
Reyhan, Clara dan Dimas kembali ke restoran. Restoran terlihat sunyi, para petugas polisi sudah berpulangan. Mereka bertiga dengan mudah masuk ke dapur karena restoran tidak di kunci. Mereka meneliti setiap sudut dapur guna mencari hal hal yang mencurigakan.
"Gak ada apapun di sini" Ucap Dimas.
"Ya iyalah, kan kita keduluan polisi" Ucap Clara.
"Coba kalian lihat itu" Ucap Reyhan. Clara dan Dimas mendekati Reyhan yang menatap jendela.
"Ada cctv yang menghadap sini. Jika jendela memang terbuka dari tadi, seharusnya kejadian di sini terekam cctv" Lanjut Reyhan.
"Kita harus ke sana" Ucap Clara. Mereka segera menuju rumah di samping restoran. Mereka di sambut dengan ramah oleh pemilik rumah dan mereka sekarang ada di ruang tamu. Clara langsung menjelaskan tujuan mereka ke sini.
"Astaghfirullah, kasian banget ya Mira. Saya pasti bakalan nolongin supaya Mira bisa bebas" Ucap wanita 40-an itu, ia kelihatan dekat dengan Mira. Wanita itu kemudian menunjukkan rekaman cctv yang diminta Reyhan. Sayangnya beberapa jam sebelum kejadian, cctv tersebut di rusak oleh seseorang berhoodie.
"Astaga, siapa yang merusak cctv ku. Jika begini aku tidak bisa membantu banyak" Ucap wanita tersebut.
"Tidak apa Bu, bisa kami minta rekaman cctv ini?" Pinta Reyhan. Wanita tersebut mengizinkan. Mereka kembali ke restoran.
"Kira kira siapa orang misterius itu?" Tanya Dimas.
"Yang jelas dia wanita" Sahut Clara.
"Kita belum memeriksa seluruh cctv di restoran" Ucap Reyhan.
"Saya bisa membantu" Ucap seseorang. Mereka bertiga menoleh ke belakang dan mendapati seorang wanita muda di sana.
"Siapa?" Tanya Clara.
"Saya Riska, saya bekerja sebagai kasir. Saya bisa menunjukkan rekaman cctv yang lain" Ucap Riska. Ia langsung membawa Clara, Reyhan dan Dimas untuk melihat rekaman cctv.
"Hari ini satu juru masak kami sedang sakit jadi hanya ada kak Mira dan Bu Tini. Cctv dapur rusak hari ini, aku tidak tahu karena apa" Ucap Riska. Ia menunjukkan rekaman di jam Mira dan Tini di dapur. Tidak ada satu orangpun yang masuk ke dapur selain Mira dan Tini.
"Apa kau tahu alamat rumah Tini?" Tanya Dimas. Riska segera menulisnya di secarik kertas dan memberikannya pada Dimas.
"Pak, kita ada rapat sebentar lagi" Ucap Clara saat mereka sudah berada di luar restoran.
"Lo pergilah Rey. Gue bisa mengatasinya sendiri. Gue tahu lo sibuk" Ucap Dimas.
"Tapi Dim_"
"Sans aja, lagian gue kosong hari ini. Gue bisa minta di temenin Nio" Ucap Dimas.
"Oke, kalau ada perkembangan segera kasih tahu gue" Ucap Reyhan menepuk bahu Dimas. Ia dan Clara segera kembali ke kantor.
Dimas segera menghubungi Nio dan tak lama Nio sudah sampai di restoran menggunakan taksi. Dimas sudah menceritakan semuanya di telpon jadi mereka bisa langsung ke alamat rumah Tini.
Sesampainya mereka di sana. Rumah Tini terlihat sunyi.
"Apa lo yakin ini rumahnya? Kok kayak rumah gak berpenghuni gini" Ucap Nio. Ia sudah biasa bicara santai dengan Dimas karena Dimas sendiri yang memintanya.
"Alamat nya di sini kok" Dimas mengetuk pintu dan tak lupa mengucap salam. Namun tidak ada sahutan.
"Assalamualaikum, Bu Tini. Bu, tolong buka pintunya" Ucap Dimas. Namun nihil, masih tidak ada sahutan.
"Bu Tini. Saya dari kepolisian, mohon kerjasamanya" Ucap Nio.
"Ide bagus" Dimas memberi dua jempol pada Nio. Menyamar menjadi petugas polisi memang cara yang paling ampuh.
__ADS_1
Tak lama terdengar suara pintu di buka. Seorang wanita muncul di balik pintu.
"Kalian bukan polisi?" Tanya wanita itu terkejut melihat Dimas dan Nio lebih mirip pria kantoran daripada polisi.
"Kami sedang menyamar" Nio segera menjawab.
"Boleh kami masuk?" Tanya Dimas. Wanita yang ternyata Bu Tini itu segera mengajak mereka masuk. Ia segera membuat kopi dan membawa beberapa cemilan.
"Bu, apa benar anda melihat nona Mira menuangkan racun ke pesanan pak Fathan?" Tanya Nio. Wanita itu terlihat gugup.
"I iya pak" Dari gerak geriknya, Nio tahu bahwa wanita itu berbohong.
"Jika anda memberikan keterangan palsu, maka anda bisa di tahan karena hal itu. Lebih baik anda jujur" Ucap Nio.
"Saya bersungguh sungguh pak. Saya tidak bohong"
"Tapi nona Mira menyangkalnya. Bisa jadi itu anda kan? Karena nona Mira izin ke toilet sebentar" Ucap Dimas. Sebelumnya di kantor polisi, ia sempat menanyai beberapa hal pada Mira dan ini salah satunya.
"Itu memang benar, tapi saya tidak pernah melakukan nya" Ucap Tini. Nio segera mengajak Dimas untuk kembali. Di mobil Dimas segera bertanya pada Nio.
"Kenapa kita harus pergi? Gue belum puas dengan jawaban ibu tadi" Ucap Dimas kesal.
"Percuma, dia tidak akan mengaku. Yang jelas dia berbohong, dia tidak pernah melihat nona Mira menuangkan racun di makanan itu. Malahan gue yakin dialah yang melakukannya. Tapi menurut lo aneh gak, gue tahu ini bukan kasus pembunuhan karena menurut polisi kandungan racun di dalam makanan itu sangat sedikit dan tidak akan menimbulkan korban jiwa. Tapi, kasus ini seperti tidak di pedulikan mereka. Sepertinya kita juga orang pertama yang mengunjungi Bu Tini, bukan para polisi itu" Ucap Nio menjelaskan apa yang ada dipikirannya.
"Apa mereka sudah di suap oleh Fathan?" Tanya Dimas.
"Itu bisa jadi. Bukti yang dimiliki polisi hanyalah botol racun itu dan juga makanan yang di makan sekretaris Fathan. Mengenai keterangan Bu Tini, aku tidak yakin soal itu, karena bisa saja dia berbohong. Oh ya, apa tidak ada sidik jari di botol itu?" Tanya Nio.
"Ada, dan itu sidik jari Mira" Sahut Dimas, ia terlihat putus asa.
"Bagaimana bentuk botolnya?" Tanya Nio.
"Kita harus kembali ke restoran" Ucap Nio melajukan mobilnya lebih cepat. Sesampainya mereka di restoran, sayangnya restoran sudah di kunci, sepertinya Riska lah yang menguncinya.
"Kita bisa minta Riska untuk membuka gemboknya" Ucap Dimas.
"Tidak, kita kembali besok saja" Ucap Nio.
"Tapi lebih cepat lebih baik kan. Kita gak boleh lama lama, kasihan Mira kalau harus di tahan lebih lama" Ucap Dimas. Padahal Mira baru di tahan tiga jam tapi seperti sudah bertahun tahun baginya.
"Benar, tapi kita juga tidak boleh buru buru. Kita harus hati hati" Ucap Nio. Dimas akhirnya mengalah.
Dreeet dreeet
Dimas segera mengangkat ponselnya. "Halo"
"Halo pak Dimas. Apa apaan ini?! Kenapa barang yang kalian kirim kadaluarsa semua?! Pelanggan kami keracunan dan menuntut saya sekarang. Saya tidak mau tahu, pak Dimas harus bertanggung jawab!"
"Apa maksudnya ini? Saya tidak mengerti, halo halo!" Dimas kesal karena telponnya di matikan sepihak. Tiba-tiba ponselnya berdering lagi.
"Halo pak Dimas, saya tidak menyangka anda mengirimkan barang jelek ke kami. Sungguh saya sangat kecewa, pelanggan kami lebih kecewa lagi. Anda harus bertanggung jawab pak Dimas"
"Apa maksudnya pak? Saya tidak mengerti. Saya sudah mengecek barangnya dan semuanya bagus" Ucap Dimas bingung.
"Tapi kenyataannya tidak pak Dimas. Anda harus bertanggung jawab dan mengganti kerugian saya"
"Sial, kenapa di matiin!" Teriak Dimas kesal. Tiba tiba ponselnya berdering lagi.
__ADS_1
"Pak Dimas! Saya minta ganti rugi sekarang juga. Barang yang kalian kirim kadaluarsa semua! Saya tidak ingin bekerja sama dengan anda lagi!"
Mendengar itu membuat Dimas mengacak rambutnya kesal.
"Ada apa pak?" Tanya Nio yang melihat saja dari tadi.
"Pak Wandi, pak Rahmat dan pak Hadi, mereka bilang barang yang kita kirim kadaluarsa dan memiliki kualitas jelek. Mereka minta kita bertanggung jawab sekarang" Ucap Dimas frustasi.
"Kita bicarakan di kantor saja pak" Ucap Nio. Mereka segera kembali ke kantor dan mengadakan rapat.
"Apa apaan ini! Kenapa barang yang kita kirim kadaluarsa semua! Kenapa kalian tidak becus bekerja?! Apa kalian ingin di pecat?!" Dimas terlihat begitu marah.
"Maaf pak, tapi kami sudah memeriksanya sebelum kami mengirimkan nya dan semua aman pak" Jawab salah satu dari mereka yang terlihat ketakutan.
"Siapa yang bertanggung jawab memeriksa dan mengirimkan barang barang ini?" Beberapa orang langsung mengangkat tangannya.
"Apa kalian yakin sudah memeriksanya dengan baik?" Tanya Dimas serius.
"Sudah pak!"
"Baiklah, apa terjadi sesuatu saat kalian mengirimkan barang barang ini?" Tanya Dimas pada enam pekerjaannya itu.
"Tidak pak!"
"Pak Nizar, kau uruslah masalah ini. Berapapun kerugian mereka, kita harus menggantinya" Ucap Dimas. Pak Nizar merupakan direktur keuangan.
"Tapi pak, bukankah kita akan mengeluarkan dana yang begitu banyak?"
"Lebih baik daripada nama kita tercoreng. Aku akan menyelidiki nya lebih lanjut" Ucap Dimas. Ia mengakhiri rapat dan berbicara berdua saja dengan Nio.
"Awasi ke enam pekerja yang mengirim barang barang itu" Perintah Dimas.
"Siap pak. Sebelumnya saya sudah memasang cctv tersembunyi di mobil box yang mengantar barang barang kita. Kita bisa melihatnya pak" Ucap Nio. Dimas mengangguk setuju.
...****************...
Pukul tujuh malam, di apartemen Reyhan.
"Hah! anda jangan bercanda, bagaimana mungkin pabrik kita bisa terbakar?!" Tanya Reyhan terkejut.
"Benar pak, bapak bisa ke sini secepatnya?"
"Baik saya akan ke sana" Reyhan kemudian segera menelpon Clara.
"Temui gue di pabrik furniture kota b, cepat!" Ia langsung memasang jaketnya dan melajukan motornya menuju kota b.
Reyhan sampai duluan. Ia melihat sebagian pabriknya sudah hangus terbakar. Clara yang baru sampai terlihat begitu terkejut dengan pemandangan di depannya. Damkar masih berusaha memadamkan api yang tersisa.
"Pak Rey!" Panggil Parjo, ia yang bertanggung jawab di pabrik.
"Bagaimana kebakaran ini bisa terjadi?" Tanya Reyhan. Clara berdiri di sampingnya.
"Dugaan sementara karena konsleting listrik. Api melahap 30% pabrik, itu sudah cukup untuk membuat kita rugi besar. Beruntungnya kami dengan cepat menyadari kebakaran itu hingga tidak menyebar kemana mana" Ucap pak Parjo. Raut wajahnya terlihat sedih.
"Apa ada korban jiwa?" Tanya Reyhan cemas.
"Ada pak, 5 orang tiada, 30 orang luka luka dan kerugian kita sudah tidak bisa di hitung" Ucap Pak Parjo.
__ADS_1
Reyhan hanya bisa menghela nafas berat. Wajahnya terlihat frustasi.
Reyhan dan Clara tetap berada di sana sampai api benar benar padam.