Cinta Yang Bertemu Kembali

Cinta Yang Bertemu Kembali
Bab 45


__ADS_3

"Kau!" Ucap mereka bersamaan.


"Kak Reyhan!" "Clara!"


"Kenapa kau ada di sini?" Tanya Clara bergetar, ia menahan air matanya agar tak keluar. Bertemu Reyhan adalah hal paling ia hindari. Perasaan nya campur aduk, antara benci dan ... rindu.


"Ini perusahaan gue. Seharusnya lo tahu itu. Cih, jangan jangan lo sengaja melamar kerja di sini karena lo tahu gue CEO nya? Apa lo ingin uang dari gue? Apa Farel tidak bisa memberi lo uang lagi?" Tanya Reyhan sinis.


"Kalo gue tahu lo CEO-nya, gak bakalan gue ngelamar kerja di sini. Gue males kerja bareng orang yang tukang nuduh. Apalagi jadi sekretaris kulkas isi cabe rawit kayak lo!" Sahut Clara.


'Pantesan gue ngerasa gak asing dengan nama perusahaannya. Ternyata perusahaan keluarga dia'


"Gue juga males kerja bareng jal*ng yang gila uang kek lo. Bisa bisa aset perusahaan lo ambil semua" Balas Reyhan.


'Cih, gak berubah, mulutnya tetap aja pedes kayak sambel ijo' Batin Clara.


"Terserah lo mau ngomong apa!" Clara memutuskan keluar dari ruangan CEO dengan membanting pintu dengan keras.


POV Clara


Aku mengusap air mataku dengan kasar. Kepalaku terasa sakit memikirkan kalau aku akan bekerja bersamanya dalam satu ruangan, bertemu dengannya hampir setiap hari dan harus ikut kemanapun dia pergi. Sial, kenapa aku harus bertemu dengannya!


Aku harus pergi ke tempat yang tenang agar bisa menumpahkan segala perasaanku. Aku harus ke atap, hanya tempat itu yang jarang di kunjungi orang.


Banyak karyawan yang aku lewati. Biasanya aku akan ramah dan menyapa mereka, tapi aku sedang malas. Jika ada yang menyapa, aku hanya menganggukkan kepala saja.


Aku menaiki lift dan ternyata Nita dari divisi pemasaran ada di sana. Aku mulai berteman dengannya beberapa hari yang lalu. Mungkin dia tahu aku sedang tidak ingin di ganggu, jadi dia tak menyapaku.


Akhirnya aku sampai di lantai atas. Beruntungnya pintu menuju atap tidak di kunci.


Aku mengambil nafas dalam dalam kemudian menghembuskan nya pelan. Sangat segar.


Aku mendudukkan diriku. Tempatnya sedikit kotor tapi aku tidak peduli. Pikiranku mulai melayang.


Tiga kali! Ya, tiga kali aku terluka karena cinta. Pertama di selingkuhi, kedua hampir di perk*sa, dan ketiga .. di tuduh melakukan hal kotor dengan seseorang.


Bodoh! Kau bodoh Clara. Kenapa kau tidak mencari informasi tentang tempatmu bekerja?


Aku terdiam beberapa saat. Tanpa sadar aku meneteskan air mata.


Tes!


Sial, kenapa aku menangis? Pria seperti itu tidak pantas di tangisi. Sudah menuduh sembarangan, mengatai aku wanita jal*ng. Apa sebabnya pun sampai sekarang aku tidak tahu.


Aku masih ingat, lima tahun yang lalu, saat dia menuduhku, membuat hatiku sakit dan meninggalkan aku begitu saja tanpa menjelaskan apapun.


POV Clara 5 tahun yang lalu.


Aku melihat kak Reyhan pergi begitu saja meninggalkan ku. Kenapa dia tak menjelaskan alasan dia mengatakan hal itu? Dia mengatakan hal yang tidak pernah terbesit sedikitpun dalam pikiranku.


Kakiku sudah tidak kuat menopang tubuhku hingga aku jatuh terduduk. Aku menangis terisak. Hatiku sakit, sangat sakit. Dia menuduhku tanpa alasan yang jelas. Apa di matanya, aku adalah gadis yang rela melakukan apapun demi uang? Bahkan melakukan hal kotor?


Aku membencinya. Tidak ada rasa cinta lagi, hanya ada kebencian yang mendalam dan menyelimuti hatiku.


Aku masih menangis terisak di sini. Aku tidak tahu sudah jam berapa sekarang. Aku terlalu malas hanya untuk melihat jam.

__ADS_1


Suasana taman begitu sunyi. Aku mulai takut dan memutuskan pulang saja. Aku sudah memesan ojol tapi sudah setengah jam belum datang juga. Karena terlalu lama menunggu, aku memutuskan untuk pulang jalan kaki.


Ciiiitt!


Aku hampir tertabrak mobil jika saja pengemudi itu tidak mengerem. Hei, kenapa kau tidak menabrak ku saja. Siapa tahu aku akan hilang ingatan dan melupakan kejadian menyakitkan hari ini. Aku terkekeh sendiri dengan pemikiranku.


"Clara!" Seorang pemuda keluar dari mobil. Tunggu, bukankah itu .. Farel!


"Cla, kamu ngapain di sini malem malem?" Tanya nya khawatir.


Ya, itu memang Farel. Orang yang kak Reyhan tuduh melakukan hal kotor bersama ku. Cih, aku tidak sudi memanggilnya kakak.


Aku menatap wajah Farel yang khawatir. Tunggu, kenapa wajahnya terluka? Ada beberapa lebam di wajahnya dan sudut bibirnya terdapat darah yang sudah mengering. Apa kak Reyhan yang melakukannya? Entah kenapa air mataku luruh dan kembali terisak. Aku memang gadis yang lemah dan cengeng.


Farel yang bingung hanya bisa melihatku tanpa melakukan apapun. Dia mengajakku pulang dan aku mengangguk setuju.


Selama di perjalanan aku hanya diam. Pikiranku melayang ke mana mana. Farel juga hanya diam. Ia tidak bertanya sedikitpun. Baguslah, aku pun terlalu lelah untuk bicara. Tenagaku sudah habis karena menangis.


Saat sampai rumah. Aku tidak langsung keluar. Ada yang ingin aku tanyakan padanya.


"Rel, semalam apa yang terjadi? Setelah aku pingsan, aku langsung di bawa ke rumah sakit kan?" Ia terlihat bingung dengan pertanyaan ku.


"Iya, kan aku sudah menceritakan semuanya padamu di rumah sakit. Aku memang tidak mengingat apapun karena aku juga pingsan"


Apa aku dan Farel di jebak? Atau memang Reyhan sialan itu yang asal menuduh karena cemburu? Ah, kepala ku jadi pusing memikirkannya.


Setelah mobil Farel sudah tak terlihat lagi, baru aku masuk ke rumah. Ternyata sudah jam sepuluh. Aku langsung masuk ke kamar tanpa memedulikan adikku yang bertanya kenapa wajahku terlihat kusut. Percuma aku menjelaskan, anak kecil sepertinya tidak akan mengerti.


Di kamar aku menangis dalam diam. Aku memang cengeng, mau seratus kali aku mengatakan untuk tidak menangis, akhirnya aku akan menangis juga. Aku tertidur setelah lelah menangis.


Aku lulus SMA dan mendapatkan beasiswa di kampus terbaik di Jakarta bersama Mita dan Santi. Selama kuliah, aku tidak dekat dengan satu pria pun. Jika ada yang mendekati ku maka aku akan menolaknya. Farel juga masih setia mengejar cintaku, tapi aku tidak bisa membalas cintanya. Mereka bilang aku penyuka sesama jenis karena menolak semua pria. Aku tidak peduli mereka mengatakan apa. Aku hanya takut terluka lagi.


POV Clara sekarang.


Mengingat itu membuat ku kembali menangis. Aku memang payah. Setelah beberapa saat akhirnya tangisku mereda.


Aku duduk menikmati pemandangan gedung gedung yang menjulang tinggi dari sini. Sinar matahari tidak terlalu panas karena ini masih pagi.


Biarlah aku di sini walau ini masih jam kerja, aku tidak peduli jika aku di pecat, malah itu yang aku inginkan sekarang.


Tunggu, jika Reyhan adalah CEO nya, lalu siapa pak Hendra? Kenapa selama seminggu aku bekerja di sini, dia bertingkah seperti bos saja? Aku harus bertanya pada Tomi.


Aku segera menghubungi nya dan tak lama ia pun datang.


"Kenapa kau di sini?" Tanya Tomi. Ia duduk di sebelahku.


"Apa pria itu CEO di sini?" Tanyaku tanpa menoleh ke arahnya. Aku kesal padanya karena aku yakin dia tahu sesuatu.


"Oh, maksudmu pak Reyhan? Dia memang CEO di sini" Jawabnya tanpa rasa bersalah.


Aku mencubit pinggangnya karena kesal. "Kenapa kau tidak mengatakan nya dari awal?"


"Maaf maaf. Ini rencana pak Reyhan, dia bilang kami harus menguji sekretaris barunya, sama seperti sekretaris terdahulu. Lagian saat itu dia di luar kota"


"Lalu siapa pak Hendra?" Tanyaku.

__ADS_1


"Dia hanya OB. Aku yang memilihnya untuk memerankan CEO" Jawab Tomi.


"Sial, dia melakukan aktingnya dengan baik dan terus memerintah ku" Aku menggerutu.


"Hehehe, aku yakin dia senang karena menjadi bos selama seminggu. Oh ya, Nio, Vano dan beberapa pria yang menggoda mu saat itu adalah rekan bisnis pak Reyhan. Aku yang meminta mereka untuk melakukan itu"


"Sial! Kenapa kau begitu kejam?" Aku meninju bahunya karena kesal. Dia hanya mengadu kesakitan. Biarkan saja, aku tidak peduli.


Aku memang terkesan tidak sopan padanya karena aku sudah menganggap nya kakak laki-lakiku dan ia tak masalah. Usianya sudah tiga puluh tahun tapi belum menikah.


"Kau bisa pulang cepat hari ini. Pak Reyhan bilang dia ada urusan penting. Lagipula tidak ada kerjaan untukmu"


Syukurlah kalau begitu. Tomi pamit karena ia harus melanjutkan pekerjaannya. Aku juga harus kembali ke ruangan CEO karena tas ku ada di sana.


Betapa terkejutnya aku saat melihat ruangan itu begitu berantakan. Dokumen berserakan di mana mana, kopi yang aku buatkan tadi juga tumpah, vas bunga yang di meja CEO juga pecah di lantai.


Apa dia sengaja melakukan ini untuk menambah pekerjaan ku? Sial!


Aku segera membereskan dokumen dan meletakkan nya di tempat aman. Setelah itu aku segera memanggil OB untuk membersihkan ruangan ini.


Aku baru pergi setelah OB itu selesai membersihkan kekacauan ini. Aku ingin menemui kak Mira. Aku tahu di saat seperti ini Mita, Santi dan Rena pasti sibuk dengan pekerjaannya.


Aku memasuki restoran milik kak Mira. Aku segera memesan makanan dan menyuruh pelayan untuk memanggil kak Mira.


Tak lama ia pun datang dan duduk di depanku.


"Tumben lo di sini? Biasanya lo kan kerja jam segini"


"Gue pulang cepat hari ini" Jawabku.


"Jam sembilan?" Tanya kak Mira melihat jam.


"Iya" Aku mulai menceritakan masalahku padanya. Di mulai awal aku bekerja sampai aku mengetahui ternyata Reyhan lah CEO di perusahaan tempatku bekerja.


"What? Jadi lo kerja bareng mantan dong" Ucapnya.


"Ya, gitu deh. Jadi gue harus gimana kak, apa gue harus tetap kerja di sana atau resign aja?"


Kak Mira berpikir sejenak. "Kenapa lo harus resign? Lo sama dia kan udah masa lalu, jadi gak masalah dong. Kita harus profesional dalam bekerja. Apa jangan jangan lo masih suka sama dia? Atau lo takut CLBK sama dia?"


"Ya enggaklah. Lagian gue udah punya pacar, namanya Tomi dan kita kerja di perusahaan yang sama"


Maafin gue Tom, gue terpaksa make nama lo.


"Oh, kenapa gak kenalin ke kita sih? Em, kalau lo gak ada rasa lagi sama Reyhan, lo kerja aja. Atau lo bikin dia cemburu, tunjukin kemesraan lo sama Tomi di depan wajah dia. Kalau lo resign, nanti dia malah mikir lo belum bisa move-on dari dia. Lagian lo bakalan kena denda kalau resign sebelum masa kontrak habis. Emang lo ada duit?" Ucap kak Mira.


Ada benarnya juga ucapan kak Mira. Jika aku resign, Reyhan sialan itu pasti berpikir aku belum bisa move-on darinya dan akan mengata-ngatai ku lagi. Aku juga tidak ada uang untuk membayar denda. Tapi, apa aku sanggup dekat dengannya? Bekerja bersamanya? Bertemu dengannya lagi setiap hari? Aku tidak yakin.


"Ra, dari wajah lo, lo kelihatan gak suka ketemu dia. Lo kelihatan benci banget sama dia. Apa dulu, kalian putus secara gak baik?" Tanya kak Mira.


Ah, kau tahu saja perasaanku, kak. Aku tidak mungkin menceritakan masalah ku yang begitu rumit padamu. Aku tidak ingin membuatmu kepikiran.


"Tidak, kok. Kami putus baik baik. Aku memang tidak suka jika bertemu mantan" Aku terpaksa bohong dengannya.


"Syukurlah, jika kau ada masalah, jangan sungkan untuk bicara dengan ku ya atau dengan yang lain" Ucap kak Mira.

__ADS_1


Aku mengangguk. Setelah selesai curhat dengan kak Mira, aku memutuskan untuk pulang. Aku lelah, otak, tubuh dan hatiku perlu istirahat.


__ADS_2