidup mu" Ucap Clara menatap lekat mata Reyhan.
"Kau yang egois. Kau harusnya percaya padaku. Bisnis dan keluarga ku akan baik baik saja jika pernikahan ku dan Adel batal. Yang akan hancur adalah aku karena tidak bisa bersamamu. Tapi jika ini memang keinginan mu, aku akan mengabulkannya"
"... Sama seperti lima tahun yang lalu, aku tidak pernah mengenal Clara, mantan pacar bayaran ku. Kita tidak saling mengenal. Aku harap kau puas" Reyhan berdiri dan meninggalkan Clara.
Setelah Reyhan pergi, Clara menangis dalam diam. Ia tidak ingin suaranya terdengar siapapun. Ia juga tidak ingin berpisah dari Reyhan, tapi ia sadar, ia dan Reyhan sudah tidak memiliki hubungan apapun dan tidak mungkin kembali bersama.
...****************...
"Ra, apa kau yakin baik baik saja" Tanya Widya pada Clara saat ia memaksa untuk ikut.
"Aku baik tante"
"Baiklah, ayo kita pergi ke pantai sekarang" Ajak Widya.
Raja segera menggandeng tangan Clara menuju mobilnya.
Reyhan hanya menatap dingin ke arahnya.
Sesampainya mereka di pantai. Mereka bersenang senang sepanjang hari. Berenang, membeli eskrim, jalan jalan dan makan makanan seafood. Hari itu begitu menyenangkan.
"Kau mau kemana lagi?" Tanya Reyhan pada Adel.
"Jangan pedulikan aku, kau pergi saja bersama Clara" Ucap Adel melepaskan tangan Reyhan yang menggenggamnya.
"Apa maksud mu?"
"Aku tahu dan aku yakin, kalian pasti menyembunyikan sesuatu dariku. Kalian menyembunyikan hubungan kalian. Setelah pulang dari sini, aku akan mengatakan kepada papah jika pernikahan kita batal" Ucap Adel ingin meninggalkan Reyhan, namun Reyhan langsung mencegatnya.
"Menyembunyikan hubungan? Jangan bicara omong kosong. Kami hanya rekan kerja. Jangan berpikir negatif lagi, pernikahan kita akan tetap lanjut" Ucap Reyhan.
"Lanjut? Jangan harap. Apa kau pikir aku ingin hidup dengan orang yang tidak mencintai ku?" Ucap Adel sinis.
"Percayalah padaku. Maaf jika aku selalu bersikap dingin padamu. Aku janji akan lebih hangat saat bersamamu. Lagian, Clara juga sudah memiliki kekasih. Aku bukan tipe lelaki yang akan merebut kekasih orang" Ucap Reyhan meyakinkan Adel.
"Kalau begitu buktikan! Buktikan padaku jika kau masih ingin bersamaku. Buktikan kalau kau memang menyukaiku" Tantang Adel.
Cup!
Mata Adel membulat saat Reyhan mencium bibir nya. Ini merupakan ciuman pertamanya.
"Apa ini cukup?" Tanya Reyhan menatap lekat Adel.
"Kau tunggulah di sini sebentar. Aku akan membelikan bunga untukmu" Ucap Reyhan meninggalkan Adel yang masih termangu.
"Apa kau puas?" Tanya Reyhan saat melewati Clara.
__ADS_1
"Ya"
Clara tak sengaja lewat tadi. Dengan mata kepalanya sendiri ia melihat Reyhan mencium Adel. Sakit, tapi ia harus menerima kenyataannya. Kenyataan jika ia dan Reyhan tidak akan bersatu lagi.