Cinta Yang Bertemu Kembali

Cinta Yang Bertemu Kembali
Bab 44


__ADS_3

Sudah seminggu Clara bekerja di Setya Company. Ia mulai terbiasa dengan pekerjaannya dan segudang perintah pak Hendra. Ia juga mulai mengenal dan berteman dekat dengan beberapa karyawan, salah satunya Tomi, hanya sebagai teman tidak lebih.


Setiap hari, Clara harus memasak makan siang untuk bosnya dan mereka akan makan siang di dapur bersama, seperti hari ini.


"Pak, hari ini kita harus mendatangi gedung X jam dua siang. Kita mendapatkan undangan tender pembangunan jembatan, panjangnya sekitaran 1 km" Ucap Clara membuat pak Hendra tersedak.


Clara segera memberikan air putih untuk pak Hendra.


"Te-tender?"


"Iya pak. Kita harus mendapatkan nya karena pendapatannya cukup besar" Sahut Clara membuat pak Hendra terlihat panik.


"Ada apa pak?" Tanya Clara yang merasa aneh dengan tingkah pak Hendra.


"Ti-tidak apa apa. Aku keluar sebentar" Setelah keluar ruangan, pak Hendra segera menghubungi seseorang.


"Halo pak. Pak Tomi tolongin saya. Hari ini ada tender penting yang harus pak bos hadiri. Aduh pak Tom, saya kan tidak tahu menahu soal tender. Tolongin saya pak" Ucap pak Hendra memohon.


"Hah! Tender? Saya tidak tahu pak bos harus menghadiri tender hari ini" Ucap pak Tomi panik. Terdengar suara ia sedang mengobrak-abrik dokumen.


"Aduh pak. Dokumen tendernya ke selip. Gini aja, pak Hendra tunggu saya di sana. Nanti saya yang akan bicara dengan Clara" Tomi mematikan handphone nya dan segera ke ruangan CEO. Terlihat pak Hendra sudah menunggunya dengan panik.


"Pak Tomi, apa gak sebaiknya pak bos saja yang menanganinya?" Saran pak Hendra.


"Belum waktunya pak, lagian pak bos lagi di luar kota. Kita juga masih harus menguji kemampuan sekretaris baru itu agar tidak mengecewakan pak bos lagi" Tomi memasuki ruangan diikuti pak Hendra di belakangnya.


"Clara" Panggil Tomi.


"Iya pak"


"Pak Hendra tidak bisa menghadiri tender karena perutnya sakit"


"Tapi pak Hendra kelihatan baik baik saja" Ucap Clara menatap pak Hendra.


Tomi segera memberi kode dengan menginjak kaki pak Hendra.


"Aww! Sakit banget kaki, eh perut saya maksudnya" Ucap pak Hendra mendelik ke arah Tomi.


"Clara, bisa kan kamu yang mengurus tender ini. Kau tenang saja, aku akan menemanimu. Tapi aku tidak bisa membantu banyak karena aku tidak paham soal tender" Ucap Tomi.


Clara mengangguk pasrah mendengar nya. Entah kenapa setiap kali bertemu klien atau ada pertemuan penting, pak Hendra selalu memiliki seribu alasan untuk tidak pergi dan malah menyuruhnya menangani sendiri.


Pukul dua siang Clara dan Tomi sampai di gedung X. Para pemimpin perusahaan sudah berkumpul untuk mendapatkan tender tersebut. Hanya CEO Setya Company yang tidak hadir membuat pemimpin perusahaan lain mencibirnya.


Satu persatu memulai presentasi hingga sampailah ke giliran Clara. Ia gugup, namun Tomi mengatakan semua akan baik-baik saja.


Clara melakukan presentasi dengan baik dan mendapat tepuk tangan dari para peserta tender. Rancangan jembatan yang di buatnya juga sangat menarik. Presentasi yang memukau dan jelas, apalagi Setya Company memang perusahaan yang terkenal membuat penyelenggara memutuskan merekalah yang memenangkan tender. Sampai salah seorang mengangkat tangan dan memberikan pertanyaan yang membuat semua orang terdiam.


"Setya Company bukanlah perusahaan yang berkualitas dan dapat di percaya dalam bidang kontruksi. Buktinya pembangunan jembatan beberapa tahun lalu yang roboh dan memakan korban jiwa. Bekerja sama dengan perusahaannya hanya akan mendatangkan kerugian yang besar. Jadi apa kalian yakin akan bekerja sama dengan Setya Company?"


Semua peserta tender mulai membicarakan kejadian beberapa tahun silam dan mulai meragukan Setya Company. Hal itu membuat Tomi khawatir, apalagi Clara yang hanya diam dari tadi.


"Kejadian itu terjadi beberapa tahun yang lalu. Memang benar itu terjadi karena keteledoran kami. Kami mengakuinya dan meminta maaf. Tapi, itu bukan seratus persen kesalahan kami. Bahan yang kami gunakan telah di tukar seseorang dengan kualitas yang buruk hingga membuat jembatan itu roboh beberapa hari setelah di bangun. Kami sudah mengetahui siapa pelakunya dan sudah mengurusnya" Clara buka suara. Ia menarik nafas untuk melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


"Tidak ada yang sempurna, setiap perusahaan pasti memiliki kesalahan. Tapi, jangan hanya karena satu kesalahan itu membuat kalian tidak mempercayainya lagi. Perusahaan pasti akan belajar dari kesalahannya dan akan bekerja lebih baik. Tuan, bukankah perusahaan anda juga pernah melakukan kesalahan konstruksi hingga memakan korban jiwa? Dan setelah kejadian itu, anda meningkatkan kualitas dan performa kerja perusahaan anda hingga menjadi lebih baik. Perusahaan kami juga melakukan hal itu. Jika kesalahan itu menjadi penilaian di sini, maka anda juga tidak akan mendapatkan tender itu karena kesalahan perusahaan anda di masa lalu. Begitupun dengan perusahaan yang lain"


Pria itu terlihat salah tingkah mendengar ucapan Clara. Semua peserta tender memberi tepuk tangan untuk Clara. Wanita itu benar-benar hebat membalikkan keadaan.


Akhirnya tender itu dimenangkan oleh Setya Company berkat usaha Clara. Sebagai hadiah, Tomi ingin mentraktir nya makan.


"Aku tidak ingin makan. Aku hanya butuh yang segar. Bagaimana kalau es krim atau es buah?" Saran Clara yang di angguki Tomi.


Pukul setengah lima sore Clara dan Tomi kembali ke perusahaan.


"Apa pak Hendra masih sakit? Jika iya, maka kita tidak bisa datang ke anniversary Zon Company nanti malam" Ucap Clara.


"Datang saja. Aku akan menemanimu ke sana" Ucap Tomi membuat Clara lega.


Malam nya tepat pukul tujuh, Clara dan Tomi sampai di Zon Company. Para tamu undangan yang hadir bukanlah orang sembarangan. Mereka dari kalangan atas, ada juga yang dari luar negeri.


"Halo, Mr. Zack. How are you?" Sapa Tomi pada pria asing di depannya. Pria itu menoleh.


"Oh, Hai. Long time no see. I'm well. How are you? Oh yes, where is he? Isn't he coming? (Oh, hai. Lama tidak jumpa. Kabarku baik. Bagaimana kabarmu? Oh ya, dimana dia? Apa dia tidak datang)" Tanya Mr. Zack celingak-celinguk mencari seseorang.


"I'm well. He couldn't come, there was business. Oh yes, meet this Miss Clara. She's his new secretary. (Kabarku baik. Dia tidak bisa datang, ada urusan. Oh ya, kenalkan ini nona Clara. Dia sekretaris barunya)" Ucap Tomi.


Clara dan Mr. Zack berjabat tangan dan mengenalkan diri masing-masing. Mr. Zack pamit undur diri karena ingin menyapa rekan bisnisnya yang lain.


"Kau tetap disini. Aku akan kembali sebentar lagi" Ucap Tomi kemudian pergi. Clara hanya mendengus kesal di buatnya.


"Hai nona Clara" Sapa seorang pria.


Clara mencoba mengingat pria itu. "Kau pria di tender tadi siang kan?"


Clara segera membalas jabatan tangan Vano.


"Aku Clara"


"Kau tadi sangat memukau. Aku sampai kagum"


Clara hanya mengangguk sebagai respon.


"Semua orang membicarakan mu tadi. Mereka bilang, mereka ingin sekretaris sepertimu. Em, apa kau mau menjadi sekretaris ku? Aku janji akan menggaji mu dua kali lipat"


Clara menoleh ke arah pria itu. "Maaf, tapi aku tidak tertarik. Aku suka bekerja di perusahaan yang sekarang"


"Kenapa? CEO Setya Company terkenal kejam, galak dan dingin, dia juga suka memerintah sesuka hati. Kenapa kau mau bekerja di sana? Lagian dia itu tidak tampan dan sudah tua. Lebih baik kau bekerja dengan ku, sudah tampan, baik dan romantis" Pria itu mengedipkan matanya membuat Clara mual.


"Maaf, tapi aku sudah nyaman bekerja di sana"


Pria itu mendengus kesal kemudian meninggalkan Clara. Setelah pria itu pergi, beberapa pria lainnya datang menghampiri Clara. Mereka menggoda Clara membuat wanita itu geram. Ia ingin sekali menghajar mereka terutama menghajar Tomi yang sudah meninggalkan nya sendirian.


Sedangkan Tomi sedang berjalan menuju sebuah ruangan. Ia membuka pintu ruangan itu dan masuk.


"Kau sudah datang, Tom"


"Pak bos? Anda sudah pulang?" Tanya Tomi terkejut saat atasannya ada di ruangan itu bersama pak Hendra. Tadi pak Hendra menyuruhnya mendatangi ruangan itu.

__ADS_1


"Ya, aku baru pulang. Bagaimana sekretaris baruku?"


"Kami sudah mengetesnya seperti keinginan bapak. Dia bisa mendapatkan semua kontrak kerjasama selama bapak pergi. Ia juga berhasil menenangkan tender. Ia juga sudah mengurus tugas tugas CEO selama bapak pergi. Kerjanya sangat bagus" Ucap Tomi.


"Pak Hendra, menurutmu bagaimana sekretaris baruku?"


"Sangat keren! Masakannya sangat enak seperti buatan chef profesional. Kerjanya juga sangat cepat. Dia orangnya tidak cerewet dan selalu patuh saat ku suruh. Pokoknya dia sangat profesional dalam segi apapun" Sahut pak Hendra.


Pria itu hanya diam. Ia seperti tidak puas dengan jawaban dua karyawannya.


"Pak, apa anda tidak ingin mengetahui seperti apa sekretaris anda? Setidaknya namanya saja?" Tanya Tomi.


"Tidak, aku tidak tertarik. Jika dia profesional maka aku akan menerimanya. Oh ya, bagaimana sifatnya?"


Tomi mengerti maksud dari pertanyaan atasannya itu.


"Bapak tenang saja. Dia bukan tipe wanita centil. Beberapa klien kita mengajaknya makan malam dan ada yang menggodanya namun selalu di tolaknya. Dia bilang dia tidak tertarik" Sahut Tomi.


"Aku akan masuk besok. Aku akan berkenalan sendiri dengan sekretaris itu. Jika baru sehari aku masuk dan dia sudah menggodaku, maka aku akan memecatnya sama seperti sekretaris terdahulu, walaupun aku harus membayar denda karena itu" Ucap pria itu.


"Baik pak" Tomi undur diri, ia harus menemani Clara.


Acara selesai. Tomi mengantar Clara pulang sampai ke rumahnya.


"Kau dari mana saja tadi? Kenapa lama sekali? Kau tahu, aku di dekati beberapa pria tadi. Aku sangat membencinya" Ucap Clara kesal.


"Aku ada urusan tadi. Kenapa kau marah, seharusnya kau senang ada pria yang mendekatimu. Mereka pasti tampan" Ucap Tomi.


"Terserah mereka tampan atau tidak. Aku tidak suka saja. Pria itu menyebalkan" Ucap Clara yang masih kesal.


"Kau terdengar benci sekali dengan kaum pria" Ucap Tomi.


"Tidak semua, aku hanya benci pada satu pria" Ucap Clara yang teringat dengan Reyhan.


******


Keesokan harinya Clara datang seperti biasa. Ia terkejut saat melihat seseorang di meja CEO.


"Tumben pak, anda datang tepat waktu. Biasanya anda datang jam sembilan" Clara tidak terlalu jelas melihat wajah orang itu karena tertutup koran yang di bacanya.


Clara segera membuatkan kopi susu untuk bosnya seperti biasa. Ia meletakkan kopinya di meja.


"Silahkan pak kopinya"


"Terimakasih"


Clara mengerutkan kening. 'Apa perasaan ku saja atau suara pak Hendra memang berbeda dari biasanya?'


Untuk memastikan pendengaran nya, Clara memanggil pak Hendra lagi.


"Pak, apa kau baik baik saja?"


"Aku baik" Pria itu menurunkan koran yang di bacanya hingga Clara bisa melihat wajahnya.

__ADS_1


Clara membulatkan matanya tak percaya, begitupun pria itu. Mata Clara berkaca-kaca, hatinya terasa sakit. Pria itu ....


"Kau!" Ucap Clara dan pria itu bersamaan.


__ADS_2