
"Lo jahat, Rel. Kenapa lo ninggalin gue? Kenapa lo gak ngasih tahu gue kalau selama ini lo sakit?! Kenapa lo selalu berusaha kelihatan baik baik aja di depan gue? Hiks, gue gak benci kok sama lo, gue sayang sama lo. Gue janji akan sering berkunjung ke sini dan gue akan selalu mendoakan lo" Ucap Clara. Ia terduduk di depan makam Farel Putra Perdana. Teman yang akan selalu di kenang Clara, walaupun Farel sudah membuat hubungan nya dan Reyhan hancur, namun ia mengerti kenapa Farel sampai melakukan itu.
"Ra, ayo kita pulang" Ucap Reyhan memegang bahu Clara.
Clara mengangguk. "Rel, gue udah bawain bunga mawar seperti permintaan lo. Gue juga akan menjaga cincin pemberian lo. Lo tenang aja, gue gak benci kok sama lo. Gue udah maafin lo, Rel" Clara kemudian berdiri dan meninggalkan areal pemakaman.
**
"Ish, kak Reyhan kok baru sekarang sih munculnya! Kak Clara lagi! Kalian darimana aja empat hari ini. Kenapa gak masuk kerja? Terus kenapa ponsel kalian gak aktif?" Ucap Adel secara beruntun.
"Lo gak kuliah, Del?" Tanya balik Clara.
"Ish, bukannya jawab pertanyaan aku. Iya, aku gak kuliah hari ini. Udah, jawab pertanyaan aku tadi" Ucap Adel memaksa.
"Ada kerjaan di luar kota" Sahut Reyhan.
"Kok gak ngabarin aku?"
"Sibuk" Sahut Reyhan. Ia kemudian duduk di mejanya.
"Cuek banget jadi orang. Tapi beneran kalian dari luar kota?" Tanya Adel pada Clara.
"Iya, beberapa hari sebelumnya gue emang izin cuti karena sakit. Setelah itu kita keluar kota. Sorry kalau gak ngajak lo, mendadak banget soalnya" Sahut Clara dengan santai. Ia tidak berbohong karena ia dan Reyhan memang keluar kota beberapa hari yang lalu.
"Begitu rupanya. Em, kak. Bisa kita bicara sebentar?" Ucap Adel. Melihat Adel yang terlihat benar benar ingin membicarakan hal penting padanya membuat Clara mengiyakan nya.
"Baiklah, tapi saat istirahat aja ya" Ucap Clara. Adel setuju.
•
•
•
"Nih, sup spesial untuk pak Reyhan" Ucap Clara menyodorkan semangkuk sup pada Reyhan. Mereka berada di dapur di dalam ruangan CEO.
"Jujur pertama kali aku melihat ruangan ini, aku sangat bingung dan takjub. Kenapa ada dapur dan kenapa ada kamar di ruangan CEO? Bukankah itu aneh kak?" Ucap Adel meminta pendapat Clara.
"Ya, awalnya gue juga bingung. Tapi saat gue tahu alasannya, menurut gue itu malah lucu" Sahut Clara melirik Reyhan.
"Kau tahu alasannya? Kak Reyhan bahkan tak memberitahu ku walaupun aku sudah bertanya puluhan kali padanya" Ucap Adel terlihat kecewa.
"Jangan bahas itu" Ucap Reyhan dingin.
"Del, kita jadikan makan di pantry?" Tanya Clara, ia mencoba mencairkan suasana meja makan yang mulai mendingin.
"Jadi. Ayo kita pergi" Adel menarik tangan Clara keluar dari ruangan.
__ADS_1
Saat mereka di pantry.
"Jujur kak, aku merasa bingung dengan kak Reyhan. Aku tahu dia terpaksa bertunangan denganku dan sikapnya selama ini selalu dingin sama aku. Aku terkadang lelah, aku sudah mencoba untuk membuatnya balik menyukai ku tapi tak pernah berhasil. Terkadang aku iri padamu kak" Ucap Adel sambil memutar pipet di jusnya. Ia menopang dagunya. Dari wajahnya, terlihat ia begitu sedih.
Clara yang mendengarnya langsung tersedak. Ia segera mengambil air minum dan meminumnya.
"Kenapa kau iri denganku?"
"Entahlah, tapi aku melihat kak Reyhan lebih bersikap ramah padamu. Ia terlihat menurut padamu. Asal kakak tahu, semenjak kakak datang, kak Reyhan lebih sering mengajak ku kencan, walaupun itu ia lakukan untuk meninggalkan mu di kantor. Biasanya jika tidak di paksa oleh tante Widya, ia tidak akan pernah mau. Baginya pertunangan ini hanya sebatas hubungan bisnis" Ucap Adel terlihat berkaca kaca.
'Jadi kak Reyhan terpaksa bertunangan'
"Apa aku terlihat jelek kak? Atau apa aku terlihat kurang menarik? Soalnya kak Reyhan tak pernah melirikku. Aku merasa ... Ia selalu menatap mu" Adel menatap tajam ke arah Clara. Clara yang di tatap seperti itu menjadi gugup.
"Aku iri karena kau mengetahui semua tentang kak Reyhan. Kalian juga terlihat dekat walau sering bertengkar. Ada hubungan apa kalian sebenarnya?" Tanya Adel tajam.
"Hu_hubungan? Tidak ada hubungan apapun. Kau jangan salah paham ataupun curiga padaku. Aku tidak akan merebutnya darimu" Ucap Clara, ia mencoba membuat Adel percaya padanya.
"Tenang saja, aku percaya sama kakak, seratus persen percaya. Lagian kakak juga udah punya pacar kan. Pasti berat karena harus LDR an sama kak Tomi" Ucap Adel membuat Clara bisa bernafas lega.
"Kak, bisa kau bantu aku agar lebih dekat dengan kak Reyhan. Aku ingin hubungan ini benar benar di landasi cinta, bukan bisnis" Pinta Adel.
Clara mengiyakan permintaan gadis itu.
Clara dan Adel kembali ke ruangan saat jam istirahat telah berakhir.
"Maaf pak, tapi saya sedang sibuk. Biar Adel saja yang membuatnya" Clara menyenggol lengan Adel.
"Ah, iya kak. Biar aku aja ya" Adel segera ke dapur untuk membuat kopi Reyhan.
"Kemanisan" Ucap Reyhan, ia kembali menyodorkan kopi yang di buat Adel.
"Hambar"
"Pahit"
"Ini asin!" Reyhan segera meminum air putih saat merasakan kopi yang Adel buat begitu asin.
"Maaf kak" Adel terlihat sedih. Reyhan terus menolak kopi darinya dengan berbagai alasan. Padahal ia sudah mencoba kopinya terlebih dahulu dan rasanya pas. Tapi mungkin kopi terakhirnya ini memang asin karena ia tidak mencobanya.
"Ra, buatkan saya kopi!" Perintah Reyhan. Clara terpaksa membuatkan kopi nya.
"Kenapa dia bersikap seperti itu pada Adel?" Gumam Clara.
"Kak, aku pergi dulu ya. Ada urusan mendadak" Adel segera keluar dari ruangan dengan berlari.
Clara yang kesal karena Reyhan membuat Adel bersedih sengaja memasukkan garam ke kopi Reyhan.
__ADS_1
"Ini pak, kopi spesial yang akan membuat otak bapak jreng" Ucap Clara tersenyum manis.
"ASIN!!" Ucap Reyhan memuntahkan kopinya.
"Astaga Ra, kenapa kau sama saja dengan Adel? Apa kalian tidak bisa membedakan mana garam dan gula?" Tanya Reyhan kesal, namun nada bicaranya lembut, berbeda saat dia berbicara dengan Adel, ia terkesan dingin.
"Terlanjur kesal pak. Lagian kenapa bapak kasar banget sih sama Adel? Dia itu tunangan bapak. Bapak harus memperlakukan nya dengan lembut" Ucap Clara.
"Aku memang sengaja. Aku ingin hubungan pertunangan kami putus" Ucap Reyhan membuat Clara benar benar terkejut.
"Tapi kenapa pak? Adel benar benar menyukai bapak. Dia benar benar berharap dengan hubungan kalian ini" Ucap Clara yang bingung dengan pemikiran Reyhan.
"Dia memang menyukai ku, tapi aku tidak menyukainya. Sebenarnya aku ..." Reyhan terlihat ragu untuk menyatakan perasaannya. Jujur, selama ini ia tidak bisa melupakan Clara sama seperti ia yang tidak bisa melupakan Ara. Rasa bencinya seketika sirna saat mengetahui kebenaran sebenarnya. Bertemu dengan Clara, membuat rasa cintanya pada wanita itu tumbuh kembali.
"Itu terserah anda. Yang jelas, aku ingin kita bertingkah seperti tidak saling mengenal. Hanya sebagai rekan kerja, sebagai sekretaris dan CEO" Ucap Clara membuat Reyhan mengerutkan keningnya.
"Kenapa?"
"Adel mulai curiga jika kita memiliki hubungan. Aku tidak ingin menghancurkan kepercayaan nya padaku. Jadi lebih perhatian lah padanya dan jangan pedulikan aku" Ucap Clara menatap lekat lawan bicaranya itu.
"Tapi Ra, bagaimana mungkin aku bersikap seperti itu. Kita saling mengenal, kita dekat, kita pernah punya hubungan, kita pernah .. saling mencintai" Ucap Reyhan yang merasa keberatan dengan permintaan Clara.
"Itu dulu. Sekarang kita tidak mempunyai hubungan apapun. Kebenaran video itu tidak akan mengubah keputusan kita di masa lalu. Kita sudah putus. Sekarang kau memiliki Adel"
"Tapi kita sering bertemu, itu bisa saja menumbuhkan rasa cinta kita lagi kan? Bagaimana caramu mengatasi itu?" Tanya Reyhan menatap lekat Clara.
"Kalau begitu aku lebih memilih resign. Supaya kau, aku dan Adel aman. Tidak ada yang akan tersakiti. Cepat, rapat akan segera di mulai" Clara segera pergi meninggalkan Reyhan.
"Siapa bilang tidak akan ada yang tersakiti? Bagaimana dengan aku? Tidak mungkin aku memilih Adel saat rasa cintaku untukmu kembali. Aku senang bisa mengetahui kebenaran yang sebenarnya, tapi sepertinya itu juga membuatku jatuh cinta lagi padamu. Selama ini aku berbohong, aku tidak pernah bisa melupakan mu" Ucap Reyhan, ia kemudian segera menyusul Clara.
"Haruskah aku resign saja? Aku tidak ingin menjadi penghalang di antara mereka. Aku tidak ingin merebut milik Adel. Tapi bagaimana dengan hatiku yang mulai kembali pada kak Reyhan? Apa aku harus mengorbankan perasaan ku?" Clara terlihat bimbang.
Seluruh pemegang saham sudah berkumpul. Reyhan sudah berada di ruang rapat.
"Saham perusahaan makin hari semakin menurun dan kau malah menghilang selama empat hari. Kenapa kau tidak becus menjadi CEO?" Cibir seorang pemegang saham.
"Maaf, aku ada urusan mendesak" Ucap Reyhan meminta maaf.
"Apa urusan mu lebih penting dari perusahaan?"Cibir yang lainnya.
"Pikirkan cara untuk menaikkan harga saham. Jangan hanya bisa meminta maaf"
"Aku berjanji akan menaikkan harga saham secepatnya" Ucap Reyhan berusaha menenangkan mereka.
"Kami tidak perlu janji, tapi bukti. Lo harus membuktikannya, Reyhan" Ucap seorang pria muda memasuki ruang rapat.
"Kau?"
__ADS_1
"Ya, gue kembali. Apa kau siap untuk memperebutkan posisi CEO lagi?" Tanya orang tersebut, ia tersenyum sinis. Reyhan terlihat mengepalkan tangannya. Clara merasa ia pernah melihat pria itu.