
Sesampainya Raja di apartemen Reyhan. Ia melewati setiap lantai dengan memegang pisau di tangannya. Beruntungnya suasana juga sangat mendukung karena apartemen itu terlihat sunyi sepi.
Reyhan dan Clara yang sedang makan malam di buat terkejut saat pintu apartemen yang terbuka sendiri.
Reyhan berjalan untuk mengeceknya. Baru saja ia akan keluar dari pintu, seseorang tiba tiba menendang tubuhnya hingga menghantam meja.
Clara menjerit melihatnya. Ia segera menghampiri Reyhan untuk membantunya berdiri.
"Raja?!" Clara menatap nanar Raja yang menghampiri mereka sambil memegang pisau yang tampak mengkilat di bawah sinaran lampu.
"Apa kabar Clara? Apa kau bersenang senang bersama Reyhan beberapa hari ini? Aku hanya ingin memastikan kau memiliki waktu indah bersamanya sebelum aku membunuhnya malam ini" Raja tersenyum menyeringai. Langkah demi langkahnya semakin dekat dengan Clara dan Reyhan.
"Lo ingin bunuh gue? Jangan mimpi!" Ucap Reyhan. Ia menyuruh Clara untuk menjauh darinya.
"Aku tidak bermimpi. Tunggu, apa ini mimpi yang jadi kenyataan?" Raja mengacungkan pisaunya pada Reyhan.
"Siapa yang menghasut lo sampai lo mau membunuh gue?" Tanya Reyhan seakan tahu jika ada orang di balik sikap Raja yang seperti ini.
"Tidak ada. Hanya gue" Kilah Raja, ia melihat Clara yang berusaha menelpon seseorang. Melihat itu, ia segera melemparkan vas bunga ke arah Clara.
Beruntungnya Clara sempat menghindar hingga ia tidak terkena vas bunga itu.
"Brengsek!" Reyhan yang melihat Raja mencoba menyakiti Clara menjadi murka dan langsung merengsek menyerang Raja.
Berbeda dengan Raja yang menggunakan senjata, Reyhan hanya mengandalkan kedua tangannya untuk melumpuhkan pria itu, tentu ia akan kalah jika begitu. Ia bahkan tidak berpikir dengan kondisinya yang masih lemah pasca kecelakaan yang di sebabkan Raja.
Beberapa kali Reyhan harus mendapatkan luka sayatan di tangannya hingga darah di tangannya sampai jatuh ke lantai.
"Lo gak kek gini, Ja! Sadar, jangan sampai lo menyesal suatu saat nanti!" Reyhan mencoba menyadarkan sepupunya itu. Namun Raja tak mendengarkan nya. Ia malah kembali menendang Reyhan hingga Reyhan terpelanting mendekati Clara.
"Menyesal? Gue bakalan menyesal kalau malam ini gue gagal membunuh lo!" Teriak Raja mendekati Reyhan.
"Kak, darahmu.. darahmu banyak sekali. Luka mu juga.. hiks" Clara menangis melihat Reyhan yang kembali terluka karena Raja. Pria itu bahkan belum sembuh dari luka kecelakaan malah di tambah dengan ini.
"Kau tetap lah di sini" Clara mengambil kain yang sekiranya mampu untuk menghentikan pendarahan di tangan Reyhan.
"So sweet. Terkadang gue iri melihat banyak wanita yang menyukai dan perhatian dengan lo. Termasuk Vizah.."
Reyhan dan Clara langsung menatap Raja saat pria itu mengucapkan nya. Apa dia menyukai Vizah?
"Cukup pacaran nya. Gue muak dan jijik ngelihatnya. Sekarang ayo kita mulai kembali pertarungan kita, Reyhan" Raja bersiap siap untuk kembali menghajar Reyhan.
Reyhan yang masih lemas karena ia belum sepenuhnya sembuh tak bisa membangkitkan tubuhnya. Apalagi luka di tangannya yang membuatnya kehilangan banyak darah. Luka luka yang di sebabkan oleh perkelahian nya dengan Raja juga terasa berdenyut sakit.
"Kakak di sini saja. Jika ada kesempatan, kakak harus cepat menelpon polisi" Clara berjalan menghampiri Raja yang tersenyum sinis ke arahnya.
"Ra .. jangan Ra" Reyhan mencoba berdiri dan menghampiri Clara.
"Mari kita bertarung" Raja meringsek maju menyerang Clara dengan pisaunya. Clara berhasil menghindar dan menendang Raja namun pria itu juga berhasil menghindari serangannya.
Pertarungan di antara keduanya berlangsung seru. Raja tak mau mengalah walaupun ia sedang melawan seorang wanita. Dan Clara tak gentar walaupun ia melawan pria dengan senjata tajam. Tapi, kita sendiri tahu siapa yang akan menang...
Saat Clara lengah, Raja menggunakan kesempatan itu untuk menyayat tangan Clara.
"Aww!!"
__ADS_1
"RA!" Reyhan berjalan pelan menghampiri Clara.
"Owh, maaf. Tangan ku kelepasan" Ucap Raja sinis.
"Aku tidak apa apa" Clara kembali berusaha menyerang Raja dengan tendangan, tonjokan ataupun dengan benda benda di sekitarnya.
"Aku muak melawan mu" Raja menendang Clara hingga menghantam dinding dengan keras hingga pingsan. Terlihat ada noda darah di bekas kepala Clara yang terhantam dinding tadi.
"Sialan! Brengsek! Lo udah keterlaluan, Raja. Ayo kita lihat, siapa yang akan tiada malam ini. Gue gak akan membiarkan siapapun hidup setelah menyakiti orang yang gue sayang!" Reyhan tak menghiraukan dirinya yang terluka parah dan tetap melawan Raja.
Brak!
Reyhan menghantam pintu hingga ia pun keluar dari kamar apartemen nya. Ia mencoba berdiri walau tertatih.
"Uhuk, uhuk!" Reyhan mengeluarkan darah segar dari mulutnya. Ia menatap Raja yang menghampiri nya dengan pisau di tangannya dan juga senyum kebencian yang masih melekat di wajahnya.
"Ini.. adalah akhir dari hidup lo, Reyhan"
Raja mengangkat pisau di tangannya dan bersiap untuk menusuk Reyhan.
Jleb!
Bruugh!
Sebuah tubuh roboh di lantai setelah Raja berhasil menusuk perutnya dengan pisau. Luka itu begitu dalam dan sangat menyakitkan hingga darah keluar dari mulutnya.
"Adel!"
Raja mencabut pisau nya dengan cepat. Tangannya yang memegang pisau gemetar hingga pisau itu terjatuh. Ia mundur kebelakang perlahan. Matanya membulat karena begitu terkejut. Bu_bukan Reyhan yang ia tusuk dengan pisau, tapi.. ADEL!!
"Ka_kau ingat.. aku_kak?" Tanya Adel terbata.
"Aku ingat. Aku ingat, aku tidak pernah lupa. Maafkan aku" Mata Reyhan berkaca kaca melihat Adel yang mulai memucat.
"Maaf karena aku egois.. aku tidak_akan_ mengganggu kau dan Clara_lagi.." Adel terlihat memejamkan matanya beberapa kali. Ia mencoba sadar namun luka di perutnya membuat rasanya ingin pingsan saja agar tak merasakan sakit itu.
"Tidak! Tetaplah sadar, polisi sebentar lagi akan datang"
Clara keluar dari kamar apartemen dengan memegangi kepalanya yang terasa pusing.
"Adel..." Ucapnya lirih saat melihat Adel terbaring di pangkuan Reyhan dengan luka di perutnya!
"Cla_ra" Adel tersenyum pada orang yang pernah menjadi sahabat nya itu. Sayangnya persahabatan mereka hancur karena ternyata Clara dan Reyhan memiliki hubungan di belakangnya. Padahal mereka tak memiliki hubungan apapun lagi.
"Del, hiks, kamu kenapa? Ini.." Clara duduk di samping Adel dan menggenggam erat tangan nya. Ia meringis melihat luka di perut Adel mengeluarkan darah yang banyak.
"Jaga kak Reyhan.. mengerti? Aku, aku mau tidur.. luka ini sangat sakit" Adel terlihat semakin memucat.
Raja yang panik mencoba melarikan diri. Sayangnya beberapa polisi datang dan langsung mengamankan nya.
Wildan terpaku melihat adiknya yang berdarah di perutnya. Ia melihat Clara dan Reyhan yang duduk di samping adiknya, kemudian melihat pisau yang tergeletak di lantai dan melihat Raja yang tangannya di penuhi bekas darah.
"Kau yang melukai adikku!" Wildan membabi buta memukuli Raja. Para petugas polisi mencoba menghentikannya namun Wildan tak bisa di hentikan.
"Del, maafkan aku.." Ucap Clara lirih.
__ADS_1
"Kalian_ ha_ harus bersama. Semo_ga_kalian baha_gia" Mata Adel terpejam perlahan di ikuti suara isak tangis Clara yang memecah kesunyian apartemen itu. Entah kemana penghuninya, mungkin di gondol tuyul.
Reyhan pun tak mampu menahan linangan air matanya yang ia coba tahan dari tadi. Adel tiada karena mencoba menyelamatkan hidupnya. Ia merasa begitu bersalah dan berhutang nyawa pada gadis itu. Ia menyesal karena sudah bersikap kasar dan dingin pada Adel selama ini.
...****************...
Pemakaman Adel di lakukan dengan begitu khidmat. Keluarga, sanak saudara, teman dan rekan kerja menghadiri pemakaman gadis yang rela mengorbankan hidupnya demi orang yang di cintai nya.
Suara isak tangis dan juga doa mengiringi kepergian gadis itu. Taburan bunga mawar menghiasi makamnya. Foto gadis itu di letakkan di dekat batu nisannya, foto gadis yang begitu cantik.
Sekarang ADELIA ANASTASYA DENATA telah pergi menghadap ke haribaan tuhan. Semoga ia tenang di alam sana.
Keluarga Reyhan pergi setelah mengucapkan bela sungkawa mereka. Hanya Wildan yang menatap mereka dengan penuh kebencian. Adiknya tiada karena keluarga itu, karena Reyhan.
...****************...
Hari berganti, Minggu pun berganti, tak terasa sudah satu bulan semenjak kematian Adel dan kejadian di apartemen.
Raja mendekam di penjara akibat percobaan pembunuhan terhadap Reyhan dan pembunuhan terhadap Adel. Tak lupa dengan penggelapan dana perusahaan dan apa kalian masih ingat dengan kasus hotel itu? Dimas, Nio dan Tomi sengaja menyelidiki nya lagi hingga akhirnya mereka bisa menangkap Anton yang merupakan dalang utamanya dan juga Vizah yang ternyata pemilik sah hotel itu dan ikut terjun melakukan bisnis haram itu bersama Anton dan Raja. Ternyata mereka selama ini memanipulasi kepemilikan hotel itu hingga menjadi hotel milik perusahaan Setya, padahal itu adalah milik Vizah.
Clara menunggu Reyhan di perpustakaan SD mereka dulu. Kebetulan hari ini libur sekolah jadi perpustakaan itu juga kosong, hanya pak Marno yang terlihat berbincang dengan Clara untuk menemani wanita itu selama menunggu Reyhan.
Pak Marno begitu senang karena bisa bertemu lagi dengan Ara, siswi yang begitu dekat dan ia sayangi.
"Kau akan menunggu lagi?" Tanya pak Marno. Clara mengangguk.
"Bagaimana jika dia tidak datang sama seperti 13 tahun lalu?"
"Dia pasti datang. Dulu bocah keren itu tidak bisa datang karena dia koma selama tiga hari di rumah sakit. Sekarang aku yakin dia akan datang karena ia tidak apa apa" Sahut Clara.
"Maaf aku terlambat!" Ucap Reyhan terengah-engah berjalan menghampiri Clara dan pak Marno.
"Semoga hari kalian menyenangkan. Bapak tinggal bentar" Pak Marno kemudian meninggalkan mereka yang saling menatap.
"Udah lama?" Tanya Reyhan basa basi.
"Langsung saja pada intinya" Ucap Clara yang terlanjur kesal karena Reyhan membuatnya menunggu lama.
"Aku ingin kita mengulang nya lagi. Mengulang hubungan kita, lebih tepatnya memperbaiki hubungan kita dari awal" Ucap Reyhan menatap mesra Clara.
"Kakak yakin?" Tanya Clara.
"Semua yang telah kita lewati membuat ku yakin kalau kita memang di takdir kan bersama. Coba kau bayangkan berapa kali kita berpisah dan akhirnya bertemu lagi. Kita pernah membenci dan akhirnya mencintai kembali. Karena apa bisa seperti itu? Tentu karena cinta dan takdir. Kita di takdir kan bersama, Ra"
Reyhan menatap Clara yang terdiam.
"Kau memikirkan Adel, kan?" Tanya Reyhan membuat Clara mengangguk.
"Dia ingin kita bersama, Ra. Itu permintaan terakhir nya. Apa kau tidak ingin mengabulkannya?" Clara menjadi bimbang mendengar pertanyaan Reyhan.
"Apalagi kali ini? Apa kau ingin aku bertunangan lagi setelah itu aku akan pura pura hilang ingatan agar aku bisa bersamamu?"
"Tidak!" Jawab Clara spontan.
"Kalau begitu menikah lah dengan ku" Reyhan mengeluarkan kotak berisi cincin yang pernah ia beli untuk Clara. Rencananya ia akan memberikan nya pada Clara lima tahun lalu, tapi semuanya kacau.
__ADS_1
"Apa lagi yang membuat mu ragu? Apa restu dari mama dan papa?" Melihat Clara hanya diam, Reyhan segera menarik tangannya menuju motornya. Setelah berpamitan dengan pak Marno, mereka segera pergi ke kediaman orang tua Reyhan.