
Suasana pagi ini benar benar sejuk. Embun pagi masih menempel di antara dedaunan. Udara yang sejuk berhembus pelan menyegarkan tubuh. Matahari yang tertutup awan membuat sinarnya nampak malu-malu.
Clara melangkahkan kakinya dengan semangat menuju kelas. Ia rindu dengan ketiga sahabatnya walau baru satu hari berpisah.
Saat sampai di ambang pintu kelas, ia menyapa ketiga sahabatnya. Santi yang duduk di depan, Rena yang duduk di samping Santi dan Mita yang duduk di pojok belakang. Ia segera berjalan menuju tempat duduknya di dekat jendela.
Satu persatu teman kelas Clara mulai berdatangan. Akhir akhir ini sekolah menjadi lebih tenang, tidak ada hinaan atau perundungan yang di alaminya. Kejadian di ultah Vizah merubah pandangan mereka yang merundungnya.
"Pagi semuanya!" Sapa seorang siswa membuat yang lain melongo saat melihatnya.
"San, itu murid baru, ya?" Bisik Rena yang tidak mengenali siswa tadi.
Santi menatap pemuda yang di maksud Rena, matanya membulat saat mengetahui siapa pemuda itu.
"Farel!" Seru Clara terkejut.
"Hai, Cla. Lama tidak bertemu" Farel segera duduk di depan meja Clara. Ia memutar tubuhnya menghadap gadis itu. Hanya Farel yang memanggilnya Cla, katanya nama panggilan, ia ingin berbeda dengan yang lain.
Di meja Santi, gadis itu terus mengawasi gerak-gerik Farel.
"Hai juga, Rel" Clara hanya menjawab singkat sapaan Farel.
"Kamu makin cantik aja ya, Cla" Farel memandangi wajah Clara sambil tersenyum. Ia menopang wajahnya dengan kedua tangannya.
"Terimakasih"
"San, itu sebenarnya siapa sih? Kok ganjen banget sama Clara" Rena bertanya lagi.
"Farel, dia menyukai Clara dari kelas sepuluh dulu. Dia selalu menggoda Clara dan dia itu sangat posesif. Di saat yang lain mengatakan Clara jelek, hanya dia yang mengatakan Clara bagai bidadari. Padahal Clara mah, emang cantik. Mata mereka aja yang buta. Walau ia menyukai Clara, tapi Clara tidak menyukainya dan menolaknya. Tapi, Farel tidak mau menyerah. Tingkah Farel terkadang membuat Clara tidak nyaman, ia pernah ketahuan menguntit Clara dan dia tiba-tiba bertamu di rumah Clara malam malam. Lebih parahnya lagi, dia sempat ketahuan memasukkan sesuatu ke minuman Clara. Dia itu sering cuti sekolah, terkadang sampai berbulan bulan. Bahkan kami pikir dia sudah berhenti atau pindah, tapi dia tiba-tiba kembali sekolah seperti biasa. Dia tetap di ijinkan sekolah karena akses ayahnya. Sekarang dia baru muncul lagi setelah hampir tiga bulan menghilang" Mita mengakhiri ceritanya. Tadi ia bercerita pada Rena karena Santi tetap diam.
"Oh, jadi bisa di bilang, dia itu penggemar berat Clara. Tapi serem juga ya. Gue pasti bakalan takut kalau jadi Clara. Gimana kalau tiba-tiba dia datang ke rumah malam malam pas kita sendirian, hiii." Rena bergidik.
"Baginya Clara cuma milik dia, gue gak tahu ada kelainan apa sama tuh anak. Pokoknya dia itu selalu membuat Clara gak nyaman. Pasti bakalan ribet lagi nih setelah dia comeback. Bakalan gak tenang hidup Clara" Ucap Mita.
Mita segera kembali ke mejanya saat pak Rudi memasuki kelas. Pak Rudi menatap sekilas ke arah Farel, kemudian ia memulai pelajaran.
Kriiiing kriiiing kriiiing
Clara, Mita, Santi dan Rena berjalan sambil mengobrol menuju kantin. Tiba-tiba Farel datang membuat mereka seketika diam.
"Cla, kenapa gak ajak aku bareng sih?" Farel melingkarkan tangannya di bahu Clara yang langsung di tepis oleh gadis itu.
"Jangan sok akrab"
"Aku gak sok akrab, Cla. Kita kan emang dekat layaknya sepasang kekasih" Ucap Farel.
"Ndasmu!" Mita menarik tangan Clara untuk berjalan lebih cepat di ikuti Santi dan Rena.
Sampai di kantin, Farel masih mengikuti membuat mereka jengah. Tiga bulan hidup tenang tanpa kehadiran Farel, pemuda itu malah datang kembali.
"Rel, bisa gak sih Lo gak usah ngikutin kita?" Ucap Mita jengah.
"Jangan geer, gue gak ngikutin Lo. Gue ngikutin Clara, kok" Sahut Farel.
Karena cacing di perut sudah meronta sejak tadi, terpaksa mereka membiarkan Farel duduk bersama mereka.
"Cla, buka mulut dong" Pinta Farel mengarahkan sendok ke mulut Clara.
__ADS_1
"Terima kasih, tapi gue bisa makan sendiri, kok" Tolak Clara sehalus mungkin.
"Gak, gak, gak. Lo harus mau, kalau gak, gue marah nih" Ancam Farel.
"Ta_"
Hap!
"Nah, kalau dari tadi kan enak" Farel cengengesan.
Clara kesal dan mau tidak mau mengunyah makanan yang terlanjur masuk ke mulutnya.
"Rey, itu Clara kan. Terus, itu cowok siapa?" Dimas menyenggol lengan Reyhan. Mereka baru sampai kantin.
"Cla, jangan cemberut gitu dong, kamu makin cantik kalau cemberut. Nanti aku jantungan loh" Farel memegang dadanya layaknya orang terkena serangan jantung.
"Biarin Lo kena serangan jantung, kita malah seneng lo mati" Ucap Mita. Clara memukul pelan tangan Mita karena ucapannya bisa menyakiti hati Farel.
"Jangan gitu, Ta. Farel, kamu jangan dengerin ucapan Mita, ya" Ucap Clara.
Farel tersenyum mengangguk.
"Makasih Cla, kamu emang paling the best deh"
"Oh ya, nanti kamu sibuk gak? Kita jalan jalan yuk! Kamu gak boleh nolak lagi kayak dulu. Pokoknya harus mau" Lanjut Farel.
"Clara sibuk, dia ada urusan sama gue" Reyhan datang dan menarik kursi untuk duduk di samping Clara.
Para siswa siswi lain menatap mereka. Mereka yakin akan terjadi pertempuran sebentar lagi antara Reyhan dan Farel. Mereka menyiapkan handphone mereka untuk merekam.
"Emang dia ada urusan apa sama Lo? Pokoknya Clara harus jalan sama gue!" Bentak Farel, dia memang tempramental. Emosinya juga mudah berubah.
"Emangnya Lo siapa?!" Bentak Farel.
"Lo akan tahu pada saatnya" Reyhan menarik tangan Clara dan mengajaknya pindah meja yang jauh dari Farel.
"Dia siapa, Ra?"
"Oh, namanya Farel, kak. Dia teman kelas aku" Sahut Clara.
"Teman sekelas? Cuma teman?" Tanya Reyhan lagi.
"Iya, cuma teman" Tekan Clara.
"Kalau cuma teman, kenapa tingkahnya udah kayak pacar kamu? Aku aja gak pernah gitu" Ucap Reyhan, walau wajahnya terlihat biasa, namun hatinya cemburu.
"Ooh, jadi kak Reyhan cemburu yaa" Goda Clara membuat Reyhan gelagapan.
"Siapa yang cemburu? Gue cuma takut kalau yang lain mikir Farel itu sebenarnya pacar Lo, bukan gue" Elak Reyhan.
"Iya juga ya, oke deh, nanti aku bakalan ngasih tahu Farel. Dan, kalau kakak gak mau yang lain mikir kita cuma pura-pura pacaran atau apalah itu, Kak Rey harus bertingkah seperti pacar aku"
"Emang selama ini gue bertingkah kayak bukan pacar Lo?" Tanya Reyhan.
"Kurang romantis, cuma itu" Jawab Clara.
Reyhan manggut-manggut.
__ADS_1
**Di meja tempat Farel dan teman teman Clara.
"Siapa dia?" Tanya Farel datar.
"Ada hubungan apa dia sama Clara?" Lanjutnya lagi dengan wajah datar.
"Kenapa kalian tidak menjawab?!!" Bentaknya sambil menggebrak meja.
Mita dan Rena terkejut sambil mengelus dada. Santi menatap Farel, tajam.
"Dia, pacarnya Clara" Sahut Santi.
"Gak mungkin, Clara cuma milik gue" Ucap Farel dengan raut sedih.
"Clara cuma milik gue!" Raut wajahnya tiba-tiba berubah menjadi marah.
"Gue gak akan percaya sebelum gue denger dari mulut Clara sendiri" Farel pergi meninggalkan kantin.
"Iiih, tuh anak serem ya. Lebih serem dari kak Reyhan" Ucap Mita bergidik.
Siswa-siswi pun kembali ke kelas karena bel masuk telah berbunyi.
Reyhan mengantar Clara sampai ke pintu kelasnya.
"Kurang romantis, cuma itu"
Terngiang ucapan Clara di pikirannya. Sekilas ia melihat Farel di dalam kelas sedang memperhatikan mereka.
Reyhan pun tersenyum, ia mengelus rambut Clara, sambil sesekali melirik ke arah Farel.
"Aku tunggu di parkiran sekolah"
"Oke. Oh ya, kak Rey semangat ujian nya ya! Kak Rey pasti bakalan lulus dengan nilai terbaik." Ucap Clara memberi semangat.
Reyhan mengangguk kemudian memeluk Clara di pintu kelas membuat seisi kelas Clara melihat kejadian itu.
Clara terkejut dengan perlakuan Reyhan. Tiba-tiba ia teringat dengan ucapannya tadi. Mungkin Reyhan sedang mencoba menjadi romantis.
Reyhan melepaskan pelukannya. Setelah mengacak rambut Clara ia pun pamit ke kelasnya.
Clara pun masuk ke kelas dan di sambut dengan godaan teman temannya.
"Cie, yang habis di peluk"
"Kulkas isi cabe rawit kayaknya udah rusak, makanya jadi menghangat gitu. Duuh, gue iri sama Lo, Ra"
"Apa an sih" Clara segera duduk di mejanya. Di depannya, Farel hanya duduk tegap tanpa berbicara seperti biasa.
"Pasti seneng tuh bocah. Awas aja Lo, sampai mati gue gak sudi Lo jadi pacarnya Reyhan" Ucap Feni.
"Lah, urusannya sama Lo apa?" Tanya Clara sinis.
"Lo_" Feni memilih pergi karena guru telah masuk.
Saat jam pelajaran di mulai, tiba-tiba Farel menyandang tasnya dan pergi begitu saja meninggalkan kelas.
Seisi kelas melongo tak percaya. Guru yang masuk berkali kali memanggil Farel, namun pemuda itu tak menggubris nya dan terus berjalan.
__ADS_1
"Perasaan gue gak enak" Ucap Clara lirih melihat tingkah Farel.