
Malam dengan penuh bintang dan bulan bersinar terang menghiasi langit malam. Begitu idah saat mata memandangnya.
Malam ini Clara dan Devan sedang kencan. Mereka memutuskan untuk makan dulu, baru jalan jalan menikmati kebersamaan mereka.
Mereka makan di restoran outdoor hingga terpampang jelas keindahan alam sekitar.
Clara duduk dan menatap kagum ke sekelilingnya. Ada lampu hias yang sangat cantik dan juga hiasan lainnya yang membuat tempat itu sangat romantis. Pemandangan alam di sekitarnya juga menambah keelokan tempat itu. Ditambah lagi dengan kerlap kerlip bintang dan cahaya bulan. Sungguh malam yang romantis.
"Cantik bukan?" Tanya Devan sambil memandangi Clara.
"Hem, saaangat cantik. Makasih ya Dev karna udah mengajakku ke sini" ucap Clara bahagia. Dia masih menatap kagum ke sekelilingnya.
Devan memang sengaja mengajaknya ke restoran terkenal di Jakarta itu. Tempatnya memang sangat indah dan instagrameble.
"Pemandangannya emang cantik. Tapi, wajah mu lebih cantik hingga mengalihkan duniaku" gombal Devan.
Clara tertawa kecil mendengar gombalan Devan.
"Kalau kamu ketawa tambah manis Ra. Bisa diabetes kalau lihat kamu ketawa terus"
"Aku juga bisa kena serangan jantung kalau dengerin gombalan kamu Dev" balas Clara.
"Loh, kok gitu"
"Karna gombalan kamu membuat jantungku berdebar debar gak karuan"
Devan tertawa diikuti Clara.
"Hadehh, gara gara Lo, jones kek gue harus ngelihat cobaan hidup dari dekat kek gini" keluh Dimas.
Ya, Reyhan dan Dimas memang sengaja mengikuti Clara dan Devan. Bukankah mereka akan mengawasi Clara dan Devan mulai sekarang.
"Udah, nikmati aja. Hitung hitung jadi pelajaran kalau Lo dapet cewek nanti, jadi gak kaku kaku amat" Ucap Reyhan.
Mereka berdua mengawasi Clara dari meja yang cukup jauh. Sebenarnya Reyhan ingin dekat dengan mereka supaya bisa mendengar apa saja yang mereka bincangkan. Tapi, Dimas menyarankan untuk mengawasi dari jauh saja karna takut ketahuan.
"Seharusnya Lo bilang ke diri Lo sendiri. Bukannya Lo ya, yang kaku kalau sama cewek. Gara gara kejadian itu Lo jadi kayak gini Rey" Dimas geleng-geleng kepala.
"Udah, jangan ngomongin masa lalu"
"Oh ya, kita gak mesen makanan nih. Gue laper Rey, Lo mau temen Lo ini mati gara gara kelaparan?" Ucap Dimas sambil memegangi perutnya.
"Yaudah, pesan sono. Sekalian buat gue juga" Mata Reyhan masih menatap lekat ke arah Clara dan Devan yang sedang bercengkrama.
"Jangan diliatin terus, gak bakalan hilang kok" goda Dimas.
Sedangkan makanan yang di pesan Clara dan Devan telah sampai. Mereka makan sambil bersenda gurau. Sesekali Devan melancarkan gombalan mautnya.
Setelah selesai makan, Clara dan Devan berjalan jalan di taman sambil menikmati keindahan malam. Tentu dengan Reyhan dan Dimas yang masih setia mengikuti mereka.
"Cantik" Ucap Devan.
"Apanya yang cantik?" Tanya Clara. Dia menatap Devan yang juga menatapnya.
"Kamu" jawab Devan.
Clara tersenyum. "Kamu juga ganteng. Sangking gantengnya mataku gak bisa lepas dari kamu"
Mereka berdua berpegangan tangan. Berjalan santai dan menikmati kebersamaan nya.
__ADS_1
Srek srek
"Apa itu Dev?" Clara langsung mendekatkan dirinya pada Devan saat mendengar ada suara di semak semak.
"Bukan apa apa. Paling kucing" jawab Devan.
Clara dan Devan berjalan lagi.
"Eemmm, emm. Fiih, tangan Lo asin Dim!" Ucap Reyhan sambil mengusap mulutnya.
"Shuut, jangan kenceng kenceng. Lagian Lo apa gak bisa nahan diri ha? Kalau gak gue tahan, Lo udah keluar kan? Bisa kacau rencana kita nanti Rey" Tanya Dimas kesal.
Ya, mereka memang sembunyi di balik semak semak untuk mengawasi Clara dan Devan. Reyhan hampir saja keluar dan untungnya berhasil di hadang Dimas.
"Lagian gue kesel sama Clara. Ganteng darimana coba, orang tu cowok mukanya banyak di pasar" kesal Reyhan.
"Udah, ayo kita ikuti lagi sebelum mereka jauh" Ajak Dimas.
Reyhan dan Dimas berjalan mengendap-endap sambil terus mengawasi Clara dan Reyhan.
Reyhan dan Dimas berhenti saat dua orang yang dari tadi mereka awasi berhenti dan duduk di bangku taman.
Reyhan dan Dimas memutuskan bersembunyi lagi di semak semak.
"Ngapain harus di semak semak sih Rey. Kalau kita ketahuan lagi disemak semak berduaan gini bisa dikawinin kita" gerutu Dimas sambil berbisik.
Reyhan menjitak kepala Dimas sangking geramnya.
"Aww! Sa_"
Reyhan buru buru menutup mulut Dimas menggunakan tangannya. Setelah dirasanya aman, dia langsung melepaskannya.
"Shuut, Lo gak bisa diem apa, ntar kita ketahuan Dimas!" Reyhan berbisik dengan kata kata yang ditekan.
"Lagian Lo jitak kepala gue Reyhan!" Dimas juga menekankan kata katanya, tentu dengan berbisik juga.
"Lagian Lo ngomongnya gak jelas tau gak. Mana ada yang mau ngawinin kita Bambang! kita kan cowok" Kali ini Reyhan benar benar kesal.
"Lah, kan ada cowok nikah sama cowok Rey" balas Dimas.
"Iya, itu Lo" Reyhan juga membalas.
"Eh enak aja gue masih normal ya!"
Reyhan menampar mulut Dimas karna suaranya yang kencang. Beruntungnya dua orang yang mereka awasi tidak mendengarnya.
Dimas hanya mengusap mulutnya sambil menatap tajam Reyhan.
Setelah berdebat beberapa saat, Reyhan dan Dimas kembali mengintai mangsa mereka, siapa lagi kalau bukan Clara dan Devan. Mereka akan siap menyerang jika saja Devan melakukan tindakan diluar batasan.
Kedua manusia yang diawasi Reyhan dan Dimas sedang duduk manis, gadis itu menyandarkan kepalanya di bahu pemuda itu dan si pemuda sesekali mencium kening si gadis.
Apa kalian bertanya apakah Reyhan marah atau tidak melihat kejadian ini? Tentu dia marah. Bahkan hampir saja dia melompat dan meninju pemuda itu jika saja tidak di tahan Dimas.
"Sabar napa sih Rey, kalau Lo kek gini terus gue tinggal nih. Apa Lo pikir gue gak ngenes ngeliatin orang pacaran. Please Rey, jangan ngerusak rencana Lo sendiri" Pinta Dimas mengiba.
Reyhan kembali tenang dan bersembunyi lagi. Matanya terus menatap lekat dua insan di depan sana.
Reyhan memegangi dadanya. Sakit? tentu saja. Tapi, ini bukan sakit fisik melainkan sakit batin.
__ADS_1
'Kenapa gue gak rela Lo sama Devan Ra? Kenapa ini rasanya sakit' batin Reyhan.
Dimas menyadari kalau ini pasti berat untuk Reyhan. Dimas bisa menebak apa yang di rasakan Reyhan, dia tahu pasti rasanya sakit saat melihat orang yang kita cintai malah bermesraan bersama orang lain. Apalagi ini pertama kalinya Reyhan merasakan cinta lagi setelah bertahun tahun cinta itu hilang.
Buughhh
Dimas terkejut saat tiba tiba Reyhan melompat dan meninju pemuda yang sedang mereka awasi.
Dimas menepuk jidatnya dan segera keluar dari persembunyiannya.
Dimas langsung menghampiri Reyhan yang masih mengepalkan tangannya dan bersiap meninju pemuda itu lagi.
"Napa Rey?" tanya Dimas bingung, karna tadi dia bukannya mengawasi tapi dia malah sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Siapa Lo ha? berani beraninya Lo nyium cewek gue!! Gue bisa aja bunuh Lo sekarang juga kalau gue mau. Tapi, gue harus nyiksa Lo dulu karna udah berani beraninya nyentuh milik gue" Ucap Reyhan membara. Tadi saat Dimas sibuk dengan pikirannya, Reyhan terus mengawasi dan dia terkejut saat pemuda itu mendekati Clara dan ingin menciumnya.
"Lo apa apaan sih! Siapa juga yang jadi cewek Lo. Jangan ngarang ya, atau gue laporin Lo ke polisi!" Teriak gadis itu, dia kemudian membantu pemuda yang terjungkal akibat tinjuan Reyhan.
"Lo di_em" Reyhan terkejut karna yang dari tadi mereka awasi bukanlah Devan dan Clara melainkan orang lain!.
"Yah Rey, kita salah orang" Ucap Dimas gemetar, apalagi saat melihat pemuda yang di tinju Reyhan tadi sudah berdiri dan menatap mereka berdua nyalang.
"Apa Lo bilang? cewek Lo?" Pemuda itu terlihat mengepalkan tangannya dan bersiap meninju Reyhan.
Reyhan yang ingin di tinju balik malah terlihat terdiam, hanyut dengan pikirannya. 'Kalau ini bukan Clara, terus sekarang dimana dia. Jangan sampai dia di apa apain sama tu cowok"
Saat pemuda itu ingin meninjunya, bertepatan dengan Reyhan yang langsung berlari untuk mencari keberadaan Clara. Hal itu tentu saja membuat kepalan tangan pemuda itu meleset dan membuatnya jatuh.
Dimas tertawa melihat itu. Tapi, dia langsung berlari saat melihat pemuda itu bangkit dan ingin menghajarnya.
Dalam larinya Dimas masih sempat berkata "Maaf ya bang! Kita salah orang. Semoga Abang langgeng ya sama si mbaknya!"
Sedangkan Reyhan masih mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Clara. Dia terus berlari hingga tak sengaja matanya melihat Clara yang masuk ke mobil Devan dan mobil itu pun melaju.
Reyhan kesal, dia segera berlari mencari motornya dan mengejar mobil itu.
Dimas yang baru menyusul juga menjadi kesal saat Reyhan meninggalkan nya.
"Gini deh punya sahabat yang udah punya cewek. Sahabat seketika dilupain dan cewek jadi prioritas. Eh, pas butuh aja datengnya setelah itu di tinggalin, nasib nasib"
Dimas segera menyusul Reyhan mengunakan motornya.
Reyhan menghentikan motornya tak jauh dari rumah Clara. Devan telah mengantar Clara sampai rumahnya. Reyhan bernafas lega karna tak ada satupun yang kurang dari Clara.
Setelah itu, mobil itu meninggalkan kediaman Clara. Reyhan kembali mengikuti mobil itu, kemudian dia menghadangnya.
Seketika mobil itu berhenti. Pemilik mobil itu keluar dengan gaya angkuh nya.
"Ck ck, lihat siapa ini, Reyhan Ananda Setya anak dari pemilik perusahaan Setya. Sekolah di SMA Nusa bangsa dan cowok terdingin di sekolah. Memiliki nama panggilan kulkas isi cabe rawit dan memiliki sahabat baik bernama Dimas Anggara." Ucap Devan, dia melipat kedua tangannya di dada.
'Bagaimana dia tau semua tentangku?' Batin Reyhan.
"Jauhi Clara atau Lo akan berurusan dengan gue" Ucap Reyhan.
Devan hanya mengangkat alisnya "Kenapa gue harus jauhin dia, secara kan dia itu pacar gue jadi gak apa apa dong. Lagian Clara cuma pacar bayaran Lo kan"
"Serah apa kata Lo. Yang jelas, kalau Lo buat macem-macem sama Clara, gue jamin hidup Lo gak akan tenang" Reyhan menaiki motornya lagi dan meninggalkan Devan yang masih menatapnya sinis.
"cih, Lo gak akan mendapatkan Clara karna dia akan bertekuk lutut di kaki gue. Lagian dia itu terlalu cantik untuk gue lepas. Udah lama juga gue gak dapat gadis sepolos Clara."
__ADS_1
Devan pergi dengan seringai jahatnya.