Cinta Yang Bertemu Kembali

Cinta Yang Bertemu Kembali
Bab 60


__ADS_3

".... Kenapa kau mengatakan hal itu? .. kenapa kau menuduhku melakukan hal itu dengan Farel? Selama lima tahun aku terus mempertanyakan hal ini. Aku ingin tahu apa alasannya. Aku ingin tahu apa yang membuatmu begitu marah dan membenciku" Ucap Clara menatap Reyhan.


Reyhan terdiam beberapa saat. 'Kenapa ia bertanya seperti ia tidak mengetahui apapun? Apa dia hanya berpura pura atau memang selama ini aku yang salah paham. Tapi, itu tidak mungkin. Mataku masih sehat, aku yakin di video itu adalah Clara dan Farel'


"Kau ingin tahu jawabannya, baiklah aku akan memberitahumu, tapi tidak sekarang. Aku yakin kau tak kan percaya jika tak ada buktinya. Tunggulah beberapa hari lagi dan kau akan mengetahui semuanya" Ucap Reyhan.


"Lebih baik kau pulang saja. Aku bisa mengerjakan pekerjaan ku sendiri" Ucap Reyhan.


Clara menurut, ia juga tak ingin berlama lama bersama Reyhan.


Pukul 6 sore. Kantor terlihat menyeramkan. Walau lampu sudah di hidupkan, tetap saja tidak mengurangi aura horor di kantor. Malah tambah menyeramkan karena lampu yang remang remang.


"Astaga, kenapa ini persis seperti di film yang aku tonton. Bagaimana jika tiba tiba lampu mati atau saat aku berada di lift, lift tiba tiba berhenti dan muncul sosok menyeramkan, hiiii. Aku memang suka menonton film horor tapi jika aku mengalami kejadian horor di dunia nyata, tentu aku takut. Apalagi aku tidak memiliki kekuatan gaib seperti di film atau novel" Ucap Clara berbicara sendiri.


Clara buru buru menuju lift. Saat pintu akan tertutup, tiba tiba ada sesosok tangan yang menahan pintu lift tersebut. Tentu itu membuat Clara tegang. Pintu lift perlahan terbuka kembali dan ...


"Astaga, ternyata lo!"


Reyhan memasuki lift dan berdiri di samping Clara.


"Aku ada urusan sebentar" Ucap Reyhan.


Clara merasa lift turun dengan begitu lambat. Saat berada di lantai 4, lift tiba tiba berhenti.


"Ada apa ini?" Tanya Clara panik.


Reyhan segera memencet tombol bantuan.


"Halo, kenapa lift berhenti? Apa ada masalah? Halo?!" Teriak Reyhan. Namun tak ada jawaban.


Tep!


Clara segera mendekat


pada Reyhan saat lampu tiba tiba padam. Reyhan segera menghidupkan lampu ponselnya.


"Apa lo baik baik aja?" Tanya Reyhan. Ia terkejut saat melihat Clara yang terlihat pucat.


"Lo kenapa?" Namun tak ada jawaban dari Clara. Clara tiba tiba terduduk karena lemas.


Reyhan terlihat kebingungan dan panik. Ia segera menelpon seseorang untuk memperbaiki lift.


"Aku .. aku takut ruangan sempit" Ucap Clara lirih.


Tiba tiba Reyhan teringat lima tahun lalu saat mereka berada di mall. Ia ingat Clara juga mengatakan hal yang sama.


"Cobalah untuk tetap tenang dan jangan lupa bernafas. Sebentar lagi bantuan akan datang" Ucap Reyhan. Ia mengipasi wajah Clara dengan tangannya. Ia kemudian duduk di samping Clara.


Reyhan yang tak tega melihat Clara begitu ketakutan segera memeluknya dan menenangkannya seperti yang biasa ia lakukan lima tahun lalu.


"Semua akan baik baik saja"


Cukup lama mereka menunggu, sekitaran sepuluh menit. Beruntungnya lift terbuka walau hanya setengahnya saja.


"Apa kalian baik baik saja?" Tanya seorang pria. Ia menyenter ke dalam lift.


Reyhan segera membantu Clara berdiri.


"Kami baik baik saja" Ucap Reyhan. Mereka akhirnya berhasil keluar.


"Perbaiki hari ini juga. Besok harus sudah bisa beroperasi" Titah Reyhan.


"Siap pak!"


Reyhan kemudian segera menghampiri Clara.


"Mau ku antar pulang?" Tawar Reyhan.

__ADS_1


"Aku bisa sendiri" Clara kemudian keluar dari kantor. beruntungnya ada dua lift, jadi ia bisa menggunakan yang satunya.


Reyhan yang khawatir memilih mengikuti wanita itu sampai ke rumahnya dengan selamat.


...****************...


Keesokan harinya di hari libur, Reyhan segera ke konter hp untuk memperbaiki ponselnya yang rusak akibat ia lempar. Sayangnya ponselnya tak bisa di perbaiki namun data datanya masih aman.


Di tempat lain, Clara mengajak Farel untuk bertemu, hanya berdua. Mereka akhirnya memutuskan bertemu di kafe.


"Apa kau sudah lama menunggu?" Tanya Farel duduk di depan Clara.


"Baru lima menit"


"Ada apa? Apa ada yang ingin di bicarakan?" Tanya Farel kemudian menyeruput kopinya.


"Jawab Farel, apa yang terjadi lima tahun yang lalu? Benarkah saat itu aku hanya pingsan kemudian di bawa ke rumah sakit?" Tanya Clara meminta penjelasan.


"Sungguh tak terjadi apapun. Saat begal membuatmu pingsan, pak supir menolong mu dan tak lama polisi datang. Mereka membawa kita ke rumah sakit. Setelah itu tak terjadi apapun" Sahut Farel.


"Kenapa kau menanyakan hal ini lagi? Sudah berapa kali kau bertanya dan aku selalu menjawabnya dengan jawaban yang sama" Ucap Farel sedikit kesal.


"Maaf"


"Apa terjadi sesuatu sampai kau selalu menanyakan hal ini?" Tanya Farel. Padahal ia tahu apa yang membuat Clara selalu menanyakan hal yang sama padanya. Karena ialah yang membuat Clara seperti ini sekarang.


"Lima tahun yang lalu, Reyhan menuduhku melakukan hal kotor bersama mu saat aku akan mengantarmu ke rumah sakit" Ucap Clara. Farel tidak terkejut sama sekali karena ia memang sudah mengetahuinya. Ia mendengar kan dengan seksama apa yang akan di ucapkan Clara selanjutnya.


"Sampai sekarang ia masih berpikir seperti itu. Dia menuduhku wanita murahan karena melakukan hal itu demi uang. Ia juga berpikir kalau Jonathan adalah anakku denganmu" Ucap Clara tak mampu menahan air matanya.


Farel terenyuh mendengarnya. Jujur, ada rasa sesal di hatinya akan perbuatan nya lima tahun lalu. Ia memang berhasil memisahkan Clara dengan Reyhan, namun ia juga membuat Clara menderita karena kelakuannya. Ia yang satu kampus dengan Clara tahu benar, bahwa wanita itu tak pernah dekat dengan pria manapun karena perkataan Reyhan yang membuatnya membenci para pria. Sampai sekarang pun ia tidak bisa mendapatkan Clara walau sudah memisahkan mereka.


"Sudahlah, kau jangan bersedih. Aku akan mencari tahu kebenaran ucapan Reyhan" Ucap Farel memegang erat jemari Clara.


"Kau mau jalan denganku?" Ajak Farel, ia ingin menghibur Clara dan membuatnya bahagia hari ini.


Sesampainya di sana. Mereka berjalan beriringan sambil menikmati indahnya air terjun tersebut.


Clara meminta Farel untuk memotret dirinya. Dengan senang hati pria itu mengabulkannya. Clara berfoto dengan berbagai latar alam yang indah. Farel tetap setia menjadi fotografer Clara walaupun wanita itu sudah berpindah pindah tempat hanya untuk berfoto. Melihat senyum dan tawa Clara, cukup untuk membuat lelahnya hilang.


Clara kemudian menyuruh Farel untuk berpose, namun pria itu menolaknya. Clara kemudian mengajaknya untuk foto bersama dan Farel menurutinya.


Farel segera mengeluarkan ponselnya dan memotret dirinya dan Clara.


"Ini akan jadi kenangan indah yang akan aku ingat untuk selamanya" Gumam Farel menatap foto dirinya dan Clara. Tanpa sepengetahuan Clara, ia merekam wanita itu diam diam.


Clara kemudian mentraktir Farel sebagai ucapan terima kasih karena sudah menjadi fotografer nya.


"Aku rasa ini tidak cukup. Kau harus berkencan denganku nanti malam" Ucap Farel. Clara mengangguk setuju.


...----------------...


Farel menjemput Clara di rumahnya malam itu. Sesampainya mereka ke tempat yang di tuju.


"Tutup matamu" Ucap Farel membukakan pintu untuk Clara dan membantunya keluar.


Clara ingin bertanya namun ia urungkan dan memilih untuk melakukan ucapan Farel.


Farel menuntunnya ke sebuah tempat. Mereka berjalan perlahan lahan.


"Sekarang buka matamu" Ucap Farel. Clara membuka matanya perlahan. Seketika matanya menatap takjub dengan apa yang di lihatnya. Sebuah dekorasi yang begitu indah, lilin lilin menghiasi sekitar, tampak hamparan bunga mawar yang membentuk love di sekilingnya.


Farel mengajaknya duduk di meja makan yang sudah di sediakan.


"Maaf jika ini kurang romantis bagimu. Aku tidak punya waktu untuk menyiapkan yang lebih dari ini" Ucap Farel.


"Apa kau sendiri yang melakukannya?" Tanya Clara.

__ADS_1


"Ya, aku melakukannya dengan sepenuh hatiku tanpa bantuan orang lain. Aku tidak ingin ada campur tangan orang lain di sini" Ucap Farel. Ia kemudian mengajak Clara untuk menikmati makanannya.


Setelah selesai, Farel mengajak Clara untuk berdiri di tengah tengah kelopak bunga mawar yang ia rangkai membentuk love.


"Cla, aku tahu dari SMA aku sudah membuat mu tak nyaman. Aku selalu mengikuti mu, bersikap posesif dan terkadang membuatmu takut. Aku baru sadar jika yang aku lakukan salah. Kau tahu aku melakukan semua itu karena aku menyukai mu. Salahku yang tidak menyatakan nya padamu dan malah mengikuti mu dan membuatmu tak nyaman. Sekarang aku ingin memperbaiki kesalahan ku. Clara, maukah kau menerima cintaku?" Tanya Farel mengeluarkan kotak cincin dari sakunya dan membukanya.


Clara tidak bisa menjawab, jujur ia tidak memiliki perasaan apapun pada Farel.


"Kau tidak perlu menerimaku. Aku hanya ingin menyatakan perasaan ku saja. Agar aku bisa pergi dengan tenang" Ucap Farel menatap wajah Clara yang gusar.


"Pergi? Kau akan pergi kemana?" Tanya Clara bingung.


"Aku akan pergi jauh dan tidak akan kembali" Sahut Farel menatap sendu wanita di depannya. Clara berpikir, mungkin saja Farel akan keluar negri dan akan menetap di sana.


"Aku hanya ingin mendengar jawaban mu, hanya itu" Tegas Farel. Clara menarik nafasnya sebelum menjawab.


"Maaf, tapi aku tidak bisa. Kau tahu aku hanya menganggap mu sebagai sahabat ku, tidak lebih. Sekali lagi, maaf"


".. Tidak apa, aku mengerti. Aku juga tidak memaksamu" Ucap Farel. Ia tetap memberikan cincin itu kepada Clara, walaupun wanita itu menolaknya.


"Anggap saja sebagai kenang kenangan. Jaga baik baik, hanya itu yang bisa aku berikan padamu sebelum aku pergi" Ucap Farel.


"Cla, aku minta maaf atas semua perbuatan ku dulu. Aku harap kau memaafkan aku dan tidak membenciku" Ucap Farel dengan mata berkaca kaca.


"Kau bicara apa? Aku tidak akan pernah membencimu" Ucap Clara.


"Bolehkah aku memelukmu untuk terakhir kalinya?" Pinta Farel. Clara langsung memeluk pria itu. Tanpa di ketahui oleh Clara, Farel menangis tanpa suara di pelukannya.


"Berjanjilah untuk tidak melupakan ku. Aku akan sangat marah jika kau melupakan ku" Ucap Farel.


"Aku janji, kau sering seringlah mengirim kabar atau berkunjung ke sini" Ucap Clara menepuk pelan punggung pria itu.


Farel hanya bisa tersenyum mendengar ucapan Clara.


"Cih, apa brengsek itu menyuruh gue ke sini untuk melihat hal ini? Apa dia sengaja menunjukkan keromantisan nya di depan gue? Jika tahu begini, mending gue gak usah datang" Gerutu Reyhan yang menatap dari kejauhan.


Farel tak bisa mengantar Clara pulang karena masih ada urusan. Ia hanya memesankan taksi untuknya. Setelah Clara pergi, ia segera menghampiri Reyhan yang berada tak jauh dari taman. Ia yang meminta Reyhan untuk datang karena ada yang ingin dibicarakannya.


"Jaga Clara baik baik" Ucapnya.


"Lo nyuruh gue?" Tanya Reyhan menunjuk dirinya.


"Ya, jaga dia baik baik setelah gue pergi" Ucap Farel.


"Kenapa harus gue? Apa lo gak bisa jaga istri lo sendiri?" Tanya Reyhan sinis.


"Lakukan saja. Jaga dia dan jangan bersikap buruk lagi padanya. Ia tidak bersalah"


"Maksud lo?" Tanya Reyhan.


"Jika suatu saat aku menghubungi mu, cepatlah datang. Saat itu aku sudah tidak mempunyai waktu banyak" Ucap Farel kemudian meninggalkan Reyhan.


"Sial!! Apa maksudnya? Kenapa juga dia menyuruhku menjaga Clara?" Tanya Reyhan frustasi. Ia memilih untuk kembali ke apartemen nya.


...----------------...


"Dari mana saja kau anak tak berguna?! Seharusnya kau menjaga keponakan mu! Aku lelah seharian bekerja dan harus menjaganya juga?! Jika kau tidak berguna, lebih baik kau pergi dari rumah ini!" Teriak Ibu nya saat Farel baru membuka pintu rumahnya.


"Hei! Apa kau tidak dengar ucapanku? Dasar anak tidak berguna! Aku bingung kenapa aku melahirkan anak autis dan penyakitan seperti mu!" Teriaknya meluapkan amarahnya. Farel berjalan menaiki tangga tanpa memedulikan ibunya.


"Aku mengobatimu agar kau bisa berguna di keluarga ini! Tapi menjaga anak kecil saja kau tidak bisa"


"Cukup! Sebentar lagi aku juga akan pergi! Semoga kau puas dengan kepergianku!" Teriak Farel kemudian membanting pintu kamar nya.


Farel terduduk, ia menangis meratapi nasibnya.


"Waktu hidupku tinggal beberapa hari lagi ..."

__ADS_1


__ADS_2